Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
TIGA PULUH


__ADS_3

Alice tak pernah segila ini dalam mengemudi mobil. Setelah dia mendengar Kendrick berhasil membawa Axel, seluruh fungsi tubuhnya seolah mengambil alih kesadaranya. Dia pulang ke mansion Kendrick dengan kesetanan, mengendarai mobil diatas batas kecepatan normal. Persetan jika harus ditilang.


Beberapa kali, Alice mendapat klakson peringatan dari kendaraan lain namun tak ia gubris. Keinginanaya untuk bertemu dengan putranya telah berhasil mengalahkan segala akal sehatnya.


Euforia itu terlalu besar untuk ia tanggung. Darahnya menggelegak penuh antisipasi. Adrenalinya memacu semua reaksi tubuh.


Akhirnya putranya bisa kembali kedalam pelukanya. Ya Tuhan ... kenyataan yang membuat ia bersyukur luar biasa.


Alice semakin menekan pedal gas, menbuat mobilnya meluncur semakin cepat.


Mansion Kendrick yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit, kali ini terasa sangat lama bagi Alice. Ternyata benar filosofi seseorang. Waktu itu bersifat relatif. Bisa memanjang dan memendek, tergantung suasana hati kita masing-masing.


Setelah berhasil tiba di tempat yang ia tuju, Alice turun dari mobilnya dan berlari kencang ke dalam mansion. Ruang utama kosong tak ada tanda-tanda keberadaan Kendrick. Alice berteriak memanggil nama lelaki itu dan mengelilingi setiap ruang yang ada.


"Keeeeen .... "


"Aku disini, Alice," kata Kendrick dikamar tamu lantai atas.


Alice menatap tak percaya sosok lelaki yang kini tengah menggendong balita berusia satu setengah tahun. Wanita itu berlari menaiki anak tangga dengan langkah-langkah yang tergesa mendekati Kendrick.


"Axel!" Alice seolah masih tak percaya putranya berhasil berada disini.


"Say hello to your mom, boy." Kendrick tersenyum mendekatkan putranya pada Alice.


Anak itu, tampak terlihat gembul dengan kedua pipi yang menggemaskan. Mata hitamnya menyorot tajam sewarna dengan rambut lebatnya yang sekelam malam. Alice menyentuh pipi putranya dengan lembut, menyadari ada bekas airmata disekitar wajahnya. Mungkinkah dia baru saja menangis?


Anak itu terlihat berjengit untuk sesaat. Dia menatap Alice tanpa berkedip, kemudian dengan lugu mengulurkan tangan gemuknya.


"Oh Ya Tuhan ... bisakah aku menggendongnya?"


"Tentu saja," Kendrick menyerahkan anak yang digendongnya.


Alice menerima dengan tangan gemetar. Dia tertawa dan menangis secara bersamaan. Beberapa kali wanita itu membenarkan gendonganya, mencarikan posisi yang paling nyaman untuk putranya.


Alice menciumi kepala Axel dengan air mata berlinang. Dia memeluk putranya dengan sangat erat, seolah-olah jika longgar sedikit saja Axel bisa pergi lagi darinya. Dia menyukai aroma bayi yang dihirup dari tubuh putranya.


"Axel ... oh ... Axel," Alice menimang-nimang anak itu dengan rasa sayang.


"Ini mommy ... kau dengar? mommy .... " Alice membimbing putranya untuk mengenal dirinya.


"Mom," kata anak itu lugu.


Alice menjerit senang dan semakin dalam menciumi seluruh wajah putranya. Anaknya mampu memanggilnya. Ya Tuhan ... setelah sekian lama, nasib berbaik hati untuk berpihak padanya.


Axel sedikit memberontak, merasa tak nyaman dengan emosi yang dilimpahi oleh ibu kandungnya. Dia bergerak-gerak membebaskan diri, sangat terganggu.


Namun Alice tak peduli. Dia semakin erat memeluk putranya, membuat mereka berdua semakin merasa sesak.


"Tulun ... tulun ..., " pinta anak itu menunjuk-nunjuk lantai.


"Kau ingin turun, sayang?" Alice menurunkan perlahan putranya dengan sangat hati-hati.


Axel berlarian kesana kemari seolah tertarik dengan tempat asing. Tak ada ketakutan disorot matanya. Alice mengikuti dibelakangnya dengan tawa renyah.


"Kau lihat Ken ... dia bisa berlarian ... putraku telah berlari." Alice merasa sangat bangga.


"Sepertinya, pertumbuhan anakmu sangat bagus, Al," puji Kendrick tersenyum puas. Dia merasa bangga bisa menghadirkan kebahagiaan yang Alice impikan.


Alice sibuk mengikuti Axel kesana kemari, mengawasinya agar tak mengambil sesuatu yang berbahaya ataupun melewati medan yang sulit. Meskipun Axel sudah cukup seimbang untuk berlari, tetapi anak itu masih belum bisa membedakan mana tempat yang aman, mana tempat yang berbahaya. Instingnya masih belum kuat.


Sepertinya, ikatan mereka terbentuk secara alami. Axel yang cukup nyaman dengan kehadiran Alice, dan Alice yang cukup ahli mengimbangi ulahnya yang aktif. Dua jam lebih mereka bermain, dengan cara yang membuat siapapun terharu melihatnya.


Alice terlihat seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling istimewa. Dia memuja Axel dengan cara yang luar biasa dan menuruti apapun yang membuatnya senang. Semua koleksi permainan yang ia miliki untuk Axel ia keluarkan sekaligus. Sebagian besar ruangan Mansion Kendrick seolah disulap menjadi taman bermain anak. Ada permainan di setiap sudut ruangan.


Kendrick membiarkan mereka menghabiskan waktu cukup lama dalam pertemuan pertama mereka. Dia tak tega mengiterupsi suasana bahagia yang mereka miliki. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Alice. Mungkin semuanya bisa menunggu.

__ADS_1


Setelah Axel merasa letih dan berhasil tertidur dalam pangkuan Alice, Kendrick mengambil anak itu, membaringkanya diatas ranjang Alice.


"Kita perlu berkemas secepatnya, Alice."


Alice menoleh terkejut pada keseriusan yang ditunjukkan oleh Kendrick.


"Berkemas?" ulangnya tak mengerti.


"Semua ini terlalu mudah, Alice. Aku bisa menembus keamanan Anson tanpa sedikitpun halangan yang berarti. Aku takut semua ini jebakan. Bisa saja Anson sudah mengantisipasi niat kita dan menyiapkan rencana untuk menghadapi kita. Akan lebih baik jika kita segera pergi dari negara ini. Aku sudah mengurus berkas-berkasmu. Kau hanya perlu menyiapkan beberapa keperluan dasar dan berangkat sore ini bersama Axel."


"Kemana kita akan pergi?" tanya Alice mulai gugup.


Kendrick menyebutkan sebuah gedung dimana pesawat pribadinya menjemput. Alice mengerut tak mengerti. Bukankah mansion ini memiliki hanggar pribadi yang dinavigasikan oleh GPS? kenapa harus repot-repot pergi ke tempat lain hanya untuk terbang dengan pesawat?


Kendrick tersenyum maklum. Dia berkata bahwa Kendrick perlu mengambil beberapa berkas penting miliknya ditempat tersebut. Selain itu, dia juga perlu mengecoh Anson. Jika dia terbang dari tempat ini, pasti mudah bagi Anson mendeteksi kepergianya. Dia bisa dengan cepat mendapat alamat tujuan mereka. Karena itulah pesawat mereka perlu tempat lain untuk mendarat.


"Akan lebih baik kalau aku ceritakan semuanya dalam perjalanan. Bisakah kita bersiap sekarang?" kata Kendrick membungkam semua pertanyaan lain yang Alice miliki.


Alice bergerak cepat mengambil beberpa keperluan dasar dalam waktu singkat, turun ke lantai satu dengan membawa sebuah koper berukuran sedang di tangan kirinya, dan menggendong Axel melalui tangan kananya.


Kendrick tampaknya telah siap di lantai bawah. Dia segera menggantikan diri menggendong Axel dan segera membimbing Alice menuju mobil mereka di halaman depan.


Mereka hanya pergi bertiga, tanpa seorang sopir yang mendampingi. Kendrick berkata mereka perlu bergerak cepat tanpa harus dibebani membawa orang lain lagi.


Sore ini, mobil Kendrick membelah jalanan kota dengan gesit. Lelaki itu rupanya memiliki keahlian yang sangat mengagumkan dalam mengendarai mobil. Terbukti dia berhasil menyusup di antara kendaraan-kendaraan lain yang berlalu lalang.


Perjalanan mereka baru setengah jalan ketika Kendrick merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Dia menatap cermat melalui spion dan bersumpah serapah. Mereka telah diikuti.


"Ada yang salah?" Alice bertanya was-was.


"Kita diikuti, Alice. Sudah kuduga semua ini terasa ada yang tak beres."


Alice menoleh kebelakang, melihat banyak mobil yang berada dibelakang mereka. Jalanan ini adalah jalur utama yang sangat padat lalu lintas, bagaimana mungkin Kendrick merasa diikuti? Bisa saja memang ada beberapa mobil dibelakangnya yang memiliki arah tujuan sama.


"Kau yakin?" Alice memastikan.


Alice segera berbalik lagi dan mendapati mobil sesuai yang dideskripsikan oleh Kendrick. Mereka tidak persis berada di belakang. Ada beberapa mobil lain sebelum mereka.


"Apakah itu orang-orang suruhan Anson?" Alice bertanya.


"Siapa lagi, Alice? Dia pasti tahu dari awal bahwa Axel telah berhasil kita ambil. Aku menebak mungkin saja dia telah menjebakku secara halus. Tujuan sebenarnya adalah memancingku mendekat dan menyingkirkanku."


Alice menatap ke jok belakang, di mana putranya masih tertidur lelap dengan beberapa bantal penopang disisinya. Dia baru saja bertemu dengan malaikat kecilnya, apakah takdir akan kembali mengambilnya?


"Apa rencanamu, Ken?" Alice mulai khawatir.


"Kita harus mengambil jalur lain yang lebih sepi, Al. Jalur yang kita ambil sekarang terlalu ramai sehingga menyulitkan kita untuk bergerak cepat." Kendrick mengatak-atik fitur GPS di mobilnya untuk mencari jalan alternatif. Dia kemudian tersenyum simpul seolah mendapatkan sesuatu.


Alice menggeleng tak mengerti. Mereka berada di pusat Manhattan, memang apa yang mereka harapkan selain keramaian?


"Kita akan berbelok kiri setelah pertigaan berikutnya. Jalan di sana sedikit sepi karena jalurnya lumayan sulit."


Tanpa menunggu persetujuan Alice, Kendrick mengambil jalur tersebut. Dia mengamati kembali melalui spion dan semakin menyumpah serapah saat dua mobil SUV yang ia curigai masih saja mengikuti mereka.


"Bersiap-siaplah, Alice. Pakai sabuk pengamanmu," pinta Kendrick sebelum menginjak pedal gas. Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi, melawan angin. Alice tersentak dan berulang kali menoleh kepada putranya, takut anak itu terjatuh dari jok.


Alice belum pernah menyaksikan balapan liar atau semacamnya. Pengalamanya hanya sebatas pada film yang ia tonton. Dia tak menyangka situasi kejar-kejaran mobil yang ia alami akan setegang ini. Film-film sialan itu selalu menampilkan keseruan yang menantang dalam setiap adegan. Nyatanya yang Alice rasakan jauh dari kesenangan. Dia takut, kalut dan merasa terjebak.


Kendrick melakukan banyak manuver dengan lihai. Dia berusaha mengecoh mobil di belakang mereka, namun sepertinya cukup sulit. Orang yang dikirmkan Anson terlalu ahli mengimbangi kemampuan Kendrick.


Jalanan yang mereka lewati semakin lengang. Hanya ada beberapa mobil yang berpapasan. Kendrick mengambil jalur lain yang lebih sulit lagi dan tak selebar sebelumnya. Jalan ini bahkan jarang dilalui kendaraan.


Mereka melewati jalan dengan banyak pohon disamping kiri dan kanan. Nyaris tak ada bangunan yang mereka lewati. Entah jalur ini akan membawa mereka kemana.


Alice merasa waktu bergerak sangat lama. Dia seperti terjebak dalam lorong waktu yang statis. Dia bahkan tidak bisa menebak apakah mereka masih dikota yang sama atau tidak. Segalanya seperti mulai buram dalam pikiranya.

__ADS_1


Kemudian mobil mereka berhenti secara tiba-tiba. Alice tersentak dan menyadari salah satu mobil yang membuntutinya berhasil menghentikan mereka. Mobil itu menghentikan diri di depan mereka, memaksa Kendrick ikut berhenti juga. Mobil yang lain juga berhenti persis dibelakang mereka.


Alice menarik nafas khawatir. Kaca SUV itu terlalu gelap untuk ia amati. Alice tak tahu berapa orang yang Anson kirimkan untuk mereka.


"Apapun yang terjadi, tetap kunci pintu mobil dan jangan mencoba untuk ikut keluar. Jika ada kesempatan, teruskanlah perjalanan ke tempat tujuan kita semula. Nanti kau akan bertemu dengan seseorang yang akan mengurus semua keperluanmu." Kendrick mengambil sebuah pistol glock 20 dibawah jok mobilnya, keluar dari mobil seorang diri menghadapi mereka.


Alice mengunci mobil dan menoleh kalut pada Axel yang masih saja tertidur pulas. Sepertinya anak itu tak mudah terganggu oleh keadaan di sekitarnya . Nafasnya terlihat teratur, membuat dada kecilnya turun naik dengan indah.


Suara perkelahian mulai terdengar. Alice menatap khawatir pada Kendrick yang berdiri seorang diri menghadapi enam orang bersenjata. Orang-orang yang berada di dua mobil yang membuntutinya telah siap menghadang Kendrick dengan banyak cara.


Alice mulai takut. Detak jantungnya berdebar tak menentu. Apakah semuanya akan baik-baik saja? Sanggupkah Kendrick mengahadapi enam orang tersebut? Lelaki itu hanya membawa sebuah senjata, sementara mereka menodongnya dengan banyak senjata yang sama hebatnya.


Keringat dingin mulai menyerang Alice. Jari-jemari tanganya telah memutih dan bergergetar hebat. Suara tembakan pertama terdengar mengagetkan dirinya. Alice tersentak dan mengamati keadaan Kendrick. Lelaki itu berhasil menghindar dengan baik dan membalas serangan mereka. Dua orang tumbang dengan cepat. Darah merembes di bagian dada.


Alice merasa mual. Dia tak pernah melihat pertempuran berdarah secara langsung. Keadaan ini membuat mentalnya kacau. Perasaanya campur aduk tak menentu. Ya Tuhan ... bagaimana mungkin sebuah nyawa menjadi tak bernilai seperti itu?


Mereka saling berkelahi dengan sangat sengit, sebelum akhirnya suara tembakan terdengar lagi. Meskipun suara ini tak terlalu nyaring karena dibungkam dengan peredam, namun tetap saja suara itu menjadi suara yang mampu mengguncang psikis Alice. Suara klik yang saling bersahut-sahutan membuat pikiranya sulit untuk berfungsi normal.


Hanya tersisa satu orang lagi yang masih berhasil bertahan melawan Kendrick. Mereka saling berkelahi dengan tangan kosong dan membuang semua pistol yang mereka gunakan. Mungkinkah peluru mereka sudah sama-sama habis karena telah mereka gunakan sebelumnya?


Kendrick ternyata orang yang sangat kuat. Perkelahian dengan tangan itu berhasil ia menangkan, membuat lawanya terkapar menyerah. Kendrick berlutut penuh kebencian dan meludahi lelaki yang tak berdaya dibawahnya. Dia kembali berdiri dan berjalan penuh harga diri menuju mobil yang Alice tumpangi. Saat itulah Alice melihat Anson turun dari mobil SUV dibelakang Kendrick, mengarahkan sebuah revolver yang ia genggam, membidikkanya tepat di kepala Kendrick. Ternyata Anson ikut berada didalam mobil dari tadi, bersembunyi, menunggu kesempatan yang bagus untuk menyerang.


Apakah kau pernah membayangkan detik-detik di mana kau merasa tak berdaya atas segala sesuatu? Kau hanya menyaksikan kejadian itu, tak diberi kekuatan untuk melakukan apapun yang kau inginkan?


Ya. Alice merasa seperti itu. Semuanya seolah berjalan dengan kecepatan lambat yang sangat menyiksa. Kejadian ini berputar dalam otaknya seperti rol film yang menggunakan adegan slow motion.


Dengan tenaga yang ia miliki, Alice berteriak sekeras mungkin, memperingatkan Kendrick. Hati kecilnya sedikit berharap ia masih belum terlambat.


Sia-sia. Revolver dalam gemggaman tangan Anson menyentak cukup keras, memuntahkan pelurunya. Logam kecil itu melayang cepat menembus kepala belakang Kendrick. Saat itulah Alice melihat senyum Kendrick hilang dan tubuhnya terpelanting kebelakang. Matanya perlahan-lahan kehilangan sorot kehidupan.


"Tidaaaaaaaaaakkkk! "


Alice membuka kunci mobil, berlari kesetanan pada tubuh Kendrick yang jatuh tak berdaya di atas aspal. Dia menopang kepala Kendrick dalam pangkuanya, memanggilnya berulang kali.


Nafas itu telah tiada. Matanya yang biasa menyorot hangat pada Alice kini tak lagi memiliki ekspresi. Darah mulai merembes membasahi rok span krem yang Alice kenakan. Membentuk warna merah gelap, seolah meneriakkan tragedi baru.


Alice masih saja menyebut nama Kendrick. Suaranya semakin melemah dan berganti menjadi isakan pilu. Dia menggenggam erat tangan yang akhir-akhir ini selalu memeluknya, memberinya kekuatan dalam setiap kelemahanya. Mengecup lengan itu perlahan, gemetar dalam tangis putus asa.


Alice menyusuri setiap lekuk indah wajah lelaki yang menjadi suaminya. Wajah yang menemaninya, wajah yang menghiburnya. Wajah yang kini tak lagi memiliki reaksi apapun.


"Bangunlah Kendrick, bangunlah sayang, bukankah kau menginkan kita bersama? Aku akan mengikuti kemanapun kau membawaku ..., " pinta Alice lirih, mengusap wajah lelaki yang menjadi pendamping hidupnya.


Tubuh itu masih saja terdiam, tak menyambut.


"Kendrick ... lihatlah aku ... bukankah kau berjanji akan menemaniku selamanya?" Alice mengguncang jasad yang berada dipangkuanya dengan keras.


"Kubilang bangun, Kendrik! Bangun! Kau harus Bangun! Ayolah jangan jadi pengecut!" Alice semakin berteriak keras memukul sisi wajah Kendrick yang tak beradaya. Teriakanya semakin histeris tak terkendali. Kedua tanganya memukul dan menyerang apapun yang ada disekitarnya.


"Sayang ... bangun ... kumohon ... aku akan menjadi apapun yang kau mau ... bangunlah." Suaranya semakin melemah hingga berubah menjadi lirihan pilu. Alice kenbali terisak tak berdaya. Nafasnya tak teratur, mulai terasa sesak.


"Terimalah. Dia sudah mati," ucap Anson datar berdiri tak jauh dari Alice. Dia mengamati semua tindakan Alice tanpa ekspresi.


Alice menatap Anson dengan kebencian dan kesedihan yang membara. Kedua matanya menyipit, menekan semua emosi. Mulut Alice bergetar hebat menahan diri.


"Kau pembunuh, Anson. Kau benar-benar iblis laknat. Aku membencimu dengan setiap tetes darah yang kumiliki, aku tak akan pernah memaafkanmu sepanjang hidupku." Alice berteriak tak terima.


"Untuk pertama kalinya kau benar, Alice ... aku adalah iblis pembunuh. Dan aku tak peduli jika kau membenciku, sudah seharusnya kau menjauhiku dari awal." Kata Anson ringan. Dia berjalan menuju mobil yang Alice tumpangi sebelumnya dan mengambil Axel yang kini telah menangis histeris. Lelaki itu menggendong Axel, mengusap lembut kepala anak mereka dan membawanya kedalam SUV hitam yang Anson kendarai.


Alice berteriak panik melihat putranya dibawa pergi. Dia semakin kalut saat SUV itu pergi meninggalkanya seorang diri bersama banyak jasad yang terbaring tak berdaya.


Alice menggumamkan maaf berkali-kali dan pergi meninggalkan jasad Kendrick untuk mengejar Anson. Dalam hati, Alice berjanji akan mengurus kepergian Kendrick dengan pantas setelah ini. Sekarang fokusnya adalah mengejar putranya. Jangan sampai iblis itu membawa pergi miliknya.


Alice menyusul kepergian Anson dengan mobil Kendrick. Dengan tangan gemetar, dia mencoba mengemudikan mobil ini. Semua sendinya sudah terasa mati rasa. Alice tak tahu seberapa lama lagi dia bisa bertahan dalam keadaan ini.


Mobil Anson mulai terlihat tak jauh darinya. Alice menekan pedal gas dan membuat jarum spidometer semakin bergerak kekanan. Dia harus segera menyusul mobil tersebut bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Pandangan Alice mulai mengabur. Tubuhnya melemah dengan cepat karena syok yang baru saja ia alami. Tanganya mulai sulit untuk ia gerakkan. Dengan kesadaran yang mulai tersisa, Alice merasa mobilnya bergerak tak terkendali. Mobil itu menabrak pembatas jalan dengan hebat, terseret jauh dan berbalik beberapa kali menghantam sebuah pohon besar disisi jalan.


...


__ADS_2