Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
124 - SEASON 2


__ADS_3

Setelah Alice pulang dari rumah Rachel, dia langsung menuju ke tempat perusahaannya untuk melakukan rapat bulanan. Baik Jasmine maupun dua pengawalnya, mereka semua masih setia untuk mengikuti kepergian Alice. Bahkan, Jasmine ikut masuk ke dalam perusahaannya dan ikut mendengarkan saat rapat berlangsung. Ternyata, wanita itu cukup berpengetahuan juga tentang masalah bisnis. Buktinya, Jasmine bisa mengikuti setiap pembahasan yang ada dan memahami hal tersebut dengan sangat baik.


Setelah kurang lebih mereka mengikuti rapat dua jam, akhirnya Alice memutuskan untuk kembali pulang. Saat ini hari sudah mulai sore. Cahaya matahari mulai sedikit samar. Jalanan masih menyisakan salju di pinggir-pinggirnya.


Mereka tengah berbincang tentang beberapa hal bersama dengan Leo dan Leon di dalam mobil saat tiba-tiba Jasmine kemudian merasakan ada yang aneh. Dia merasa ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka sekitar satu kilometer terakhir ini.


Jasmine mencoba lebih memperhatikan keadaan sekitar. Dia tak ingin mengambil kesimpulan yang terburu-buru. Tetapi setelah beberapa menit terakhir ini mengamati hal tersebut, dia dengan yakin menyimpulkan bahwa mereka telah diikuti. Untuk mengonfirmasi hal ini, Jasmine berbincang dengan Leon dan Leo mengenai topik ini.


"Leon, Leo, apakah kalian juga merasakan apa yang aku rasakan? Sepertinya kita diikuti oleh mobil berwarna hitam." Jasmine mengecek spion mobil untuk melihat keadaan.


Leon dan Leo memyipit tajam dan menatap spion secara bersamaan. Benar apa yang dikatakan oleh Jasmine. Ada mobil hitam yang mengikuti mereka. Jasmine mencoba untuk berhenti di beberapa tempat. Dia ingin memastikan apakah dia dibuntuti atau tidak. Tetapi nyatanya, kecurigaannya menghasilkan sesuatu. Mobil di belakangnya yang berwarna hitam, ikut berhenti ketika Jasmine berhenti. Dan ketika ia menambah kecepatan mobil, maka mobil di belakangnya juga melakukan hal serupa. Jasmine semakin yakin bahwa Ia memang sedang diikuti.


Leon dan Leo melakukan hal yang sama. Kedua orang tersebut mulai waspada untuk menghadapi semua situasi yang bisa saja tak terkendali. Dengan hati-hati, Jasmine memutuskan untuk mengambil jalur lalu lintas yang tidak terlalu padat. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi William.


"Halo, William?" tanya jasmine.


"Ya, Jasmine? Apakah kau memiliki situasi darurat?" William terdengar sedikit khawatir. Jasmine tak terbiasa menghubungi William secara tiba-tiba. Jika Jasmine menghubunginya, itu artinya pasti ada suatu kondisi tertentu yang terjadi.

__ADS_1


"William, sepertinya aku tengah dibuntuti oleh sebuah mobil berwarna hitam." Jasmine menyebutkan di mana lokasi mereka berada. Dia berharap William bisa mulai melakukan tindakan untuk antisipasi.


"Baik, aku suruh orang-orangku untuk ke lokasi tersebut. Kau kirimkan saja lokasimu melalui ponsel, agar orang-orangku bisa mengetahui di mana lokasi terbarumu." Saran William sesegera mungkin.


Alice dan ketiga orang lainnya yang berada di mobil itu berusaha lebih waspada lagi. Alice mencoba menahan rasa paniknya. Dia tak ingin bersikap histeris pada hal-hal semacam ini. Tidak baik untuk kandungan dan janinnya.


Setelah beberapa lama, keadaan mulai bertambah serius. Mobil yang mengikuti mereka bukan hanya satu. Sekarang ada tiga mobil yang saling membuntuti mobil mereka.


Jasmine mencoba untuk lebih fokus dalam mengendarai mobil. Dia merupakan wanita yang cukup gesit dalam mengendarai mobil. Tetapi segesit-gesitnya wanita, dia tetap saja memiliki kekurangan. Apalagi yang mengejarnya sepertinya merupakan orang yang cukup ahli. Jadi, di lalu lintas yang sepi ini, Jasmine dan tiga orang lainnya berhasil diberhentikan dengan paksa oleh mereka semua.


Salah satu dari tiga mobil berwarna hitam itu mulai memberhentikan mobil Alice dengan cara menghadang jalanan yang akan dilalui Alice dari belakang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Karena kaget, Jasmine akhirnya menekan pedal rem mendadak. Dia menoleh kepada tiga orang lainnya dan merasa bahaya mulai mendekat. Mengetahui keadaan mulai genting, Leon dan Leo segera mengambil pistol yang ada di pinggang mereka dan bersiap untuk keluar mobil. Tetapi melihat tindakan mereka, Jasmine mencoba menahan Leon dan Leo. Orang-orang dalam mobil hitam tersebut belum mulai bertindak. Dia tak ingin Leo dan Leo terlalu buru-buru mengambil langkah yang nantinya bisa merugikan mereka semua.


Leon dan Leo melakukan apa yang Jasmine katakan. Mereka juga memahami keadaan. Tanpa pertanyaan lebih jauh, mereka semua menatap tiga mobil di sekitar mereka yang kini mulai terbuka pintunya secara bersamaan. Di balik pintu tersebut, muncul masing-masing dua orang dari setiap mobil sehingga total dari semuanya ada enam orang yang keluar. Orang-orang tersebut merupakan orang-orang yang berpakaian hitam-hitam dari atas hingga bawah. Bahkan mereka menggunakan kacamata hitam untuk menyamarkan profil wajah mereka.


Jantung Alice mulai berdegup tak aturan. Kedua tangannya mulai berkeringat basah. Tetapi Alice mencoba untuk bersikap tenang, dan tidak melakukan hal-hal yang bisa menarik perhatian orang-orang asing itu.


Ke enam orang tersebut yang berpakaian hitam mendekati mobil mereka dalam waktu yang bersamaan. Enam orang tersebut mengambil sesuatu dari pinggang mereka dan dalam waktu beberapa detik, mereka semua menodongkan pistol ke arah mobil Alice.

__ADS_1


Jasmine mencoba mencari celah. Jika dia membiarkan Leon dan Leon keluar, maka pertempuran hanya akan dimenangkan oleh musuh mereka. Dua orang tidak akan pernah bisa melawan enam orang yang memakai senjata. Jasmine yakin, enam orang yang telah mencegat mereka pasti tidak hanya memiliki pistol. Bisa jadi mereka memiliki banyak persiapan lainnya yang serupa senjata-senjata dan bisa menekan keberadaan Jasmine dan Alice.


Saat perhatian mereka sedang berfokus menatap enam orang tersebut, sebuah mobil hitam lainnya muncul. Jasmine sempat mengira Itu adalah mobil anak buah William. Tetapi setelah mobil tersebut berhenti dan pintunya terbuka lebar, ternyata harapan Jasmine tinggal harapan. Orang itu merupakan lelaki berusia sekitar empat puluhan tahun dengan wajah latin yang sangat kental. Fitur-fitur wajahnya sangat tegas dan keras. Salah satu dari enam orang yang mencegat Jasmine dan kawan-kawan, segera menunduk dalam dan menyapa orang berwajah latin itu.


"Segnor Luiz Martinez," sapanya penuh takdzim.


Mendengar nama itu disebut, Jasmine mulai bisa menghubungkan sesuatu. Dia menatap wajah lelaki yang berparas latin itu dan seorang wanita di belakangnya yang berusia sekitar pertengahan dua puluhan dengan pandangan penuh makna. Kedua orang itu tidak menggunakan penutup mata atau pun berpakaian hitam-hitam seperti enam orang lainnya. Mendengar sapaan yang diberikan oleh salah satu dari enam orang tersebut dan penghormatan yang ia berikan, Jasmine yakin lelaki itu adalah bosnya.


"Menyingkir kalian!" titah Luiz kasar.


Sesaat kemudian, Luiz terlihat tersenyum penuh kemenangan. Dia menatap mobil yang di dalamnya ada Alice. Dia tak pernah menyangka, mendapatkan Alice akan semudah ini. Tahu begini, dia akan melakukan aksi ini beberapa hari yang lalu agar lebih cepat.


Luiz berjalan mendekat ke arah jendela mobil Alice, mengetuk jendela mobil itu perlahan, dan tersenyum penuh makna. Wajah lelaki itu menunjukkan kekejamam yang menakutkan. Sementara wanita di belakangnya hanya mengikuti langkah Luiz tanpa protes.


Rencananya, Luiz tadinya akan mengistirahatkan diri di kediaman yang ia sewa dan membiarkan Liza serta anak buahnya bekerja untuk menggiring Alice menuju kepadanya. Tetapi setelah dipikir-pikir, Luiz memilih untuk terjun langsung ke lapangan. Dia sudah lama tidak melakukan aksi seperti ini. Sehingga mau tidak mau, adrenalinnya ikut terpacu melakukan hal seperti ini lagi.


"Ms. Vaquez, keluarlah dari mobil. Kita perlu bicara!"

__ADS_1



__ADS_2