
Brengsék.
Itulah kata yang siap dimuntahkan oleh Daniel kepada Jasmine atas tingkahnya yang keterlaluan. Bagaimana bisa wanita itu, dengan semua hal yang ada, justru menagih bayaran dirinya sendiri di hadapan Alice.
Ya Tuhan. Tidak bisakah Jasmine melakukan hal lain selain menghancurkan namanya sendiri. Bukan hanya namanya sendiri. Nama Daniel juga. Sialan memang. Tidak adakah wanita yang cukup sehat akalnya yang bisa Daniel dekati selain Jasmine?
Ini adalah sebuah kesalahan. Daniel menggemeretakkan gigi penuh amarah.
Daniel telah diberi kesempatan untuk mengenal wanita baik-baik dan dia sendiri yang telah menolaknya. Bagus. Salahkan saja dirinya sendiri. Daniel yang telah membuat masalah.
Daniel duduk di ruang tengah, mengambil sebotol wine dan meminumnya langsung dari botolnya. Dia perlu menenangkan diri, mengembalikan akal sehatnya.
Ya Tuhan. Tubuhnya perlu tidur, pikirannya perlu diperbaiki, dan otaknya perlu diluruskan kembali. Secara keseluruhan, Daniel butuh perbaikan luar dalam.
Sepertinya liburan merupakan pilihan yang cukup baik. Daniel tergoda untuk memesan tiket dan berdiam diri di sebuah bungalo untuk beberapa pekan. Tetapi perusahannya sedang mengembangkan produk baru. Dia tak bisa meninggalkan situasi saat ini sebelum yakin benar perusahannya berhasil menembus market yang cukup baik di pasaran.
Daniel meletakkan botol wine di atas meja kaca dan menghasilkam suara berdenting kecil. Dia merebahkan badan sejenak di atas sofa panjang yang berada di sudut ruangan.
Melalui sebuah remote kecil, Daniel menghidupkan sound system yang tersambung otomatis dengan playlist lagu yang berada di koleksi ponselnya.
Sebuah lagu dari eagles berjudul hotel california mengalun lembut.
*On a dark desert highway
Cool wind in my hair
Warm smell of colitas
Rising up through the air
Up ahead in the distance
I saw a shimmering light
My head grew heavy and my sight grew dim
I had to stop for the night
There she stood in the doorway
I heard the mission bell
And I was thinkin' to myself
'This could be heaven or this could be hell
Then she lit up a candle
And she showed me the way
There were voices down the corridor
I thought I heard them say
Welcome to the Hotel California
Such a lovely place (such a lovely place)
Such a lovely face
Plenty of room at the Hotel California
Any time of year (any time of year)
You can find it here
Her mind is Tiffany-twisted
She got the Mercedes Benz, uh
__ADS_1
She got a lot of pretty, pretty boys
That she calls friends
How they dance in the courtyard
Sweet summer sweat
Some dance to remember
Some dance to forget
So I called up the Captain
"Please bring me my wine"
He said, "We haven't had that spirit here since 1969"
And still those voices are calling from far away
Wake you up in the middle of the night
Just to hear them say*
Daniel memejamkan mata untuk sejenak. Musik ini perlahan-lahan mengantarkannya pada rasa kantuk yang akhir-akhir ini jarang menyapanya. Suasana yang nyaman, lagu yang mengalun merdu, dan kondisi ruangan yang mendukung membuat Daniel terjatuh dalam tidur.
Akhirnya, setelah lama jarang terlelap, Daniel merasa nyaman dibuai oleh perasaan melayang ketika kesadarannya beralih ke dimensi lain.
Satu jam lebih Daniel tertidur di ruangan ini. Lagu demi lagu berputar secara otomatis hingga tak terasa, kembali lagi ke daftar pertama.
Tidur Daniel awalnya nyenyak, tetapi kemudian sebuah mimpi hadir melalui alam bawah sadarnya. Mimpi yang tak ia harapkan sama sekali.
Daniel merasa dia berada di sebuah taman yang indah. Di sekitarnya banyak bunga tulip bermekaran. Cahaya lembut dari sang mentari terlihat bak sinar surgawi. Angin musim semi berdesir sejuk, mengirimkan rasa nyaman.
Di tengah-tengah itu semua, ada sesosok wanita anggun dengan dress panjang menyentuh tanah yang membelakangi Daniel. Punggungnya indah, seolah-olah menunjukkan kecantikannya yang murni. Rambutnya berwarna keemasan. Tertiup angin perlahan dan membuatnya semakin anggun.
Daniel berjalan pelan. Dia melangkahkan kaki di atas tanah musim semi yang mulai terasa hangat. Kelembutan tanah menyapa kulit telanjangnya dengan sempurna.
Ini adalah surga. Daniel berkata dalam hati. Tidak ada ketenangan sesempurna ini Tidak ada kedamaian seindah ini.
Entah perbuatan apa yang telah membuat Daniel dikirim di tempat ini, yang jelas ia merasa beruntung. Sungguh suatu keajaiban bisa berdiri di sini, menikmati pemandangan yang seindah taman firdaus.
Daniel masih melangkahkan kaki perlahan, menuju seorang wanita yang menggerakkan hatinya. Wanita itu memiliki aura bak seorang dewi. Tangannya memiliki tekstur yang indah. Jari-jemarinya lentik gemulai.
Daniel merasa telah menemukan oase yang langka. Hasratnya yang selama ini tak tersentuh menggelegak tak terbendung. Di tengah taman ini, di tengah lautan bunga tulip, dialah yang menjadi inti dari semuanya. Sebuah pusat yang Daniel inginkan.
Langkah Daniel semakin mendekat ke arah sang wanita. Aromanya menguarkan wewangian murni yang baru kali ini Daniel cium.
Setelah jarak mereka dekat, perlahan, penuh kehati-hatian, Daniel meraih ujung jemarj sang wanita. Jemari itu terlihat lembut dan pas untuk Daniel genggam. Dia meremasnya perlahan, merasakan penerimaan yang dalam.
Hati Daniel bergetar. Ada kenyamanan yang tak bisa ia jelaskan. Ada kerinduan yang tersiran saat sentuhan mereka terjalin.
Tangan kiri Daniel merengkuh perut sang wanita sedangkan kepalanya ia sandarkan ke celah lehernya. Sang wanita masih belum bereaksi. Dia hanya menerima dengan tenang setiap hal yang Daniel lakukan terhadapnya.
Daniel menyesap aroma mawar yang menguar dari diri sang wanita, menghirupnya dalam-dalam dan menyimpannya jauh ke dada. Setelah sekian lama bertahan dalam posisi ini, Daniel membalik sang wanita demi untuk melihat wajah yang ia inginkan.
Wajah itu menyerupai sosok yang ia kenal.
Jasmine.
Daniel membuka kelopak matanya dengan tiba-tiba dan mengakhiri mimpi yang tengah ia rasakan. Semua keindahan dalam mimpi yang baru saja ia dapatkan buyar oleh kenyataan terakhir.
Wanita dalam mimpinya adalah Jasmine.
Ya Tuhan. Dari semua wanita, kenapa harus Jasmine yang mengisi mimpinya. Kenapa tidak artis terkenal saja, atau bahkan model hot juga tak apa-apa. Asalkan bukan Jasmine.
Sudah cukup semua pikirannya berputar-putar pada Jasmine dan semua hal yang wanita itu kacaukan dari pikirannya.
Daniel mengusap matanya dengan sangat keras, menyadarkan dirinya sendiri dan berdiri cepat menuju wastafel terdekat.
__ADS_1
Dengan penuh emosi, Daniel menghidupkan kran dan membasahi wajahnya secara merata. Dia menatap jam secara sekilas dan menyadari dua jam telah berlalu semenjak ia tidur di sofa tadi.
Dua jam miliknya yang berharga. Dua jam waktu istirahatnya. Berhasil dikacaukan oleh bayangan wanita bernama Jasmine. Benar-benar sialan. Dosa apa yang telah Daniel lakukan sehingga ia terjebak oleh bayang-bayang tentang wanita murahan itu?
…
Alice menatap kelamya malam. Tak ada satu bintang pun di langit. Kegelapan seolah menguasai secara penuh, menenggelamkan setiap titik cahaya yang muncul dari sang langit.
Angin berhembus sangat kencang. Beberapa jendela berderak saat sisinya saling bersentuhan. Suara pohon dari halaman belakang terdengar jelas digerakkan oleh angin.
Di sini, di kamar ini, Alice merenung seorang diri. Dia menatap keluar, menahan semua kerinduan yang ia punya untuk sang suami.
Klayver. Bagaimana keadaan suaminya sekarang? Masihkah lelaki itu mengingat dirinya sebagaimana Alice mengingatnya? Apakah terselip sedikit saja bayangan tentang Alice sebagaimana Alice selalu dihantui bayangnya?
Air mata mulai meleleh. Wajah Alice berubah pias. Dalam hati, tersimpan sebuah tekad yang cukup besar.
Mulai detil ini, ia akan mencoba menjadi kuat. Sehingga Alice pantas menyanding Klayver. Sehingga Klayver tak perlu menghadapi segalanya seorang diri. Sehingga ia tak perlu menjadi wanita lemah yang hanya bisa dilindungi saja.
Dia ingin menjadi wanita yang sepadan dengan Klayver. Dia ingin menanggung beban yang sama demi Klayver. Dia ingin menjadi teman hidup selamanya untuk Klayver.
Cinta yang telah Alice miliki sangatlah besar. Hasrat untuk bertahan bersama Klayver mampu mengalahkan akal sehatnya yang tersisa.
Alice menyentuh perutnya yang masih rata dan berbisik pelan.
"Kita akan mulai melangkah sedikit demi sedikit agar menjadi kuat dan bisa menemani Daddy dalam setiap kondisi dan keadaan, Sayang. Jadilah anak yang hebat."
Air mata bening meluluh turun, membasahi lantai membentuk genangan kecil.
Alice meratap dalam kesendirian. Demi apa pun juga, ia ingin bersumpah akan mempertahankan cintanya. Seseorang yang dengannya ia serahkan seluruh kehidupannya.
Di sebuah tempat yang lain, di sudut kota New York, seorang lelaki tengah membalut lengannya yang berlumur darah. Sebuah kain yang merupakan bagian dari ujung kemeja ia koyak dan dijadikan sebagai perban darurat untuk menutupi luka yang terus mengeluarkan darah.
Kain kemeja yang awalnya berwarna biru laut menjadi berubah merah dalam waktu yang cepat. Sang lelaki hanya mendesis kecil melihat perubahan tersebut. Dia memyelipkan sebuah pistol di balik pinggangnya dan duduk terpekur menikmati malam.
Tak lagi ia rasakan perih yang melanda karena sayatan benda tajam yang ia dapatkan di lengan kirinya. Yang ia rasakan saat ini adalah kerinduan. Sebuah kerinduan yang amat dalam dari sanubari untuk wanita tercinta.
Klayver tersenyum kecil, menikmati gulitanya langit malam.
Setelah beberapa malam yang lalu ia berhasil menghabisi Rico dan Pollo, kini ia baru saja menghabisi tiga agen pemerintahan federal yang mengincarnya secara bersamaan.
Meskipun mereka bisa dilumpuhkan, tetapi dalam prosesnya Klayver terluka beberapa sayatan benda tajam di lengan dan kaki kirinya. Beruntung hanya itulah yang ia dapatkan. Klayver tak terluka oleh tembakan mereka. Jika ia tertembak, mungkin malam ini nasibnya akan lain.
Klayver tidak lagi bisa bersantai. Musuh yang mengincarnya semakin banyak saja setiap saat. Seperti pinjaman berbunga, setiap kali ia bisa menumbangkan satu musuh serasa tumbuh seratus musuh baru.
Lama-lama pemburuan ini melelahkan.Tetapi Klayver tidak berani berhenti. Hanya akan ada akhir buruk jika ia sampai berhenti dalam proses ini.
Klayver bukan saja menjadi buronan bagi kaum mafia. Tetapi juga agen resmi pemerintahan dalam dan luar negeri. Untuk sekarang, fokusnya adalah musuh dalam negeri. Jika ini semua selesai, Klayver barulah bisa fokus untuk memburu musuh yang berada di luar.
Untuk membetantas hama, seseorang harus berani mencari akarnya dan mengambil dengan total setiap bibit penyakit.
Untuk bisa menjalani kehidupan baru dengan Alice yang aman, Klayver harus mengakhiri setiap permusuhan dan tidak menyisakan sebuah peluang terjadinya masalah di kemudian hari.
Jalannya masih panjang, berkelok-kelok, dan terjal. Tetapi lelaki yang hebat harus kuat melewati semua proses. Tidak ada jalan yang lurus di setiap keadaan. Semuanya membutuhkan bebatuan sebagai alat uji.
Klayver memejamkan mata di depan bangunan rumah bobrok, jauh dari perkotaan. Dia merasakan kedamaian. Malam selalu menjadi teman setianya. Menyadari bahwa Alice masih bernaung di tempat yang sama, menunggunya, menantinya, membuatnya merasa bahagia.
Klayver telah memiliki rumah. Seorang wanita yang lembut di mana senyumnya secerah mentari musim semi. Wanita yang bersedia melakukan apa pun untuknya. Wanita yang bisa bertahan hingga titik akhir dengan dirinya.
Klayver juga akan memiliki seorang anak. Makhluk mungil yang akan memanggilnya ayah, bergelayut manja di sisinya, menunggu setiap cerita darinya, dan bergantung padanya secara total.
Tuhan telah memberikan rasa manis di setiap pahit yang pernah Klayver cecap. Tuhan telah memberikan ia rumah di saat ia nyaris tersesat. Apalagi yang masih ia keluhkan?
Sekali pun harus melwwati seribu neraka dan ribuan penderitaan demi mempertahankan apa yang ia miliki sekarang, Klayver rela. Karena itulah dia memilih terjun mengatasj semua musuh seorang diri dengan banyak resiko. Semata-mata demi untuk akhir bahagia bersama sang istri tercinta.
Udara malam semakin mencekam. Rasa dingin mulai merasuk ke setiap tulang-tulang Klayver. Tetapi bukannya terganggu, lelaki itu justru memejamkan mata dan menikmati malam.
Berbaring di sini, di tempat terbuka di dekat pòndok bobrok, ditemani kelamnnya malam, merupakan suatu ketenangan tersendiri.
Klayver puas dengan dirinya sekarang. Klayver puas dengan keadaannya sekarang. Dia kini semakin memiliki mental kuat dalam memperjuangkan tujuan bahagia bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1
…