Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
030 - SEASON 2


__ADS_3

Alice tertegun. Dia tak tahu harus menanggapi Klayver dengan cara bagaimana. Wajah Alice memerah menahan malu. Dia menunduk dalam, menghindari tatapan Klayver yang setajam laser.


Klayver mengangkat wajah Alice, memaksanya menatap matanya secara langsung. Alice bergetar. Merasa bimbang dan salah tingkah.


"Klayver …."


"Sshhhhht." Klayver menahan mulut Alice agar tak berkata-kata. Dia menyentuh ujung bibir istrinya dan mengusapnya lembut. Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya semanis apa bibir ini jika ia mencecapnya.


Perlahan, Klayver menyurukkan wajahnya dan mencecap bibir Alice dengan pelan. Dia bergerak dengan ahli, dari lembut menjadi penuh hasrat. Dari membujuk hingga mendominasi.


Klayver mendorong tubuh wanitanya hingga punggung Alice bersandar pada tembok. Tangan Alice menyentuh dada bidang Klayver yang telanjang. Dia tersentak dan membuka mata dengan bingung. Reaksi ini terlalu dalam. Membuat Alice sekejap lupa pada dunia.


Klayver masih tak membiarkan Alice begitu saja. Dia mengusap ceruk kecil di sudut leher Alice dan mengecupnya pelan. Kecupan itu berubah menjadi lumatam agresif dan membuat Alice mendesah kecil.


Tiba-tiba, Klayver menghentikan tindakannya dan menatap dalam kedua netra istrinya. Dia mengusap sisi wajah Alice dan mengagumi tekstur lembutnya.


"Aku tak akan menagihmu malam ini. Tapi ingat, kau berhutang satu malam denganku. Aku berhak memilikimu."


Klayver berbalik dan berjalan santai menuju kamar mandi. Langkah-langkahnya mantap tanpa suara sama sekali.


Alice menatap kepergian lelaki tersebut dengan sorot kebingungan di kedua maniknya. Dia baru kali ini menemukan lelaki yang kompleks seperti Klayver. Emosinya tak terbaca dan tindakannya sulit untuk ditebak.


Alice mengusap wajahnya untuk mengembalikan konsentrasi yang sempat buyar. Dia menatap lantai dengan pandangam kosong.


Ada apa dengam dirinya? Ada apa dengan tubuhnya?



Satu hari setelah kunjungannya ke rumah Klayver, Violin memutuskan untuk kembali ke New York. Dia memasuki rumah besar di kompleks elite saat hari mulai petang. Senja menyambut kepulangannya dengan cahaya jingga yang indah.


Violin memasuki gerbang utama dengan dikawal seorang pengawal. Dia melambaikan tangan di pintu utama, meminta pengawal meninggalkan dirinya. Terkadang, terus ditempeli oleh mereka membuat Violin merasa tak nyaman.


Dengan nafas berat, Volin menasuki rumah yang sudah enam tahun ia tempati. Rumah besar ini mengusung desain yunani kuno. Banyak pilar-pilar besar di setiap ruangan utama sebagai penyangga rumah.


Suara-suara familiar terdengar dari arah ruang tengah. Tiga orang tampak tenggelam dalam canda tawa. Seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, lelaki berusia dua puluh delapan tahun, dan lelaki lain yang berusia pertengahan tiga puluhan. Wajah mereka memiliki kemiripan satu sama lain. Netra mereka sama-sama berwarna cokelat keemasan.


"Hai, Mom!" sapa Angelica, putri bungsu Violin.


"Hai, sayang. Bagaimana harimu?" Wajah Violin melembut melihat anak-anaknya.


"Baik, Mom!" Angelica menyambut Violin dengan senyuman hangat.

__ADS_1


Wilsen, anak tertua yang memiliki garis wajah setegas Klayver menyipitkan mata melihat air muka ibunya. Meskipun semua anak Violin memiliki intusi tajam, tetapi Wilsen adalah orang yang memiliki intusi paling tinggi di antara mereka. Dia bisa merasakan sedikit aura yang disembunyikan orang lain. Meskipun itu hanya samar-samar.


"Ada berita apa, Mom? Sehingga kita dikumpulkan bersama saat ini?" John, lelaki yang lebih muda ikut menimpali.


Wilsen, John, dan Angelica telah lama hidup terpisah dari Violin dan James - ayah mereka - sejak mereka beranjak dewasa.


Namun meskipun begitu, mereka selalu berkumpul di rumah ini setiap kali merayakan hal-hal besar ataupun membahas sesuatu yang penting. Sebagai kekuarga, James dan Violin berusaha untuk tetap solid.


Pagi tadi, Violin telah menghubungi semua anak-anaknya untuk berkumpul di rumah. Dia hanya menginformasikan ada kabar bagus untuk mereka.


"Di mana Dad? Mari kita ajukan waktu makan malam dan membicarakan beberapa hal penting." Violin memberikan saran.


Angelica mengangguk kecil, meskipun sedikit bingung membayangkan makan malam diajukan dua jam lebih awal. Sepertinya Mom memang memiliki berita besar untuk ia sampaikan kepada mereka.


"Dad ada di ruang kerja." Angelica menunjuk suatu ruangan yang tak jauh dari mereka.


Violin bergegas pergi meninggalkan mereka. Langkah-langkahnya mantap, mencerminkan kepercayaan diri yang ia miliki.


"Wilsen, menurutmu, apa yang ingin Mom bahas kali ini? Mungkinkah diam-diam kau akan menikah?" tanya John curiga pada kakaknya.


Angelica yang mendengar celetukan John ikut menatap Wilsen penuh tanya. Mungkinkah dugaan tersebet benar?


Wilsen memberi intruksi pada Angelica. Di antara mereka bertiga, Wilsen adalah orang yang memiliki dominasi tinggi sehingga secara otomatis menjadi penggerak bagi mereka semua.


Angelica mengangguk kecil, segera berjalan ke arah dapur. Dia menginstruksikan beberapa pelayan untuk segera menyiapkan makan malam secepatnya. Tak perlu hidangan rumit. Yang penting cukup baik dan tak terlalu lama dimasak.


Setengah jam kemudian, Mereka berlima duduk mengelilingi meja bundar di ruang makan. James duduk di kursi paling ujung sebagai kepala keluarga. Dia mengamati satu per satu anak-anaknya dengan pandangan puas.


Melihat mereka semua tumbuh dewasa membuat James bangga. Tak ada rasa syukur yang lebih besar dari seorang ayah selain melihat putra-putrinya berhasil melalui kehiduapan dengan baik. Semua kebahagiaannya telah sempurna, kecuali satu. Ada satu hal yang masih belum lengkap dalam kehidupannya. Sesuatu yang hingga kini selalu ia cari.


Hidangan telah tersaji di hadapan mereka. Semua orang mulai makan dalam diam. Suara sendok dan piring saling bergesekan, menjadi satu-satunya latar suara yang mengisi keheningan malam.


"Malam ini, Mom mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang ingin Mom sampaikan." Violin, yang duduk di samping James mulai membuka suara. Dia menatap satu per satu anak-anaknya secara intensif. Memperkirakan apa tanggapan yang akan mereka berikan, jika ia menyampaikan kabar ini.


Violin menatap James, meminta pendapat. Dia seolah ingin bertanya tanpa suara kepada suaminya, apakah lebih baik kabar ini disampaikan oleh dirinya atau suaminya.


James meremas tangan Violin pelan, menguatkan istrinya untuk menyampaikan kabar tersebut. Setengah jam yang lalu mereka telah membicarakan hal ini. James sudah bisa menangkap suasana hati Violin yang masih sensitif.


"Tadi malam, Mom telah berhasil menemukan Tristan, saudara kalian."


Kabar itu terlontar bagaikan sebuah ranjau. Memiliki efek ledak luar biasa. Masing-masing anaknya saling menoleh heran, mengumpulkan kepercayaan yang mereka miliki.

__ADS_1


Apakah kabar ini benar adanya? Mungkinkah Mom berhasil membuahkan hasil manis setelah bertahun-tahun pencarian? Jika benar, semoga saja semua ini bukan hanya harapan kosong. Sesuatu yang hadir hanya untuk hilang kembali.


"Benarkah, Mom?" Wilsen adalah orang pertama yang berhasil membuka suara setelah keheningan yang cukup lama.


Angelica yang duduk di samping Wilsen hanya sanggup menahan diri untuk tidak menangis dan berteriak histeris.


Akhirnya, lubang yang hilang di antara mereka kembali ditemukan. Jika takdir berkehendak, mungkin akan ada akhir bahagia bagi mereka semua.


"Ya. Tebak apa yang Mom temukan? Dia hidup di Manhattan dan telah menikah." Violin tersenyum kecut, teringat adegan di mana ia terpaksa mengancam Alice untuk membuat Klayver kembali pada Violin lagi.


"Menikah?" John dan Wilsen bertanya serentak.


Tristan menikah? Setelah semua tragedi yang lelaki itu dapatkan, mereka tak menyangka lelaki seperti dia akan cukup mempercayai wanita untuk menikah lagi.


"Ya." Violin terlihat serius.


"Bagaimana kondisi dia saat ini, Mom? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana reaksinya saat kau pertama bertemu dengannya?" Angelica memberondong ibunya dengan banyak pertanyaan.


Mom mengambil serbet di samping piring dan mengusap ujung bibirnya perlahan. Dia tak lagi memiliki selera makan, meskipun hidangan di depannya tampak sangat menggoda.


"Yah, dia sehat, jika itu yang kau tanyakan. Tetapi kehidupannya masih tak jauh berbeda dengan kita dulu. Bahkan dunia yang dipilih Tristan lebih kelam dari kita. Dia masih dijuluki Eyes Evil, julukan yang sama sejak delapan tahun yang lalu." Violin menjelaskan dengan panjang lebar.


Keluarga Leicester termasuk keluarga yang berkecimpung dalam banyak transaksi gelap. Mereka bekerja memfasiltasi penyelundupan barang illegal, nikotin, senjata, dan juga mengembangkan prostitusi. Tetapi mereka tak pernah bekerja sebagai pembunuh bayaran. Klayver adalah satu-satunya dari mereka yang berani keluar jalur dan berkembang dengan mengandalkan banyak insting dasar yang ia miliki.


Saat ini, Violin telah membatasi bisnis mereka. Bagaimana pun juga, pemerintah semakin ketat sehingga jerat hukum semakin insentif digalakkan. Dia memfokuskan bisnisnya hanya pada penyelundupan senjata, pembangunan kasino dan bar di beberapa negara.


Secara garis besar, saat ini bisnis keluarga Leicester lebih banyak pada bisnis yang legal. Akar mereka telah tertanam kuat sehingga bisnis mereka berkembang dengan gerakan yang sangat luar biasa. Wilsen bahkan mulai mengembangkan diri pada dunia IT, sedangkan Angelica bermain pada properti.


Meski keluarga mereka perlahan-lahan mulai menarik diri dari dunia gelap, tetapi kekuatannya masih patut diperhitungkan. Tidak ada yang sembarangan mencari masalah dengan mereka.


"Reaksinya melihatku tentu saja dia marah. Aku terpaksa menggunakan cara yang sedikit keras untuk menundukkan harga dirinya agar ia mau kembali pada kita." Violin berkara ringan, membuat semua anak-anaknya melirik curiga.


Standar Violin selalu berbeda dengan orang pada umunya. Jika ia mengatakan 'cara yang sedikit keras', mereka tak akan terkejut jika makna sebenarnya adalah 'cara yang terlalu keras'.


"Apa yang kau lakukan, Mom?" Angelica merasa perasaannya tak enak. Dia yakin ibunya telah bertindak kasar kali ini.


"Aku hanya sedikit mengancam istrinya dengan menodongkan pistol. Kukatakan padanya jika ia tak mau kembali pada kita, maka pemandangan terakhir yang akan ia lihat adalah otak istrinya yang berceceran."


Angel, Wilsen, dan John membuka mulutnya lebar, terbengong tak percaya.


__ADS_1


__ADS_2