
Sinar mentari menyusup perlahan di antara awan, mengenai apapun yang berada dibawahnya. Seorang wanita dengan kecantikan alami terduduk tak berdaya diatas kursi roda di sebuah pemakaman umum. Desau angin siang ini seolah menjadi pelengkap bagaikan harmoni alam yang indah. Menerbangkan helai-helai rambut gelap milik sang wanita. Dibelakangnya, tampak wanita lain berambut pirang menatap awan di kejauhan. Seolah pikiranya mengembara dalam delusi lain. Memikirkan sesuatu yang terlalu kompleks. Wajahnya terlihat sangat sedih.
Sebuah nisan baru bertuliskan Kendrick Jafferson terukir indah diatas batu marmer berkualitas tinggi. Terukir juga kapan tanggal dia berpulang kepada pemilik kehidupan.
Nissan itu adalah sebuah bentuk peringatan tentang tragedi yang terlanjur membekaskan luka. Ada kenangan yang menyakitkan yang ikut terkubur bersama jasad dibawahnya. Kenangan yang sepanjang apapun waktu bergulir, tak akan sanggup menghapusnya.
"Ini makam Kendrick, Alice. Dia telah beristirahat dengan tenang disana." Jari telunjuk Rachel menunjuk gundukan makan didepan mereka.
Rachel mengelus lembut puncak kepala Alice. Meskipun kesadaran Alice semakin tak terjangkau, Rachel tetap berinisiatif untuk membawa wanita ini dihadapan peristirahatan terakhir suaminya. Bagaimanapun juga, makam ini berhak dikunjungi olehnya.
"Ken ... drick."
Suara lirih bergumam pelan. Suara yang nyaris terbawa desau angin.
Rachel membelalak tak percaya. Alice berbicara? Mungkinkah?
Beberapa kali Rachel mengerjapkan mata, berusaha meyakinkan diri. Mungkinkah ini hanya halusinasinya saja?
"Kau ingat Kendrick? Dia suamimu. Katakan sekali lagi jika kau ingat, Alice." Harapan mulai melambung tak terkendali dihati Rachel.
"Kendrick." Kali ini Alice mengucapkan nama itu lebih keras dari sebelumnya. Matanya sesaat memancarkan sorot kerinduan mendalam. Namun hanya sedetik. Sebelum akhirnya ekspresi matanya kembali kosong.
"Ya Tuhan. Kau mengalami kemajuan, Alice. Katakan sekali lagi tentang Kendrick." Rachel mengguncang bahu Alice penuh semangat.
"Kendrick," ucap Alice sekali lagi.
Rachel berteriak histeris. Dia memeluk tubuh ringkih temanya dan tertawa riang. Matahari tidak hanya menyinari mereka siang ini. Namun ia juga menyinari harapan baru di hatinya.
Seorang penjaga makam yang melihat tindakan Rachel terbengong tak percaya. Pemakaman ini adalah tempat duka. Wanita itu telah mendeklarasikan kebahagiaan tak terkira di tempat ini. Kenpaa jaman sudah berubah cepat sekali? Dulu orang-orang menangis di tempat ini tanpa harapan. Sekarang justru ada yang tertawa penuh harapan. Kehidupan memang sering kali tak tertebak. Lelaki penjaga makam itu menggeleng tak percaya.
Rachel tak memedulikan reaksi lelaki tua itu. Dia masih tenggelan dalam euforia sesaat. Seolah-olah perkembangan Alice adalah sebuah ekstasi paling ampuh yang mampu membuat adrenalinya melayang tinggi.
Rachel menjangkau kursi roda Alice, mendorongnya melewati jalan kecil berkelok-kelok keluar dari wilayah pemakaman. Dia membantu Alice memasuki mobil dan berdendang pelan. Rachel berinisiatif untuk membawa Alice pada terapis pribadinya. Terapis itu harus mengetahui perkembangan terbaru pasienya. Mungkin ini bisa menjadi terobosan bagi kesembuhan Alice.
Perkembangan yang dibawa Alice ternyata adalah sebuah langkah baru bagi hidupnya. Setelah Alice diketahui mampu merespon nama mendiang suaminya, setiap hari perawatnya membawa Alice ke makam Kendrick secara teratur. Perlahan-lahan perkembanganya mulai terlihat signifikan. Beberapa kata mulai terbentuk dari bibir indahnya. Dia bahkan beberapa kali mampu merespon keberadaan Axel.
Meskipun tidak seratus persen membaik, tetapi ekspresi Alice sudah bisa menunjukkan beberapa hal selain kekosongan. Sorot matanya lebih sering menunjukkan kesedihan. Hanya beberapa kali saja saat matanya mampu memancarkan kebahagiaan. Salah satu moment tersebut adalah ketika melihat Axel berada di sampingnya.
ΔΆarena respon Alice sudah mulai membaik, dia dianjurkan melanjutkan fisioterapi kembali. Dokter berkata masih ada harapan Alice sembuh, meskipun kemungkinanya kecil. Namun semuanya perlu diperjuangkan sedini mungkin.
Hasilnya sangat diluar dugaan. Dia sangat patuh melakukan semua tahap fisioterapi. Otaknya mulai bekerja secara normal, sehingga mampu memproses setiap perintah yang dikirim untuknya. Semangatnya kembali secara signifikan.
"Aku tak menyangka dia bisa kembali sadar secepat ini." Daniel duduk disebuah bangku rumah sakit, menunggu Alice melakukan sesi fisioterapinya.
"Apalagi aku. Kau tahu Daniel? Aku sudah nyaris berpikir akan kehilangan Alice sewaktu-waktu." Rachel bergidik ngeri. Dia teringat malam-malam yang ia habiskan untuk menemani temanya.
"Dari awal aku sudah tahu dia wanita yang sangat kuat. Dia memiliki tekad yang sekeras baja." Daniel mengangguk penuh rasa syukur. Di setiap tragedi yang diberikan Tuhan, Alice adalah seorang wanita yang sudah terlalu sering menerimanya. Semoga saja alam cukup bersahabat denganya kali ini.
"Alice!" seru Rachel berdiri, menyambut Alice yang kini tengah didorong oleh seorang perawat.
Wanita yang duduk di kursi roda tersebut tersenyum sekilas. Kemudian kembali tenggelam dalam dunianya. Meskipun responya sudah bekerja, namun dia masih masih sering kembali dalam dunianya sendiri.
__ADS_1
Yah, semuanya butuh proses. Rachel tak ingin terlalu memaksakan kehendaknya
"Bagaimana terapimu kali ini? ada perkembangan?" Rachel menggantikan perawat yang mendorong Alice dan tersenyum penuh terimakasih pada perawat muda tersebut.
"Baik."
Hanya itu jawaban yang ia berikan.
Daniel menatap Alice dengan wajah yang berseri-seri. Dia berlutut di hadapan Alice dan tersenyum menawan.
"Kau mau makan siang denganku?" pinta Daniel penuh keyakinan.
Alice mengedipkan mata beberapa kali dan terdiam lama. Tak ada jawaban.
Daniel mendesah kecewa, menyadari bahwa pertahanan Alice terlalu kuat untuk ia jebol. Bahkan dalam keadaan yang seperti ini, Alice masih saja menjaga jarak darinya.
"Sepertinya dia belum memiliki minat untuk keluar, Daniel." Rachel mencoba menenangkan Daniel yang terlihat kecewa.
"Ya, kupikir, dia memang belum siap mengekspos dirinya di tempat umum." Daniel mengangguk, mencoba memahami.
Dilubuk hatinya yang terdalam, dia masih menyimpan sebuah perasaan istimewa untuk wanita di depanya ini. Seberapa banyak pun wanita yang berada disinya, hatinya hanya kembali berpulang pada wanita ini.
...
Malam ini Rachel sibuk menyiapkan daging panggang bersama Anna di area kebun belakang mansion. Alice, duduk di dekat mereka dengan Axel yang menggelayut manja. Anak itu sudah berusia dua tahun. Tingkahnya semakin aktif dan sulit dikontrol. Anna terpaksa harus menahanya setiap kali makhluk kecil itu mendekati panggangan dan bermain dengan hal-hal berbahaya. Rasa ingin tahunya semakin tinggi layaknya anak-anak pada umumnya.
"Mommy mommy," panggil Axel mengguncang lengan Alice.
Alice tersenyum menanggapinya dan mengelus lembut puncak kepala Axel.
Alice hanya tersenyum tanpa menanggapi. Meskipun responya sudah mulai membaik, namun dia masih menanggapi semua hal dengan standar. Kondisi mentalnya masih belun kembali secara penuh. Mungkin perlahan, nanti akan pulih secara sempurna lagi. Segalanya hanya membutuhkan waktu.
"Kau mau ini? Bersikap manislah malam ini dan aku akan berbaik hati memberikanmu bagian." Anna tersenyum penuh rasa sayang. Ada kehangatan yang terpancar dari sorot matanya.
"Mau. Mau!" Axel melompat-lompat merasa senang.
"Ingat. Jadilah anak baik dan jangan nakal, ok?" Anna menggeleng pelan melihat keauntusiasan anak itu.
"Aunty, mommy mau." Axel menunjuk Alice disampingnya.
"Mommymu juga akan mendapatkan bagianya, sayang," Rachel tertawa renyah.
Di setiap waktu-waktu menegangkan, seringkali Axel menjadi penyemangat bagi mereka. Tingkah anak itu dan caranya membawa diri seolah menularkan banyak harapan positif bagi mereka.
"Alice, kau beruntung memiliki anak sesempurna Axel. Dia pasti akan tumbuh menjadi pemuda yang digandrungi gadis di masa depan. Pada saatnya nanti, kau pasti akan kesulitan mengusir gadis-gadis yang tertarik padanya." Rachel terkekeh.
Siapapun mudah berspekulasi bahwa Axel akan tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Tulang wajahnya tegas, seolah-olah mencerminkan bahwa dia akan menjadi seseorang yang tak akan tergoyahkan. Dia juga memiliki kemauan kuat. Mereka sering kewalahan menghadapi Axel saat anak itu sudah menginginkan sesuatu.
"Seandainya saja aku lebih muda lima belas tahun, aku pasti akan tergila-gila juga padanya." Anna berkelakar. Dia mengoleskan beberapa rempah-rempah di daging yang ia panggang sambil membayangkan wajah Axel dua puluh tahun yang akan datang. Saat itu, Anna pasti sudah menjadi wanita tua dengan banyak keriput.
"Axel." Alice mengusap lembut lengan kecil yang berada di pangkuanya. Pandanganya menerawang jauh. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.
__ADS_1
Di tengah-tengah suasana hangat mereka, diam-diam ada sosok lain yang mengamatinya. Dia memakai penutup wajah dan membaur dalam kegelapan. Dia berdiri di tembok tinggi mansion, menatap mereka dengan sorot mata tajam. Bahkan dengan semua sistem pengamanan yang mansion ini miliki, dia masih bisa menembusnya dengan mudah.
"Tuan. Saya sudah menemukan kediaman Kendrick. Rupanya orang tak berguna itu sudah mati meninggalkan seorang janda dan seorang putra. Apa tindakan kita selanjutnya?" katanya melalui sebuah alat komunikasi kecil yang terpasang tersembunyi di bawah telinganya.
"Orang bodoh itu sudah mati? Kematian telah berbaik hati menyelematkanya dari rencanaku." Suara berat lain menyaut dengan penuh kebencian.
"Apakah kita akan melanjutkan rencana ini?" tanya lelaki.
Ada jeda sejenak. Sepertinya seseorang yang dipanggil tuan di sisi seberang tengah berpikir sesuatu.
"Karena dia meninggalkan istri dan putra, mungkin aku akan menggunakan mereka sebagai pengganti Kendrick. Dendam ini perlu dibalaskan. Tak peduli jika aku harus berjalan ke ujung dunia untuk mewujudkan rencanaku. Darah harus dibayar darah. Siksaan harus dibayar siksaan," katanya kejam.
"Tapi Tuan ...." Lelaki itu mengamati Alice dari atas dengan sorot mata tajam.
"Tapi apa?" Lelaki diseberang bertanya tak sabar.
"Wanita itu sepertinya lumpuh. Dia menggunakan alat bantu jalan."
"Aku tak peduli dia lumpuh atau tidak. Sekarang, kembalilah ke sini dan kita bicarakan rencana kita selanjutnya. Kita harus melakukanya dengan penuh perhitungan. Aku tak ingin terburu-buru. Hasil yang baik berdasarkan perencanaan yang baik."
Lelaki itu memgangguk dan segera meninggalkan tempatnya memata-matai. Dengan mudah dia berjalan menyelinap dalam kegelapan malam, seolah-olah gelap adalah sahabat lamanya.
"Dia ternyata memiliki seorang putra," katanya dengan kejam.
Lelaki itu mengambil kesimpulan yang salah. Dia tak pernah mengira bahwa anak lelaki kecil yang ia lihat bukanlah anak biologis seseorang yang menjadi target kebencianya selama ini.
...
"Tuan, saya mendapat informasi bahwa Ms. White telah mengalami perkembangan. Dia mulai bisa berinteraksi kembali." William melaporkan kabar baik yang ia bawa pada atasanya.
"Benarkah?" Anson tak percaya. Harapanya tentang kesembuhan Alice sudah sangat menipis. Dia bahkan sudah mempersiapkan mental andai seumur hidup Alice tak akan pernah kembali seperti semula.
"Bukan hanya mentalnya, tetapi fisioterapinya juga membawa hasil. Terapis yang menanganinya berkata bahwa jika Ms. White teratur melakukan fisioterapi, mungkin dalam enam bulan kedepan kakinya bisa digerakkan secara normal kembali." William tampak berseri-seri. Ada kebahagiaan yang tulus dari ekspresi wajahnya saat ia menyampaikan hal ini. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa lelaki ini telah menganggap Alice sebagai temanya.
"Bagus. Terus pantau keadaan Alice. Apakah Axel baik-baik saja?"
"Anak itu semakin aktif. Dia dirawat dengan sangat baik dan dibantu oleh teman Ms. White. Anda tidak akan kecewa jika melihat perkembanganya." William tersenyum tulus.
Anson mengangguk penuh rasa syukur. Aliran surga seolah mengisi hatinya yang selama ini dipenuhi dengan rasa bersalah. Setidaknya, melihat wanita itu sembuh, adalah hal yang bisa mengurangi penyesalanya.
"Apakah anda akan menemui mereka?" tanya William.
"Tidak. Mungkin nanti jika Alice sepenuhnya sembuh, aku akan melihat secara berkala perkembangan Axel. Jika aku muncul sekarang, aku khawatir kondisi Alice bisa kembali terganggu. Bagaimanapun, semua kemalangan ini disebabkan oleh tanganku sendiri."
...
Maafkan saya yang absen beberapa hari mengabaikan tulisan ini.
Terimakasih buat semua yang masih bersedia mendukung coretan ini.
...
__ADS_1
Salam sayang,
ππ