
Anson menepati kata-katanya. Keesokan harinya, dia meminta semua laporan laba rugi tiga tahun terakhir perusahaan yang dikelola Alice. Selama dua hari dia mempelajari perkembangan keuangan perusahaan tersebut. Akhirnya di suatu malam setelah makan malam, mereka berbincang serius di ruang kerja Anson.
"Aku akan menjadi investor utamamu, Alice. Tapi aku akan membenahi beberapa sistem yang kau terapkan. Agar perusahaanmu semakin maju dan berkembang," katanya ringan.
Alice mengangguk menyetujui. Alice akan mengikuti semua kehendak Anson. Toh dia juga akan selalu kalah jika mendebatnya.
"Selama ini kau hanya berkecimpung mengelola hunian kelas menengah. Bagaimana jika sekali-kali kau membuat hunian kelas atas? Investasinya memang lebih besar, tapi keuntunganya juga berkali kali lipat. Orang kaya biasanya tak terlalu mempermasalahkan harga sebuah hunian jika ia sudah terlanjur mencintainya. Yang kau lakukan hanyalah menciptakan sesuatu yang sekiranya akan dicintai dan digilai oleh mereka," jelas Anson panjang lebar. Dia memberikan beberapa sampel dalam sebuah map untuk Alice pelajari.
Alice tersenyum menerima saran Anson. Selama itu bisa membuat perusahaanya berkembang, kenapa tidak? Anson adalah guru yang hebat dalam bisnis. Alice akan mempelajari banyak hal darinya.
Alice melewati hari-hari setelahnya dengan lebih baik. Anson mulai membuka diri dan bersedia mengajarinya banyak hal. Entah itu urusan ranjang ataupun bisnis. Dia menggelontorkan banyak dana untuk perkembangan bisnis Alice. Lelaki itu adalah tipe orang yang melakukan segalanya dengan totalitas.
Hubungan mereka juga berkembang semakin erat. Setiap malam mereka menghabiskan waktu bersama di atas tempat tidur. Perlahan, Alice mulai menyadari kepribadian Anson yang tertutup. Dia mampu meraih kepercayaan penuh darinya.
Hari berganti hari menjadi bulan. Tak terasa, kehamilan Alice memasuki minggu ke dua puluh. Alice memutuskan untuk mengunjungi dokter melakukan kontrol bulanan dan USG. Dia sangat ingin mengetahui jenis kelamin bayinya.
Anson, dengan setia mengantarnya menuju dokter di pusat kota. Dia tampak antusias menjalani peranya sebagai calon ayah.
"Karena kau telah memiliki putri, aku berharap bayi kita laki-laki. Jadi bisa melengkapi Kimberly," ujar Alice saat mereka berjalan menuju ruang praktik dokter.
"Perempuan ataupun laki-laki, aku menerimanya dengan sangat baik. Yang terpenting adalah kondisi kalian berdua sehat." Anson berkata jujur, mengusap lengan Alice menenangkan.
"Oh baiklah. Tetapi kulihat kau sebenarnya mengharapkan perempuan. Kau sudah membelikan banyak boneka berwarna jingga dan merah muda banyak sekali untuknya. Kau bahkan membelikan tiga set perlengkapan bayi dengan tema perempuan." Alice tertawa.
Semenjak kehamilanya, Anson telah mengoleksi berbagai buku tentang perkembangan janin dan membeli banyak pernak pernik bayi perempuan. Alice takut saatnya nanti bayinya lahir, ruangan bayinya tak cukup lagi menampung barang. Lelaki itu benar-benar telah tergila-gila dengan calon anaknya.
Kimberly tak jauh berbeda dengan ayahnya. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu mengusap lembut perut Alice yang telah membuncit. Anak itu menyanyikan lagu asing yang katanya lagu dari langit untuk calon adiknya.
"Selamat. Kemungkinan calon anak kalian adalah bayi laki-laki," ucap sang dokter membuat mereka berdua tersenyum.
"Bagaimana nasib semua perlengkapan bayi feminim yang telah terlanjur kau beli?" bisik Alice lirih, menyenggol lengan Anson yang masih terpesona melihat hasil USG janin mereka.
"Kita akan membeli lagi yang lain," kata Anson ringan. Alice menggeleng lemah melihat kemauan Anson. Benar-benar pemborosan.
__ADS_1
Mereka berpamitan keluar dari ruang praktik. Anson berjalan menggandeng tangan Alice dengan posesif sepanjang lorong. Sekilas, mereka tampak seperti sepasang suami istri yang harmonis.
Di pelataran parkir saat mereka tengah tenggelam dalam sebuah pembicaraan tentang calon nama bayi, tubuh Anson tiba-tiba menegang. Dia menatap penuh kebencian pada seorang wanita cantik berambut hitam yang berpapasan dengan mereka. Wanita itu berjalan berdua dengan seorang lelaki berjas hitam. Sepertinya mereka sepasang kekasih.
"Anson,"sapa wanita itu hati-hati.
"Avana. Kulihat kau masih menjadi wanita rendahan seperti dulu," ucapnya pedas melirik lelaki disamping sang wanita.
"Kau masih saja arogan, Anson," katanya jengkel. Dia menatap Alice dan perutnya yang membesar secara bergantian. Avana mendengus kesal, semakin erat menggandeng lelaki di sampingnya dengan manja.
Anson membimbing Alice melewati mereka. Dia membukakan pintu mobil dan menuntun wanitanya masuk.
"Siapa dia?" tanya Alice melihat kebencian yang nyata dari netra hitam Anson.
Anson terdiam cukup lama. Dia berkonsentrasi mengemudi memasuki jalan utama.
"Ibu biologis Kimberly."
Alice menoleh terkejut. Sebuah kenyataan yang tidak ia harapkan sama sekali.
"Aku tak pernah memiliki hubungan yang cukup baik dengan wanita, Alice. Kebanyakan hubunganku dengan mereka adalah transaksi keuangan yang berlangsung singkat. Aku membayar mereka, dan mereka menjual tubuhnya untukku. Hanya seperti itu." Anson menjelaskan dengan sedikit tekanan.
Alice menundukkan kepala, sangat merasa tersindir. Anson memgingatkan secara kejam kebohongan yang telah Alice ciptakan. Meskipun itu tidak dilakukanya dengan sengaja.
"Kau adalah pengecualian, Alice. Kau adalah keajaiban istimewa yang hadir dalam hidupku." Anson menggenggam jemari Alice lembut, berusaha menenangkan wanita di sampingnya.
Akankah Anson masih berfikir demikian andai ia tahu kebohongan yang telah Alice ciptakan? Pada dasarnya, Alice tak lebih dari deretan wanita rendah yang Anson bayar.
"Avana datang padaku beberapa bulan setelah hubungan kami berakhir. Dia meminta uang untuk menggugurkan janin yang tidak sengaja tumbuh ditubuhnya. Aku menawarinya uang yang lebih besar asalkan ia bersedia melahirkan dan menyerahkan anak itu padaku jika terbukti bayi itu adalah darah dagingku. Hasilnya adalah Kimberly," jelas Anson singkat.
"Kau tak lagi memiliki komunikasi denganya? Maksudku apakah dia juga tak ingin kelihat perkembangan Kimberly?" Alice bertanya.
"Tidak. Nuraninya tak cukup tergerak untuk memedulikan hal lain selain kehidupan mewahnya, seandainya pun dia peduli sedikit saja, aku tak akan membiarkan wanita seperti itu mendekati putriku. Dia tak pantas menjadi ibu," ujar Anson tajam.
__ADS_1
"Jika kau membenci wanita seperti dia, kenapa kau mengencaninya?" Alice semakin merasa ketakutanya menyeruak membabi buta. Seolah-olah dia sedang membicarakan dirinya sendiri.
"Karena aku membutuhkan penyaluran libidoku, Alice. Tak mudah mencari wanita yang benar-benar mampu menerima dan mengimbangiku. Jadi aku membayar mereka untuk itu. Aku juga tidak tertarik membangun hubungan romantisme palsu yang bisa runtuh sewaktu-waktu. Aku cukup rasional. Aku juga tidak suka terikat dengan komitmen palsu," ujar Anson.
Alice merasa tertampar dengan kata-kata Anson. Semua kalimat Anson seperti ditujukan khusus untuknya. Kebohonganya, kepalsuanya, dan komitmen pura-pura yang coba ia ciptakan diantara mereka. Apa jadinya jika semua ini terbongkar? Apakah Alice mampu mengangkat wajah untuk sekedar menyapa Anson?
"Kau terlihat pucat Alice. Apakah kau baik-baik saja? apakah kata-kataku ada yang menyinggungmu?" Anson bertanya khawatir melihat perubahan raut muka Alice.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berfikir apakah aku cukup berharga bagimu, Anson?" Alice menatap hampa netra hitam milik lelaki yang terlanjur ia cintai.
"Kau sangat berharga bagiku, Alice. Kau adalah wanita yang pertama kali mampu menggerakkan hatiku untuk berkomitmen. Karena itu, menikahlah denganku, Alice. Aku tak bisa menunggu lebih lama. Aku ingin kita sudah resmi menjadi suami istri saat anak kita lahir nanti" Anson meremas jemari Alice penuh harap. Entah ini adalah lamaran keberapa yang Anson ungkapkan untuknya.
"Tidak, Anson. Aku benar-benar tidak bisa menikah sebelum ingatanmu kembali" dan lamaran yang entah keberapa ia tolak dengan alasan yang sama.
"Kau benar-benar wanita yang cukup sulit untuk ku hadapi, Alice. Bagaimana jika tujuh puluh tahun kedepan ingatanku tetap tak kembali? apakah kita akan hidup berumah tangga tanpa ikatan perkawinan?" Tanya Anson menahan gejolak amarahnya. Semakin lama, dia semakin tak mengerti cara berfikir wanita ini.
"Mungkin" Alice mengangkat kedua bahunya tanpa daya.
"Anson?" Alice bertanya lirih.
"Ya?"
"Apakah kau akan memaafkanku seandainya aku berbuat salah padamu?" Tanya Alice terdengar kalut.
Anson duduk gelisah, menebak-nebak arah pembicaraan Alice. Apakah ada sesuatu yang Alice sembunyikan?
"Apakah kau berselingkuh dariku,Alice? apakah anak itu bukan anakku?" Tanya Anson curiga.
"Tidak dan tidak. Aku tidak akan mengkhianatimu dengan cara yang seperti itu" Alice tertawa hambar. Dia mengkhianati Anson dengan cara lain yang sama kejamnya. Menciptakan kebohongan.
"Kalau begitu, kau tak harus merasa khawatir. Selama kau tidak berselingkuh dariku, aku mampu memaafkanmu. Kufikir, perasaanku padamu tidak main-main.Kau berhasil membuatku jatuh cinta, Alice"
Sebuah pengakuan yang mampu membuat Alice tersenyum getir.
__ADS_1
...