
Alice mendengar suara keributan di luar. Dia terbangun dan tak tahu harus bagaimana. Kamar ini tertutup dari luar dan Alice tak memiliki celah untuk keluar. Dia hanya bisa mengalisa keadaan berdasarkan perkiraan belaka.
Ada suara jeritan, ada suara tembakan, bahkan beberapa kali terdengar suara tapak kaki berlari di sekitar luar kamar Alice. Sepertinya, Alice beranggapan bahwa rumah ini sedang diserang oleh beberapa pihak musuh. Tetapi Alice tak bisa mendeteksi siapa musuh yang telah menyerang kediaman Luiz kali ini. Dia hanya berharap agar semua itu tak berpengaruh buruk terhadap dirinya dan terhadap Violin. Ya Tuhan. Mengingat tentang Violin. Apa kabar mertuanya itu? Hampir empat hari dia tidak bertemu dengan Violin. Bahkan mendengar suaranya pun tidak.
Alice duduk termenung di sudut ranjang dengan pikiran tak karuan. Dia membentuk tebakan-tebakan kecil di dalam hatinya. Entah apa yang tengah terjadi di kediaman ini. Tampaknya kediaman Luiz kali ini diserang oleh pihak lawan.
Setelah dua jam lebih Alice duduk di ujung ranjang dengan perasaan tak menentu, tiba-tiba pintu ruang kamar Alice terbuka tiba-tiba. Alice menatap sosok yang ada di baliknya. Dia syok ketika menyadari lelaki yang sangat ia rindukan berdiri dengan merentangkan kedua tangan kepadanya.
Orang yang selama ini ia rindukan kini hadir secara real. Raganya seolah seperti zeus yang menapak ke bumi.
Orang yang selama ini ia impikan kini datang kepadanya. Tersenyum lembut penuh penyambutan sebagai deklarasi dari kasih sayang.
Seseorang yang selama ini ia cintai kini telah hadir di sisinya kembali. Memenuhi janjinya untuk hadir dan menemani hari-hari Alice.
Semua ini seperti tak nyata. Alice menutup mulutnya dan membiarkan air mata kerinduan mengalir seperti bendungan jebol. Dia berdiri dengan kaku, menggerakkan sendi-sendi kakinya. Pertama berat, kemudian semakin lama semakin ringan. Hingga tanpa sadar Alice telah berlari menuju sosok yang ia rindukan.
"Klayver. Oh Ya Tuhan. Klayver … kau kembali. Kau kembali. Kau benar-benar kembali."
Setelah semua keputus asaan yang hadir di setiap malamnya. Setelah kesepian dan ketidakjelasan yang Alice lalui di hari-harinya yang terasa kian suram. Kini, lelaki ini telah kembali datang. Melengkapi jiwanya yang lama tak tersiram kasih sayang.
"Ya. Aku kembali. Aku akan selalu kembali." Klayver merengkuh tubuh wanitanya dengan erat. Ada ganjalan kecil di perutnya, menandakan kehamilam Alice yang mulai terlihat jelas.
Senyum Klayver kian merekah. Merengkuh Alice lebih erat lagi dalam dekapannya. Ya Tuhan. Akhirnya ia bisa kembali ke dekapan wanitanya. satu-satunya wanita yang ia cintai. Wanita yang membuat semua konsentrasinya buyar.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Klayver mundur sedikit dan menatap keadaan Alice dari ujung kepala ke ujung kaki. Dia teringat jika istrinya dijadikan tawanan. Menjadi tawanan pasti tak mudah. Bukan hal yang mustahil jika selama beberapa hari ini Alice mendapat tekanan atau perlakuam tertentu yang tak menyenangkan.
"Baik. Aku baik-baik saja. Aku … Oh Ya Tuhan. Kau berada di sini saja sudah merupakan keajaiban untukku!" Alice kembali menguburkan wajahnya ke dada Klayver yang bidang. Dia menyesap aroma khas milik Klayver. Kayu-kayuan dan mint. Sangat menentramkan dan membahagiakan.
Beginikah rasanya rasa rindu yang berhasil diobati? Beginikah rasanya rasa sepi yang diakhiri dengan kehadiran yang dicinta?
Alice merasakan euforia. Dia masih menangis sesenggukan dan mencengkeram erat kemeja Klayver yang kini terlihat kusut tak karuan.
Klayver menyadari apa yang kini dirasakan Alice. Pasti tak mudah bagi wanita itu untuk mengalami setiap proses sulit ini tanpa dirinya. Alice sudah lebih dari kuat karena mampu menghadapi setiap bahaya yang mengancam.
"Alice, aku tahu kita butuh waktu dan ruang untuk merayakan pertemuan kita kembali. Tetapi bisakah kau sadari sesuatu? Aku belum menemukan Violin. Kau keluarlah dulu ke depan bangunan rumah ini. Di sana ada Jasmine dan William yang menunggumu di mobil limusin hitam. Datanglah kepada mereka dan pulanglah dulu. Aku perlu membereskan kekacauan di sini. Kau bisa lewat lorong samping rumah ini. Lorong yang telah kuamankan sebelumnya. Kau dengar itu?"
Klayver mengguncangkan kedua bahu Alice dan membuat wanita itu memahami situasi mereka saat ini. Lorong samping sudah berhasil Klayver amankan. Tak akan berbahaya bagi Alice melewatinya menuju bagian depan bangunan rumah untuk menemui William dan Jasmine.
Tetapi masalah lain masih belum selesai. Luiz masih belum berhasil Klayver taklukkan, Violin juga belum Klayver temukan. Dia tak bisa meninggalkan masalah ini begitu saja dan pergi tanpa melakukan apa pun.
"Baiklah. Aku akan melakukannya!" Alice mengangguk dengan cepat. Dia memahami gentingnya situasi ini. Violin perlu ditemukan lebih cepat. Alice tak bisa menghambat misi Klayver saat ini.
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu rute samping yang aman untuk kau lalui!" Klayver mencium kening istrinya dan memeluknya sekali lagi untuk terakhir kalinya.
"Berjanjilah! Kau akan segera kembali untukku secepatnya!" Alice menggenggam tangan suaminya dan meremasnya pelan. Kedua matanya menampakkan harapan dan kekhawatiran dalam waktu yang bersamaan. Hati Klayver jadi ikut teriris. Alice sudah lama tidak ia temani dan lindungi. Kini saat mereka bisa bertemu, mereka disibukkan situasi kritis yang harus segera mereka atasi secepatnya.
"Pasti. Pasti. Sekarang masih pukul tujuh malam. Sebelum tengah malam nanti, aku akan berusaha untuk kembali padamu lagi. Sekarang, cepatlah! Jangan sampai anak buah Luiz menemukanmu lebih dulu!"
Detik berikutnya, Klayver menyeret tangan Alice yang terasa kebas keluar kamar. Dia memberikan intruksi singkat arah mana yang harus Alice lalui dan kemudian mereka berpisah. Alice berjalan ke arah kiri dari kamar menyusuri lorong kecil, sementara Klayver lurus terus untuk mencari keberadaan Violin.
Alice berjalan dengan tergesa-gesa. Di ujung lorong lantai dua, dia sempat dikejutkan dengan dua jasad pengawal Luiz yang kini berbaring mengenaskan. Satu tertembak di dahi, satunya lagi tertembak di dada dekat perut. Kedua jasad itu menunjukkan kedua matanya yang masih melotot. Wajah mereka jadi menyeramkan. Seperti zombie di film-film.
Alice bergidik ngeri dan terpaksa melangkahi mayat mereka. Demi keselamatannya sendiri, Alice harus bisa mengendalikan emosi dan tetap berjalan lurus menuju tempat yang Klayver katakan. Di sana nanti Alice akan bertemu dengan Jasmine dan William. Ya Tuhan. Alice sudah sangat rindu dengan kedua orang itu.
"Aaaaaaaaa!"
Alice menjerit histeris. Lagi-lagi dia menemukan jasad lain di sudut ruang dekat ruang tengah. Jasad itu lebih parah lagi. Lehernya menunjukkan luka yang sangat fatal. Darah ada di mana-mana.
Ya Tuhan. Alice memegang perutnya, berharap tak memuntahkan semua isinya. Gejolak di perutnya semakin hebat. Dia ingin muntah di tempat itu juga. Agaknya perutnya memang sudah tidak bisa menoleransi lagi pemandangan yang dilihatnya.
Setelah mengosongkan isi perutnya dengan sepenuh tenaga, Alice kembali melanjutkan perjalanan. Dia sudah tiba di pintu samping. Pintu itu terbuka begitu saja. Alice beranggapan Klayver-lah yang telah mengatur ini semua. Dengan sigap, Alice keluar melalui pintu ini menuju halaman samping. Ada jalan setapak yang menghubungkan ke halaman utama. Alice berlari-lari kecil sepanjang jalan. Baru beberapa langkah ia berlari, terdengar suara tembakan dari bangunan di belakang. Alice menoleh sekilas dan mematung.
Mungkinkah itu Klayver? Apakah ia sedang beradu senjata dengan orang lain?
Saat Alice ingin berbalik, dia mendengar suara yang sangat familier.
"Alice! Alice!"
Secepat kilat Alice menoleh. Jasmine berdiri beberapa meter darinya. Dia melambaikan tangan, menunjuk halaman depan. Secara tidak langsung wanita itu mengisyaratkan Alice untuk segera melarikan diri.
"Tapi Klayver—"
"Dia bisa mengatasi masalahnya. Yang terpenting adalah kau selamat terlebih dahulu!"
"Tapi—"
"Memangnya dengan kau pergi ke sana, kau bisa membantunya? Yang ada kau hanya akan menjadi beban saat ini. Cepat ke sini sebelum William marah padaku karena memperlambat waktu!" Jasmine berteriak kesal. Alice mau tak mau membenarkan apa yang dikatakan Jasmine. Dia memang tidak bisa membantu apa pun saat ini. Keberadaan Alice hanya akan menjadi beban tersendiri bagi Klayver.
Dengan lemah, Alice mengikuti langkah-langkah Jasmine. Mereka akhirnya tiba di halaman utama. William memakirkan mobilnya di bawah pohon besar tak jauh dari gerbang. Lelaki itu terlihat was-was menunggu kedatangan Alice.
"Cepat masuk! tunggu apalagi!" Jasmine merasa kesal dengan kebimbangan yang terlihat dari raut wajah Alice.
"Klayver—"
__ADS_1
"Alice, Sayangku, suamimu adalah orang yang penuh startegi. Keberadaanmu di sini hanya akan menghambat suamimu sendiri. Satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah pulang dan berlindung di tempat yang aman!" Jasmine menjelaskan sambil menyeret tangan Alice ke dalam mobil limusin hitam yang dibawa William.
Alice hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang dikatakan Jasmine. Mungkin saat ini Jasmine benar. Keberadaan Alice di sini hanya akan menjadi beban dan tak membantu Kalyver sama sekali.
Dengan lemah, Alice duduk di dalam mobil. Dia mengusap wajahnya beberapa kali. Matamya menatap kediaman Luiz yang semakin lama semakin terlihat menjauh.
Di tempat itulah Alice ditahan selama beberapa hari. Di tempat itulah ia melihat sisi James yang sebenarnya. Di tempat itu jugalah dia melihat Klayver setelah sekian lama mereka berpisah.
"Alice, kau baik-baik saja, bukan?" Jasmine menatap temannya secara menyeluruh. Dia perlu memastikan Alice tidak mengalami hal-hal yang tidak baik.
"Baik. Hanya sedikit syok." Alice tersenyum, mencoba menenangkan Jasmine dan William yang terlihat resah.
"Maaf, Nyonya. Aku tak berada di sisimu saat Nyonya mendapat ancaman bahaya." William terdengar sangat menyesal. Dia menoleh sebentar ke belakang, ingin melihat langsung reaksi majikannya.
"Aku juga. Andai aku tahu setelah makan malam itu kau akan mengalami hal seperti ini, aku pasti akan mengikutimu dan memilih datang makan malam juga." Jasmine pun tak berbeda dengan William. Mereka berdua benar-benar menyesal karena merasa kecolongan.
Jasmine dan William sangat percaya terhadap Violin dan James. Mereka tak pernah berpikir Alice bisa menghadapi bahaya ketika bersama mertuanya. Di mata Jasmine, mertua Alice adalah orang yang sangat hebat. Mustahil jika Alice terancam bahaya ketika bersama mereka.
Tak disangka, justru itulah celah yang digunakan Luiz untuk menyerang mereka. Siapa kira lelaki itu cukup kejam dengan menyusup secara perlahan dan menggiring Alice ke dalam jebakannya yang sudah dirancang secara sempurna.
Hanya saja, dalam perjalanan rencana Luiz, Klayver datang untuk menyelamatkan Alice. Semuanya jadi berbalik menyerang Luiz. Keadaan yang tadinya akan memihak kepada Luiz, kini mengolok-oloknya
"Jangan terlalu merasa bersalah, Jasmine!"
"Tentu saja aku merasa bersalah. Klayver telah mempercayakan kau padaku. Bukannya aku melakukan apa yang ia minta, tetapi aku malah membiarkanmu terancam bahaya seperti ini!" Jasmine terdengar sulit untuk memaafkan dirinya sendiri. Beberapa hari terakhir ini Jasmine habiskan dengan penuh beban. Pikirannya kalut dan tak tahu harus bagaimana. Alice hilang tanpa jejak bersama Violin dan James. William, Daniel, dan Maxen yang mencoba membantu mencari keberadaan Alice tak berhasil menemukan petunjuk sama sekali.
Hingga kemudian, Edward datang dan menyelidiki tentang keberadaan Alice. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai orang kepercayaan Klayver. Dia dan William kemudian membentuk kerja sama untuk menemukan Alice.
Langkah mereka kemudian membuahkan hasil. Mereka tahu ternyata Alice ditahan oleh Luiz di salah satu kediaman miliknya di Manhattan. Rencana demi rencana kemudian mereka buat.
Hingga akhirnya, Edward memutuskan untuk memberitahu Klayver dan membiarkan lelaki itu pulang untuk mengambil kendali.
"Jangan menyalahkan dirimu, Jasmine. Apa yang terjadi adalah takdir alam. Kita tak pernah tahu ke mana alam akan membawa kita. Selalu ada skenario di setiap keadaan. Jangan terlalu kasar menghakimi dirimu sendiri!" Alice menepuk bahu jasmine, mencoba memberi pengertian.
Meskipun secara teknis Jasmine adalah pelindung yang klayver sewa untuk Alice, tetapi pada kenyataannya, Tuhan bisa saja memberi rencana lain dan memberi celah untuk kejadian tertentu. Kemampuan manusia memang terbatas. Tidak ada yang bisa mendominasi rencana Tuhan.
Mungkin, Alice memang digariskan untuk mengalami kejadian ini. Mungkin, Tuhan memiliki nilai hikmah yang bisa Alice ambil dari kejadian ini. Itulah yang membuat Alice bisa menerima keadaan dirinya sekarang.
"Sebagai teman, kau benar-benar memiliki hati yang baik, Alice. Aku beruntung mengenalmu. Sekarang masalahnya adalah, aku merasa sial karena kecolongan. Aku was-was Klayver akan menghukumku!" Mata Jasmine menatap keluar menembus jendela mobil. Kekhawatiran baru mulai menyeruak dari hatinya. Klayver adalah lelaki yang sangat sulit untuk ia hadapi. Entah kemarahan apa yang akan lelaki itu salurkan pada Jasmine.
…
__ADS_1