
Hari ini adalah hari terakhir Alice berada di New York. Rencananya, siang nanti ia dan Klayver akan kembali ke Manhattan. Hubungan mereka dengan kekuarga Liecester sudah cukup baik. Semua urusan Klayver juga berjalan dengan normal.
Pagi hari saat sarapan bersama, mereka membahas tentang kepulangan Klayver.
Wilsen, anak tertua, sebenarnya masih berat melepaskan adiknya. Tetapi keadaan sudah lebih baik sehingga mereka sepakat untuk saling mengunjungi nantinya. Setelah kepulangan Klayver, semua saudara-saudari Klayver juga akan kembali ke apartemen masing-masing. Mereka memang tinggal di New York, tetapi hidup terpisah antara satu sama lain. Beberapa hari bersama di kediaman Violin adalah suatu pengecualian yang sangat istimewa.
"Biar aku yang mengantar kalian nanti siang." John menawarkan diri dengan melempar senyum tulus.
Klayver tersenyum menanggapi adiknya dan megangguk kecil. "Boleh."
Dalam hati, Alice ikut merasa senang atas utuhnya keluarga ini kembali. Klayver adalah orang yang terlalu banyak memiliki cacat dalam jiwanya. Menemukan keluarga adalah salah satu bentuk dari penyempurnaan lubang besar yang ia miliki dalam sudut jiwa.
"Kapan pun aku memiliki urusan di Manhattan, aku akan mampir ke tempat kalian juga." Violin berkata sambil menyesap minuman dalam gelas kristal.
Alice yang mendengarnya sedikit membeku. Membayangkan Violin satu rumah dengannya membuat Alice bergidik ngeri. Dia masih merinding setiap kali teringat tindakan Violin yang menekan dirinya. Apalagi jika dipikir lebih jauh, di Manhattan ada Axel yang masih kecil. Bagaimana nanti sikap Violin terhadap putranya?
Violin merasakan sentuhan lembut di lengan telanjangnya. Dia menoleh ke samping kiri dan mendapati Klayver tengah tersenyum menenangkan. Lelaki itu selalu mengetahui emosiya yang terselubung. Apakah Klayver memiliki bakat sebagai cenayang? Kenapa sangat sulit menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mom, setidaknya jika kau ingin mampir ke tempat kami, kau harus meyakinkan Alice agar tidak bersikap kasar lagi. Dia memiliki putra berusia lima tahun. Kau pikir ibu mana yang tidak khawatir mendapat kunjungan mertua kasar sepertimu?" Klayver menimpali.
Violin memiliki watak yang cukup keras dan bisa impulsif sewaktu-waktu. Klayver juga tak yakin ibunya bisa menjaga sikap di depan anak berusia lima tahun. Terkadang dia heran sendiri bagaimana ibunya bisa membesarkan keempat anaknya dan menemani pertumbuhan mereka. Klayver jadi semakin yakin kepribadiannya yang gelap pasti pengaruh dari ibunya.
"Yang jelas, aku tak akan pernah melukai putra Alice." Violin tersenyum kecil. Baik Klayver maupun Alice tak ada yang mempercayai janji Violin.
"Mom, berjanjilah!" Klayver meminta dengan serius.
Violin menatap Kalyver sejenak dan meletakkan gelas kristal yang baru saja ia sesap. Dia menatap putra dan menantunya secara bergantian. Sementara yang lain hanya menjadi pengamat dan menolak ikut campur.
"Baiklah. Aku serius. Aku berjanji tidak akan melukai atau melakukan hal-hal yang bisa membahayakan anak Violin. Siapa namanya? Axel?" Violin menatap Alice dengan seksama.
"Ya. Axel." Alice membenarkan.
Klayver cukup puas dengan janji Violin dan menepuk bahu Alice untuk meyakinkan. Jika Violin sudah berjanji dengan serius, wanita itu pasti akan menepatinya. Keluarga Liecester biasanya cukup bisa diandalkan sepanjang mengenai masalah janji.
"Alice, kita perlu berbicara." Violin menatap menantunya dengan cukup intens. Alice mengkerut di kursi bersandaran tinggi dan hanya bisa meringis kecil. Ya Tuhan, Violin cukup kuat menekan mentalnya.
Alice menoleh ke arah Klayver dan meminta pertolongan tanpa suara. Lelaki itu hanya tersenyum kecil dan menenangkan. "Tidak apa-apa. Berbicaralah pada Mom. Dia tidak akan melukaimu."
Alice melengos. Pupus sudah harapannya mengandalkan Klayver sebagai tameng. Dengan lemah dia mengangguk dan berjalan ke luar ruangan mengikuti Violin.
"Istrimu adalah perpaduan yang unik, Klayver," kata Wilsen mengomentari Alice setelah wanita itu berada di luar jarak pendengaran dari mereka.
Klayver menaikkan satu alisnya, bertanya tanpa suara.
"Dia rapuh dan ya ... memiliki sisi penakut. Tapi dia bisa sangat keras kepala dan menentang siapa pun. Hal yang sangat kontradiktif." Wilsen mengakui. Tawanya terdengar renyah.
__ADS_1
"Jangan lupakan dia cantik, berkharisma, dan bak porselen mahal. Dengan kata lain, dia terlalu sempurna. Kau iblis yang sangat beruntung karena bisa memilikinya," John menimpali.
Wilsen terkekeh kecil, menyetujui kata-kata adiknya. Memiliki adik ipar seperti Alice adalah suatu keberuntungan. Pribadi Alice melengkapi Klayver dalam semua sisi. Anggun, lemah, tapi juga kuat.
"Jika aku boleh jujur, dia sepuluh kali lipat lebih baik dari pada Holy. Dia lemah, tapi jelas bukan pengecut. Dia tak akan pergi meninggalkanmu hanya demi hal-hal kecil seperti yang pernah wanita itu lakukan dulu. Alice juga wanita yang sangat tulus" Angelica berbicara apa adanya. Semua saudara-saudaranya menoleh dengan tatapan ragu.
Membicarakan Holy secara langsung di hadapan Klayver masih menjadi sesuatu yang tabu. Selama ini mereka mencoba tidak mengangkat topik ini. Tak dusangka Angelica justru mengungkapnya dengan terus terang.
Wilsen dan John beralih menatap Klayver, mencoba menebak reaksi lelaki tersebut. Apakah dia akan marah wanita dalam masa lalunya di komentari buruk? Ataukah ia cukup realistis dan melihat ini dari sudut pandang lain? Bagaimana pun juga, apa yang dikatakan Angelica adalah suatu kebenaran. Holy wanita yang sangat pengecut.
"Ya. Dia lebih baik dari pada Holy," ujar Klayver menyetujui. Sinar matanya menampakkan kebenaran. Tidak ada sakit hati sama sekali saat mengakui kenyataan ini.
Semua orang cukup terkejut mendengar jawaban Klayver. Bahkan James juga terlihat bingung.
"Kau tidak marah aku mengatakan hal-hal sepeeti itu?" Angelica bertanya heran. Dulu, Klayver selalu melindungi nama Holy lebih dari apa pun. Dia tak menginjinkan ada yang mengatakan hal buruk tentangnya. Baginya, Holy adalah malaikat yang sangat suci. Bentuk kepercayaan yang Klayver puja mati-matian.
"Keadaan sudah cukup berbeda, Angel. Aku mulai memahami banyak hal akhir-akhir ini. Holy memang tidak sebaik yang aku kira. Jika dia tulus mencintaiku, sudah seharusnya mempertahanku. Itu jugalah yang akan aku lakukan untuknya. Nyatanya dia tak melakukan itu dan memilih pergi menjauh. Semuanya baru terasa salah setelah aku mengenal Alice. Perbedaan mereka sangat signifikan." Klayver berkata jujur.
Mengenal Alice telah membuat hatinya kembali menilai sesuatu dengan cara yang berbeda. Alice adalah sebuah oase di padang pasir yang sangat ia rindukan kehadirannya. Bersamanya, Klayver menemukan banyak hal yang belum pernah ia sentuh sebelumnya. Seperti perasaan posesif yang akhir-akhir ini mendominasi dirinya dan menginginkan lebih. Dia ingin mencecap semua sari indah dari wanitanya, sebagaimana lebah yang merindukan bunga.
"Aku senang akhirnya kau bisa menyadari kenyataan ini." James berkomentar.
Holy adalah wanita yang menghancurkan Klayver luar dalam. Dia seperti momok tergelap dan terapuh dari Klayver. Melihat akhirnya Holy tidak lagi memiliki pengaruh yang sangat besar, mereka cukup bersyukur dengan perkembangan ini.
"Terimakasih, Dad." Klayver menanggapi singkat. Dia mengambil air putih di atas meja dan menghabiskannya dalam sekali tenggak.
Klayver adalah orang yang cukup keras. Karakternya adalah karakter yang paling dominan dan paling sulit di antara mereka semua. Angelica takut keadaan ini akan menbuat Alice memilih untuk mundur meninggalkannya di masa depan. Sulit ada wanita yang cukup kuat untuk bisa mengimbanginya. Dibutuhkan kekuatan mental yang sangat besar untuk bisa menyanding kakaknya.
"Kita tak akan pernah tahu kehidupan akan berjalan seperti apa. Kepergian seseorang bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Aku tak bisa menjamin hal tersebut, Angel. Alice adalah pribadi yang mandiri. Tidak mustahil suatu hari nanti ia memilih pergi dariku."
Klayver berkata apa adanya. Dia ingin membuka mata keluarga ini lebar-lebar agar mereka tak terkejut jika terjadi sesuatu pada pernikahan Klayver dengan Alice.
Bagaimana pun juga, pernikahan Klayver masih menjadi tanda tanya. Kesepakatan itu masih ada dan tetap berlanjut. Semua hal bisa saja terjadi. Dia tak ingin keluarganya menaruh harapan yang besar di pundaknya.
"Bukankah kau mencintainya? Orang yang saling mencintai sudah selayaknya saling mempertahankan, bukan?" Angelica masih melemparkan pertanyaan yang cukup menyelidik. Sebenarnya, apakah pernikahan Klayver dan Alice baik-baik saja? Kenapa tanggapan Klayver seolah-olah menyiratkan ada sesuatu yang disembunyikan.
Bukan hanya Angelica sebenarnya yang mencurigai kebenaran pernikahan Klayver. James, Wilsen, dan John merasakan hal serupa. Mereka memang tak bisa mendeteksi dari tindakan Klayver, tetapi sikap Alice telah cukup berbicara. Seolah-olah pernikahan mereka menyimpan sebuah rahasia.
"Cinta saja tak cukup untuk membuat orang bertahan. Kita sudah dewasa, Angel. Kita harus berpikir realistis. Dalam kehidupan ini, pertemuan dan perpisahan adalah hukum alam yang paling abadi. Jadi apa pun nanti yang terjadi, kita harus bisa menerima kenyataan sepahit apapun juga."
Klayver mengungkapkan kata hatinya. Meskipun dia kuat , ada banyak hal di dunia ini yang bisa berjalan di luar kendali. Terutama hal-hal yang berhubungan dengan emosi. Memangnya siapa yang bisa menjamin seseorang untuk tetap mencintai dan hidup selama-lamanya? Bukankah ada banyak orang yang melakukan sumpah perkawinan dan akhirnya bercerai? Itu semua menunjukkan bahwa janji saja tidak cukup untuk mengikat cinta.
"Apakah pernikahanmu dengan Alice sebenarnya baik-baik saja?" tanya James curiga. Dia mengamati putranya, menilai apakah ada gerak-gerik dari Klayver yang bisa menjawab kondisi putranya yang sebenarnya.
Tetapi Klayver adalah orang yang sangat sulit diraba. Emosinya ia sembunyikan jauh di dasar jiwa. Tak ada seorang pun yang ia ijinkan untuk melihat. Bahkan ayahnya sekali pun. Hanya dengan Alice seorang Klayver mulai menurunkan kewaspadaannya.
__ADS_1
"Pernikahan kami baik-baik saja." Klayver berkata santai. Dia bersandar dengan lebih nyaman dan menyilangkan kedua kakinya.
"Pernikahan tercipta untuk selamanya. Saat kita mengucap sumpah, itu disaksikan Tuhan dan seluruh alam. Memutus pernikahan sama dengan memutus ikatan paling kuat. Jangan bicarakan tentang perpisahan lagi." James berkomentar. Dia mengetuk-ngetukkan ujung sendok, membuat suara dentingan keras.
"Jangan mulai menceramahiku, Dad." Klayver menopangkan kedua tangan di balik tengkuk dan memejamkan mata. Bayangan Alice mulai menari-nari. Sialan. Wanita itu terlalu indah untuk dipikirkan.
…
Alice mengikuti Violin ke lantai empat. Di sini terdapat tempat bersantai dengan atap transparan. Banyak pot-pot bunga dan tumbuhan langka ditata indah. Secara keseluruhan, ini bagaikan tanaman pribadi di atap rumah. Ada satu sisi yang jendelanya didesain sehingga bisa terbuka sepenuhnya dan menerima siraman matahari langsung.
Jauh di belakang sana, Alice melihat sebuah lahan seperti helipad atau landasan pesawat yang terletak lumayan jauh, tetapi masih dalam kawasan tanah keluarga Liecester. Disampingnya terdapat bangunan kecil sebagai garasi. Ada satu buah helikopter dan pesawat jet pribadi yang terparkir.
Karena posisi tempat tersebut yang cukup berjarak, membuat keberadannya hanya bisa dilihat dari atas lantai empat.
"Jadi, kalian memiliki helipad?" tanya Alice kepada Violin. Mertuanya mengangguk, membenarkan.
"Jika keluarga ini memiliki helipad, harusnya aku dan Klayver bisa datang ke sini dengan pesawat pribadi tanpa harus menggunakan pesawat komersil, bukan?" tanya Alice terus terang. Membayangkan berada di pesawat selama berjam-jam membuat perut Alice mual.
Violin menunjuk ke sepasang kursi kayu dengan sandaran bercat putih.
"Klayver adalah orang yang selalu waspada. Terbang ke sini menggunakan heli atau pun pesawat jet pribadi bisa menimbulkan kecurigaan banyak pihak. Akan lebih baik kalian memakai pesawat komersil." Violin menjatuhkan diri di atas kursi dengan desahan pelan.
"Oh, begitu ya." Alice mengikuti Violin dan duduk di kursi tak jauh darinya.
Baik keluarga Liecester maupun Klayver, mereka semua adalah sekelompok orang yang sangat waspada. Mungkin, musuh Klayver cukup banyak sehingga mereka perlu menyembunyikan fakta bahwa ia adalah anggota keluarga Liecester.
Angin musim panas menyapu wajah mereka dengan belaian lembut. Alice bersandar sedikit canggung di sisi Violin, masih mengira-ngira apa tujuan wanita tersebut membawanya ke sini. Mungkinkah ada hal penting yang mertuanya itu inginkan? Jika ya, sepertinya sesuatu itu cukup sensitif sehingga Violin membawanya di lantai paling atas.
"Ada apa,Violin?" tanya Alice menginginkan kebenaran. Dia menatap wanita di sisinya, mengharapkan agar Violin tak lagi berbasa-basi.
"Alice, apakah kau tahu? Aku mulai menyukai dan mengagumimu saat kau bersikap kuat di bawah tekananku. Sangat sulit mencari wanita yang rapuh, tetapi juga berani sepertimu." Violin berkata tulus. Pandangannya lurus ke depan, memikirkan sesuatu.
"Terimakasih." Alice berkata ringan, merasa bingung harus menanggapi bagaimana.
"Katakanlah, aku bangga kau menjadi menantuku."
Alice ingin tertawa dalam hati. Seandainya saja Violin tahu, Alice sama sekali tak merasa bangga memiliki mertua seperti Violin. Andai bisa menukar, ia ingin mengganti ibu Klayver dengan wanita mana pun yang lebih lembut.
"Tetapi Alice, kau memiliki kelemahan. Karaktermu sangat berbeda dengan Klayver. Air mukamu mengatakan segalanya. Sikapmu membongkar semuanya. Jadi, sepintar apa pun kau merahasiakannya, kau tak akan pernah bisa membohongiku. Mungkin James, Wilsen, John dan Angel bisa kau bohongi. Tetapi aku memiliki mata yang sangat tajam. Mustahil kau bisa tetap menyembunyikannya dariku."
Alice bingung mendengar kata-kata tersebut. Dia menoleh lugu ke arah Violin, menatap tak mengerti akan arah pembicaraan mertuanya.
"Apa maksudmu, Violin?"
Violin menatap netra Alice tajam. Dia seperti menembus jiwa Alice yang paling dalam dan menguak semua kejujuran yang ada.
__ADS_1
"Katakan padaku, Alice. Apakah pernikahan kau dan putraku hanyalah sekadar sandiwara? Aku bisa melihat ketidakberesan dalam pernikanmu. Jujurlah padaku. Apakah kau benar-benar menikahi Klayver dalam arti yang sesungguhnya?"
…