Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
007 - SEASON 2


__ADS_3

Aaron duduk di salah satu kursi dapur. Ia menyesap kopinya dan merasa puas oleh cita rasa yang ia nikmati. Telah lama ia tak menikmati minuman ini. Dia merasa terpisah dari kehidupan dunia sekian lama.


Selama ini, Aaron sudah menetapkan diri hidup terasing jauh dari hiruk pikuk dunia. Dia cukup nyaman hidup dalam kesendirian, meskipun seringkali ia dianggap sebagai orang gila.


Beberapa orang menganggapnya psikopat, pembunuh atau pun semacamnya. Aaron tak pernah ambil pusing terhadap pendapat seseorang. Dia menjalani kehidupan dengan caranya.


Setelah sekian lama ia hidup dalam kesendirian, tunggu … berapa lama ia terjebak dalam kesendirian? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Ya ... pasti selama itu. Dia sudah nyaris lupa dengan segala kemewahan dan kemudahan yang ditawarkan oleh dunia.


Tetapi setelah ia memutuskan untuk kembali menyapa dunia, dia merasa cukup bisa menikmati juga. Teknologi semakin berkembang cepat. Aaron selalu merasa tertinggal setiap kali ia menyadari pergerakan dunia modern.


"Aku memiliki kecurigaan beberapa pihak yang menjadi pelaku pembunuhan Anson. Tetapi aku tak bisa memgkonfirmasi kecurigaanku. Aku hanya bisa menebak."


Alice terbelalak lebar. Aaron hanya bisa menebak? Apa-apaan semua ini? Alice sudah mengandalkan lelaki ini sepenuh hati dan berharap ia bisa membongkar semua teka-teki. Tetapi apa yang ia bawa? Hanya sebuah tebakan? Jika hanya tebakan, Alice juga bisa melakukanya.


"Jadi kau hanya bisa berasumsi?" Seandainya saja Alice tak gentar dengan lelaki ini, dia sudah ingin menggertak dan memarahinya. Usaha apa itu yang hanya menghasilkan sebuah asumsi?


"Aku bisa memastikan kematian Anson memang sebuah kesengajaan. Tetapi aku hanya bisa berasumsi mengenai para pelakunya."


Alice sedikit heran. Para pelaku? Apakah artinya jumlah mereka ada banyak orang? Jika seperti itu, semuanya yang terjadi memang sebuah persekongkolan. Alice semakin ingin tahu tentang semua itu.


Aaron berdiri dan membuka kulkas. Dia memilah-milah semua makanan dan minuman di dalamnya. Setelah mendapatkan daging panggang sisa semalam dan sebotol minuman soda, ia bersiul bangga. Aaron duduk kembali di kursi untuk menghabiskan makanan tersebut.


Alice hanya menggeleng lemah. Apakah seperti ini kelakukuan lelaki yang mengaku memiliki sembilan rekening di banyak negara?


Alice ingin berkomentar, tetapi segera ia urungkan. Tatapan Aaron tidak seperti tatapan lelaki pada umumnya. Lelaki itu lebih mirip disebut sebagai psikopat. Akan lebih baik andai ia tak memancing emosi Aaron. Alice tak tahu apa yang akan terjadi andai Aaron marah. Mungkinkah dia akan membunuhnya di tempat? Sepertinya kemungkinan itu bisa saja terjadi.


"Bisakah kau menyebutkan siapa saja mereka?" Alice bertanya dengan nada lembut.


Aaron menggelengkan kepala sambil makan. Mulutnya berbunyi menjijikkan setiap kali ia mengunyah daging panggang.


"Mereka sangat ahli. Jika kusebutkan identitas mereka semuanya, kau pasti akan bertindak gegabah dan menyerang mereka. Pada akhirnya, aku hanya akan membuatmu mati tersiksa. Meskipun sebenarnya aku ingin melihatmu sekarat dan mati, tapi mengingat kau adalah istri dari mendiang temanku, aku mau tak mau harus melindungi hidupmu."


Wow. Alice hanya sanggup melongo. Apakah itu sebuah pernyataan setia kawan? Tetapi kenapa terdengar sangat tak masuk akal di telinga Alice.


Baik. Alice harus berpikir positif. Setidaknya Aaron masih ingin melindungi hidupnya, meskipun caranya mengungkapkan hal itu sedikit tak normal.


"Ehm, bagaimanapun juga, terimakasih Aaron."


Alice menggaruk rambutnya, merasa sedikit canggung. Ya Tuhan, teman Anson adalah seorang psikopat. Bagaimana bisa Anson memberi petunjuk pada istrinya sendiri untuk meminta bantuan Aaron? Alice takut dia akan terseret pemikiran gila milik lelaki tua itu.


"Tapi aku benar-benar ingin mengetahui siapa mereka."


Aaron mengangguk-angguk tak peduli. Dia terus saja malanjutkan makan dan minum secara bersamaan. Siapa sangka lelaki berumur tujuh puluh tahun masih memiliki tenaga besar untuk menghabiskan dan mencerna makanan dalam porsi luar biasa?


"Aku berasumsi pelakunya adalah empat orang yang paling berpengaruh dalam dunia hitam. Mereka semua pernah membentuk kerja sama besar dengan Anson pada masa lalu. Sepertinya Anson menyimpan sesuatu yang entah apa. Saat ia memutuskan keluar dari dunia gelap, ia menjadi pihak yang bisa mengancam keberadaan mereka sehingga dibungkam."


Buku transaksi itu. Alice yakin itulah masalahnya. Mereka takut saat Anson melepaskan diri dari bisnis terlarang, informasi itu akan jatuh ke tangan polisi atau pihak yang berwenang.


Dalam dunia bisnis, ada sebuah teori. Kau tak akan pernah bisa membungkam seseorang kecuali kau buat nyawanya juga ikut bungkam. Kematianlah yang paling efektif untuk melakukanya.


"Aku memiliki uang yang sangat banyak. Aku bisa menyewa siapa pun untuk memburu mereka semua."

__ADS_1


Secara pribadi, Alice memiliki bisnis dan kekayaan sendiri. Secara pernikahan, ia mendapatkan harta waris dari dua orang yang sangat berpengaruh. Kendrick, suami pertamanya dan juga Anson. Itulah kenapa keseluruhan harta Alice bisa dikatakan sangatlah luar biasa. Tak heran ia masuk seratus besar orang terkaya dalam skala internasional.


"Tapi mereka juga memiliki kapasitas yang sama seperti yang kau miliki. Empat orang itu adalah pelaku utama. Namun, jika empat orang itu terbunuh dan ada yang bisa menebak kaulah pelakunya, akan ada tiga puluh orang besar lainya yang akan memburumu habis-habisan. Saat itu, lagu kematian akan menjadi senandung tidurmu. Betapa indahnya itu. Kau akan mati dengan dilolosi satu per satu tulangnya, anakmu akan disiksa lebih dulu dan jasadnya akan dibiarkan jadi makanan ngengat."


Alice bergidik ngeri. Dia jelas tak mau mengalami nasib tragis seperti itu. Apalagi jika harus membayangkan Axel ikut menanggung dosa.


"Oh, aku salah, Alice. Mereka terlalu baik jika membiarkanmu meregang nyawa. Tidak. Mereka tak akan melakukan itu. Mereka pasti akan memaksamu tetap hidup, memanfaatkan dirimu sebagai bahan transakasi dalam prostitusi, mencekokimu dengan obat terlarang, membuatmu--"


"Cukup, Aaron. Aku paham maksudmu. Maksudmu mereka memiliki banyak orang sebagai pelindung sehingga jika aku membunuh mereka, semua pelindung mereka akan memburuku."


Alice tak ingin lagi mendengar kata-kata Aaron yang hanya menurunkan mentalnya. Lelaki ini benar-benar memiliki keahlian untuk membuat orang di sekitarnya paranoid mendadak.


"Bagus. Jadi, apakah kau masih cukup bodoh untuk melakukan semua itu?"


Alice terhenyak. Apakah maksud Aaron dia harus menerima semua kenyataan ini dan memaafkan mereka? Tetapi bukan hanya Anson saja yang mereka ambil. Alice yakin kematian anak-anaknya juga ulah mereka. Sebagai seorang istri dan seorang ibu, mustahil baginya untuk memaafkan mereka semua.


"Aku tak bisa memaafkan mereka, jika itu maksudmu." Alice berkata apa adanya.


Aaron telah selesai makan. Dia menyingkirkan piring bekas di ujung meja begitu saja. Beberapa detik kemudian Alice mendengar lelaki tua itu bersendawa keras sekali. Kelakuanya mirip tarzan.


"Bersyukurlah mereka tak bermaksud membungkammu juga, Alice. Kau harus hidup dan mengingat anugerah itu." Aaron berdiri dan bersiap keluar dari dapur. Alice membuntuti di belakang dengan raut muka tak rela.


Apakah hanya akan berakhir seperti ini? Setelah ia jauh-jauh datang ke LA mencari Aaron, kini lelaki tua itu pergi begitu saja tanpa melakukan suatu tindakan apa pun? Apa-apaan semua ini.


"Aaron, bukankah kau teman mendiang suamiku?" Alice bertanya denga nada putus asa. Air mata sudah akan jatuh tak terkendali. Kesedihanya memberontak ingin keluar.


Aaron menoleh dengan raut muka datar.


Aaron menarik nafas, ekspresi wajahnya berubah serius. Alice kaget juga melihat Aaron bisa menanggalkan sebentar watak abnormalnya. Saat ini, wajah Aaron sangat kebapakan. Menyiratkan kedewasaan dan pemahaman yang dalam.


"Aku tahu pemikiran Anson. Percayalah padaku, dia tak akan pernah mau membuatmu dan anakmu menderita. Hiduplah dengan baik dan lupakan semua ini. Kau tak akan pernah sanggup menanggung konsekuensinya jika tetap kau teruskan pencarian ini. Bersikaplah rasional untuk menghadapi kehidupan ini, Alice."


Aaron menepuk bahu Alice pelan dan kembali berlalu. Air mata Alice telah jatuh tanpa bisa ia bendung. Demi Tuhan, dia tak pernah ingin menemui jawaban seperti ini.


Apakah setahun ini yang ia lakukan hanya berujung kebuntuan? Bukankah keadilan harus ditegakkan? Jika hukum tidak berbicara, maka Alice ingin ia sendiri yang menghukum mereka semua. Mereka telah mengambil semua hal penting dalam hidupnya? Kenapa ia tak boleh melakukan hal yang sama juga?


Alice berlari dengan putus asa dan menahan tangan Aaron agar tidak pergi. Dia terisak pilu dan berlutut di hadapan lelaki tua itu. Wajahnya menyiratkan kepedihan dan keputus asaan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan ikut terseret oleh dalamnya luka yang Alice derita.


"Aku mohon, Aaron. Aku ingin mereka semua membayarnya. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan. Kumohon …," pinta Alice memilukan. Badanya bergerat hebat, seolah tak kuat menopang dirinya.


Kehidupan ini terlalu sulit untuk ia jalani. Alice hanya sanggup menitikkan air mata. Duka dan kepedihan berkali-kali mendatanginya, seolah mereka adalah teman lama yang selalu bersua setiap saat.


Alice lelah. Dia tak ingin menjadi satu-satunya pihak yang menderita. Anson adalah segalanya. Separuh nafasnya. Tujuan hidupnya. Setengah jiwanya. Bagaimana mungkin ia merelakan kepergian Anson begitu saja?


Aaron menggoyang-goyangkan kakinya penuh kebimbangan. Baru kali ini ia bingung menanggapi reaksi seseorang. Biasanya ia mudah sekali menolak kemauan seseorang. Tetapi janda Anson ini benar-benar rumit. Dia berpikir lama sebelum akhirnya berkata ringan. Nada bicaranya kembali lagi seperti semula.


"Ada satu orang yang memiliki keahlian membunuh bagaikan iblis. Identitasnya sangat rahasia sehingga orang tidak akan pernah mengetahui caranya bekerja. Jika kau bisa menggunakan orang tersebut, dia bisa menghabisi satu per satu musuh-musuhmu dan bisa membuat tiga puluh orang di belakang mereka tak berani berkutik.


"Dia orang yang bekerja sendiri. Seandainya para pelindung musuh-musuhmu mengetahui kau menyewa pembunuh itu, mereka tak akan pernah mau mengambil resiko memburumu. Siapa yang mau berurusan dengan Eyes Evil?"


Alice manatap Aaron dengan wajah penuh harap. Kata-kata lelaki ini seperti air segar yang menyiram kegersangan hatinya. Harapan Alice kembali terbentuk secara perlahan. Dia berdiri tegak, memandang Aaron dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Di mana aku bisa menemukanya?"


Jika identitasnya sangat rahasia, bukankah akan sulit menemukan keberadaanya? Bagaimana Alice bisa mencari cara untuk membuat kesepakatan dengan lelaki itu? Apakah dia harus mengumumkan diri dalam iklan koran harian tentang pencarian penbunuh yang disebut-sebut sebagai Evil Eyes? Sangat tidak lucu, bukan?


"Aku tahu orang yang mengetahui identitas Eyes Evil dan bisa membujuknya agar ia mempertemukan kalian. Namanya Leon, pemilik bar ternama kota ini."


..


Alice berjalan membuntuti Aaron menyusuri lorong kecil bar yang menuju ruang pribadi. Mereka telah membuat janji temu dengan seirang lelaki bernama Leon. Pagi ini, mereka memutuskan segera mengunjunginya.


Suasana bar sudah sepi. Pagi-pagi seperti ini pasti semua pengunjung dan para pegawai baru saja mengakhiri aktifitas. Hari-hari mereka berkebalikan dari rutinitas orang normal. Jika kita menggunakan malam hari untuk beristirahat, mereka menggunakan siang hari untuk mengumpulkan stamina dan tertidur lelap.


Hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang. Salah satunya adalah dua orang office boy yang sedang sibuk membereskan kekacauan ruangan. Beberapa yang lain adalah para pekerja tetap tenpat ini dancer, wanita pendamping dan karyawan dalam.


Alice mencoba mengacuhkan mereka semua, saat beberapa orang terlihat menilai penampilan Alice secara terang-terangan. Bayangkan saja, di saat orang lain berdandan seksi ketikaberada di bar, Alice justru memakai setelah formal dengan celana kain berwarna hitam. Lebih anehnya lagi, ia berjalan beriringan dengan lelaki nyentrik berusia tujuh puluh tahun.Pantas saja mereka jadi sorotan.


Mereka diarahkan menuju sebuah ruangan nyaman paling ujung. Aaron memasuki ruangan itu dengan santai. Dia duduk di salah satu kursi ya berada di ujung. Alice mengikuti tindakan Aaron tanpa banyak komentar.


"Hei, kawan lama." Seorang lelaki gendut berusia empat puluhan mengulurkan tangan dengan wajah berbinar. Wajahnya terlihat menyengkan.


Alice menelan ludah tanpa berkata-kata. Lelaki sebaik ini ternyata salah salah seorang pelaku bisnis gelap. Ternyata probadi seseorang tak busa ditebak hanya berdasarkan karakternya saja. Secara fisik, lelaki itu mustahil memiliki jiwa kejam seperti Aaron. Tetapi siapa yang tahu watak orang sebenarnya?


"Setelah kau sibuk bertapa puluhan tahun dalam pondok bobrok seperti orang gila, kini memutuskan untuk kembali pada kehidupan modern lagi? Apa yang menjadi inspirasimu? Apakah wanita ini?" Lelaki itu terkekeh geli, sementara Aaron hanya mendengus tak sabar.


"Halo Miss, bolehkah aku mengetahui nama wanita cantik seperti anda. Ngomong-ngomong panggil saja aku Leon."


Alice tersenyum cerah, menyambut uluran tangan Leon. Dia cukup beruntung bertemu orang semenyenangkan ini. Beruntung dia bukan orang nyentrik seperti Aaron. Alice tak bisa menbayangkan jika harus bertemu orang aneh lagi.


"Alice Mallory." Alice menjawab singkat. Dia memang masih menggunakan nama keluarga Anson setelah kematian suaminya setahun lalu.


Tanpa diduga, Leon terbatuk keras. Kedua matanya melotot menunjukkan keterkejutab baru. Dia buru-buru mengusap mulutnya dan mengalihkan pandanganya pada Aaron.


"Jadi dia janda Anson, bukan? Hei lelaki tua, apa maksudmu membawa janda Anson datang kepadaku? Jangan bilang otak kecilmu itu mulai berpikir gila."


Lima belas tahun yang lalu, Aaron memiliki bisnis sampingan untuk mencarikan wanita malam bagi bisnis Leon. Sekarang dia pasti berlikir kehadiran Alice adalah suatu bentuk penyalahan moral.


"Kau pikir aku mau menjualnya padamu? Hei, uang yang ia miliki lebih besar dua puluh kali lipat darimu. Untuk apa aku membuatnya bekerja jadi wanita malam?"


Alice yang mendengar pembicaraan mereka hanya bisa melongo heran. Siapa sangka lelaki aneh dan menakutkan seperti Aaron bisa bercanda juga? Setiap orang ternyata memiliki sisi lain yang janya diperlihatkan pada orang terdekat.


"Lantas, untuk apa?" Leon bertanya heran.


"Pertemukan dia dengan seseorang yang kau sebut sebagai Eyes Evil. Dia ingin membuat penawaran menarik."


...


Terimakasih untuk semua yang telah mensupport saya,


Tolong tinggalkan jejak like dan koment sebagai apresiasi bagi tulisan abal-abal ini.


❤❤❤

__ADS_1


Happy weekend semuanya.


__ADS_2