
Kata siapa ditinggal suami dalam penjara adalah hal yang mudah. Rachel menyaksikan proses demi proses yang Maxen jalani dari meja hijau hingga keputusan hakim turun.
Meskipun dugaan Maxen benar, dia mendapatkan masa tahanan hanya tiga tahun lamanya karena kepiwaian pengacaranya dalam membela klien. Tetapi nyatanya hal tersebut tetap saja terasa berat bagi Rachel.
Setelah persidangan selama setengah bulan, Maxen ditetapkan menjalani masa tahanan di wilayah Manhattan. Rachel sudah menduga hal ini. Dia setia menemani Maxen dalan situasi sulit seperti sekarang.
Di matanya, tidak peduli kesulitan apa pun yang Maxen lalui, Rachel lebih memilih berdiri bersamanya tanpa membalikkan badan.
Maxen telah menjadi seluruh kehidupan Rachel. Dengannya, sekali pun harus melewati neraka akan Rachel lakukan.
Alice yang tadinya berniat tidak ingin terlalu ikut campur dalam hal ini, mau tak mau prihatin juga melihat kondisi temannya yang memprihatinkan.
Di suatu sore, dua hari setelah Maxen resmi ditahan, mereka berbincang di halaman belakang rumah Alice.
Senja menghampar dengan warna jingga. Langit tersaput cahaya yang mulai temaram. Hari telah berganti warna. Petang mulai menyapa dunia.
Dunia itu laksana roda yang berputar. Di sini mentari mulai merayap pergi, menghadirkan kegelapan. Di tempat lain, mentari menyapa kembali, memberikan sinar cahaya lembut yang dibutuhkan dunia.
Setiap kehidupan yang ada, pada dasarnya selalu membutuhkan cahaya. Mentari adalah pokok dari semua hal. Bahkan menjadi pusat energi.
Dari sejak dulu, cahaya telah menjadi nyawa bagi dunia. Selalu ada layaknya udara. Hingga tanpa sadar kita menganggap hal tersebut menjadi hal wajar yang berjalan sendirinya. Padahal andai kita mampu merenung sejenak, tanpa cahaya kita hanya akan sekarat dalam kegelapan.
"Kau jangan terlalu memforsir tenagamu, Rachel. Sekali-kali, nikmatilah harimu dan bersantailah. Maxen pasti tak menginginkanmu tersiksa begini."
Alice memberi nasihat pada Rachel karena akhir-akhir ini ia melihat kondisi Rachel cukup memprihatinkan, berlarut-larut memikirkan kondisi Maxen.
Alice sudah berkali-kali mengatakan Maxen adalah lelaki yang memiliki ketahanan binatang sehingga dia pasti akan baik-baik saja menjalani semua proses hukum.
Alice malah cenderung merasa kasihan dengan narapidana lain yang berbaur dengan Maxen. Mereka lebih patut dikhawatirkan dari pada suami Rachel. Jelas-jelas Maxen bisa berubah menjadi makhluk tanpa nurani yang bisa menghabisi siapa pun. Orang di sekitarnya tak pernah ia biarkan menyinggung harga dirinya.
"Aku tahu, Alice. Tapi tetap saja menyakitkan menyaksikan ia berada di balik jeruji." Rachel mendesah berat. Tadinya ia pikir ia sanggup menerima hal ini dengan mudah. Nyatanya, hatinya masih saja rapuh jika menyangkut tentang Maxen.
"Bukankah itu tanggung jawab paling ringan yang bisa Maxen terima atas semua tindakan buruknya dulu?" Alice mengingatkan. Sebelum ini Rachel tak pernah mengatakan pada Alice bahwa ia keberatan. Sekarang tindakan Rachel mengungkapkan kebalikannya.
Rachel terdiam lama. Apa yang dikatakan Alice memang benar. Penjara tiga tahun adalah hal paling ringan yang diperoleh Maxen. Tadinya Rachel berpikir kasus Maxen akan membuat suaminya terjebak selama puluhan tahun lebih di balik jeruji penjara. Bukankah itu artinya Tuhan masih memberikan keringanan?
Rachel tak pantas untuk mengeluh. Dia juga ikut mendorong Maxen melakukan hal ini. Tak seharusnya Rachel menjadi lemah dalam prosesnya.
"Kau benar, Alice. Aku terlalu memforsir tenaga dan pikiranku. Aku seharusnya bersyukur karena Maxen hanya menjalani hukuman ringan dari situasi ini."
Rachel menatap mata Alice dengan menunjukkan wajah terimakasihnya. Bagaimanapun juga, Alice telah berkontribusi besar dalam memperingan hukuman Maxen. Tak terbayangkan andai wanita itu memilih cara kejam untuk menghabisi suaminya melalui tangan Klayver, Rachel pasti akan lebih hancur lagi.
"Kau sudah mendapatkan kabar tentang Harry akhir-akhir ini?" Alice mengalihkan topik pembicaraan.
Rachel menggeleng pelan. Harry seperti buronan yang berlari entah ke mana. Lelaki itu terlalu pengecut menghadapi kenyataan. Bahkan saat Maxen diputusi hukuman pidana, batang hidung Harry tetap tak nampak juga.
"Rachel, pernahkah kau membayangkan apa yang akan kau katakan andai Harry muncul di hadapanmu lagi?" Alice menoleh, menatap Rachel di bawah sinar mentari sore. Rambutnya berterbangan ditiup angin musim gugur. Beberapa pohon di halaman mulai menggugurkan daunnya menyambut pergantian musim.
Wajah Alice semakin cerah setiap waktu. Pernikahan pasti membuat hari-harinya berwarna. Rachel ikut senang pernikahan Alice mampu mengembalikan kembali sinar bahagia yang dulu sempat hilang. Setidaknya, wanita itu menjalani hari dengan baik.
"Entahlah, Alice. Rasa kecewaku sudah sangat besar. Bahkan aku tak tertarik untuk bersilat lidah lagi dengan Harry. Mungkin, secara tak sadar, aku mulai membencinya perlahan-lahan. Akan lebih baik jika kami tak lagi saling bertemu. Berhadapan langsung dengannya hanya akan membuat kami berdebat dan melemparkan kata-kata buruk."
__ADS_1
Rachel menatap langit yang berwarna biru. Awan masih menggantung dengan sempurna. Mewarnai alam dengan pulasan alami yang sangat menawan.
Harry dulu pernah menjadi bagian Rachel. Bagian yang sangat penting dan tak terlupakan. Tetapi waktu lama-lama membuka topeng lelaki itu sebenarnya. Dia tak ubahnya seperti serigala berbulu domba. Apa yang nampak di permukaan tidaklah selalu menunjukkan kebenaran.
Berapa kebohongan yang telah Harry tutupi dari Rachel. Berapa besar kepalsuan yang telah Harry tampilkan untuk Rachel. Semua itu semakin membuat Rachel muak. Harry tak lebih dari sosok yang menawarkan hubungan dangkal tanpa kepastian. Dengannya, Rachel telah menghabiskan jutaan detik waktu sia-sia.
Hingga sekarang, yang tersisa dari Rachel hanyalah rasa benci tanpa kesudahan. Tindakan Harry bukan hanya menunjukkan sikap pengecut, tetapi juga memperlihatkan betapa kejamnya ia karena tega mengumpankan orang terdekatnya selama ini.
Sikap seperti itu tak pantas untuk Rachel hargai. Dia justru heran bagaimana bisa mereka semua tertipu oleh karakter Harry yang sangat dangkal. Seharusnya dari awal Rachel dan Maxen bisa mengantisipasi hal tersebut.
"Kau membencinya?" Alice mengulang kembali pernyataan temannya.
Rachel tersenyum miris. "Kupikir aku memang harus membencinya," jawabnya mencoba untuk tidak terlalu peduli.
Alice mengangguk kecil, mencoba memahami. Aneh jika Rachel tak tergerak atas tindakan Harry yang keterlaluan.
Dunia ini cukup rumit. Apa yang tadinya disebut cinta bisa berubah benci hanya dalam sekali waktu.
"Sudahlah, Alice. Aku tak ingin membahas tentang Harry. Bagaimana kabar suamimu? Sepertinya dari tadi aku belum melihat Axel." Rachel menoleh ke sekeliling, mencoba mengamati situasi kembali.
Benar saja. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Axel sama sekali. Biasanya anak itu akan selalu menyambut kehadiran Rachel. Pipi chubbinya terlihat menggemaskan dengan sinar mata khas anak-anaknya. Setiap kali Rachel datang, teriakannya selalu membuat Rachel teralihkan dari banyak hal.
"Dia masih bersama Violin. Seharusnya dia sudah pulang beberapa hari yang lalu. Tetapi Violin menahannya lagi. Klayver sudah pergi sejak sembilan hari yang lalu. Dia berjanji akan pulang tiga hari lagi sekaligus menjemput Axel. Anak itu jika tak dijemput pulang lama-lama lupa dengan rumah ini."
Menyedihkan. Putranya sendiri sekarang lebih memilih bersama nenek yang baru saja ia kenal dari pada bersama dengan ibunya sendiri.
Entah apa yang telah Violin lakukan. Bisa jadi wanita itu menggelontorkan banyak uang untuk memanjakan Axel. Bagi wanita sepertinya, pasti bukan hal yang sulit untuk melakukan semua itu. Uang tak lagi menjadi sesuatu yang berarti.
"Wanita itu pasti membelikan ratusan mainan untuk anakmu." Rachel tertawa kecil.
"Biar saja, Alice. Itu artinya keluarga Klayver cukup baik untuk menerima keberadaan putramu. Apa yang salah dari hal itu?"
"Tidak ada. Huh! Aku hanya tak senang Axel dimanjakan terlalu sering."
…
Di tempat lain, Klayver tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita berambut pirang sebahu. Selinting rokok terselip di antara jari jemari lentiknya. Sebuah tato berbentuk kalajengking menghiasi belahan dadanya yang sengaja diumbar.
Wanita itu menyebut dirinya sendiri sebagai Jasmine. Nama yang sama sekali tak cocok karena seluruh penampilannya tak ada yang menyerupai melati sama sekali. Matanya yang sewarna laut terlihat penuh godaan layaknya wanita jalanan yang haus akan belaian.
"Kau terdesak saat ini, Ice Boy?" tanya Jasmine menaikkan sebelah kakinya yang jenjang ke atas lututnya yang lain. Membuat gelang kaki yang ia kenakan bergemerincing lirih.
Klayver menatap dress merah mini yang dikenakan Jasmine dengan pandangan mencemooh. Wanita itu masih saja menampilkan asetnya, yang sebenarnya jika mau diakui memang sangatlah menarik.
Tetapi bagi lelaki seperti Klayver, semua itu tak ubahnya sampah yang ia lihat di ujung jalan dan terpaksa ia perhatikan. Seindah apa pun lekukan Jasmine yang tersaji di depan mata, tak berhasil mendapatkan perhatian dari Klayver sama sekali.
Jasmine memang cantik, tapi murahan.
"Musuhku semakin gencar mencariku," sahut Klayver dingin.
Lelaki itu selalu bersikap dingin. Seolah-olah jiwanya memang terbentuk bersamaan dengan kutub utara. Karena itulah Jasmine menjulukinya sebagai Ice Boy sejati.
__ADS_1
Orang seperti Klayver mampu membawa pesona tersendiri bagi sebagian wanita. Sikapnya yang berjarak justru memancing rasa ingin tahu. Tak heran Jasmine melihat lelaki itu dikejar banyak wanita. Tetapi mereka selalu berhenti dalam jarak aman setiap kali merasakan aura berbahaya yang menguar dari Klayver.
Hanya wanita bodoh saja yang berani mendekat. Bagi mereka, hanya akhir tragis yang menantinya. Layaknya psikopat, Klayver bak iblis. Wanita sekadar aksesori tambahan yang layak digunakan sekali pakai. Selebihnya, mereka tak pernah ia biarkan menyentuh kehidupannya.
"Apa hubungannya denganku? Kenapa kau memilih datang ke sini?" Jasmine menaikkan satu alisnya, mengorek alasan Klayver sebenarnya.
Jasmine adalah satu dari sekian banyak orang yang memiliki keberanian untuk menghadapi Klayver. Meskipun begitu, dia wanita yang cukup pintar sehingga tidak akan pernah memancing kemarahan Klayver secara sengaja.
Wanita yang telah lama terjun dalam dunia hitam sepertinya, terbiasa memiliki otak licin yang berguna bagi setiap keadaan.
"Aku butuh dukunganmu." Suara Klayver masih saja terdengar dingin. Seolah-olah apa yang ia minta adalah hal sepele.
Namun, di balik itu semua, mereka berdua tahu "dukungan" dalam hal ini pastilah sesuatu yang sangat besar. Jasmine menjamin sejauh mengenai Klayver, lelaki itu selalu berurusan dengan hal besar.
"Dukungan atau bantuan?" Jasmine terkekeh, memamerkan bibir merahnya yang dipulas seperti jaláng. Seluruh penampilan Jasmine, dari ujung kaki hingga ujung kepala menyiratkan pesona wanita malam. Tipe wanita yang berdiri di lorong-lorong bar dengan liur menetes menunggu pelanggan bobrok untuk bermalam di flat murahan.
Hanya segelintir orang saja yang tahu di balik kebinàlannya, ada aura berbahaya yang tersembunyi. Aura yang ketika keluar mampu menekan banyak orang dan menghasilkan tragedi berdarah.
"Dua-duanya."
"Apa yang akan aku dapatkan jika memberikan hal itu padamu? Aku tak keberatan jika kau membayarnya dengan malam luar biasa dengan tubuhmu." Jasmine mengerling penuh arti, mencondongkan tubuhnya sehingga belahan dada yang ia miliki semakin terekspos. Agaknya hal itu tidak mengganggunya sama sekali. Buktinya wanita tersebut semakin berani dengan menopangkan sebelah lengannya dan memainkan helaian rambut dengan cara menggoda.
"Jangan terlalu murahan di depanku, Jasmine. Aku cenderung ingin menghabisi wanita murahan yang tak tahu batas," sindir Klayver dengan ringan. Lelaki itu masih bersandar santai di kursi tinggi dengan ukiran rumit.
Mereka tengah berada di bar milik Jasmine. Tepatnya, ruang kerja Jasmine yang tak beraturan dengan aroma parfum murahan di sana-sini.
Klayver tak tahu apakah semua itu adalah samaran Jasmine ataukah karakter sebenarnya. Jika samaran, Klayver tergoda untuk bertepuk tangan karena hanya orang luar biasa saja yang bisa menghabiskan waktu dalam ruangan mewah tetapi terkesan bobrok.
Perabotan di ruangan ini jelas merupakan perabotan mahal. Klayver menjamin meja berbahan giok asli dari china di depannya pasti menghabiskan puluhan ribu dollar. Rak dokumen di belakang Jasmine dari kayu mahal berpelitur juga pasti bukan barang sembarangan.
Namun, penampilan ruangan ini sama bobroknya dengan Jasmine. Di sana-sini tercium aroma séks yang tajam bersama wewangian murahan yang bisa kau dapat di pinggir jalan Manhattan. Barang-barang berantakan. Aroma asap rokok bercampur mariyuana sempat Klayver cium di beberapa sudut ruangan. Banyak puntung rokok tersebar di lantai keramik mahal berdesain tiga dimensi. Secara keseluruhan, ruangan ini kacau. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana Klayver bisa bertahan duduk lebih dari sepuluh menit di sini.
"Oh, ayolah, Kalyver. Pasti menyenangkan dihabisi olehmu." Jasmine mengedipkan mata, memancing dengan rayuan tanpa tahu malu.
Ya Tuhan. Pantas saja Jasmine bergelut dalam bisnis pelacuràn. Dirinya sendiri mencerminkan sikap tak jauh dari wanita jalàng.
Klayver memilih tak menggubris kata-kata wanita tersebut. Sebagai gantinya, dia memandang tajam Jasmine dengan mata menyipit dalam.
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda, Sayang. Jangan terlalu serius." Jasmine melambaikan tangannya, mengetahui dengan pasti kapan ia harus mundur teratur.
Kalyver orang yang cukup rumit. Terlalu berani menggodanya akan berakibat fatal. Jasmine tak ingin itu terjadi. Bagaimanapun juga, dia masih menbutuhkan hidupnya berlangsung dengan tenang.
"Bantuan apa yang kau inginkan dariku?" tanya Jasmine. Kali ini sinar matanya menunjukkan keseriusan.
Klayver menarik nafas dalam. Sebenarnya, dia enggan meminta hal ini dari Jasmine. Tetapi sayangnya wanita tersebut adalah satu-satunya kandidat orang luar yang cukup potensial untuk ia mintai tolong. Memang, Jasmine bobrok. Tetapi ia memiliki solidaritas yang tingga pada setiap kawannnya dan bisa dipercaya memegang informasi penting. Bahkan Klayver telah menaruh kepercayaan tinggi dengan membiarkan Jasmine tahu bahwa ia dalah Eyes Evil.
"Aku harus membereskan pihak-pihak yang menginginkan nyawaku. Jika aku ingin mengambil langkah menang, aku harus mengambil langkah terlabih dahulu."
"Bagus. Aku setuju. Lantas masalahnya?"
"Selama aku pergi sementara waktu membereskan urusanku, aku butuh kau menjaga langsung istri dan putra tiriku. Mereka berada di Manhattan."
__ADS_1
"APA? KAU MEMILIKI ISTRI? KUPIKIR MATAHARI BELUM TERBIT DARI BARAT!"
…