Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
DUA EMPAT


__ADS_3

"Anson." Alice terkejut.


"Ya ... ini aku, Alice. Sudah ku bilang aku mampu menghancurkan hidupmu. Jangan pernah memulai permainan jika kau tak sanggup menerima konsenkuensinya."


"Damn you, Anson. Kau harus melepaskan Daniel dari dakwa'an. Bukankah semua itu ulahmu? Apa kau tak memiliki hati sedikitpun? Aku hanya ingin bisa bertemu dengan Axel, hanya itu yang kuinginkan."


"Apa kau pikir kau layak bertemu denganya? Percayalah ... Axel tidak akan mengharapkan wanita rendah sepertimu masuk kedalam kehidupanya."


"Kau--"


"Jika permainan ini tetap kau teruskan, akan ku pastikan Daniel menderita lebih buruk lagi. Kau akan merana karena salah satu sumber uangmu pensiun lebih dini."


Sambungan terputus.


Alice berdiri dengan wajah yang pucat pasi. Dia menatap Daniel dengan pandangan khawatir. Apakah lelaki ini pantas mendapatkan konsekuensi dari kekejaman Anson? Kesalahan apa yang ia miliki sehingga terjebak dalam situasi mengerikan ini.


"Telepon itu dari Anson, bukan? Apa yang ia katakan?" Rachel was-was


"Hanya ancaman agar aku menghentikan pencarian putraku." Alice gamang.


Daniel tersenyum lemah. Dia memahami dilema yang dirasakan Alice. Bagaimanapun juga, jiwa seorang ibu akan sulit dipisahkan dengan anaknya sendiri.


"Apakah kau mengenal orang yang menjadi musuh besar Anson?" Alice bertanya dengan rasa ingin tahu.


Daniel menatap Alice dengan pandangan heran, seolah-olah dia adalah makhluk asing dari planet lain.


"Apa yang kau rencanakan, Alice. Aku tak akan berpartisipasi dengan rencana gilamu lagi. Kau bisa terbunuh sewaktu-waktu jika terus melakukan niatmu itu." Daniel menggeleng. Untuk mengimbangi Alice, dibutuhkan lelaki yang benar-benar berkarakter kuat.


"Bantu aku untuk terakhir kalinya. Aku ingin tahu kelemahan Anson." Alice bersikeras.


Daniel mendengus. Dia menyerah dengan kemauan wanita itu.


"Aku tak tahu apa yang menjadi kelemahan Anson. Tapi aku tahu siapa yang menjadi rival dan saingan besar Anson. Namanya Kendrick Jafferson atau sering disebut sebagai Mr. Dark, karena kemampuanya menggelapkan banyak barang terlarang. Salah satunya adalah bidang senjata juga, seperti Anson. Mereka berdua terlibat persaingan ketat. Kudengar mereka pernah saling menyerang secara terbuka, karena berebut wilayah dalam memasarkan dan menampung senjata selundupan." Daniel menjelaskan secara detail. Alice mengangguk puas, tak menyangka Daniel dianugerahi pengetahuan yang luas dalam bidang dunia gelap.


"Mereka berdua tokoh yang sangat kuat. Tidak ada yang berani mengusiknya secara langsung."


"Apakah dia warga negara ini?" Alice bertanya. Sebuah rencana mulai terbentuk secara rapi di kepalanya.


"Ya. Dia memiliki kewarganegaraan ganda Amerika dan Turki. Dia memiliki darah turki dari ibunya, sementara ayahnya berasal dari LA."


"Berapa usianya?" Alice semakin tertarik.


"Tiga puluh tiga tahun. Lebih muda dari Anson. Dia sangat tampan, seandainya itu maksud dari pertanyaanmu. Tetapi setelah kepergian istrinya, dia bersikap sangat dingin pada semua wanita. Jadi, buang jauh-jauh niatmu untuk menggodanya. Kau tak akan mendapatkan apapun jika mendekatinya." Daniel mulai memahami cara berfikir Alice.


"Kau tak akan mendekati dan mencoba meminta perlindunganya bukan? Kau tak akan melempar dirimu sendiri pada lelaki lain hanya untuk menyerang Anson?" Rachel mulai histeris. Dia berharap Alice tak bertindak gila lagi. Menjalin hubungan dengan Anson saja berbuntut panjang seperti ini. Apa jadinya jika ditambah dengan Kendrick? Rachel pasti segera mendapat serangan jantung jika Alice melakukan rencana gilanya kali ini.


"Aku akan melakukan apapun selama bisa mendapatkan Axel. Jika memang aku harus menyerang dan melumpuhkan kediktatoran Anson, aku akan mencari mitra yang terpercaya untuk misiku. Aku juga perlu membebaskanmu, Daniel. Jika Kendrick yang kau bicarakan memang sehebat itu, dia pasti bisa membuatmu keluar dari penjara dan membantuku mengambil putraku dari Anson."


Daniel dan Rachel melongo tak percaya. Entah terbuat dari apa komposisi otak Alice. Cara berfikirnya memang unik.


"Kau dan Anson memiliki permasalahan pribadi, bukan bisnis. Apa kau pikir Kendrick bersedia membantumu begitu saja?" Daniel berdiri, menepuk keningnya sendiri dengan sedikit kasar. Alice adalah wanita yang terlalu sulit dikendalikan.


"Aku harus mencobanya, bukan? Katakan dimana aku bisa menemui Kendrick."


Daniel menggebrak meja, merasa tak berdaya. Dari awal, dia hanya ingin melindungi wanita ini. Tetapi semakin kesini, wanita itu justru malah sengaja menerjunkan diri ke dalam masalah.


"Kau sangat keras kepala, Alice." Daniel tersenyum kecut.


Wanita keras kepala itulah yang berhasil membuatnya mengenal cinta dan rasa sakit secara bersamaan.


...


Alice berdiri anggun di sebuah pesta peresmian pembukaan anak cabang sebuah perusahaan ternama. Melalui koneksi yang Daniel miliki, dia berhasil mendapat undangan pesta secara ekslusif.


Alice berjalan dengan luwes menyusuri halaman luas yang akan segera diresmikan sebagai lembaga swasta perbankan negara ini.

__ADS_1


Alice seperti mengalami dejavu. Lima belas bulan lalu, dia berdiri anggun di sebuah pesta untuk mencari lelaki yang bersedia menerimanya sebagai simpanan. Sekarang, dia juga berdiri disini untuk mencari lelaki juga. Perbedaanya, dulu Alice memilih targetnya secara random. Kini, dia memilih target khusus yang menjadi incaranya.


Kendrick Jafferson.


Seharusnya tidak terlalu sulit mencari lelaki itu. Daniel sudah membekali Alice dengan semua foto-foto close up Kendrick dan memastikan Kendrick adalah tamu VIP pesta. Alice menunggu sebelas hari hanya untuk mendatangi pesta ini. Semuanya telah ia rancang. Seharusnya malam ini berjalan sesuai rencana.


Hanya saja, karena pesta ini adalah acara agung yang dihadiri dengan beberapa senator juga, suasananya jadi terlalu ramai dan penuh dengan wartawan. Alice kesulitan menemukan targetnya di antara lelaki yang berlalu lalang.


Alice memutari kembali ruangan yang menjadi pusat pesta diadakan. Dia sudah berkeliling tiga kali hingga kakinya nyaris membengkak dan tetap saja belum menemukan Kendrick. Jika putaran terakhir ini tak juga mendapat hasil, mungkin dia harus pulang dengan tangan hampa.


Alice nyaris berteriak senang saat mengamati seorang lelaki, dengan wajah blasteran timur tengah dan amerika tengah berbincang dengan lelaki tua berjas hitam yang sepertinya adalah pebisnis juga. Tak ada wanita yang bergelayut manja disampingnya. Mungkin informasi yang dimiliki Daniel memang benar. Lelaki itu berubah dingin setelah kematian istrinya.


"Mr. Kendrick Jafferson," panggil Alice mendekat.


Lelaki bertubuh kekar itu sedikit terkejut disapa wanita asing. Matanya menyipit, seolah-olah tengah mengingat-ingat apakah mereka pernah bertemu di suatu tempat.


"Kita belum pernah bertemu. Tetapi saya perlu berbicara serius dengan anda tentang sesuatu yang sangat penting." Alice mengangguk memahami kebingungan Kendrick.


Lelaki tua yang tadi menjadi teman bicara Kendrick sebelumnya, pamit meninggalkan mereka. Dia cukup tahu diri untuk memberi ruang pada mereka.


"Aku tak tertarik dengan apapun yang coba anda tawarkan, Nona." Kendrick berkata tajam. Sepertinya sikap dingin Kendrick memang bukan gosip belaka.


Alice tertawa renyah. Dia sudah pernah mengahadapi sikap Anson. Reaksi Kendrick tidak akan membuatnya mundur begitu saja.


"Apakah kau mengenal Anson Mallory?" tanya Alice tanpa basa-basi.


Ekspresi Kendrick berubah kelam. Dia menatap Alice semakin tajam.


"Apa kau wanita yang diutus olehnya? Apa tujuanmu sebenarnya?" Kendrick sedikit tegang. Sebelah tanganya menyusup ke saku celana, membuat Alice mundur tiba-tiba. Tak ada yang tahu jika lelaki itu menyimpan senjata, bukan?


"Katakanlah ... aku ... wanita yang dibuang Anson." Alice mencoba menarik kepercayaan Kendrick.


"Kau? Wanita yang terbuang? Drama apa yang kalian rencanakan?"


Alice menilai keadaan sekelilingnya. Setelah dirasa aman, dia mendekat perlahan pada Kendrick.


"Aku adalah Alice White, wanita simpanan Anson. Aku memiliki seorang bayi dan dia merebutnya dariku." Ada kegetiran dalam setiap kata yang diucapkan Alice. Jika cara ini tak juga berhasil, Alice tergoda untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


"Apa maumu sebenarnya Ms. White?"


"Bekerja sama untuk menyerang Anson. Kau bisa mengalahkan bisnisnya, dan aku bisa mengambil putraku kembali."


...


Alice duduk bersandar pada kursi besar yang sangat lembut di ruang keluarga mansion Kendrick. Malam ini, dia berhasil diundang bertamu ke kediaman Kendrick setelah ia berhasil menjelaskan panjang lebar tentang rencana gilanya seputar Anson.


Alice menghabiskan nyaris satu jam hanya untuk memberikan penjelasan yang masuk akal pada Kendrick. Lelaki itu butuh diyakinkan dengan sangat telaten. Akhirnya, perjuangan Alice berbuah juga. Kendrick tertarik membangun kerja sama denganya.


"Bir?" tawar Kendrick mengangsurkan gelas dan botol berisi cairan merah padanya.


Alice mengangguk menerima tawaran Kendrick. Bir mungkin bisa melemaskan syaraf-syaraf otaknya yang mulai kusut.


"Jadi, kau setuju bekerja sama denganku, bukan?" tanya Alice memastikan.


Kendrick tertawa dengan kata-kata yang digunakan oleh Alice. Kerja sama? memang apa yang wanita itu tawarkan untuk membantu menyerang Anson? Dari segi manapun juga, Alice berada dibawahnya. Wanita itu tak bisa berkontribusi apapun padanya.


"Definisi kerja sama adalah saling berkontribusi mengorbankan apapun demi sebuah misi bersama. Kau bisa memberikan pengorbanan apa pada niatmu kali ini, Alice?" Kendrick masih saja menjaga jarak darinya. Dia berdiri sedikit menjauh dari Alice.


"Aku akan mengorbankan apapun. Uang, aset, tenaga. Aku akan memberikanya, selama kau tidak meminta nyawaku." Alice berujar mantap.


"Aku memiliki uang, aset, tenaga, koneksi, kemampuan, nama dan banyak hal lainya yang lebih besar dari yang kau miliki. Ada atau tidaknya keberadaan dirimu tidak berpengaruh besar padaku." Kendrick menggeleng, merasa geli. Baru kali ini ia didekati wanita cantik hanya untuk bekerja sama menyerang seseorang. Sialnya, wanita itu tak memiliki kemampuan lebih dari yang sudah ia punya sebelumnya.


"Yah ... aku memiliki kecantikan. Kau tidak memiliki satu hal itu, bukan? Aku bisa menggunakanya jika terpaksa." Alice berkata penuh percaya diri.


"Kau bermaksud menjual tubuhmu lagi? Apa kau pikir kali ini asetmu bisa mendukung niatmu untuk menyerang Anson? Kau memang sangat cantik. Tetapi ada banyak wanita cantik juga diluar sana."

__ADS_1


Alice memejamkan mata. Kendrick benar. Memang apa yang ia miliki yang tak Kendrick miliki yang bisa membuatnya memiliki kontribusi pada rencana ini? Semua yang ia miliki tidak bernilai dimata Kendrick.


"Baiklah, kau sudah menyampaikan maksudmu. Jika kau tidak tertarik dengan tawaranku, kenapa kau mengundangku ke mansionmu?" Alice bertanya curiga. Dia menatap Kendrick penuh rasa ingin tahu. Apakah Kendrick hanya akan memanfaatkanya?


Alice menatap cairan alkohol yang telah ia sesap. Mungkinkah Kendrick mencampurkan sesuatu pada minuman ini sebelum ia memperkosanya? Ataukah ia bermaksud menjual dirinya sebagai *******? Bisa saja dia memiliki bisnis pelacuran terselubung, bukan? Dunia gelap selalu membuka banyak kemungkinan hal-hal seperti itu.


Alice berdiri perlahan, memastikan keadaan tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah. Semua sendinya masih berfungsi normal. Jadi apa yang sedang direncanakan oleh Kendrick?


"Aku tidak memiliki niat seperti yang sedang kau pikirkan, Alice. Kau tak perlu khawatir." Kendrick terkekeh lagi melihat keluguan yang terpancar dari sorot mata Alice. Bagaimana bisa wanita sepolos itu terjebak dengan dunia Anson?


"Apa yang kau inginkan, Kendrick?" Alice mulai mencari kunci mobilnya. Alarm alam bawah sadarnya sudah menyala. Ada tanda bahaya yang mulai terdeteksi. Alice harus secepatnya pergi dari tempat ini.


"Duduklah, Alice. Biarkan aku menjelaskan."


Alice kembali duduk dengan enggan. Ya Tuhan, apakah hidupnya sebentar lagi berakhir?


"Aku tak terlalu tertarik lagi untuk menyerang Anson. Sebentar lagi aku akan pensiun dari dunia gelap. Untuk apa aku menghabiskan banyak tenaga menyerang musuh-musuhku? Aku menginginkan masa pensiun yang damai dan tenang. Mungkin aku akan menjadi pengusaha yang jujur dan aktif dalam beberapa lembaga amal."


Alice terkejut mendengar penuturan Kendrick. Sepertinya dari awal rencana ini telah salah. Bagaimana mungkin dia bisa mendekati orang yang memutuskan untuk bertobat? Ya Tuhan ... iblis apa yang telah merasuki Alice sebelumnya.


"Maaf Kendrick. Aku ... aku tak tahu niatmu." Alice menunduk, sedikit malu. Pasti dia bagaikan jelma'an setan bagi Kendrick. Menariknya ke dunia hitam saat lelaki itu berniat kembali ke dunia putih.


"Tapi aku tertarik membantumu, Alice." Alice mendongakkan kepala terkejut. Dia tak mengira akan mendapat kalimat itu.


"Apa?" tanyanya tak percaya.


"Aku akan membantumu untuk mengambil putramu," tawar Kendrick, terdengar tulus.


"Apa yang kau inginkan sebagai bayaranmu?" Alice terdengar kalut. Sikapnya sudah mulai tak tenang.


"Tidak ada. Aku tulus membantumu."


Alice menggeleng tak percaya. Tidak mungkin. Dalam dunia ini, ada bayaran dari setiap transaksi yang terjadi. Jika sesuatu itu tak berbayar, Alice curiga pasti konsekuensinya sangat besar.


"Kenapa, Kendrick? aku sedang tak tertarik mendengar leluconmu"


Kendrick berjalan mendekati Alice dengan langkah lebar. Kali ini, giliranya yang harus meyakinkan Alice.


"Apa kau tahu aku menderita gynophobia? Sejenis rasa takut kepada wanita, terutama wanita cantik. Gynophobia ku tidak sebesar dulu, tetapi masih ada."


Alice mengerut bingung. Apakah ini alasan Kendrick bersikap dingin pada wanita? Tetapi bukankah sebelumnya dia memiliki istri? Apakah semuanya hanya sandiwara?


"Semua bermula saat dua tahun lalu istriku dibantai. Dia dibunuh di depanku sendiri oleh seorang wanita, sementara aku setengah dibius, tak memiliki kekuatan untuk melawan. Aku berhasil selamat, tetapi dia meninggal. Sejak saat itu setiap kali aku melihat wanita, memoriku selalu kembali pada dua tahun lalu. Ketakutanku muncul secara alami."


Alice semakin tak nyaman dengan cerita yang ia dengar. Apa maksud Kendrick menceritakan semua ini?


"Apakah Anson pelakunya?" tanya Alice khawatir. Apakah lelaki itu bisa bersikap kejam?


"Tidak. Kau pikir hanya Anson saja musuhku? Aku memiliki banyak musuh diluar sana, Alice."


"Jadi untuk apa kau menceritakan semua ini padaku?"


Kendrick menatap wajah lembut Alice. Senyumnya mulai terukir, namun mengandung banyak kesedihan.


"Kau mengingatkanku pada istriku. Keluguanmu, tekadmu, bahkan sorot matamu. Aku seperti melihat sosoknya lagi. Mungkin, membantumu, bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku karena membiarkan ia meninggal dengan tragis. Selain itu, aku juga pernah menjadi seorang ayah. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan anak."


Alice membisu. Dia menangkap banyak duka yang tersirat dari raut wajah Kendrick. Rasa sakit yang ia alami pasti sangat hebat. Hanya orang-orang dengan kekuatan besarlah yang sanggup menanggung tragedi besar.


"Untuk mengambil kembali putramu, pertama-tama, kau harus memiliki posisi yang cukup kuat agar bisa melawan Anson. Melawan dia dalam keadaanmu sekarang hanya membuang-buang tenaga. Dia bisa menghancurkanmu dengan mudah," kata Kendrick kembali pada pembicaraan awal mereka. Ekspresinya kembali normal, menutupi jejak kesedihan yang tersisa.


"Apa yang kau sarankan?" tanya Alice gamang. Dia masih tak percaya Kendrick bersedia membantunya secara suka rela.


"Menikahlah denganku. Menjadi istriku akan memperkuat posisimu."


...

__ADS_1


__ADS_2