
Ujian?
Alice menyentakkan diri dari pelukan Klayver dan menatap Violin tak percaya. Ini semua ujian? Dari apa?
"Sudah kukatakan aku akan membencimu jika kau melakukan kesalahan yang sama lagi, Mom. Apakah kau pikir kata-kataku hanya gertakan kosong?"
Violin menatap Klayver tanpa rasa penyesalan. Dia menaikkan bahu dengan keras kepala.
"Aku harus melakukan semua ini, Son. Aku hanya ingin tahu seberapa besar dia mencintaimu."
Kalyver menaikkan emosi kemarahannya. Dia menggenggam lengan Alice dengan kuat dan menariknya mendekat.
"Ayo kita kembali ke Manhattan. Datang ke sini adalah sebuah kesalahan."
Alice ditarik sedikit kasar oleh Klayver. Dia tersentak sesaat sebelum akhirnya menyadari maksud Klayver dan berjalan cepat menuju kamar atas untuk mengambil koper mereka.
"Tunggu, Klayver. Jangan lakukan ini." James menghalangi jalan Klayver, mencekal lengan anaknya sebelum mereka berjalan terlalu jauh.
"Istrimu yang terlanjur membuat masalah, Dad. Jika ada orang yang harus disalahkan, dia adalah istrimu sendiri." sudut mata Klayver melirik ke arah Violin yang berdiri mematung tanpa ekspresi .
"Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik untukmu," jelas Violin apa adanya. Tak ada kebohongan sama sekali dari air mukanya.
"Hentikan omong kosongmu. Aku muak dengan keluarga ini."
"Klayver, tolong dengarkan Dad sekali ini saja. Ibumu pasti memiliki sebuah alasan yang kuat. Lebih baik kalian berbicara secara pribadi. Pahami posisinya. Mungkin dengan begitu, ia juga bisa memahami posisimu." James menyarankan. Sebelum Klayver menolak, James beralih menatap Alice dan meminta dengan lembut.
"Alice. Kita juga perlu berbicara. Maukah kau?"
Alice mengerut ke balik tubuh kokoh suaminya. Dia tak yakin harus menanggapi James bagaimana. Dia baru saja ditodong pistol, ngomong-ngomong. Secara psikis, otaknya masih belum bekerja secara sempurna.
"Kau tak bisa memaksanya. Kami akan kembali ke Manhattan. Tolong jangan ganggu hidup kami lagi."
"Klayver. Berikan kesempatan kepada kami untuk terakhir kalinya. Kau bicaralah pada ibumu dan aku akan berbicara pada Alice. Jika pendapatmu masih saja buruk tentang kami, kau boleh pergi dari keluarga ini lagi. Selamanya." James kali ini tak main-main. Kalyver tak pernah setengah-setengah. Jika kali ini pergi, itu artinya selamanya. Akan lebih baik bagi James bertaruh juga.
"Aku tidak—"
"Klayver. Tidak apa-apa. Ada baiknya kita berbicara pada mereka sebentar." Alice menenangkan. Dia mengusap lembut lengan Klayver yang berotot dan mencoba membujuknya.
"James, ayo kita bicara." Alice melepaskan diri dan berjalan ke ayah mertuanya.
Keluarga ini memang tidak sempurna. Banyak cacat di sana-sini. Kekejaman sudah menjadi cara bagi mereka untuk bersikap. Tetapi setidaknya, Alice masih melihat kepedulian tulus dari satu sama lain. Akan lebih baik baginya memberi celah bagi mereka menjelaskan duduk masalah.
Alice hanya ingin sedikit berkontribusi untuk Klayver. Semoga saja tindakannya tidak membawa bencana. Jauh di dalam hati, dia ingin menjadi tali perantara antata Klayver dan kekuarga Liecester.
Alice mengikuti James ke ruang kerja lelaki ini. Melihat kepergian istrinya, Klayver mau tak mau menatap Violin dan mendengus kecil.
"Kita harus bicara, Klayver!" Violin mengingatkan. Sinar matanya mulai rapuh, membayangkan kemungkinan akan kehilangan putranya sekali lagi.
Ketiga saudara Kalyver hanya bisa menjadi pengamat dalam situasi. Mereka ingin bertindak, tapi pasti tidak bijaksama jika ikut campur mengenai hal sensitif.
…
Alice duduk di atas kursi lembut berlapis kulit dengan lengan tinggi. Dia berhadap-hadapan secara langsung dengan James. Lelaki itu semakin terlihat tua saat ini. Garis-garis wajahnya jelas semakin kentara.
__ADS_1
"Alice, aku ingin menceritakanmu tentang sebuah kisah" James memulai. Dia mencubit hidungnya pelan, mencoba merangkai kata demi kata.
"Keluarga Liecester adalah keluarga yang sudah lama berpartisipasi dalam banyak transaksi illegal. Katakanlah, kami pebisnis gelap. Meskipun sekarang kami perlahan-lahan meninggalkan semua itu, tetapi nama kami masih cukup berpengaruh di dunia gelap."
James berhenti, mengambil rokok dari salah satu laci meja dan mengacungkannya pada Alice, meminta pendapat apakah wanita itu keberatan atau tidak jika ia merokok.
Alice tersenyum kecil dan mepersilakan James. Dia segera mengambil pemantik api, menyalakan ujung rokoknya dan mulai menyesap asap tembakau ke dalam paru-paru.
"Kami semua, Istri dan anak-anakku, tumbuh dengan ketajaman insting yang kuat. Kami bertekad melatih anak-anak kami sedemikian rupa sehingga ia bisa menjaga diri dalam setiap situasi. Tetapi dari semua orang, Klayver yang paling tajam intuisinya dan memiliki bakat dalam menyamar."
James kembali teringat masa-masa itu. Saat anak-anaknya menginjak usia delapan tahun, dia melatih mereka dalam bela diri dan membaur dengan alam. Ketika usia mereka lima belas, diam-diam dia memperkenalkan anaknya pada jenis-jenis senjata.
Tak pernah ia sangka, Klayver tumbuh melampaui mereka semua. Di usianya yang menginjak dua puluh tahun, dia memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran dan menerima banyak misi terlarang.
Jika saudara-saudara Klayver adalah bintang, maka Kalyver sendiri merupakan bulan purnama yang memiliki sinar paling sempurna.
"Dia telah menjadi eyes evil sejak usianya dua puluh tahun. Kemudian, masalah mulai datang."
James merasakan kemarahan terpendam mengingat kejadian tersebut dan membuang puntung rokok di lantai secara sembarangan. Dia menginjak batang rokok itu di bawah sepatu hitamnya dan menggerusnya kuat-kuat untuk melampiaskan amarah.
"Saat dia berusia dua puluh satu, Klayver mengenal seorang gadis amerika latin. Dari Brazil. Namanya Holy."
Alice menahan nafas ketika bagian ini mulai diangkat dalam topik pembicaraan. Hatinya merasa sedikit terganggu.
"Mereka saling tergila-gila. Tetapi aku dan istriku tidak terlalu yakin dengan ketulusan Holy. Cinta itu bisa menguatkan dan bisa menjatuhkan. Andai Klayver jatuh pada orang yang salah, dia bisa hancur kapan saja."
Jika Klayver sampai tergila-gila pada seseorang, pastinya dia merupakan wanita yang sangat sempurna. Wanita latin dengan kulit tembaga dan wajah klasik yang luar biasa menawan. Alice membayangkan semua itu dan hatinya mulai meradang.
"Klayver terlalu mencintainya dan menganggap Holy adalah pusat dunia. Dia menjaga wanita itu seperti menjaga berlian termahal paling langka. Sungguh hal yang tak pernah kami duga sebelumnya."
"Karena kami tak menyetujui hubungan mereka, akhirnya Klayver menikah secara diam-diam. Setengah tahun kemudian Holy mengandung. Saat itulah Violin mengambil langkah drastis. Dia mendatangi Holy seorang diri, saat Klayver sedang tak bersamanya dan membongkar siapa jati diri Klayver sebenarnya."
Alice mengerutkan dahi. Jadi selama hubungan mereka berlangsung, Klayver menutupi identitas dirinya dengan rapi. Hubungan seperti itu hanya menjadi hubungan dangkal yang tak memiliki pondasi kuat. Bukankah seharusnya sebuah pernikahan tidak menyimpan kebohongan sama sekali?
"Kenapa kalian tak kunjung setuju dengan hubungan mereka?" tanya Alice mulai merasa curiga.
"Aku dan Violin memiliki insting yang kuat. Holy terlihat seperti wanita dangkal yang tergila-gila dengan harta dan tak memiliki ketulusan murni. Sayangnya, Klayver terlalu dibutakan perasaan. Jadi kami tak bisa menyadarkannya. Satu-satunya hal yang bisa menyadarkannya adalah bertindak secara berani dengan memberinya pukulan berat."
James mengubah posisi duduknya, semakin mencondongkan diri dan melihat seksama reaksi Alice. Wanita ini sudah cukup terguncang mendengar semuanya. Tetapi mereka belum sampai pada cerita inti.
"Violin medatangi Holy, mengatakan bahwa Klayver adalah pembunuh bayaran dari keluarga yang mengoperasikan banyak kegiatan gelap dan mulai mengancamnya."
"Seperti yang dia lakukan padaku sesaat lalu?" tebak Alice mulai mengerti.
"Ya. Kurang lebih. Dia menjelaskan seberapa berbahayanya Holy jika tetap bertahan dengan Klayver. Hidupnya bisa hancur sewaktu-waktu menjadi incaran musuh Klayver. Jadi, istriku menawarkan sejumlah uang yang sangat besar untuk membuatnya menghilang dari kehidupan Klayver."
James mengetuk-ngetukkan ujung jemari di atas meja mahoni.
"Tebak apa yang wanita itu lakukan? Dia menyambar uang yang ditawarkan Violin tanpa pikir panjang dan melarikan diri di ke Sao paulo, Brazil. Klayver yang mengetahui tindakan Violin, segera menyusul Holy ke Sao Paulo. Siapa sangka di sana, wanita itu ditemukan sedang menggugurkan kandungan dan berakhir tragis menuju kematian karena pendarahan hebat."
"Apakah Violin yang menyuruh Holy untuk menggugurkan kandungan?"
James yang mendengar pertanyaan ini hanya bisa mendesah pelan. Istrinya memang selalu bertindak kasar. Tetapi dia cukup memiliki batas.
__ADS_1
"Tidak. Tentu saja tidak. Violin hanya menyuruh Holy pergi dari hidup Klayver dan melahirkan anak itu dengan selamat. Setelah anak itu lahir, dia berniat akan merawat anak itu dalam keluarga Liecester tanpa campur tangan Holy. Tetapi Holy bertindak atas inisiatif sendiri untuk membunuh janin yang ada dalam rahimnya. Mungkin dia tak mau melahirkan anak Klayver, atau mungkin dia cukup terbebani melanjutkan kehamilannya. Yang jelas, dia ditemukan meninggal dalam proses aborsi."
Alice menunduk dalam. Tak tahu harus menanggapi seperti apa. Kehilangan istri dan anak pasti cukup berat bagi Klayver. Pantas jika ia membenci Violin. Karena di matanya, Violin-lah yang telah mendorong tindakan drastis Holy.
"Klayver sangat marah. Dia memutuskan hubungan dengan keluarga Liecester dan pergi selama delapan tahun. Hari ini adalah hari pertamanya kembali setelah tragedi itu terjadi."
Alice berdiri dari duduknya, merasa sulit mencerna semua ini. Violin telah melakukan kesalahan besar. Hubungan mereka baru saja kembali terjalin tetapi bodohnya, wanita itu melakukan kesalahan yang sama lagi. Menodong pistol pada Alice dan menyuruhnya pergi dari hidup Klayver. Apakah Violin tidak belajar dari kesalahan yang sama? Wanita itu cerdas, tapi cukup bodoh juga.
"Seharusnya Violin tidak terlalu mencampuri urusan Klayver."
Alice berkata pelan. Andai Violin tak mendorong Holy meninggalkan putranya, mungkin mereka masih bisa memiliki hubungam baik dan harmonis. Tetapi jika itu terjadi, artinya Alice dan Klayver tak pernah memiliki kesempatan untuk bersama. Tentunya saat ini Klayver memiliki keluarga sendiri yang sempurna.
"Violin memang bersalah. Tetapi, coba lihatlah masalah ini dari sudut pandang lain. Jika Holy cukup mencintai Klayver, dia akan tetap bertahan dengannya tak peduli siapa Klayver dan dari mana latar belakangnya. Jika dia tulus mencintai putraku, dia tak akan mengambil uang yang Violin tawarkan dan berlari menjauh ke Brazil. Jika dia cukup memiliki moralitas sebagai wanita baik-baik, dia tidak akan ditemukan aborsi dan meninggal secara mengenaskan. Violin tidak melakukan semua itu. Dia hanya mendorong Holy mengeluarkan watak sebenarnya."
"Violin hanya mencoba membuka mata Klayver tentang siapa Holy sebenarnya. Terapi Klayver justru pergi seperti hewan yang terluka."
James ikut berdiri dari duduknya, berjalan bolak-balik mengitari meja besar di tengah ruangan.
James mendekati Alice, membalik bahunya agar mereka berhadapan dan mengatakan sesuatu dengan serius.
"Jika dia mencintai Klayver, dia akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan tadi. Menolak dengan tegas apa pun tawaran Violin meskipun itu artinya kau bisa kehilangan nyawamu sendiri. Itulah arti cinta yang sebenarnya. Akan tetap memilih berdiri di titik akhir, walaupun harus berdarah-darah."
Alice tercekat mendengar penjelasan James. Dari semua tindakan yang ia lakukan, apakah itu artinya dia telah mulai memupuk perasaan kuat terhadap Klayver?
Dihadapkan pada kemungkinan ini membuat Alice tersentak. Dia menatap netra tajam James dan mengerjap beberapa kali. Air bening mulai mengalir secara peralahan. Mungkinkah ia mencintai Klayver? Apakah itu yang terjadi?
Pernikahan mereka hanya pernikahan sementara. Bagaimana jadinya jika Alice terjerumus pada lembah menakutkan yang bernama cinta? Semua itu terlalu menakutkan untuk dipikirkan.
"Jadi, Violin memang berniat mengujiku?" tanya Alice gemetar di antara air mata yang mengalur turun.
"Ya. Dia hanya ingin mengetahui sejauh mana arti Klayver bagimu. Kau menunjukkan seberapa besar cinta dan tekadmu. Aku, dari lubuk hati, berterimakasih karena telah bersedia menerima Klayver. Kau adalah anugerah yang sangat besar baginya. Tidak mudah menemukan orang yang siap mati atas nama cinta. Kau membuatku kagum, Alice."
James mengusap lembut air mata menantunya dengan buku jari. Dia menepuk-nepuk pelan bahu Alice. Tatapannya dipenuhi rasa sayang. Alice merasakan kehangatan baru dari cara James berinteraksi.
"James," kata Alice tergagap. Dia menatap mata kebapakan yang berada persis di hadapannya. Kedua tangan Alice mencengkeram lengan lelaki itu kuat-kuat. Wajahnya dipenuhi keputusasaan.
"Apakah ada masalah?" tanya James lembut.
'Masalah besar. Bagaimana jika kukatakan pernikahan kami hanyalah transaksi dangkal dan bisa berakhir sewaktu-waktu. Tak akan pernah ada cinta dari Klayver untukku.'
Alice berteriak dalam hati, tetapi menahan semua itu seorang diri. Di mata keluarga Liecester, dia adalah istri Klayver. Alice tak bisa menjatuhkan nilainya sendiri dengan mengakui serendah apa nilai pernikahan yang ia jalani bersama Klayver.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit terguncang mengetahui semua ini."
Sangat terguncang menyadari bibit cinta itu mulai berkembang tak terkendali dari hatinya. Sungguh mengenaskan.
Ya Tuhan. Dia mulai mencintai Klayver. Yang benar saja.
…
...
Buat kk @Diajeng Sandra, makasih buat komentarnya yang pengertian. Nggak nyangka ada yang merhatiin sedatail itu.❤❤
__ADS_1
Buat kalian semua yang rajin koment, kalian bmer-bner penyemangatku. Terutama saat mood mulai down. Tetap tinggalkan jejak ya, big thanks to you all