Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
002 - SEASON 2


__ADS_3

Apakah kau pernah mengerti arti sebuah tragedi? Apa kau mengerti makna dari sebuah kehilangan? Orang-orang yang menjadi kiblatmu terenggut hanya dalam sekejap mata. Hilang ditelan sesuatu yang orang sebut sebagai kematian.


Kehidupan itu ringkih. Namun, memiliki makna dan arti yang besar. Hanya saja, ketika kematian merenggut, kita tak lagi memiliki apa-apa. Hanya menyisakan sebuah nama dan kenangan yang pahit.


Kehilangan. Sebuah kata yang orang sering menyederhanakan maknanya Namun, kata itu nemiliki efek yang menggetarkan. Hingga banyak orang yang meluruh hancur karena tak sanggup menghadapinya. Berapa saja kasus bunuh diri yang terjadi karena difaktori oleh kehilangan? Berapa saja orang yang kehilangan akal karena mengalami kehilangan? Berapa orang yang terpuruk tak berdaya karena kehilangan?


Alice berdiri kaku di ruang kamar. Dalam satu minggu, ia kehilangan tiga orang paling berarti sepanjang kehidupan mereka. Anson, Kimberly dan bayinya. Satu-satunya yang tersisa adalah Axel. Andai saja Axel ikut pergi, mungkin dirinya tak lagi sanggup melanjutkan kehidupan. Apa artinya sinar mentari jika hatimu membeku? Apa artinya sejuknya angin jika hatimu tak lagi bereaksi? Apa artinya semburat senja jika hidupmu tak lagi memiliki warna?


Beruntung Tuhan masih menyisakan malaikat kecilnya untuk menemani hari-harinya. Anak empat tahun itu masih bisa ia peluk. Sebagai pelipur lara dan duka yang datang bertubi-tubi. Jika malam datang, mereka saling memeluk di kamar bawah dengan cahaya remang-remang lampu, ditemani suara jam dinding berdetak perlahan.


Anson kecelakaan. Kimberly dan bayinya meninggal karena gangguan pernafasan mendadak. Alice kini harus menjadi tulang punggung keluarga. Memberikan kekuatan dan menyalurkan ketabahan. Ia tak bisa lemah. Axel membutuhkanya sebagai penopang utama.


Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, Alice telah melalui asam garam kehidupan. Merasa semua kepahitan hidup dan menyelami semua ombak masalah. Dia sudah kenyang dengan lika-liku. Dia sudah cukup merasakan semua duka.


Bagaimana cara mengikis luka? Sakit itu tetap saja menerjang di sanubari. Seperti gumpalan batu yang tak bisa disingkirkan. Rachel, berusaha untuk membuat Alice melupakan semua kepedihan. Dia seringkali berkunjung dan membawakan banyak makanan ringan. Alice menerima kebaikan Rachel. Tetapi, tetap saja luka itu menganga dalam tanpa bisa disembuhkan.


Suatu sore, sepuluh hari setelah kepergian Kimberly, Rachel membawa Alice dan Axel untuk berjalan-jalan ke taman. Mereka duduk di kursi batu di dekat lampu utama taman.


"Aku dulu sering jalan-jalan ke taman ini bersama Anson." Alice tiba-tiba teringat kenangan lama yang ia simpan. Rachel hanya menyimak penuh rasa simpati sembari memperhatikan Axel yang tengah bermain-main tak jauh dari mereka.


Axel adalah anak yang sulit melupakam sesuatu. Dia masih mencerca Alice dengan banyak pertanyaan, sehingga Alice terkadang merasa tak tahan. Tapi sepertinya sore ini anak itu cukup bisa melupakan kesedihan. Dia bermain dengan penuh riang gembira seorang diri. Membuat Alice merasa trenyuh. Karena biasanya, Kimberly akan menemaninya dan tak pernah jauh dari Axel. Mereka berdua seperti pasangan yang tak terpisahkan.


"Kau harus kuat dan menatap ke depan, Alice. Jangan biarkan kenangan lama melemahkanmu." Rachel menasehati.


"Malam itu saat ia berniat pergi ke pesta, sebenarnya ia ingin mengajakku juga. Namun aku tak mau karena kandunganku sudah melampaui dari HPL. Takut jika tiba-tiba kontraksi di saat pesta berlangsung.


"Anson sempat ingin membatalkan niatnya datang ke pesta. Tetapi aku mendorongnya untuk tetap datang karena acara itu penting untuk kolega bisnisnya. Sekarang aku jadi berpikir. Andai saja aku menahan Anson, mungkin kecelakaan tersebut tak terjadi." Pandangan Alice mengawang jauh. Seolah ia berusaha memutar kembali peristiwa tersebut dalam otaknya. Logikanya mulai membayangkan banyak perandaian. Andai Anson tetap menemaninya di rumah, andai ia bermanja dan menahan Anson, andai ia ikut Anson dan mencegahnya mabuk.


Tunggu. Alice jadi teringat sesuatu.


"Rachel?" tanya Alice seperti ia telah menemukan sebuah fakta penting.


"Ada apa?" Rachel terdengar khawatir. Dia merasa ikut sedih setiap kali mendengar Alice mengungkit kembali kematian Anson.


"Bukankah pihak rumah sakit menyatakan bahwa kecelakaan Anson dikarenakan ia kehilangan kendali sebab mabuk?"


Alice kembali mengingat fakta tersebut. Saat itu jenazah Anson baru saja dibawa pulang, sehingga Alice mengesampingkan penjelasam dari dokter yang bertugas memeriksa kematian suaminya. Dia mengatakan bahwa faktor yang melatar belakangi kecelakaan Anson adalah karena kandungan alkohol yang berlebih sehingga ia mabuk dalam perjalanan pulang.


"Ya. Anson cukup mabuk sehingga ia menabrak pembatas jalan dan berguling beberapa kali mengenai aspal jalanan. Polosi mengatakan dia terseret lima puluh meter lebih." Rachel ingat itulah penjelasan yang dikatakan oleh polisi yang mendampingi Daniel ketika membawa pulang jenazah Anson.


"Ada sesuatu yang mengganjal." Alice berdiri, merasa gamang.


Rachel menatap temanya penuh rasa ingin tahu. "Ada apa, Alice? Kau menemukan fakta baru?"


"Anson tidak mabuk. Dia menghubungiku sebelum perjalanan pulang dan mengatakan kepadaku dia hanya meminum dua gelas wine. Jumlah itu adalah jumlah yang tak akan membuat Anson hilang kesadaran."


Anson adalah orang yang pantang untuk berbohong. Dia mengatakan bahwa seandainya pun ia meminum lima gelas wine, Anson tetap akan tersadar penuh. Jadi, mustahil baginya mabuk hanya karena dua gelas wine saja. Ada sesuatu yang tak beres di sini.


"Maksudmu?" Rachel mulai penasaran. Dia menarik tangan Alice dan memintanya untuk duduk.


"Duduklah dan jelaskan padaku."


Alice duduk dan mengambil nafas dalam. Dia mulai menghubung-hubungkan sesuatu yang ia ingat dalam memori otaknya. Alice mengeluarkan ponselnya, meneliti waktu panggilan terakhir Anson untuknya. 00.20.

__ADS_1


"Anson menghubungiku terakhir pada pukul 00.20 dini hari. Polisi mengatakan waktu meninggal Anson pukul 00.30 dini hari. Hanya selisih sepuluh menit."


Rachel mengerjap-ngerjapkan matanya mengetahui kenyataan tersebut. Dia menggelengkan kepala merasa syok.


"Itu artinya, jika Anson memang cukup mabuk, seharusnya kau bisa mendeteksinya dalam percakapanmu terakhir. Namun, kau merasa Anson baik-baik saja." Rachel menebak kemungkinan tersebut.


Alice menjentikkan jari, membenarkan tebakan brilian yang Rachel ungkapkan.


"Benar."


"Jadi maksudmu, ada penyebab kematian Anson yang entah bagaimana ditutupi?"


Alice mengangguk, sekali lagi membenarkan. Dia merasa kejanggalan tersebut mulai tak masuk akal. Mustahil Anson teledor mengalami kecelakaan karena mabuk. Jika begitu, hanya ada satu kemungkinan. Anson kecelakaan karena kecerobohan dalam keadaan sadar. Murni kecerobohan, tidak ada faktor kendaraan lain yang menjadi penyebab kecelakaan.


Memikirkan bahwa Anson terlalu ceroboh dalam mengendarai mobil, adah sesuatu yang nyaris mustahil untuk terjadi. Memang, sebuah kecelakaan bisa saja terkadi tanpa sepengetahuan kita. Anson pun juga pernah mengalami kecelakaan yang sama sebelumnya. Tetapi entah kenapa, Alice merasa semua ini terlalu aneh. Ada sesuatu yang coba ditutup-tutupi.


"Alice." Rachel membuyarkan segala lamunan temanya. Alice menoleh dengan sedikit terkejut.


"Apakah Kimberly memiliki riwayat asma atau hal-hal yang berhubungan dengan pernafasan? Apakah bayimu juga memiliki gejala-gejala tersebut?" Rachel mengingat lagi satu hal penting.


"Tidak."


Kimberly adalah anak yang sehat. Sangat sehat. Dia jarang mengeluh sakit, apalagi sakit seperti gangguan pernafasan. Joseph, bayinya pun juga demikian. Alice melihat pagi itu Joseph masih baik-baik saja. Dokter mengatakan semua fungsi tubuhnya normal.


"Kalau begitu, bagaimana mereka bisa tiba-tiba meninggal hampir dalam waktu bersamaan karena penyebab yang sama juga? Gangguan pernafasan?"



Malam telah larut. Alice baru saja menidurkan Axel di ranjangnya. Menidurkan anak itu adalah hal yang sangat sulit dan menguras mental. Tak henti-hentinya ia menanyakan tentang keberadaan Daddy ataupun Kimberly. Alice sering kali kehabisan akal untuk menenangkan putra satu-satunya. Bagaimana ia harus menjelaskan pada anak berusia empat tahun tentang kematian seseorang? Berkali-kali Alice mengatakan bahwa Daddy telah pergi ke surga. Namun yang ada justru anak itu ingin menyusulnya ke sana. Membuat hati Alice semakin tak karuan.


Daniel yang telah tiba di sini satu jam yang lalu, telah diberi penjelasan singkat oleh Rachel mengenai hal-hal ganjil yang Alice rasakan. Saat ini, lelaki itu tengah termenung, memikirkan sesuatu.


"Jadi, kau pikir semua ini tak beres, begitu?" Daniel mulai perbincangan.


Alice mengangguk membenarkan.


"Kopi?" tawar Alice pada mereka sebelum ia menyuruh pelayanya untuk menghidangkan sajian ringan.


"Ya. Tanpa gula," pinta Daniel


"Full Cream," sahut Rachel.


Susan, juru masak setianya mengangguk dan pergi berlalu untuk membawakan pesanan mereka.


"Kau benar-benat akan mengalami pembengkakan tubuh jika terus mengonsumsi cream, Rachel," goda Daniel terkekeh kecil. Rachel melotot tak terima mendengar perkataan temanya.


"Sedikit cream tak akan mengubah tubuh indahku," balas Rachel. Memang jika mau diakui, tubuh Rachel tergolong indah. Terbentuk sempurna dan menjadi idaman kaum hawa.


"Memag tidak sekarang, tapi nanti sepuluh tahun yang akan datang pasti suamimu mengeluh kau membengkak." Daniel tertawa, membuat suasana sedikit mencair.


Akhir-akhir ini semenjak kepergian Anson, rumah ini bagaikan kuburan. Suasana duka terlalu kental mengitari setiap ruang rumah ini. Daniel merasa tergerak untuk sedikit membawa kehangatan bagi temanya. Dia ingin, secara perlahan-lahan, membuat Alice kembali bangkit menghadapi kehidupan. Dengan senyum dan tekad baja.


"Jadi, kembali lagi pada pembahasan semula. Kau menemukan kejanggalan-kejanggalan atas kematian Anson dan anak-anakmu?" Daniel mulai serius.

__ADS_1


Alice mengangguk.


"Bagaimana menurutmu, Daniel? Bukankah Rachel sudah menjelaskan beberapa kejanggalan yang kami rasakan?"


Susan menyela mereka dengan membawakan minuman panas dan sajian ringan. Rachel segera mengambil kopi dan meniup-niup cairan tersebut untuk didinginkan. Mereka bertiga semuanya keranjingan kopi. Dari dulu, kopi adalah minuman favorit tak tergantikan.


"Ya. Aku juga merasa ada keanehan. Kau bilang Anson hanya minum dua gelas wine saja, bukan?"


Alice mengangguk. Dia mengingat kembali percakapan singkat mereka.


"Anson mengatakan dia ditahan oleh teman lama dan terpaksa menghabiskan dua gelas wine untuk menemani mereka."


Kedua mata Daniel menyipit membentuk satu garis lurus. Sepertinya, semua ini semakin menarik saja.


"Teman lama? Apakah kau tahu siapa teman lama yang dimaksud Anson?" Daniel bertanya penuh rasa ingin tahu.


Alice merasa bingung dan menggelengkan kepala. Dia mengangkat bahu, merasa buntu.


"Apakah kau pikir teman lama yang dimaksud Anson adalah orang yang memiliki kemungkinan mencelakainya?" Alice menebak-nebak.


Daniel berdiri, memutari ruangan dan mengetuk-ngetukan ujung sepatunya.


"Mustahil dua gelas wine bisa membuat Anson mabuk. Satu-satunya kemungkinan adalah wine itu dicampuri sesuatu sehingga membuat Anson hilang kendali."


Alice dan Rachel saling menatap lama. Apa yang disampaikan Daniel ada benarnya juga. Alice seharusnya bertanya pada Anson siapa yang menahanya malam itu. Sayangnya, Alice tak berpikir sejauh itu sehingga ia tak terlalu memperhatikan hal-hal detail.


"Apakah sebaiknya aku mencari tahu siapa orang itu?" Alice bertanya.


Daniel menyugar rambutnya dan sedikit berpikir. Orang yang menemani Anson pastilah bukan orang yang sembarangan. Anson adalah orang yang pintar bertindak. Instingnya terlalu tinggi untuk merasakan sesuatu yang tak beres. Artinya, orang itu cukup licin sehingga bisa mengecoh Anson dan menjebaknya. Terlebih lagi, dia diakui sebagai teman oleh Anson. Berarti mereka tak pernah terlibat perselisihan. Apa motif orang tersebut sehingga melakukan semua ini? Semuanya menjadi sedikit runyam.


"Kita akan mencari tahu bersama-sama. Bisakah kau menunjukkan catatan transaksi dan nama-nama kolega Anson dalam bisnis gelapnya?" Daniel bertanya pelan. Langkah pertama, adalah membuat daftar nama. Jika nanti ada nama tamu pesta yang namanya sama dengan nama yang ia peroleh dari catatan Anson, orang itu cukup pantas dicurigai.


"Daniel, semenjak tujuh bulan lalu, Anson sudah berhenti dari aktifitas bisnis terlarang. Apakah menurutmu masa lalu Anson memiliki keterkaitan dengan semua ini?"


Alice ingat semenjak tujuh bulan yang lalu, Anson resmi keluar dari semua bisnis illegal yang ia miliki. Semua asetnya ia jual dan ia sisakan beberapa saja. Bisnis yang ia lakukan juga hanya sebatas properti dan investasi saham. Seharusnya secara hukum, Anson sudah bersih dan tak membahayakan siapa pun.


"Kita harus memeriksa semuanya, Alice. Bisnis terlarang rentan memiliki musuh."


Alice mengangguk dan mengingat-ingat sesuatu.


"Sepertinya Anson menyimpan beberapa berkas khusus di brangkas pribadinya. Kemungkinan catatan koleganya ia simpan di sana."


Anson adalah orang yang sangat berhati-hati. Ia biasanya akan menyimpan rapat-rapat semua transaksi illegal yang dulu ia jalankan. Beruntung lelaki itu cukup terbuka pada Alice. Dia pernah mengatakan semua catatan penting dan bukti transaksi disimpan dalam brangkas pribadi miliknya.


"Kita harus bergerak dengan sangat hati-hati, Alice. Siapa pun yang menjadi dalang semua ini pastilah bukan orang sembarangan. Orang yang sanggup mengecoh Anson adalah orang yang terlalu cerdik dan licik."


Alice dan Rachel menagngguk patuh. Mereka tahu kondisi mereka saat ini terlalu rentan. Jika kasus meninggalnya Anson adalah suatu kesengajaan, maka pastilah orang di balik ini semua sedang mengamati tindakan Alice. Ruang gerak wanita itu semakin terbatas. Daniel berinisiatif ikut membantu sepenuhnya agar Alice tak terseret dalam bahaya.


"Bukankah lebih baik menanyai pihak rumah sakit? Mungkin mereka menemukan zat lain selain alkohol yang berada dalam mulut Anson." Rachel mengusulkan sesuatu. Daniel mengangguk menyetujui. Itu bisa menjadi langkah yang bagus.


"Satu lagi, Daniel." Alice menatap Daniel penuh perhatian. Mata cokelat keemasanya menampakkan keseriusan.


"Mengenai Kimberly dan Joseph. Aku pikir kematian mereka juga terlalu ganjil."

__ADS_1



__ADS_2