Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
EMPAT TIGA


__ADS_3

Malam ini adalah malam resepsi pernikahan Alice. Dia menggunakan sebuah gaun malam berwarna peach dengan rambut yang disanggul tinggi, menampakkan leher jenjangnya. Disisinya, Anson berdiri bangga, memeluk pinggang Alice saat keduanya menerima tamu satu per satu.


Ada kebahagiaan tak terlukiskan dari keduanya. Senyum mereka merekah bagaikan kuncup bunga yang paling indah. Alice menatap Anson penuh pemujaan, merapalkan nama lelaki yang telah beberapa jam resmi menjadi suaminya.


Dari segala mimpi yang berhasil dirangkai Alice, ini adalah sebuah keajaiban dari mimpi terbesarnya. Berdiri anggun dalam sebuah pernikahan dengan lelaki yang sangat ia cintai. Hari ini mereka telah berhasil mengikat sumpah di depan Tuhan. Menyatakan kesanggupan janji kesetiaan sepanjang usia mereka.


Anson pun juga demikian. Dia menatap Alice dengan penuh pemujaan. Setelah semua yang mereka lalui, akhirnya mereka berhasil juga tiba di titik ini. Saling bersatu dalam perkawinan.


"Alice, aku mencintaimu." Anson mengusap lembut sisi wajah wanita dalam pelukanya.


"Anson, tidakkah kau bosan? Kau sudah mengatakan hal itu puluhan kali hari ini." Alice memutarkan matanya merasa heran. Meskipun dia menunjukkan ketidak pedulian, namun jauh di dalam hatinya ia selalu berhasil dibuat melayang oleh ungkapan cinta Anson.


"Aku akan mengatakanya setiap hari sepanjang hidupku. Hingga akhirnya kau akan bergantung dengan emosiku untuk selamanya. Akan kubuat kau pun juga tergila-gila padaku, hingga setiap nafas yang kau hembuskan hanya untukku." Anson tersenyum lembut, menjanjikan sesuatu dengan penuh keseriusan.


"Kau sudah menjadi bagian dari hidupku Anson, apa yang kumiliki hanya aku berikan untukmu. Kita akan mulai menciptakan cerita bersama hingga akhir hidup kita." Alice tersipu. Dia mengusap lembut jas hitam Anson yang lelaki itu kenakan. Binar matanya menampakkan kebahagiaan.


"Jangan melakukan ini. Kau tahu aku tak akan pernah bisa menahan diri jika kau pancing." Anson menggenggam jemari Alice dan menghentikan getakan tanganya.


"Oh, Mr Mallory yang terhormat. Kau harus bisa menahan diri saat pernikahanmu sendiri." Alice tertawa, merasa menang. Dia menikmati wajah tersiksa Anson.


"Kau benar-benar penggoda." Sebelah tangan Anson menyentuh lembut bahu Alice. Matanya menatap Alice penuh perasaan.


"Aku hanya menjadi penggoda untukmu. Hanya kau, Anson. Hanya kau."


Mereka saling merengkuh dan tertawa kembali. Rachel, yang berdiri tak jauh dari mereka ikut tersenyum melihat akhir bahagia mereka. Di sisinya, Axel menggenggam lengan Rachel penuh minat. Anak ini selalu berhasil menempel padanya sejak acara pernikahan orang tuanya.


"Aunty, kapan nikah?" Kimberly, yang berdiri di sebelah kanan Rachel mengutarakan pertanyaan yang cukup menggelitik. Gadis ini baru berusia sekitar sembilan tahun. Tetapi pikiranya sangat tajam memahami suatu keadaan.


"Entahlah, Kimi. Mungkin jika aunty cukup beruntung, aunty bisa menikah sebentar lagi." Pandangan Rachel melayang, bersirobok dengan Daniel yang kini memasuki pesta dengan membawa seorang wanita anggun.


Bahkan Daniel pun kini sudah berhasil membawa pasangan. Sementara Rachel hanya berdiri seorang diri. Padahal statusnya sudah bertunangan. Entah kenapa, lama-lama Rachel semakin meragukan ketulusan Harry sebagai pasanganya.


"Rachel, kau baik-baik saja?" Alice merasa ada yang tidak beres dengan temanya.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah." Rachel melambaikan tangan, meminta Alice untuk tidak khawatir masalah ini.


"Baiklah. Nikmati malam ini." Alice kembali dalam pelukan Anson, tersenyum dalam. Lelaki itu segera menyambut Alice dengan tangan terulur. Mereka melakukan dansa bersama sebelum akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari pesta.


"Ayo kita tinggalkan pesta ini." Anson menyeret Alice yang kebingungan.


"Anson, ini pesta kita. Bagaimana mungkin meninggalkanya?"

__ADS_1


Anson merengkuh pinggang Alice, tak ingin dibantah.


"Kau benar-benar pengacau pesta, Anson."


Anson merengkuh Alice, menggendongnya dengan gaya bridal style. Beberapa orang saling berteriak menyemangati mereka, membuat wajah Alice semakin memerah.


Anson menyusuri tangga melengkung, berjalan lurus membawa istrinya memasuki salah satu ruangan yang beraroma mawar. Dia meletakkan Alice hati-hati di atas kelopak-kelopak mawar berwarna merah. Alice terkejut dan membelalakkan mata.


Di sisi mereka, ada banyak lilin beraroma wangi tersebar memutari ranjang. Alice menatap Anson tak percaya. Kapan laki-laki ini menyiapkan semuanya?


"Kau--"


"Kau suka sweetheart? Mulai hari ini, aku akan menebus semua luka yang pernah kugoreskan padamu dengan kebahagiaan dan pemujaan. Akan ku lakukan apapun untukmu, Alice. Sekalipun aku harus menjatuhkan semua harga diri dan nilaiku sendiri. Bagiku, kau adalah nafasku. Melaluimu aku kembali hidup." Anson menggenggam ujung tangan Alice, menciumnya dengan lembut.


"Anson." Alice merasa melayang.


"Kau indah, Alice. Kau selalu indah. Aku pernah berpikir kau lebih indah daripada shiren dan ordeisa. Aku mencintaimu. Sebuah keajaiban sehingga Tuhan menjadikan kita bisa bersama. Untukmu, akan kuabdikan semua emosiku sepanjang kehidupan." Air mata Anson berderai. Dia menatap Alice penuh rasa syukur.


"Anson, aku juga mencintaimu. Aku ingin menghabiskan setiap kepingan kisah yang indah hingga akhir kehidupan bersamamu."


...


Alice menatap suami dan dua anak mereka yang saling berteriak bahagia di halaman depan. Anson tengah berpura-pura menjadi zombie yang sedang kelaparan. Kimberly maupun Alice berlarian kesana kemari menghindari kejaran Anson.


Alice tersenyum lebar. Pernikahan ini telah membawa banyak kebahagiaan yang sangat berlimpah bagi mereka. Dia tak pernah menyangka akan mendapat berkah surgawi seindah ini. Baginya, hidup bahagia bersama Anson adalah mimpi liar yang berhasil terwujud.


Alice menghentikan permainan mereka, mengingatkan mereka tentang jam makan siang.


"Saatnya makan, masuklah kembali ke dalam dan hentikan permainan kalian." Alice mengarahkan mereka semua ke ruang makan di lantai bawah. Axel, yang belum puas bermain hanya mengerucutkan bibir karena kecewa.


"Nanti aķan ada saatnya untuk bermain lagi." Alice mengusap kepala putranya penuh rasa sayang.


Anak lelaki tersebut segera berjalan cepat menuju ruang makan, mengikuti Kimberly yang kini tertawa riang. Tak berapa lama, anak itu ikut tertawa juga.


Alice menggelengkan kepala, melihat suasana hati putranya yang mudah berubah-ubah. Dia menatap Anson di sampingnya dan nengernyitkan dahi.


"Kau sudah pulang? Kau bekerja setengah hari lagi?" tanya Alice.


"Aku sudah mendelegasikan job utama pada beberapa orang. Usahaku tidak akan bangkrut hanya gara-gara aku tak ada." Anson mengerling penuh arti, menyentuh lembut sisi wajah istrinya.


Alice tertawa renyah. Semenjak mereka menikah, Anson secara perlahan mengurangi jadwal kerjanya. Beberapa kali bahkan dia sengaja meliburkan diri hanya untuk menikmati moment dengan Alice dan anak-anak. Alice tentu saja merasa senang dengan perubahan tersebut.

__ADS_1


"Alice, ada yang ingin kuberitahukan padamu." Netra hitam Anson menatap Alice penuh arti. Mata ini masih saja memiliki efek menggetarkan untuk Alice.


"Katakanlah Anson. Aku juga memiliki sesuatu untuk kuberitahukan juga padamu."


Lengan Alice memeluk pinggang Anson. Kedua matanya berbinar penuh kebahagiaan. Pernikahan ini, telah membawa banyak hal baik dalam kehidupan mereka.


"Kalau begitu, apa?"


"Kau dulu, Anson. Baru nanti kuberitahu bagianku." Alice mencoba mengelak. Namun bibirnya ia tarik lebar, membentuk senyum indah.


"Aku sudah memutuskan untuk berhenti melakukan bisnis dalam dunia gelap. Semua bisnisku aku arahkan pada jalur yang tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah kita."


Alice berdecak kagum. Dia memeluk Anson, merasa semakin bahagia dengan kabar yang Anson bawa. Meskipun Alice sanggup menerima Anson apa adanya, namun tidak dipungkiri bisnis gelap Anson selalu berhasil membuat Alice khawatir. Takut jika suatu hari nanti hal itu akan membawa petaka bagi kehidupan indah mereka.


Setelah mendengar Anson menyampaikan kabar itu, Alice merasa sebuah beban berat mulai terlepas dari pundaknya. Tentu saja dia sangat mendukung keputusan tersebut.


"Kau terdengar bahagia." Anson terkekeh geli, mengusap puncak kepala Alice penuh cinta. Wanita ini, dari semua keajaiban yang terjadi, telah berhasil ia miliki. Dalam hati yang terdalam, Anson bertekad akan membahagiakan sosok ini sepanjang kehidupanya. Apapun yang ia inginkan, sepanjang Anson mampu, akan ia berikan. Jika ia tidak mampu, akan ia lewati seribu rintangan hanya untuk menbuat wanitanya tersenyum. Demi apapun yang ada di dunia ini, akan ia jadikan istrinya wanita paling bahagia.


"Tentu saja, Anson. Tentu saja." Alice memeluk Anson, menyesap aroma khas miliknya. Lelaki ini, tak pernah berhenti melakukan apapun dan selalu membuatnya tersenyum bahagia semenjak pernikahan mereka. Memilikinya, adalah keberuntungan paling besar dalam hidup ini.


"Sekarang, bisakah kau mennyampaikan kabar lain juga untukku, Sweet heart?"


Alice menatap Anson cukup lama. Perlahan, ia mengambil sebuah benda kecil dari saku dress kuningnya, menyerahkanya pada Anson.


Sebuah benda kecil panjang tampak berada persis dihadapan Anson, dengan dua garis merah yang sangat jelas. Anson membeku sesaat sebelum akhirnya berteriak kegirangan.


"Apa itu artinya jumlah keluarga kita akan bertambah lagi?" Lengan besar Anson merengkuh tubuh Alice dan membawanya menuju sebuah ruangan terdekat yang tertutup. Dia mengusap lembut perut istrinya yang kini telah tumbuh janin milik mereka


"Apakah kau senang, Anson? Hei, kemana kau akan membawaku?"


"Tentu saja senang. Aku akan membuat kau mengandung anak-anakku berkali-kali. Kita akan membesarkanya bersama, dengan setiap kebahagiaan dan kehangatan dari kita. Kau tak butuh makan siang, aku ingin kita berdua menikmati momen pribadi dulu."


"Anson, tidakkah kau bosan terhadapku?" Mata Alice membesar, bertanya-tanya.


"Tidak akan pernah. Sepanjang kehidupan ini, aku akan selalu mencintaimu dengan kapasitas yang tak pernah berkurang. Hiduplah denganku hingga tua nanti, akan kubuktikan padamu semua janji dariku. Hanya kau Alice, hidupku.


...


Cerita ini akan segera berlanjut guys. Tetep dukung ya semuanya.


Salam sayang ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2