
Alice duduk berhadapan dengan Daniel di sebuah Caffee di pinggir jalan utama Manhattan. Caffee ini cukup rame. Didesain khusus dengan mengikuti selera kaum muda sehingga market utamanya adalah pemuda pemudi yang mengikuti trend terkini.
Meja caffee ini didesain dengan cukup simple. Sebuah meja kayu dengan quotes tentang cinta dan kehidupan. Dinding-dinding caffee di penuhi quotes senada dengan lukisan tangan tentang simbol-simbol cinta dan kasih sayang.
Alice menatap Daniel yang kini wajahnya terlihat semakin tirus. Kulit Daniel berubah lebih kecokelatan. Mungkin itu efek berada di negara tropis cukup lama. Sinar mata Daniel tampak menggelap, seperti penuh tekanan.
"Kau terlihat tak baik, Daniel. Bagaimana kabarmu sebenarnya?" Alice bertanya serius. Menjadi pelarian pasti tak mudah. Alalagi pelarian dari Klayver.
"Aku baik-baik saja, Alice. Sedikit tertekan saja. Setiap hari yang kutakutkan adalah Klayver bisa menemuiku sewaktu-waktu dan menembak isi kepalaku tanpa pertimbangan. Bagaimana nasib kekayaanku jika aku mati mendadak? Aku kan belum menikah dan belum punya anak. Tak ada yang mewarisi hasil dari kerja kerasku." Daniel mencoba bercanda. Dia tak ingin Alice terlalu serius mengkhawatirkan dirinya.
Seorang pelayan menyela pembicaraan mereka. Dia menghidangkan dua porsi lemon tea dan beberapa cake ringan sesuai pesanan Alice. Sore ini Alice tak terlalu lapar. Akan sia-sia jika ia memesan banyak makanan. Daniel pun sepertinya sama. Mereka hanya menggunakan caffee ini sebagai tempat pertemuan. Makanan adalah bonus tambahan.
"Sudah kukatakan berulang kali, kau seharusnya segera menikah dan membentuk keluarga. Yakinlah, Daniel. Pernikahan akan membuatmu tenang dan damai." Alice kembali menasehati. Dia cukup serius kali ini. Terakhir sebelum Daniel pergi, lelaki itu sempat mengungkapkan rasa cinta yang dimilikinya untuk Alice. Dengan kata-kata Alice barusan, Alice berharap agar Daniel peka, bahwa mereka tak ada harapan bersama dan akan lebih baik lelaki tersebut menikah dengan wanita lain.
Terjebak cinta dengan orang yang sama selama bertahun-tahun tanpa harapan bisa bersama, pastilah sangat menakutkan. Alice hanya berharap Daniel segera menemukan jodohnya yang sejati. Seorang wanita yang mampu menerimanya dan membuat hidupnya bahagia.
"Berhentilah menasehatiku tentang pernikahan, Alice. Aku sudah muak. Ngomong-ngomong, apakah yang kau sampaikan melalui telelon beberapa hari yang lalu itu benar? Klayver tak lagi memburuku?" Daniel mulai mengangkat topik yang serius. Alice mengangguk kecil, membenarkan apa yang Daniel katakan.
"Dia tak akan memburumu. Kau aman. Tapi ingat satu hal. Jangan bocorkan identitasnya pada orang lain. Siapa pun itu, termasuk teman dekatmu sekali pun. Jika tidak, aku tak akan pernah biaa lagi melindungi nyawamu!" Alice berkata serius. Dia mulai menyesap lemon tea dari gelas di depannya dan menikmati cita rasanya. Pantas saja caffee ini ramai. Minuman yang disuguhkan luar biasa sempurna.
"Apa kau pikir aku bodoh, Alice? Aku tahu bagaimana Klayver. Jika aku tak dipaksa, mana mau aku bersedia mencari informasi tentangnya. Kali ini aku telah selamat dari kematian. Aku tak akan pernah mau menerjunkan diri dalam kematian lagi. Membongkar identitas Klayver pada pihak lain merupakan dosa besar yang aku tak bisa menangung konsekuensinya." Daniel menuturkan pikirannya panjang lebar.
Daniel memang pernah melakukan kesalahan, tetapi ia bukan orang bodoh. Sekali dia masuk jurang, tak akan ia ulangi kesalahan yang sama. Dia bukan keledai yang bisa jatuh di lubang yang sama berulang kali dan berakhir dengan kematian tragis.
"Baguslah. Setidaknya otakmu masih berfungsi normal, kawan!" Alice terkekeh geli, melihat raut wajah Daniel yang tak terima. Lelaki memang mudah tersinggung. Dasar egomania sejati.
"Apa kau pikir aku tak memiliki otak? Lantas, dari mana aku bisa mendirikan perusahaan perangkat lunak hebat seperti sekarang?" Daniel meradang. Dia memakan beberaoa cake yang tersaji dan menelannya secepat kilat. Daniel melambaikan tangan dan memanggil seorang pelayan.
"Berikan aku burger dan kentang goreng," pintanya yang segera ditanggapi dengan anggukan oleh salah seorang pelayan laki-laki.
"Kupikir kau tidak lapar." Alice berkata bingung. Ia menatap piring saji di depan Daniel yang telah tandas.
"Sepertinya caffee ini lumayan juga. Aku jadi lapar tiba-tiba. Kau mau mencoba menu lain? Ngomong-ngomong, kau yang traktir sesuai janjimu!" Daniel tersenyum penuh kemenangan. Ia duduk berasandar pada kursi tinggi dan mulai menikmati suasana. Sebuah band lokal tengah memainkan lagu dari Scorpion. Suaranya cukup lembut untuk dinikmati dan pintar mengambil nada awal.
"Baiklah, aku yang traktir. Wanita sekarang memang setara dengan laki-laki," goda Alice mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Daniel, bagamana kau mengurusi bisnismu selama kau kabur ke Bali? Jangan-jangan kau mulai bangkrut sekarang. Aku harus waspada jika kau tiba-tiba meminjam uang padaku." Alice berkata sembarangan. Otaknya tak lagi tegang setiap kali dekat dengam lelaki ini. Untuk sejenak dia bisa rileks dan melepaskan beban yang ada.
"Aku tak mungkin bangkrut semudah itu. Aku menyerahkannya pada asisten kepercayaanku. Dia cukup gesit dan mencetak banyak keuntungan baru. Kau jadi mengingatkanku, aku harus memberinya bonus tambahan karena berhasil mempertahankan kestabilan perusahaan selama aku pergi." Daniel mengangguk-angguk kecil, jadi teringat akan Jack, asisten pribadinya yang ia percaya penuh. Tanpanya, perusahaan Daniel tak akan bisa bertahan lama.
"Baguslah." Alice mengangguk setuju. Otak Daniel sudah terprogram. Dia tak akan meninggalkan sesuatu tanpa persiapan matang.
"Bagaimana kabar putramu, Alice?" tanya Daniel tiba-tiba.
Alice mendesah lemah mulai diingatkan tentang Violin. Setiap kali teringat akan Axel, ia jadi teringat akan Violin juga. Dua orang itu bak surat dan perangko yang sulit terpisah.
"Dia sedang berlibur di New York, bersama orang tua Klayver. Mereka semua terlalu memanjakan anakku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya Axel setelah pulang nanti." Alice tersenyum lemah. Pikirannya mulai melayang kembali.
"Memang begitulah sikap orang tua, Alice. Besok jika kau jadi nenek pasti akan melakukan hal yang sama juga. Aku bersyukur keluarga Klayver mampu menerima Axel dengan mudah."
Tidak mudah seorang anak dari lelaki lain mampu disambut penuh kasih sayang oleh keluarga besar dari suami ke dua. Kasus Alice adalah hal yang langka. Alih-alih mengeluh, seharusnya Alice merasa bersyukur.
"Benar juga apa yang kau katakan. Hanya saja, yah, mertuaku itu sangat unik. Kau bisa menilai sendiri jika suatu hari nanti bertemu!"
Alice menghabiskan sisa minumannya dan duduk nyaman di atas kursi. Dia menatap Daniel yang baru saja mendapat burger dan kentang goreng dari salah seorang pelayan. Lelaki tersebut memakan hidangannya dengan rakus. Alice hanya bisa menggelengkan kepala, merasa heran. Daniel pergi cukup lama, sekarang ia lebih terlihat deperti pengungsi lapar yang tak mendapat jatah makanan selama bertahun-tahun.
"Terserah, Daniel. Ngomong-ngoming, caramu makan tak jauh berbeda dengan pengungsi perang yang mengenaskan." Alice tertawa geli, melihat wajah lucu Daniel yang tak sadar akan keadaan.
Tak jauh dari mereka, seorang lelaki melihat keakraban yang mereka jalin. Dia duduk di sudut ruang VIP, sedikit terhalang oleh patung imitasi yang diletakkan caffee tersebut di sampingnya.
Klayver menyesap rokoknya dalam, menyembunyikan sorot matanya yang mulai menggelap.
…
Alice kembali ke rumah saat hari telah larut. Ia menatap jam tangan dan menggeleng lemah. Sudah Jam delapan malam sekarang. Percakapannya dengan Daniel menjadi berkembang di luar kendali dan menghabiskan banyak waktu yang tidak Alice duga.
Alice berjalan menuju kamar, merasa gerah dan ingin berganti pakaian. Sepanjang perjalanan ke kamar, ia mengira-ngira apakah Klayver telah kembali ke rumah atau masih sibuk mengurusi masalah pribadinya.
Saat Alice membuka pintu, ia terkejut melihat Kalyver yang duduk di atas kursi menghadapnya dengan pandangan tajam. Lampu kamar dimatikan, menyisakan cahaya samar dari bohlam kecil tak jauh dari meja nakas.
"Klayver?" Alice mengerjap bingung.
__ADS_1
Aura Klayver sangat dominan. Tatapan matanya dingin, menyorot tajam bak serigala hutan. Suasana di kamar terasa mencekam. Alice menutup pintu kamar di belakangnya dan mendekati suaminya dengan hati-hati.
Mungkinkah Klayver sedang dalam masalah? Sorot matanya lain dan tampak berbeda. Alice sedikit takut menghadapi suaminya yang seperti ini.
"Dari mana saja kau?" Suara Klayver jauh dan terkesan dingin. Tanpa sadar Alice jadi menggigil. Bulu kuduknya meremang tak nyaman. Melihat reaksi Klayver yang seperti ini, Alice seolah menjadi remaja yang sedang dihukum atas kesalahan yang ia lakukan. Tetapj Alice merasa tak melakukan kesalahan. Jadi ada apa senenarnya?
"Aku keluar sebentar, kalyver. Mengurus sesuatu." Alice menjawab lembut. Dia ingin menyembunyikan fakta kepulangan Daniel lebih lama. Meskipun Klayver telah berjanji akan memaafkan tindakan Daniel, tetapi Alice tak bisa menjamin amarah lelaki itu akan seperti apa jika mendengar orang yang pernah membongkar identitasnya telah pulang kembali ke Manhattan.
"Mengurus pertemuanmu dengan Daniel?" tanyanya sinis. Alis Klayver saling bertaut, membentuk ekspresi dingin dan sadis.
Alice memejamkan matanya dan mengutuk dalam hati. Benar saja kan. Dia mendapat masalah. Entah dari mana Klayver tahu, tetapi yang jelas sekarang pertemuannya dengan Daniel menjadi sumber kesalahpahaman bagi mereka saat ini.
Alice berjalan mendekat dan menyentuh lengan Klayver yang semakin terlihat kuat di bawah sinar lampu remang-remang. Tubuh Klayver membentuk bayangan besar di belakangnya.
Klayver menepis dengan cepat sentuhan Alice dan berdecak pelan.
"Kau mulai menyimpan kebohongan dariku, Alice."
Ya Tuhan. Kenapa masalahnya jadi serumit itu? Dia bertemu dengan Daniel sebagai kawan. Hanya kawan. Karena kebetulan Daniel memiliki gender yang berbeda darinya, jadi menimbulkan kesalahpahaman Klayver.
"Klayver, aku hanya bertemu sebagai teman. Tak lebih. Kami perlu berbincang sebentar setelah lama tak bertemu. Dia juga perlu diyakinkan jika kau tak lagi memburunya. Kumohon, jangan berpikiran sempit hanya karena hal yang sepele!" Alice mengusap wajahnya dengan lemah. Dia menatap Klayver yang masih tak percaya dengan kata-katanya dan meringis sedih.
"Teman yang pernah menjadi cinta masa lalu bagiku bukanlah teman biasa. Aku bukan orang bodoh, Alice. Rasa bisa kembali hidup jika kita sering bertemu dengan sosok tersebut," ucapnya datar.
"Kau berpikir picik, Klayver!" bantah Alice tak terima.
"Tidak. Kau yang bertindak di luar batas. Sayangnya, aku bukanlah orang yang bisa menjadi tempat kembalimu dalam bermain hati." Klayver terdengar serius. Dia berdiri, mendekati Alice dengan langkah lebar dan menahan rahang bawah istrinya sendiri.
"Kau pikir aku mempermainkanmu, Klayver?" Alice tak terima. Ya Tuhan. Dia hanya bertemu dan minum teh dengan Daniel. Sesederhama itu. Bagaimana bisa menjadi rumit Pikiran Klayver yang terlalu luas membuatnya banyak mengambil spekulasi.
"Tatap mataku, Alice!" Suara Klayver sangat menakutkan. Membuat Alice ingin mengerut kecil di bawah lantai.
"Kau milikku. Sepenuhnya milikku. Tak ada lelaki lain yang berhak mencintaimu selain aku. Jika ada yang berani menyimpan hati untukmu, aku lebih suka melihat ia tiada. Mungkin aku memang psikopat. Tetapi begitulah caraku mencintaimu. Ambil semuanya dariku dan berikan seluruh milikmu untukku, atau buang semuanya. Denganku, segalanya harus totalitas."
…
__ADS_1