
Mom?
Kesadaran Alice berontak luar biasa. Apa yang telah Klayver katakan membuat ia dan William terpaku tak berdaya. Mulut Alice membuka tanpa kata-kata.
Hubungan mereka adalah ibu dan anak? Ya Tuhan, kenyataan apa ini sebenarnya. Dunia sedang membuat lelucon baru.
"Kalian?" Pertanyaan Alice menggantung ke udara. Tidak ada kata lagi yang bisa ia ucapkan untuk merefleksikan keterkejutannya.
"Aku tak peduli meski ia adalah menantuku. Jika kau tetap keras kepala menjaga jarak dan memilih tak kembali mengakui diri dalam keluarga Leicester, otak Alice adalah pemandangan terakhir yang akan kau kenang darinya."
The Queen tidak main-main. Dia melepaskan penahan pistol dan mulai menekan pelatuk ke arah Alice. William ingin melindungi, tetapi segera dihalangi oleh anak buah The Queen. Mata wanita ini menyorot kejam tanpa kenal ampun.
Alice memejamkan mata menunggu saat-saat menegangkan. Dia tak yakin Klayver akan bersedia membela hingga titik akhir. Dari dulu ia terbiasa mendapat nasib kurang beruntung. Mungkin, ini adalah puncak dari semua nasib buruk yang mendatanginya.
"Kau menang kali ini, Mom. Aku akan kembali mengakui keluarga Leicester dan kembali membentuk hubungan baik denganmu."
The Queen melirik Klayver dan masih meragukan niatnya. "Kau bersumpah?" tantangnya serius.
"Aku berjanji. Kau tahu aku tak pernah mengingkari janji." Kata-kata Klayver mengandung kemarahan. Matanya berubah lebih gelap dari pada biasanya.
"Baiklah. Aku suka dengan keputusanmu." The Queen tersenyum penuh kemenangan. Ada pendar bahagia yang samar dari kedua matanya.
Alice yang mulai meraba situasi kembali membuka mata. Dia melirik Klayver takut-takut, tak berani membuka satu kata pun. Lidahnya kelu. Wajahnya pucat pasi. Darah seolah tak mengalir lancar di pembuluh wajah cantiknya.
"Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja." Klayver berjalan mendekati Alice dan menarik tubuh ringkih istrinya dalam pelukan hangat.
Alice terisak kencang di dada Klayver. Setelah bahaya berlalu, dia baru merasakan syok terlambat. Dia memeluk Klayver dengan erat dan menenggelamkan diri di bawah perlindungannya.
Dada ini terasa hangat. Menawarkan kekuatan yang ingin ia pinjam sejenak. Lengan ini kokoh, seolah siap sedia menerima Alice pada setiap kejatuhan yang ia alami.
Baru kali ini Alice menyadari, dada Klayver mampu memiliki arti sedalam ini. Kekuatan yang klayver salurkan mampu membuatnya kembali bangkit.
Setelah cukup lama terisak, Alice mengangkat pandangannya dan menatap Klayver dengan raut muka sedikit bersalah. Apakah dia telah bersikap selayaknya anak-anak?
Klayver menatap wajah istrinya yang kacau. Kedua matanya terlihat bening penuh air mata. Tatapannya polos seperti anak kecil. Rambutnya berantakan, membingkai wajahnya yang ayu.
"Tidak apa-apa. Kau aman selama aku masih hidup. Kau dengar itu, Alice? Tak akan ada bahaya selama aku masih memiliki nyawa untuk melindungimu," ucap Klayver lembut. Dia mengecup pelan puncak rambut Alice dan melemparkan senyuman hangat.
Alice terbawa oleh sikap Klayver dan tersenyum lega. Klayver adalah orang yang tidak suka sesumbar. Dia juga bukan orang yang suka memberi janji palsu. Jika ia mengatakan akan melindungi Alice, maka itulah adalah kenyataan. Tak ada kebohongan yang sengaja ia ciptakan.
__ADS_1
The Queen menatap sepasang manusia di depannya yang masih berpelukan mesra. Sinar matanya menyorotkan keterkejutan baru. Dia menatap mereka berdua dan bibirnya sedikit terlihat kaku.
Pemandangan seperti ini adalah pemandangan yang sulit untuk ia temukan secara acak. Meskipun dia sudah lama tak bertemu dengan putranya, tetapi The Queen cukup mengenal siapa Klayver sebenarnya. Kedekatan seperti ini adalah kedekatan yang istimewa bagi Klayver.
"Kau cukup beruntung memiliki istri yang luar biasa cantik. Ingin mengenalkanku secara resmi?" The Queen tersenyum lembut. Dia bersikap seolah-olah sebelumnya tak pernah mengancam Alice sama sekali.
Alice tersentak dengan perubahan emosi wanita tersebut. Bagaimana mungkin dia beralih sikap hanya dalam hitungan detik.
"Jangan menatapku seperti itu. Karena Klayver telah berjanji kembali pada keluarga besar, aku tentu tak berniat membunuhmu, Miss. Ngomong-ngoming, namaku Violin Leicester. Dan suamimu, nama sebenarnya adalah Tristan Klayver Leicester. Klayver adalah nama tengahnya. Aku tak keberatan mengganti nama panggilan Tristan menjadi Klayver. Toh itu juga namanya."
The Queen tersenyum hangat, tetapi disambut dengan tatapan mematikan dari Klayver. Lelaki itu masih tak terima atas tindakan sembrono yang wanita itu lakukan pada Alice.
"Kau berharap kami menerimamu dengan tangan terbuka setelah apa yang kau lakukan? Bermimpilah, Mom. Meskipun aku berjanji akan kembali pada keluarga Leicester, tak berarti aku akan menyambutmu dengan hangat setiap kali kau datang berkunjung padaku. Buatlah harga untuk dirimu sendiri. Jangan rendahkan nilaimu," kata Klayver sadis. Dia menatap ibunya seperti siap bertempur dengan musuh lama.
Alice yang merasa permusuhan ini akan kembali meruncing, menepuk lengan Klayver lembut untuk menenangkan. Bagaimana pun juga, mereka kalah jumlah. Meskipun Klayver bisa membela diri, tapi Alice bisa terjebak dalam perseteruan mereka dan berakhir tragis kapan saja. Alice jelas tak ingin semua itu terjadi.
"Baiklah. Aku minta maaf telah memanfaatkan istrimu, Klayver. Semua itu semata-mata hanya untuk mendapatkanmu kembali. Aku tidak benar-benar serius untuk melukainya.Seharusnya kau tahu itu dengan baik." Violin meminta maaf dengan tulus. Alice bisa melihat kesungguhan kata-katanya. Ekspresi keibuan tampak keluar secara alami. Mau tak mau, Alice ikut terpengaruh.
"Sudahlah, Klayver. Ibumu tak memiliki maksud lain."
Mungkin hubungan Klayver dan ibunya mulai retak sejak delapan tahun yang lalu. Tetapi Alice masih tidak tahu alasan apa yang mendasari mereka dan membuat Violin mencari keberadaan Klayver setengah mati.
Violin tersenyum kecil, memberi perintah di balik kata-kata lembutnya. Baik ibu maupun anak, mereka semua memiliki karakter yang mendominasi. Masing-masing memiliki hasrat untuk memerintah satu sama lain.
"Ingat, identitas istrimu sudah aku ketahui. Jika kau kembali melarikan diri, Alice yang akan menerima buah dari tindakanmu!" ancam Violin penuh arti. Dia berlalu pergi diikuti seluruh anak buahnya.
Alice masih berdiri tertegun. Pantas Violin mengetahui rumah ini dan mengetahui namanya. Ternyata Violin telah mengumpulkan informasi lengkap mengenai perkembangan Klayver. Mungkin setelah Daniel meneruskan informasi yang ia dapat, Violin menindak lanjutinya sendiri melengkapi data-data Klayver terkini.
"Tunggu!" Klayver menahan kepergian Violin. Wanita tua itu menoleh dan menaikkan alisnya, bertanya tanpa suara.
"Apakah kau mengetahui keberadaanku melalui seseorang yang bernama Daniel?" tanya Kalyver tiba-tiba.
Saat ini, jantung Alice seolah jatuh ke lantai dan hancur perlahan. Dalam situasi seperti ini, lelaki tersebut masih teringat Daniel. Sialan memang.
"Tebakan yang bagus." Violin terkekeh. Putranya masih memiliki intuisi yang tajam. Tak diragukan lagi dia memang darah dagingnya.
"Apakah Daniel hanya menjual informasiku kepadamu? Atau juga pada pihak lain yang bisa memburuku?" tanya Klayver dingin. Dia sudah menebak akan seperti ini ujungnya. Sinar matanya semakin penuh kebencian untuk ia arahkan pada Daniel. Sayang, lelaki tersebut tak berada di sini.
"Hanya kepadaku. Aku menyuruh dia untuk tutup mulut. Aku jamin dia tak akan membocorkan identitasmu pada pihak lain. Jika tidak, aku sendiri yang akan menghabisi nyawanya." Violin sudah memikirkan kondisi ini masak-masak.
__ADS_1
Daniel adalah orang yang telah lama bekerja padanya dan cukup bisa dipercaya. Violin cukup mengenalnya dengan baik. Dia yakin lelaki itu tak akan banyak bertingkah dan membuat masalah.
"Kau yakin?" Kalyver masih menatap Violin dengan curiga. Jujur, dia masih kurang mempercayai Daniel.
"Apa kau pikir aku gila, Klayver? Tak mungkin aku menyewa orang yang tak bisa menutup mulut. Bagaimana pun, kau masih putraku. Hidupmu cukup berarti. Untuk apa aku umpankan pada orang lain yang bisa membahayakan dirimu?" Violin menjelaskan opininya dengan serius.
Klayver sangatlah berharga. Sehingga ia mencarinya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin Violin akan menyeret putranya sendiri dalam kehancuran dengan menyewa mata-mata yang tidak kompeten.
"Baiklah. Aku percaya." Klayver mengangguk kecil, membiarkan Violin dan seluruh antek-anteknya pergi dari pandangannya.
Setelah kepergian mereka, Klayver menyuruh William beristirahat dan membimbing Alice dengan lembut ke lantai atas.
"Kau tidak terluka, bukan?" tanya Klayver khawatir.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Dua hari ini kau ke mana, Klayver? Aku khawatir kau mengalami masalah." Alice kembali merasa cemas. Dia menatap Klayver dan mencoba mencari sesuatu yang salah. Sepertinya Klayver baik-baik saja. Dia tak mendapat masalah sama sekali.
"Aku membereskan banyak urusan." Klayver terdiam lama. Dia hampir tidak tidur dua hari ini karena sibuk memburu orang-orang yang membahayakan dirinya. Hari pertama ia melakukannya bersama organisasi William. Dia melumpuhkan empat orang lebih.
Hari kedua Klayver perlu menghabisi seseorang yang kuat. Dia menggunakan orang-orang William mencari informasi. Selebihnya, ia bergerak sendiri karena ia perlu menyusup secara total. Tak disangka urusannya membutuhkan waktu lama.
"Sistem alarm keamanan rumah ini perlu diperbaiki." Klayver memberi masukan yang segera diangguki Alice. Dia masih trauma disusupi orang lain di rumah sendiri. Alice berharap setelah sistem keamanan diperbaiki, akan mengurangi pihak lain menyerangnya lagi.
"Kenapa ibumu sendiri mencarimu? Apakah hubungan kalian tidak baik sebelumnya?"
Sedikit tak masuk akal membayangkan seorang ibu yang tak mengetahui keberadaan anaknya. Pasti ada kisah yang Klayver miliki sehingga memicunya untuk bersembunyi dari Violin selama bertahun-tahun.
Melihat Klayver terdiam, Alice jadi berpikir lelaki tersebut tak akan pernah menjawab rasa ingin tahunya. Mereka terus berjalan menyusuri tangga menuju kamar tanpa suara. Klayver memasuki kamar dan melepas kemeja yang ia kenakan. Dia merasa gerah setelah melewati kejadian malam ini. Titik-titik keringat membuat bahu Klayver berwarna keemasan.
"Dia pernah membuat kesalahan di masa lalu. Aku sulit untuk memaafkannya. Karena itulah aku memilih pergi dan melepaskan identitas keluarga Leicester selama delapan tahun. Siapa sangka selama ini dia mencariku dan memaksaku untuk kembali pulang?"
Alice terdiam. Sepertinya Klayver sudah memiliki kepercayaan baru padanya sehingga ia bisa membagi kisah masa lalu kepada Alice.
"Bagaimana pun, dia tetaplah seorang ibu. Kesalahan sebesar apa pun tak akan pernah bisa memutus hubungan darah di antara kalian."
Alice mengungkapkan isi hatinya. Dia telah lama kehilangan orang tua, sehingga jika ia dihadapkan pada situasi Klayver, ia pasti akan memaafkan ibunya dengan segala cara. Kita baru menghargai nilai seseorang setelah ditinggal jauh.
"Mari kita lupakan masalah ini. Alice, sebelumnya kita telah bertaruh. Jika Daniel menjadi penyebab bocornya identitasku pada pihak lain, aku akan memburunya dan kau akan memberikan satu malam untukku. Jadi, kapan kau akan melunasi bayaranmu kali ini. Berikan hakku sebagai seorang suami!"
…
__ADS_1