Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
096 - SEASON 2


__ADS_3

Sekarat?


Jasmine menatap William dengan pandangan penuh tanya. Lelaki tua itu hanya menatap balik tanpa kata-kata.


Beberapa menit mereka saling diam. Tak ada yang memecah keheningan. Hingga kemudian, Jasmine bertanya dengan suara sedikit kesal.


"Kau ingin menjelasakannya atau tidak, William?"


Lelaki tua itu sedikit tak senang. Dari awal, dia memang tak terlalu cocok dengan Jasmine. Dari penampilan wanita itu, hingga sikapnya yang dianggap mampu menodai karakter Alice. Tapi mau bagaimana lagi. Klayver sudah mempercayakan Alice padanya. William tak bisa menolak kebijakan tersebut. Bagaiamana pun juga, klayver merupakan lelaki yang penuh perhitungan. Dia pasti telah mempertimbangkan semua kemungkinan.


"Aku sudah menyelidiki setiap hal yang mencurigakan dari Sila beberapa waktu yang lalu. Dia terhubung dengan organisasi Black Hell. Sebuah organisasi yang hingga sekarang aku tak tahu diketuai oleh siapa. Mungkin, orang Amerika Latin. Informanku hanya sampai di titik itu. Meskipun aku belum tahu siapa dia, tetapi aku berhasil menyimpulkan organisasi ini pasti menargetkan Klayver dan Alice." William terdiam sejenak. Dia kemudian berdiri, berjalan mendekat ke arah Jasmine di sisi ranjang rumah sakit.


"Sila telah menjadi mata-mata bagi mereka. Kau pikir hanya kau saja yang menginginkan kematiannya? Aku pun juga menginginkan hal serupa. Lebih baik membungkam seseorang sebelum orang itu bertindak hal yang membahayakan. Tetapi tadi dokter yang menangani Sila mengatakan informasi yang mengejutkan. Sila teridentifikasi positif terkena racun syaraf dalam dosis rendah. Dokter masih belum tahu jenis apa. Yang jelas tadi Sila sempat memunculkan gejala kejang dan sesak nafas untuk sejenak. Racun itu sengaja dimasukkan dengan tujuan membunuhnya secara pelan-pelan. Mulai sekarang, Sila akan sering mengalami gejala-gejalanya. Kemungkinan, dia akan meninggal satu hingga dua bulan ke depan. Tiga bulan paling lama.


"Setelah aku mengetahui fakta itu, aku mengurungkan niat untuk membunuhnya. Untuk apa menghabiskan tenaga membungkam orang yang sedang dalam tahap menjemput kematiannya sendiri?" William tersenyum sinis.


Dari dulu, kepercayaan William tak pernah bisa dibengkokkan. Sekali dia mengabdi pada seseorang, sekali pun dia harus membunuh ribuan nyawa untuk itu, akan dia lakukan. Melenyapkan Sila bukanlah hal berat jika memang demi kebaikan Alice. William bersedia melakukannya dengan suka rela.


Tetapi kondisi Sila sudah diambang kematian. Akan sia-sia jika melenyapkan dengan tangan William. Hanya menambah kecurigaan pada pihak musuh. Matinya seorang mata-mata akan membuat Black Hell waspada. Kehidupan Sila merupakan tolak ukur dari keberhasilan rencana mereka. Jika Sila terbunuh dalam proses ini, hanya akan membuat Black Hell mengambil langkah lain yang lebih signifikan.


"Maksudmu, Black Hell telah memasukkan racun itu ke tubuh Sila? Bukankah Sila aset mereka sekarang? Untuk apa membunuh aset sendiri."


"Ada dua kemungkinan. Pertama, karena kegunaan Sila hanya sementara dan dia tak ingin menjadikan Sila sebagai beban karena telah mengetahui rahasia mereka sehingga diberi racun, atau karena mereka tak cukup percaya pada kesetiaan Sila sehingga wanita itu akan lebih aman dibungkam setelah semuanya selesai."


Dalam hukum rimba, ada sebuah prinsip di mana lebih baik memotong bagian yang beracun dalam tubuh dari pada membiarkannya membahayakan bagian yang lain. Sila adalah perandaian bagian yang beracun. Dia dianggap mampu menyeret bahaya bagi Black Hell. Karena itu, setelah berhenti masa manfaatnya, wanita itu sengaja dibungkam untuk selamanya.


"Pemikiran yang cukup licik. Mereka bahkan menghabisi orang mereka sendiri!" Jasmine menggelengkan kepala dengan miris.


Sebuah organisasi ada yang memiliki prinsip mengerikan. Selama organisasi itu aman, mereka tak peduli berapa darah yang perlu ditumpahkan sesama mereka sendiri.


"Pergilah dan kembalikan lagi perlengkapan perawatmu itu. Kau tak pantas memakai pakaian medis untuk menutupi kebobrokan niatmu!"


"Jangan sok suci, William! Kau pun sama saja denganku. Tak ada di antara kita yang pantas merasa suci." Jasmine berlalu pergi ke luar ruangan, meninggalkan William seorang diri.


Sepeninggal Jasmine, William ikut keluar ruangan. Dia membutuhkan kopi untuk menghilangkan kepenatannya. Dia berjalan menuju lorong rumah sakit, memasuki lift, dan menekan tombol lantai dasar.

__ADS_1


Tinggallah Jasmine seorang diri di ruang rawat. Dokter telah memberinya obat tidur untuk membuatnya bisa beristirahat dengan nyaman. Tetapi diam-diam tanpa diketahui siapa pun, Sila tidak tidur sama sekali dari tadi.


Sila termasuk pengidap insomnia akut. Dia terbiasa mengonsumsi beberapa jenis obat tidur untuk membuatnya terlelap. Lama-lama, dosis yang ia gunakan semakin meningkat setiap waktu. Sehingga mau tak mau Sila melipatkandakan jumlah pil tidur yang ia konsumsi.


Karena itu, saat tadi dokter memberinya obat tidur, dia hanya pura-pura tertidur. Mustahil dosis kecil itu bisa mempengaruhi dirinya. Sila terpaksa pura-pura terlelap karena di sampingnya ada William. Dia enggan untuk tetap sadar sementara ada lelaki tua yang selalu memandangnya dengan sinis akhir-akhir ini.


Tak disangka, kepura-puraannya membuat ia mendapatkan informasi terbaru. Luiz, dengan segala kelicikannya, telah membuat Sila terkena racun syaraf. Pantas akhir-akhir ini ia merasa sesak nafas. Dia kira hanya pengaruh perubahan musim gugur. Ternyata itu merupakan gejala dari penderitaan yang akan ia lalui kedepannya.


Sila tak mendengar dokter yang menanganinya membicarakan masalah tentang racun syaraf yang ia derita. Sepertinya dokter itu menbicarakan hal tersebut secara pribadi di ruangannya dengan William. Sila cukup terkejut mendengar kenyataan tersebut dipaparkan oleh lelaki itu di depan Jasmine.


Sila sudah menjatuhkan moralnya sendiri hanya untuk memgikuti Black Hell. Dia memgkhianati Alice, meneruskan informasi yang tidak seharusnya, menghilangkan nuraninya, hanya untuk apa? Dibunuh secara kejam melalui racun yang ia sendiri tak menyadarinya. Hanya untuk dibungkam saat ia tak lagi memiliki nilai guna bagi Luiz.


Ya Tuhan. Luiz sekejam itu. Untuk apa uang banyak yang ia terima jika akhirnya dia menemui kematian menyakitkan yang disutradarai begitu rapi? Apakah di mata Luiz, Sila sama sekali tak memiliki arti? Hanya sekadar bidak catur yang tujuannya untuk digerakkan dan dimainkan sesuka hati.


Andai Sila tahu nasibnya akan seperti ini. Andai ia memiliki kemampuan untuk memutar waktu. Andai ia diberi kekuatan mengubah suatu kejadian. Akan ia tolak semua tawaran Liza dan tak akan pernah menghianati wanita sebaik Alice.


Mungkin, beginilah cara Tuhan memberinya hukuman. Dia adalah wanita jahat yang telah banyak melanggar perintah Tuhan dan menentang larangan-Nya. Tuhan membuat Sila mendapatkan ganjaran-Nya secepat ini.


Setelah Sila melakukan hal rendah, dia akhirnya mendapat konsekuensi secara langsung. Betapa mengenaskan dirinya. Menjalani hidup hanya untuk menjemput kematian secara perlahan.


Tanpa terasa, air mata meleleh turun dari kedua matanya. Pipi Sila basah dalam waktu singkat. Dia terisak pilu tanpa suara. Marah pada diri sendiri. Itulah yang kini tengah ia rasakan.


Sila sepertinya tidak tidur. Dia pasti mendengar semua pembicaraan William dan Jasmine. Dari keinginan Jasmine membunuhnya, hingga fakta bahwa Sila telah diracuni oleh pihak Black Hell.


Bukan hal yang mudah menerima fakta bahwa seseorang diracuni oleh organisasi yang memakainya. Menyadari bahwa dirinya sekarat, menuju kematian dan akhir yang mengenaskan karena ulah pihak yang tak pernah ia duga.


Tetapi begitulah alam bekerja. Ada dosa yang disebut pengkhianatan. Dosa itu memiliki balasan yang bisa seseorang terima secara langsung, atau ditunda hingga waktu tertentu. Sila merupakan orang yang Tuhan pilih untuk


menanggung kesalahan dan dosa secara langsung. Mungkin dengan begini, akan mengurangi dosa Sila di kehidupan berikutnya.


William sebenarnya bukan orang yang cukup kejam. Dia melihat raut penyesalan yang mulai terbentuk di muka Sila secara sekilas tadi. Mungkin, wanita itu akhirnya mendapatkan kembali pencerahan. Jalan kebenaran tak mengenal kata terlambat untuk ditempuh. Sekali pun nafas terakhir sudah ada di ujung tenggorokan.


Beginilah cerita kehidupan. Tidak semuanya memiliki akhir yang baik. Selalu ada satu atau dua cerita yang menjadi tragedi bagi sebagian orang.


Pelangi memang ada. Tetapi tidak untuk setiap orang. Menyedihkan memang. Tapi itulah faktanya.

__ADS_1



Daniel duduk termenung di atas kursi di ruang kerja. Pagi tadi dia berniat untuk menemui Jasmine dan menyerahkan uang yang seharusnya menjadi milik wanita itu. Tetapi entah kenapa, Daniel mengurungkan niatnya.


Suasana hatinya selalu tak menentu setiap kali membayangkan akan bertemu dengan Jasmine. Respon tubuhnya mengatakan hal yang tak seharusnya ia rasakan. Semua itu membuat Daniel merasa tak menentu.


Mungkin, besok ia akan menemui lagi wanita itu. Hari ini entah kenapa Daniel sedang tak berminat membuat gejolak respon tubuhnya sendiri. Dia lebih baik menenggelamkan diri dalam banyak hal yang ia mampu atasi. Pekerjaan, misalnya.


Daniel meneliti email masuk dan menscrollnya ke bawah. Matanya menyipit melihat sebuah pesan dengan subjek 'Black Hell'. Daniel menekan mouse, membuka email dan membaca permintaan yang dikirimkan.


Black Hell merupakan organisasi yang sangat terkenal. Organisasi itu mengambil semua peran dari setiap kejahatan yang bisa dipikirkan setiap orang. Dari pelacuran, narkotika, perdagangan manusia, perdagangan organ tubuh, senjata, dan penyelundupan di banyak tempat terlarang.


Masih menjadi misteri bagi dunia siapa pemilik dan pelaku utama dari organisasi ini. Kepala organisasi ini sama misteriusnya dengan eyes evil. Hanya beberapa orang saja yang diijinkan mengetahuinya.


Di dalam email itu, ada sebuah tawaran pekerjaan yang coba Black Hell tawarkan. Organisasi itu hanya mengatakan Daniel dibutuhkan untuk melakukan sesuatu. Di situ tidak dijelaskan secara detail Daniel diminta melakukan sesuatu yang berhubungan dengan teknologi. Jadi, bisa diartikan jika organisasi itu bisa saja menuntut Daniel melakukan sesuatu yang di luar keahliannya.


Daniel semakin mengerutkan dahi tak senang. Sepertinya namanya mulai dikenal di dunia gelap. Bahkan organisasi sekelas Black Hell pun menghubunginya secara pribadi. Ini bisa menjadi pertanda buruk. Apakah keahliannya dalam dunia cyber dan hacker telah mengetuk pintu organisasi mafia besar? Jika iya, hidup Daniel pasti mulai tak tenang.


Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan bagi orang yang berbisnis gelap kecuali dia mudah terekspos dan mudah ditemukan. Jika sudah begitu, musuh pasti akan mudah mengincarnya tanpa kendala. Mulai sekarang, Daniel harus meningkatkan keamanan diri dan keamanan teknologinya agar tak mudah ditembus oleh pihak lain. Terutama pihak mafia besar yang menginginkan jasa darinya.


Biasanya, berurusan dengan mafia besar sedikit merepotkan. Mereka selalu bersikap semena-mena. Sekali saja Daniel tak menuruti kemauan mereka, nyawanya pasti terancam. Padahal Daniel paling tak suka dibatasi dan dikendalikan. Dia perlu udara bebas untuk menjamin setiap tindakan yang ia ambil.


Selama ini, jika Daniel menerima transkasi illegal, dia lebih memilih menerima tawaran yang dilakukan perseorangan. Entah itu membajak sesuatu atau mencari informasi sensitif yang membahayakan.


Sebab, dengan bekerja pada seseorang, mereka bisa membentuk kesepakatan yang seimbang. Kesepakatan yang mereka bicarkan dari dua sudut pandang. Saling bernegosiasi dan berdebat selayaknya melakukan transaksi pada umumnya.


Tetapi, jika harus melayani organisasi besar semacam mafia, posisi Daniel pasti akan kalah. Dia tersudutkan dan diharuskan melakukan apa pun yang mereka mau. Beberapa organisasi memang bisa bersikap baik, tetapi kebanyakan mereka bersikap otoriter dan penuh tekanan. Daniel tak suka situasi semacam ini. Akan lebih baik baginya untuk hilang dari peredaran sementara. Setelah situasi kondusif, dia akan kembali lagi menjalankan bisnisnya dan memperkuat tingkat keamanan diri.


Daniel menutup email tersebut dan menggulir layar itu ke atas kembali. Dia ingin mematikan laptop, tetapi kemudian mulai memikirkan sesuatu.


Jika sampai Black Hell menghubunginya, itu pasti bukan karena sesuatu yang sepele. Ada alasan besar di baliknya. Daniel tergelitik untuk mencari tahu alasan mereka.


Baiklah. Sepertinya akan lebih baik jika ia menemui mereka dan mencari tahu apa yang membuat mereka mengontak dirinya.


Jika ia cocok dengan klien dan jobnya, akan ia ambil. Tetapi jika tidak, Daniel akan mencari alasan yang cukup kuat untuk menolaknya. Sebuah alasan yang harus ia pikirkan dari sekarang agar tak terkesan menyinggung mereka secara sengaja. Daniel masih belum terlalu bodoh untuk membuat masalah secara terang-terangan dengan mereka.

__ADS_1


Dengan cepat, jari-jemari Daniel mengetikkan balasan untuk membuat pertemuan. Dia tak pernah tahu bahwa Black Hell bermaksud memanfaatkannya agar melakukan hal yang tak sanggup ia lakukan.



__ADS_2