Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
041 - SEASON 2


__ADS_3

Rachel duduk di teras depan. Dia menikmati pagi dengan secangkir kopi spesial yang dicampur beberapa rempah. Sebuah lagu era sembilan puluhan menjadi latar belakang suasana.


Sejak dua hari yang lalu hingga tiga hari yang akan datang, Maxen pergi ke Dubai untuk mengecek beberapa job di sana. Rachel menghabiskan sepanjang waktu dengan bekerja paruh waktu. Selebihnya, dia hanya bersantai di rumah. Seperti pagi ini misalnya.


Kehidupan Rachel terasa lebih baik setiap harinya. Tak pernah ia sangka Maxen mampu membawa pelangi yang telah lama ia rindukan.


Dia mencecap rasa manis yang sama sekali asing dan mencandukan. Di dekat Maxen, dunia berputar seolah hanya untuk Rachel seorang.


Maxen bukan hanya memberikan warna. Tetapi ia juga mengenalkan Rachel pada hal-hal yang tak pernah ia sangka ada. Bersamanya, Rachel mulai mengerti arti kehidupan dan kebahagiaan sebagai seorang wanita.


"Nyonya, adik tuan datang menemui anda." tiba-tiba suara seorang pelayan memecah suasana yang sedang ia nikmati.


Rachel menoleh ke arah pelayan, menatapnya sedikit linglung dan melemparkan pertanyaan. "Siapa?"


"Adik Tuan, Harry, berada di gerbang depan ingin menemui anda. Apakah ia diperbolehkan masuk? Atau haruskah saya suruh ia pergi?" tanya lelaki yang telah menjadi pelayan setia Maxen selama puluhan tahun. Maxen menyebutnya Mr. Blacky. Padahal jika dilihat dari mana pun, lelaki itu tidak memiliki pigmen berlebih di dalam kulitnya. Dia seputih pantat bayi yang baru lahir. Mungkinkah panggilan tersebut hanya bahan olok-olok?


"Nyonya?" Mr. Blacky menegaskan pertanyaan sebelumnya. Dia tahu hubungan antara tuannya dengan adiknya tidaklah terlalu harmonis. Ditambah lagi kenyataan Maxen menikahi Rachel, yang seharusnya menjadi pengantin Harry. Situasi ini membuat Mr. Blacky enggan mengijinkan Harry berkunjung di kediaman ini.


Rachel terlihat sedikit linglung. Dia mencengkeram ujung meja dan memjawab pelan. "Biarkan dia masuk."


"Tapi, Nyonya--"


"Tidak apa-apa. Biarkan dia masuk. Aku tunggu di ruang tengah." Rachel berdiri dan berlalu pergi. Dia meremas dadanya dengan sangat keras. Kedatangan Harry sangat tiba-tiba. Dia tak tahu pembicaraan apa yang akan dibawa oleh lelaki itu. Mungkinkah dia berusaha menjalin hubungan lagi dengan Rachel? Tetapi keadaan sekarang telah banyak berubah.


Tak berapa lama, lelaki yang pernah menjadi tunangan Rachel berjalan tenang ke ruang tengah. Mereka saling bertatapan lama dan terjebak pada nostalgia. Bagaimana pun juga, mereka pernah terikat hubungan yang cukup dalam. Rachel pernah menyerahkan segalanya untuk Harry. Dan lelaki itu pernah mengambil segalanya dari Rachel.


Rachel tersenyum kecil. Sudut bibirnya sedikit kaku. Dia menatap lelaki berwajah tirus yang dagunya mulai ditumbuhi jambang. Rambut Harry berantakan, sinar mukanya meredup, dan sorot matanya kelam. Penampilannya juga sedikit kusut. Sepertinya dia menjalani hari dengan berat. Sangat berbeda dengan Rachel yang kini terlihat lebih bersinar dan memancarkan aura kecantikan murni.


"Kau tampak luar biasa," puji Harry terdengar skeptis. Sekali melihat Rachel, Harry tahu wanita itu bahagia. Ada rasa tak terima yang menyusup ke dalam hatinya menyadari wanita yang seharusnya berada di sisinya, bahagia dengan orang lain.


"Ya. Aku menikmati hidupku yang sekarang, Harry. Apakah itu sebuah kesalahan?" tanya Rachel lirih.


Tak ada untungnya Rachel menutupi fakta ini dari Harry. Bagaimana pun juga, hubungannya dengan Maxen semakin mendalam dan ada baiknya ia mengatakan semua itu apa kepada Harry. Kesempatan mereka untuk bersama telah berlalu. Selayaknya kehidupan, semua hal berjalan terus melewati setiap arus. Apa yang terlewat tidak selalu bisa kita raih kembali.


"Aku mendengar kabar bahwa hidupmu baik-baik saja dan bahagia bersama Maxen. Aku hanya ingin memastikan kabar tersebut. Rupanya apa yang kudengar adalah sebuah kebenaran." Harry tertawa getir.


Dia tak menyangka wanita yang ia ridukan siang dan malam memilih menikmati kebersamaan dengan lelaki lain. Egonya terluka. Perasaannya hancur.


Lelaki mana yang bisa menerima dengan baik apa yang ia kagumi justru mengikat diri pada yang lain. Lebih buruk, lelaki yang bersanding adalah kakaknya sendiri.


"Apa yang kau dengar adalah suatu kebenaran." Rachel tidak tahu dari mana informasi mengenai dirinya bisa sampai kepada Harry. Para pelayan di sini sangat setia, tidak mungkin mereka menjual informasi majikannya sendiri. Tetapi dari mana pun informasi tersebut bocor, Rachel memilih untuk mengakuinya. Tidak perlu lagi ia tutupi.


"Sedangkal itukah perasaan yang kau miliki untukku, Rachel? Kupikir kesetiaanmu lebih tinggi dari ini."


Harry menahan kemarahan. Otot-otot di matanya menegang, menyalurkan kebencian baru. Bertahun-tahun dia memberikan banyak hal untuk Rachel dan balasan wanita itu adalah pengkhianatan. Sangat menggelikan.

__ADS_1


"Berhenti menyalahkanku, Harry. Bukan aku yang berlari pergi meninggalkan pernikahan. Bukan aku yang kabur dan membiarkan pasanganku terjebak pada keadaan sulit. Jika ada pihak yang patut dipersalahkan, itu adalah dirimu sendiri!" Rachel meradang.


Semua keadaan yang ia alami sekarang adalah hasil dari buah tangan Harry. Rachel tak sudi jika harus dipersalahkan dalam situasi ini. Harry harus membuka matanya dan menyadari semua situasi. Kehidupan tak selalu bisa ia negosiasikan sesuai kehendaknya sendiri.


"Sudah kubilang, aku melakukan semua itu demi kebaikanmu sendiri. Bukankah sudah kukatakan aku tak ingin kau terikat dengan keluarga Millian? Mereka kotor, Rachel. Tangan mereka penuh dengan darah."


Itulah yang membuat Harry pergi menjauh dari keluarga besarnya sendiri. Dia lelah. Terjebak pada jurang gelap tanpa ujung. Semua hal yang berkaitan dengan keluarganya adalah riwayat kelam dan berdarah-darah. Untuk melindungi nuraninya, dia harus pergi menjauh.


"Tadinya aku percaya padamu, Harry. Kau melakukan semua itu demi kebaikanku. Tetapi saat ini semuanya telah berubah. Maxen memberikanku sesuatu yang tak pernah aku dapatkan darimu. Di sisinya, aku merasa aman, dipuja, diperhatikan, dijadikan pusat dunia, dan dicintai.


"Dia tidak pernah menyakitiku sama sekali. Selalu menganggap keberadaanku, mendengarkan kata-kataku, melakukan apa yang diam-diam aku inginkan, dan menjadi semua hal yang aku mau. Bagaimana mungkin aku tidak mencintai lelaki seperti itu? Aku terbuang dan dicampakkan. Dia memungutku, menganggapku sebagai berlian, sesuatu yang tak pernah kau lakukan kepadaku."


Nafas Rachel memburu. Dia menunjuk Harry dengan penuh penghakiman.


Dia ingat, bertahun-tahun menjalin pertunangan dengan Harry, Rachel selalu berdiri di latar belakang. Tak pernah diakui. Tak pernah dipamerkan. Bahkan hubungan mereka disembunyikan. Harry selalu beralasan semua itu untuk kebaikan Rachel. Tetapi dia tak pernah memikirkan semua dampak itu bagi Rachel sendiri.


Jika Harry cukup jantan, dia seharusnya memamerkan Rachel dengan bangga di hadapan dunia dan menerima setiap konsekuensi sulit hubungan mereka. Dia membutuhkan lelaki yang berani dan sudi membelanya. Bukan lelaki kerdil yang justru berhasrat menutupi Rachel selama hidup mereka.


Bahkan, di saat pernikahan mereka, Harry lebih memilih bersikap pengecut dan mencampakkan Rachel. Hati wanita tidaklah sekuat itu. Untuk apa mempertahankan sebuah hubungan jika ia hanya menjadi orang yang diletakkan dalam bayang-bayang semata. Rachel lelah untuk terus berdiri dalam gelap, melakukan semua kehendak Harry. Dia butuh kebebasan. Dia butuh diakui.


"Kau tidak tahu siapa Maxen sebenarnya. Kau telah menyerahkan dirimu pada iblis. Jika kau tahu seberapa kotor tangan yang ia punya, kau tak akan mungkin bisa kuat tinggal satu atap bersamanya." Harry meradang.


Wanita tak pernah menghargai sebuah pengorbanan. Bagi mereka, apa yang tampak dari permukaan adalah wujud sebenarnya. Begitu pun Rachel. Dia mudah sekali tertipu oleh kebaikan palsu yang Maxen tawarkan.


"Kau tak berhak menjelek-jelekkan Maxen di hadapanku. Percayalah, Harry. Semua itu tak lagi berpengaruh. Aku berhak menentukan bersama dengan siapa." Rachel menyilangkan tangan, menatap Harry dengan garang.


Saat ini, dua orang yang pernah membentuk kasih sedang bersiteru. Mata mereka saling menyorot kebencian. Aura permusuhan menguar di udara, menyesakkan dada. Tak ada satu pun di antara mereka mengira hubungan mereka akan menjadi sekacau ini.


Waktu memiliki kekuatan untuk memutar keadaan dan membolak-balikkan fakta. Apa yang bermula cinta, bisa berakhir dendam. Apa yang bermula buruk, bisa berakhir baik. Tidak ada yang pernah tahu rahasia apa yang alam miliki.


Perasaan itu ringkih. Sulit dibentuk tetapi mudah hancur. Seperti pasir pantai. Dia akan mudah tersapu gelombang dan meluruh di bawah air laut.


Harry telah melakukan sebuah kesalahan. Dia membiarkan pergi wanita yang seharusnya ia jaga. Mencampakkan wanita yang layak untuk ia perjuangkan. Membuang wanita yang semestinya ia puja.


Saat ini, kehidupan telah memberinya karma. Alam kembali mengambil Rachel. Tragisnya lagi, memberikannya pada orang yang paling Harry benci. Maxen Millian.


"Kau memilih pilihan yang salah, Rachel. Percayalah. Saat kau mengetahui siapa Maxen sebenarnya, kau akan menangis darah. Kau justru membuangku dan memilih bersama lelaki rendah seperti Maxen." Harry menuding Rachel, menghakimi sikap wanita itu yang dinilai rendah.


"Kesetiaanmu ternyata sangatlah rendah. Mungkin ada baiknya juga Tuhan memasangkanmu dengan Maxen. Kalian sangat serasi. Aku menyesal telah membuang waktuku dengan percuma untukmu selama ini."


Rupanya Harry tak pernah merasa bersalah sama sekali. Di matanya, Rachel adalah wanita kotor yang patut dihakimi. Semua hal yang terjadi berasal dari tindakan bodoh wanita ini.


Rachel yang mendengar kata-kata menyakitkan Harry hanya bisa tersenyum getir. Dalam setiap kondisi, dialah yang selalu dipersalahkan. Tidak pernah sekali pun Harry menilik semua kemungkinan yang ada dan berintrospeksi terhadap dirinya sendiri.


Jika sebuah hubungan hancur, dua pihak patut dipersalahkan. Pasti ada kontribusi dari mereka berdua. Hanya saja dalam kasus ini, Rachel adalah kambing hitam.

__ADS_1


Pantas hubungan mereka selama ini dangkal. Tidak ada arti yang mendalam dan mudah hancur. Karena diam-diam selama ini Harry berpartisipasi dengan kehancuran mereka secara suka rela. Sikap dan perilakunya tidak mencerminkan lelaki yang penuh cinta.


"Cukup, Harry. Kau tak bisa terus menyudutkanku. Lihatlah dirimu dan pahami kesalahanmu. Siapa di antara kita yang selalu bersikap sabar. Siapa di antara kita yang selalu berdiri dalam bayang-bayang dan tersenyum pasrah. Siapa di antara kita yang selalu diperlakukan bak mainan sekali pakai yang ketika diinginkan dipanggil dan ketika tidak diinginkan dibiarkan terbengkalai. Aku, Harry. Aku yang selama ini diam dan menerima semua sikapmu. Aku yang selama ini menangis dalam gelap tanpa pernah kau perhatikan.


"Maxen yang telah mengusap mataku. Maxen yang menjadi obat bagiku. Maxen yang merengkuhku dan mengakuiku di hadapan dunia. Bersamanya, aku mencecap keindahan dunia. Sesuatu yang selama ini tidak pernah kau berikan padaku. Jadi, jika aku jatuh cinta padanya, itu adalah hal yang sangat wajar. Justru aku gila jika tetap mempertahankan lelaki pengecut sepertimu. Kau dan dia bagaikan langit dan bumi. Dia menyanjungku, sementara kau selalu merendahkanku."


Rachel jatuh terduduk di kursi ruang tengah. Dia memegangi dadanya, menahan emosi karena telah membuat pengakuan sedalam itu. Dia tak lagi peduli jika Harry marah atas kata-katanya. Apa yang ia sampaikan adalah sebuah kebenaran.


Rachel menatap langit-langit ruangan, membayangkan sosok Maxen di kepalanya dan mulai meneteskan air mata.


Wajah Maxen yang teduh menenangkan hatinya yang selama ini bergejolak. Dadanya yang bidang telah menjadi tempat bersandar bagi dirinya yang rapuh. Suaranya yang dalam mampu memberikan kekuatan baru bagi jiwanya untuk kembali menghadapi hidup.


Demi apa pun juga. Dia telah mencintai lelaki tersebut hingga lubuk hatinya yang terdalam. Maxen adalah hidupnya, nafasnya, jiwanya. Persetan jika Harry marah atas kenyataan ini. Lelaki itu perlu melihat kebenaran yang terjadi. Rachel tak berniat untuk bersandiwara dan menjadi artis kacangan di hadapan Harry. Memangnya apa salahnya jika ia mencintai Maxen? Dia berhak menyerahkan hatinya kepada orang lain selain Harry. Hubungan mereka hancur sejak lama. Tidak pernah sehat dari dulu.


"Aku mencintainya, Harry. Pergilah dari sini dan jangan ganggu hidup kami lagi. Aku sudah sangat bahagia hidup bersamanya."


Rachel menatap lemah lelaki yang berdiri empat meter darinya. Air mata Rachel masih mengalir deras.


Memikirkan cinta yang ia miliki untuk Maxen membuatnya diserbu ribuan emosi yang menyesakkan dada.


"Aku berjanji akan membongkar kedok Maxen sebenarnya, Rachel. Saat itu, aku akan membuatmu menyesal. Tunggulah hari di mana aku membuka matamu tentang semua ini!" ancam Harry serius. Matanya menyala-nyala penuh kemarahan. Wajahnya sudah berwarna merah tak menyenangkan.


Rachel bergidik ngeri melihat sosok Harry yang seperti itu.Tak pernah ia sangka lelaki yang telah lama menjadi tunangannya bisa menampilkan sisi lain.


"Aku tidak peduli, Harry. Aku tidak peduli sama sekali. Kau tak akan pernah bisa mengancamku lagi. Pergilah!" Rachel menunjuk pintu keluar dengan kasar. Harry yang melihat ketidakpedulian Rachel memilih menyingkir dan meninggalkan wanita itu sendiri.


Sepeninggal Harry, Rachel duduk mematung cukup lama. Dia memikirkan banyak hal. Salah satu yang menyita fokusnya saat ini adalah ia tak pernah menbiarkan Maxen mengetahui perasaannya. Mereka bersikap menyenangkan satu sama lain tetapi tak pernah muncul kata cinta. Tidak ada deklarasi perasaan. Hubungan mereka mengalir membingungkan.


Rachel tak bisa membiarkan semua ini berlarut-larut. Dia harus memperjelas situasi. Tidak boleh ada kesalahpahaman lagi. Entah Maxen akan menganggapnya gila atau bar-bar, Rachel perlu memastikan semuanya.


Dengan cepat, Rachel mengambil telephon di ruang tengah dan mulai menghubungi ponsel miliki suaminya. Rachel disambut nada dering tiga kali sebelum akhirnya suara Maxen terdengar dari seberang.


"Halo?" sambut Maxen. Suara beratnya sedikit letih. Mungkin urusan bisnis telah menguras banyak energinya.


"Maxen?" panggil Rachel dengan suara lirih.


"Rachel, apakah ada masalah?" tanya lelaki tersebut. Rachel jarang menghubunginya saat ia pergi untuk mengurus bisnis. Biasanya wanita itu hanya memberi kabar penting atau melaporkan suatu masalah.


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu."


"Ya? Ada apa?"


"Kupikir aku mencintaimi, Maxen. Sangat-sangat mencintaimu. Apakah pernikahan kita bisa berlangsung untuk selamanya? Aku rasa, aku akan hancur jika dicampakkan olehmu!" Air mata kembali meleleh di pipi mulus Rachel.


__ADS_1


__ADS_2