
Daniel memasuki kamar tidur dan segera menjatuhkan diri di ranjang. Hari sudah mulai pagi. Sebentar lagi menjelang fajar.
Kantung mata Daniel semakin jelas. Lama-lama dia mirip panda berjalan. Seharusnya dia menggunakan sisa waktunya untuk tidur mengistirahatkan diri. Tetapi yang ada matanya masih terbuka nyalang, memandang langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
Daniel mengepalkan tangan dan memukulkannya berulang kali ke atas ranjang. Sepertinya ada yang salah darinya.
Dia sudah mencoba menarik perhatian wanita manis dengan pekerjaan baik-baik. Setelah berhasil dan mendapatkan lampu hijau, Daniel justru pergi begitu saja.
Hatinya tak tergerak. Perasaannya hampa. Hasratnya kosong. Ciuman yang ia lakukan bersama Audrey hanya seperti sentuhan dangkal antara bibir ke bibir dan berakhir begitu saja. Tidak ada yang meledak-ledak dari hatinya. Tidak ada getar asing dari dadanya. Semuanya datar. Tanpa reaksi sedikit pun.
Apa yang kurang? Audrey cantik. Wajahnya manis dengan senyum indah. Pekerjaannya normal dengan etika yang cukup baik juga. Mungkin jika diteruskan, akan ada hubungan baik di antara mereka.
Nyatanya, semua itu masih tak cukup untuk menggerakkan hatinya. Daniel heran dengan dirinya sendiri. Kemauan alam bawah sadarnya sulit untuk ia pahami.
Daniel mencoba memejamkan mata dan membiarkan masalah ini lenyap untuk sejenak.
Demi Tuhan. Dia butuh istirahat yang berkualitas. Pekerjaannya sudah menumpuk. Banyak proyek dan agenda yang harus ia kejar besok. Tetapi matanya tak bisa diajak untuk berkompromi. Masih saja terbuka lebar dan tak bersedia menutup.
Pikiran Daniel malah semakin berkelana tak jelas. Dia kembali teringat sentuhan Jasmine. Bahkan ketika pikirannya sedang ingin mengendap, bayangan tentang ciuman mereka justru tercetak jelas. Seolah-olah otak memiliki fokusnya sendiri untuk memilih mana hal-hal yang ingin tetap diingat.
Bagaimana tekstur lembut bibirnya, caranya menyentuh, dan gerakannya yang menggoda. Semua itu menggedor-nggedor dadanya, menginginkan lebih.
Pikiran gila Daniel mulai bereksplorasi. Dia mulai berandai-andai. Andai kemarin dia menahan Jasmine lebih lama, akankah respon itu akan berhenti, ataukah semakin membara? Andai ia sedikit agresif, akankah ciuman itu akan berlanjut, ataukah tetap berhenti?
Daniel menggelengkan kepalanya dengan miris. Ya Tuhan. Sepertinya otaknya mulai tak waras. Jenis wanita seperti Jasmine mustahil menjungkirbalikkan Daniel seperti ini. Apalagi itu hanyalah ciuman. Hanya ciuman. Daniel perlu menggaris bawahi hal tersebut.
Usia Daniel sudah matang. Bukan lagi bocah remaja yang suka coba-coba menjajal hal baru. Ciuman sudah bukan menjadi hal yang asing lagi. Seharusnya semua itu tak menjungkirbalikkan pikirannya.
Dengan putus asa, Daniel bangkit dari ranjang, berjalan tertatih ke arah laptopnya dan memutuskan untuk meneliti kembali laporan grafik penjualan yang tadi sempat tertunda.
Kelihatannya dia tak akan bisa tertidur. Lebih baik Daniel menggunakan fokusnya untuk melakukan hal lain yang lebih membutuhkan perhatiannya dari pada menyia-nyiakan waktu.
Katakanlah. Saat ini ia dalam fase kacau. Mungkin besok, saat otaknya sudah lebih berfungsi, Daniel bisa kembali ke akal sehatnya semula.
Sekarang, dia hanya perlu mengalihkan perhatian dari hal-hal yang tidak seharusnya.
…
Siang ini, seorang lelaki bernama Luiz Martinezz tengah duduk di atas kursi singgasana kebesarannya. Dia menatap wanita di depannya, merasa marah oleh sesuatu.
"Semalam, Rico dan Pollo, dua anak buahku yang paling kupercaya sekaligus pemegang wilayah di amerika, dibunuh oleh seseorang. Kau tahu siapa yang membunuhnya?"
Wanita muda di hadapan Luiz hanya tertunduk dalam, memilih diam seribu bahasa. Luiz, kepala mafia terbesar di benua Amerika, merupakan orang yang ditakuti di dunia gelap. Sepanjang hidupnya, dia mengoperasikan organisasinya di Brazil, tepatnya di Sao Paulo.
Emosinya sangat mudah berubah. Dalam sekali waktu dia baik-baik saja, detik selanjutnya ia bisa-bisa menodong pistol dan membunuh anak buahnya sendiri karena kesal.
Tak heran hampir setengah dari organisasinya sendiri dibunuh oleh tangannya. Dia tak mengampuni kesalahan. Satu orang saja yang berani melakukan kekeliruan, lusinan orang lainnya bisa terkena dampak dari kemarahan Luiz.
__ADS_1
"Liza, kau tahu siapa yang membunuhnya?" Luiz, lelaki berusia empat puluh satu tahun itu kembali mengulang pertanyaan yang sama, merasa tak puas karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab.
"Saya tidak tahu, Tuan." Liza, wanita anggun berdarah campuran amerika latin dan eropa itu hanya menunduk dalam, menunjukkan rasa sopan sepenuhnya.
Selain temperamental, Luiz juga tergolong gila hormat. Terkadang emosinya bisa sedikit tenang jika ia merasa disanjung. Itulah cara Liza menghadapi orang seperti Luiz. Demi nyawanya sendiri, Liza harus pintar-pintar dalam bersikap.
"Sebelum orang itu membunuh mereka, dia mengambil dokumen informasi yang Rico kumpulkan mengenai eyes evil. Jadi kupastikan dia adalah eyes evil itu sendiri. Caranya membunuh dan caranya merapikan bukti tak berbeda jauh seperti gaya eyes evil yang selama ini diberitakan orang."
Liza masih tertunduk dalam di atas lantai, tak berani bereaksi. Dia harus benar-benar menanggapi dengan topik yang berbobot jika Luiz sedang dalam emosi kurang baik. Jika Liza asal bicara, bisa-bisa ia malah menarik kemarahan lelaki itu.
Jadi Rico dan Pollo telah dihabisi oleh eyes evil. Mereka berdua merupakan dua orang yang Luiz percayai untuk memegang wilayah New York dan sekitarnya. Kematian mereka pasti merupakan pukulan hebat bagi Luiz. Dua orang itu termasuk kebanggan Luiz dari dulu.
Jika Rico dan Pollo telah mati, maka organisasi Luiz mulai terancam. Dua orang yang termasuk nyawa kuat dalam organisasi dihabisi begitu saja oleh buronan organisasi sendiri.
Sungguh suatu kemunduran. Luiz harus mengambil langkah drastis untuk memutar kemudi agar organisasi tetap kuat dan tak lagi terancam.
"Lelaki itu pikir dia hebat. Setelah menghabisi dua orangku, dia pergi begitu saja dan mencoba menghapus rekam jejak CCTV. Bodoh. Sangat bodoh. Dia tak tahu data apa pun yang masuk ke CCTV otomatis akan disalurkan ke server pusat dan tak mungkin dibapus begitu saja olehnya." Luiz tertawa penuh kemenangan. Dia merasa bangga buronannya kali ini masuk ke dalam jebakan.
"Aku memang kehilangan dua orangku. Tetapi kematian mereka tak sia-sia. Dengan begini, aku bisa mengetahui identitasnya secara langsung yang sempat tertangkap kamera. Kini aku mengetahui siapa itu eyes evil."
Luiz melemparkan sebuah foto yang sedikit blur ke arah Liza. Foto itu adalah hasil dari gambar yang bisa ditangkap oleh CCTV kediaman Rico dengan resolusi pembesaran beberapa kali.
Meskipun foto tersebut tidak sepenuhnya jelas, tetapi sekilas bisa menangkap secara keseluruhan fitur wajah yang dimaksud Luiz.
Untuk sesaat, hati Liza merasa bergetar. Lelaki ini mencerminkan kemaskulinan yang sangat luar biasa. Rahangnya yang kokoh, tatapan matanya yang tajam, rambut gelapnya yang menawan, dan bibir keras yang menjanjikan banyak hal.
"Nama sebenarnya yang ia pakai saat ini adalah Klayver Vaquez. Aku sudah menyelidikinya pagi ini. Dia memiliki istri bernama Alice Vaquez yang tinggal di Manhattan dan seorang anak tiri berusia enam tahun."
Tatapan Luiz berubah menyenangkan. Setelah tadi emosinya cukup menakutkan karena kehilangan Rico dan Pollo, sekarang dia tampak bahagia karena berhasil mencari tahu identitas eyes evil. Seseorang yang selama ini dicari oleh banyak pihak. Kemenangan seolah menjadi miliknya. Luiz merasa ia bisa terbang hanya karena hal ini.
"Bayangkan itu, Liza. Andai pihak lain mengetahui aku telah berhasil membobol identiyas Eyes Evil. Kira-kira berapa juta dollar uang yang akan kuterima jika aku menjual informasi ini pada mereka?" Luiz tersenyum kecil, sebuah senyum yang menunjukkan rasa puas.
Liza hanya termenung. Dia menatap wajah Luiz yang di usia empat puluh tahun masih tampak muda dan menawan. Lelaki itu sama-sama memiliki garis rahang tegas seperti Klayver. Matanya yang hitam sekelam malam sewarna dengan rambutnya yang sedikit berombak. Tulang-tulangnya kokoh, membuktikan bahwa ia merupakan lelaki yang terbiasa terjun ke lapangan untuk mengatasi banyak konflik wilayah dalam dunia mafia.
Otot-otot Luiz terbentuk secara sempurna, sehingga mampu membuat beberapa orang iri saat pertama kali melihatnya.
Tetapi di balik semua itu, ada jiwa labil yang tiba-tiba meledak setiap saat. Liza telah menyaksikannya selama bertahun-tahun. Hanya keberuntunganlah yang membuatnya bisa bertahan selama ini untuk tetap setia bekerja pada Luiz.
Luiz merupakan orang yang memiliki toleransi rendah. Dia tak suka pengkhianatan dan membenci orang yang tak setia. Jadi, sekali bekerja pada Luiz, maka sama saja menandatangani kontrak hidup selamanya. Tak ada jalan untuk mundur maupun berbalik arah. Itulah kenapa Liza tetap melayani Luiz hingga detik ini. Karena jika ia mencoba untuk berhenti, bisa jadi nafasnya ikut berhenti pula.
"Kau ingin aku menjual informasi ini pada pihak lain?" Liza menawarkan diri.
Luiz menatap Liza dengan pandangan sedikit menggelap. Liza menahan napas lama. Ini adalah situasi yang tidak menyenangkan. Luiz bisa meledak sewaktu-waktu tanpa alasan jelas.
"Mungkin nanti. Untuk sekarang, aku ingin kau mencari orang dalam dari keluaga Klayver yang bisa kita suap untuk memberikan semua informasi mengenai istri dan anaknya. Kita perlu membentuk informan baru. Aku memiliki ide yang cukup brilian."
Luiz membalikkan badan dan kembali duduk nyaman di kursi kebanggannya. Liza memejamkan mata sejenak. Dia sepertinya ditugaskan untuk mencari celah dari orang-orang di sekitar Klayver. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan bawahan Luiz saat lelaki itu menginginkan sesuatu. Yaitu melakukannya dengan baik dan sempurna. Jangan ada kekurangan.
__ADS_1
"Baiklah." Liza mengangguk, menyatakan kesediaannya. Dia menunduk dalam sebelum akhirnya mundur perlahan dan pergi dari ruang utama.
Suara hills Liza mengetuk dengan irama yang teratur. Beberapa pengawal yang Luiz tempatkan di titik strategis menundukkan kepala mengantar kepergiannya.
Sudah menjadi rahasia umum wanita berambut hitam sepinggang itu merupakan orang kepercayaan Luiz. Usianya yang masih dua puluh lima tahun telah berhasil mencetak banyak prestasi dan menangani banyak kasus yang mengganggu organisasi mereka.
Di luar sebuah mansion mewah Luiz, Liza memandang matahari kota Sao Paulo yang memberikan warna orange kemerah-merahan. Hidup di negara tropis selama bertahun-tahun membuat Liza terbiasa menerima suhu yang panas. Kulitnya yang kecokelatan tampak cantik dan eksotis.
Mata hitam Liza bagaikan rahasia dalam yang penuh misteri. Untuk seukuran wanita, Liza merupakan orang yang cukup misterius. Wajahnya dingin tanpa ekspresi dan matanya datar tak bisa terdeteksi.
Sebentar saja berbaur dengannya akan membuat orang menyadari aura berbahaya yang menguar dari diri Liza. Dia adalah jenis kecantikan terlarang. Sesuatu yang bisa menghabisi seseorang sewaktu-waktu.
Dengan santai, Liza mengambil sebuah kacamata hitam yang ia sampirkan di kemejanya. Dia berjalan mantap menuju mobilnya saat tiba-tiba suara pistol terdengar dari arah belakang. Liza tak berhenti sama sekali. Dia bahkan tak menoleh ke arah belakang. Pasti ada seseorang yang berhasil menarik amarah Luiz sehingga lelaki itu menghabisi salah satu pengawalnya. Khas Luiz sekali.
Meskipun suara pistol tersebut tidak terlalu keras, tetapi untuk seukuran orang yang memiliki pendengaran tajam sepertinya, suara apa pun bisa ia deteksi. Terkadang, Liza bahkan bisa membedakan suara angin setiap musim di Brazil. Dia memiliki kemampuan lebih dalam hal indera pendengaran. Layaknya binatang terlatih, Liza telah melalui banyak proses untuk sampai di titik ini.
Liza mngendarai movil SUV hitam saat keluar dari mansion Luiz. Ada jalan lumayan panjang yang sedikit berkelok menuju jalan utama. Setiap anak buah Luiz terbiasa melewati jalan ini sebagai akses utama. Di sekitar kanan dan kirinya, sama sekali tidak ada rumah milik warga hingga satu kilometer kemudian.
Black Hell. Sebuah organisasi turun temurun dari generasi sebelum Luiz telah berhasil menancapkan akarnya cukup kuat di Brazil. Hingga mansion yang mereka gunakan sebagai pusat operasional tergolong tersembunyi dari perhatian umum.
Untuk menjaga organisasi ini tetap hidup dan jaya, banyak pejabat dan oknum polisi yang telah Luiz suap dan dijadikan sebagai informan pribadi. Lelaki itu telah membeli hukum sehingga memiliki kekebalan hukum yang luar biasa.
Karena itulah, tak heran bisnis narkotika dan bisnis gelap milik Luiz yang lain tak terdeteksi oleh aparat. Lelaki itu telah menggelontorkan uang yang tak main-main dalam membiayai operasional organisasinya. Dengan cara yang seperti itu, pantas saja organisasinya semakin membesar setiap waktu.
Liza mengambil ponsel hitam miliknya dan menghubungi informan yang ia miliki. Informan tersebut kebetulan berada di New York, tak jauh dari tempat tujuan yang ia inginkan saat ini.
"Ya, Liza? Ada yang bisa kubantu kali ini?" tanya seorang lelaki muda yang berprofesi sebagai polisi.
"Aku membutuhkan informasi yang lebih mendetail tentang seseorang yang bernama Alice Vaquez, istri dari Klayver Vaquez yang berada di Manhattan."
"Baiklah. Aku akan mencari tahu dengan sumber daya kepolisian."
"Semuanya. Kau dengar? Semua orang yang dekat dengannya, teman, pelayan, supir, tetangga. Semuanya." Liza menekankan kembali permintaannya
Informannya ini termasuk orang yang bekerja secara cepat. Liza yakin permintaannya kali ini bisa diselesaikan dengan mudah. Lelaki itu cukup bisa diandalkan.
"Baiklah. Beri aku waktu beberapa hari untuk melakukannya. Aku akan mengirim informasi yang kau inginkan sesegera mungkin."
"Bagus. Aku selalu mengandalkanmu!" Liza membalas ringan.
"Dan tentang bayarannya?" Lelaki itu mulai menanyakan kompensasi yang akan ia dapatkan.
"Tenang saja. Aku akan mengirimnya secara tunai melalui seseorang. Tarifnya sangat besar jika kau cukup cepat mengerjakannya."
Liza adalah orang yang sangat hati-hati. Dia jarang melakukan transaksi kotor dalam bentuk transfer ataupun sesuatu yang sekiranya bisa memiliki bukti. Dia sudah merasa teknologi kadang-kadang bisa menjebak orang seperti dirinya. Akan lebih aman melakukan permainan kuno dengan cara membayar tunai atas setiap transaksi.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Bayaran tunai."
__ADS_1
…