Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
044 - SEASON 2


__ADS_3

Petang ini Klayver tiba di Manhattan bersama Alice. Axel menanti mereka di depan rumah dengan berlompat-lompat. Helena telah membawa anak tersebut kembali ke rumah siang tadi setelah mengetahui Alice akan pulang.


Dengan senyumnya yang bak peri, Axel berlarian menyambut ibunya. Tangan gempalnya meraih Alice penuh rasa sayang. Tawanya sehangat mentari musim semi. Membuat wajah lembut Axel bak malaikat kecil dari surga.


"Halo anak Mommy, apakah kau bersikap baik selama Mom tinggal?"


"Ya. Dia tak berulah sama sekali. Dia lebih sering bersamaku selama di rumah Rachel." Helena mejawab untuk mewakili Axel.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Rachel jarang menemani mereka. Wanita itu sedang dimabuk asmara dengan Maxen sehingga Helena tak tega mengganggu mereka.


"Rachel baik-baik saja, bukan?" Alice bertanya khawatir.


"Baik. Hanya menjadi gila karena cinta."


Alice yang tak memahami arah pembicaraan Helena, menaikkan alis sebagai tanda bertanya tanpa kata-kata.


"Dia dan Maxen seperti sepasang merpati yang siap hidup dan mati bersama," jelas Helena tersenyum kecil. Dia teringat pernah memergoki dua orang tersebut sedang berciuman di lorong mansion. Helena terpaksa harus menyeret Axel untuk memutar arah agar tak perlu melihat adegan tersebut.


Alice terkejut. Dia tak pernah menyangka pernikahan Rachel akan menjadi pernikahan sungguhan. Terakhir kali ia tahu, Rachel masih menyimpan hatinya rapat-rapat hanya untuk Harry seorang.


Sepertinya telah banyak yang berubah akhir-akhir ini. Alice berencana akan mengunjungi Rachel untuk memastikan semuanya. Mungkin besok atau lusa.


"Masuklah, Alice. Aku perlu pergi sebentar saat ini." Klayver membimbing Alice dan segera meninggalkannya keluar lagi.


"Klayver, kau mau ke mana?" tanya Alice khawatir. Mereka baru saja tiba sementara Klayver terlihat tak sabar untuk segera pergi. Mungkinkah sesuatu itu sangat penting sehingga dia tidak beristirahat dulu setelah penerbangan yang cukup lama?


"Aku punya urusan penting." Klayver menenoleh dan tersenyum kecil.


"Apakah lama?" Alice mencoba menahan kepergian suaminya. Ada sedikit rasa tak rela.


Klayver yang sudah berada di dekat pintu utama berjalan kembali mendekati istrinya. Dia merengkuh tubuh Alice lembut dan mengecup puncak kepalanya. Sentuhan tangannya tampak menenangkan.


"Aku akan kembali sebelum pukul dua belas malam. Istirahatlah, Alice. Ngomong-ngomong apakah kau sudah bersih hari ini?"


"Bersih?" Alice tak mengerti.


"Siklus bulananmu."


Wajah Alice memerah. Dia menunduk malu dan membuat Klayver semakin tersenyum lebar.


"Kuanggap kau sudah siap malam ini. Berdandanlah yang cantik untukku, Alice. Aku akan pulang secepat mungkin."


Klayver berlalu pergi meninggalkannya. Saat ini dia masih merahasiakan semua ķecurigaannya tentang Maxen. Dia perlu mencari bukti kuat meskipun dia sudah memiliki beberapa bukti kecil untuk mendukung pendapatnya. Bagaimanapun juga, Rachel adalah sahabat Alice. Membongkar kedok Maxen yang sebenarnya pasti akan membuat hubungan mereka kacau. Saat ini Alice masih perlu diberi waktu tenang.



Klayver menatap beberapa dokumen yang diberikan oleh Harry. Dia sudah mempelajarinya dua kali. Di situ terdapat beberapa bukti mengenai Maxen yang merupakan atasan dari tiga orang yang saling terkait sebagai tangan kanan dalam penbunuhan Anson. Souvery, Adam, dan Andre.


Siapa yang menyangka organisasi tersebut ternyata dipelopori oleh Maxen. Seseorang yang cukup ahli bermain di belakang layar. Dia adalah sosok yang cukup cerdas untuk diremehkan. Klayver harus cukup pintar menyusun rencana.


"Kenapa kau membeberkan bukti buruk kakakmu sendiri padaku? Tahukah kau itu artinya mendorong Maxen dalam kematian?"


Klayver memang sudah meraba tentang tindakan Maxen. Terapi Harry memperkuat kecurigaannya dengan banyak bukti nyata yang sangat mendukung. Semua itu cukup mengejutkan bagi Klayver.

__ADS_1


Sebagai seorang Liecester, ia dibesarkan dengan ajaran tentang kuatnya persatuan keluarga. Semarah-marahnya dia, Klayver tak pernah sanggup menjual informasi keluarganya pada pihak lain.


Tindakan Harry hanya membuktikan dia adalah lelaki yang licik. Seseorang yang mampu menjual aib keluarnganya adalah orang kotor yang tidak pantas ia gunakan. Klayver berencana setelah semua ini selesai, dia tidak akan memakai Harry lagi. Dia tak butuh bawahan yang bisa saja mengkhianatinya sewaktu-waktu.


"Karena dia pantas untuk menerima semua konsekuensi." Tatapan Harry penuh kebencian.


"Kudengar Rachel, tunanganmu menikah dengan Maxen. Bukankah menjerumuskan Maxen sama saja menjerumuskan Rachel?" Klayver mulai menyudutkan Harry. Selain tidak loyal, Harry juga menyimpan sikap kejam. Dia berusaha melukai wanita dalam masa lalunya. Keburukan Harry semakin bertambah satu demi satu di hadapan Klayver. Semakin memuakkan.


"Aku sudah mengatakan pada Rachel bahwa Maxen bukanlah orang baik. Dia memiliki sisi kelam yang tak terduga. Tetapi wanita itu memilih bertahan dengannya. Mereka pantas untuk dihancurkan."


Kebencian menyala-nyala jelas di mata Harry. Auranya kental oleh rasa dendam. Otot-otot di wajahnya semakin tampak menahan amarah.


"Maxen memang memiliki sisi gelap. Tetapi kau menyimpan sisi gelap yang lebih menakutkan. Maxen tidak pernah memburu nyawamu tetapi kau menciptakan kondisi yang membuat nyawa kakakmu sendiri jadi buronan. Bagiku, kau lebih menakutkan dari pada Maxen."


Klayver menatap Harry dengan tatapan elang yang ia miliki. Lelaki di depannya memang memberikan informasi yang menguntungkan. Tetapi di balik itu semua, Harry bagaikan bom waktu. Dia memiliki potensi untuk menusuk Klayver juga. Beruntung dia belum tahu identitas Klayver sebenarnya. Setidaknya Klayver tak perlu khawatir rahasianya terbongkar.


"Orang yang menusuk keluarganya sendiri adalah orang yang bisa menusuk orang lain juga. Kaulah di sini yang menjadi iblis sebenarnya. Kau memang orangku. Tapi aku masih belum terlalu buta untuk menilai dirimu. Di sisi lain, kau juga cukup pintar memanfaatkan kekuatanku. Kau ingin menghancurkan Maxen, tapi tak memiliki kekuatan. Akhirnya kau meminjam tanganku untuk menghancurkannya. Sangat pintar."


Klayver berlalu pergi dengan selinting rokok di sela-sela bibirnya. Asap gelap membumbung tinggi, naik ke atas dengan aroma nikotin yang kental.


Harry yang ditinggal seorang diri hanya bisa berdiri membeku. Kata-kata Klayver sama sekali di luar dugaan.


Dia memang sengaja memanfaatkan kekuatan Klayver untuk menghancurkan Maxen. Karena pada dasarnya ia tak memiliki kemampuan untuk menghadapi kakaknya secara langsung.


Tak pernah ia sangka Klayver mampu meraba niatnya yang tersembunyi. Sepertinya lelaki itu cukup tajam. Klayver bukanlah seseorang yang bisa ia manfaatkan begitu saja.


Klayver memasuki mobil dan keluar dari markas. Dia sudah membubarkan banyak anak buahnya setengah jam yang lalu. Pembicaraannya dengan Harry adalah pembicaraan pribadi yang ia lakukan secara empat mata.


Di dalam mobil hitam miliknya, Klayver menghubungi William melalui ponsel. Dia memejamkan mata sesaat sembari tagannya menginjak pedal gas.


"Ya, Tuan. Apakah ada masalah?" tanya William dari seberang.


"Apakah Harry adalah orang kepercayaanmu?" tanya Klayver tanpa basa-basi.


"Ya."


"Sejauh mana dia mengetahui semua organisasi kita? Kuduga kau belum memberitahunya tentang identitasku." Klayver ingin memastikan.


"Tidak. Aku tidak memberitahu semua hal tentang anda." William menjawab pasti. Dia kemudian melanjutkan, "tapi mengenai organisasi, dia telah mengetahui semuanya."


"Oh, baiklah. Terimakasih." Klayver tenggelam dalam pikirannya. Dia mulai menyusun rencana.


"Apakah ada yang salah, Tuan?" tanya William curiga.


"Tidak."


Hanya rencana cadangan yang tak perlu diketahui William, batin Klayver merasa puas.



Jam sudah menunjuk pukul 23.01 waktu Manhattan. Malam terlihat gelap, hanya ditemani beberapa bintang yang menghias langit. Rembulan memilih menyingkir untuk sejenak. Awan tampak menggantung, memberi tanda sebentar lagi akan hujan. Menumpahkan air yang telah lama dibawa oleh alam.


Alice telah tertidur lelap. Satu jam yang lalu matanya telah memprotes keras sehingga ia menyerah dengan keadaan. Tubuhnya terbaring nyaman di atas ranjang berukuran king size.

__ADS_1


Tiba-tiba, dia merasa sebuah sentuhan kecil mengusap lembut sisi wajahnya. Sentuhan itu selembut beludru. Seperti kapas yang dengan ringan memancing dirinya.


Sebuah kehangatan mengalir deras dalam hatinya. Telah lama jiwanya haus akan sentuhan kasih sayang. Merasakan rindu pada deklarasi cinta yang sesungguhya.


Hingga tanpa sadar, jiwanya telah gersang. Lama terabaikan. Apa yang dulu pernah ia miliki telah lama lenyap. Meninggalkan kekosongan dan duka yang sangat kuat.


Ya. Anson adalah sebuah duka untuknya. Kenangan indah yang mereka miliki lama-lama terasa menyakitkan. Kebersamaan itu membuat jiwanya rapuh saat ditinggal dalam kekosongan.


Baginya, Anson adalah segalanya. Sekuat apa pun Alice menutupi, sosok itu tak pernah hilang. Akan selalu ada kerinduan yang amat sangat. Bercampur ketidakberdayaan yang abadi.


Munafik jika Alice berkata bahwa hidupnya baik-baik saja tanpanya. Anson adalah setengah jiwa. Setengah hidup. Setengah nyawa. Kehilangannya, adalah sebuah kekalahan besar.


Itulah kenapa ia melakukan semua cara agar bisa membalas kematian Anson. Karena, Alice tahu hidupnya tidak akan pernah bisa tenang tanpa menutup semua tragedi Anson dengan keadilan.


Hanya untuknya, Alice berjuang melanjutkan hidup. Sepahit apa pun rasanya.


Tetapi, semenjak kehadiran Klayver, apa yang ia kira mati kini kembali bangkit. Emosi-emosi asing yang hanya pernah ia berikan pada Anson kini berwujud kembali. Sebagai respon atas keberadaan Klayver.


Mulanya ia pikir mustahil. Hati Alice sudah banyak cacat. Retak di sana-sini. Terlalu sering gagal dan ditambal berulang kali.


Tetapi alam memiliki kekuatan untuk membuatnya bangkit. Merespon kebutuhan asing setiap kali ia bersanding dengan Klayver.


Lelaki dingin itu, entah bagaimana, mampu mendobrak pertahanan diri Alice. Dia datang karena kesepakatam dangkal, tetapi bertahan di sisinya dengan nilai tinggi yang tak pernah seorang pun sadari.


Dengannya, kehangatan itu kembali lagi. Rasa perih yang ia derita setelah kepergian Anson lama-lama menjadi samar. Dia bagaikan perban, menutup luka yang tak terlihat dan membalutnya dengan kehangatan baru.


Siapa sangka kehangatan mampu hadir dari sosok yang sangat dingin. Senyumnya, lama-lama menjadi heroin paling mahal. Keberadaannya bagaikan oase baru yang Alice butuhkan.


Alice telah lama meraba-raba. Mungkinkah perasaannya ini hanya sekadar kebohongan sesaat? Sesuatu yang akan hilang dan lenyap dalam hitungan hari.


Tetapi tidak. Semua itu bercokol setiap hari, bertambah besar dan semakin tak terkendali. Apalagi yag harus ia katakan jika ini bukan cinta?


Sesuatu yang datang padanya setelah ia yang terkasih pergi. Sebagai ganti dari Tuhan untuk hidupnya yang gersang.


Keberadaan Klayver memang tak bisa menggantikan sepenuhnya sosok Anson. Mereka berdua adalah sosok yang berbeda dan mustahil menutup keberadaan satu sama lain. Tetapi Alice mencintai mereka dengan sama besar. Berbeda, tetapi kapasitasnya sama.


Alice menggerakkan bulu matanya, merasa sentuhan tersebut mengganggu tidurnya. Dia mengerjap perlahan dan membuka kelopak matanya.


"Malam, Sweet Heart, mimpi indah?"


Wajah Klayver yang maskulin menunduk ke atas Alice. Aroma sabun mandi menguar tajam, menandakan Klayver baru saja pulang dan membersihkan badan.


Helai-helai rambut Klayver masih tampak basah, membingkai wajahnya yang sempurna. Senyum lelaki itu penuh arti. Ada lekukan kecil di sudut bibirnya yang terlihat menawan.


"Klayver?" Alice tergagap.


"Ya, kupikir kau masih menungguku." Klayver mengusap sisi wajah istrinya dengan lembut. Sentuhannya bagaikan sebuah candu yang sangat kuat. Alice membeku sesaat dan hampir tak bisa berkata-kata.


"Aku terlalu lelah. Kau marah?" tanya Alice merasa tak enak.


"Tidak. Kau wanita yang sulit untuk membuatku marah, Alice." Klayver menatap intens istrinya. Dia menjatuhkan diri di sisi ranjang Alice dan memeluk tubuh istrinya dengan mesra.


"Ngomong-ngomong, kita belum pernah melakukan malam pertama. Apakah masih terlambat jika kuklaim dirimu malam ini?"

__ADS_1



__ADS_2