
Maxen memandangi langit yang terlihat kelam. Tak ada satu pun bintang yang memberi cahaya malam ini. Hanya angin malam yang bertiup sedikit kencang. Dia berdiri dalam di balik teralis balkon kamar. Cahaya matanya redup. Tangan kokohnya tak terlihat sekuat biasanya.
Berapa lama ia telah berada dalam kesendirian? Melihat awan dan hanya berteman dengan bayangan sepi.
Sebenarnya, dia lelah. Untuk tetap terlihat kuat dan hidup dalam gelap. Apa yang ia lakukan selama ini hanyalah berlari dan bertindak di balik kebrutalan.
Pernah suatu kali, Maxen menatap telapak tanganya dan menjerit seorang diri. Dia melihat banyak darah di sana, berbau anyir, dan beraroma kematian. Sungguh suatu hal yang sangat ironis.
Ia ingin pergi, tapi tak ada tempat untuk ia datangi. Segala pintu telah tertutup. Semua penolakan telah ia dapati. Akhirnya yang tersisa, ia kembali berdiri dalam gelap. Entah untuk berapa lama.
Alena, ibu tirinya yang merupakan ibu kandung dari Harry pun tak jauh berbeda. Dia wanita yang cukup kuat untuk bertahan dalam kegelapan.Tak peduli berapa nyawa yang telah ia ambil.
Satu-satunya yang tersisa adalah Harry. Entah lelaki itu terlalu bodoh, atau terlalu berani, sehingga memutuskan tali dan memilih pergi. Meninggalkan seorang calon istri yang kini menjadi miliknya.
Kali ini Maxen harus bersyukur dan berterimakasih kepada Harry. Adiknya telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang saat ini ingin sekali ia miliki.
Tetapi, pantaskah lelaki sepertinya bersanding dengan Rachel? Wanita itu bagaikan seputih salju musim dingin. Tak ternoda dan tak tersentuh. Mereka seperti dua orang dalam kutub yang berlawanan.
Maxen mendengus lelah, berbalik, dan mengambil posisi berbaring. Jam sudah menunjukkan dini hari. Meskipun rasa kantuk belum menyerangnya, tetapi tubuhnya butuh istirahat sehingga mau tak mau Maxen harus membaringkan tubuhnya untuk mendapat tidur yang berkualitas.
Dalam tidurnya, Maxen bermimpi dia merengkuh Rachel dengan penuh pemujaan. Wanita itu tersenyum tulus untuknya. Sebuah senyum indah yang baru pertama kali Maxen dapatkan dari seorang wanita.
Mimpi itu telah mengacaukan tidur Maxen yang baru saja berjalan satu jam. Dengan mata nyalang, Maxen membisikkan sesuatu.
"Harry, bagaimana jika aku mulai mencintai wanitamu? Apakah kau memaafkan tindakanku?"
…
Hari telah larut. Alice dan Klayver menghabiskan malam bersama di sebuah ruangan VIP sebuah hotel ternama.
Setelah resepsi mereka berakhir, Klayver mengarahkan mereka menuju hotel ternama di pusat kota Manhattan. Alice tak terlalu banyak berkomentar dam hanya menyetujui sambil lalu.
Sebenarnya Alice tak terlalu mengerti cara berpikir Klayver. Tadinya dia beranggapan bahwa menyewa hotel tak akan memengaruhi mereka sama sekali. Toh kenyataanya adalah pernikahan mereka hanya selembar kertas. Tak ada nilai apa pun di baliknya.
Namun, rupanya Klayver memiliki pemikiran sendiri. Alice menebak dia membutuhkan koneksi dengan pemilik hotel ini, sehingga saat orang tersebut menawarinya ruangan VIP, ia segera menerima.
"Tidurlah!" perintah klayver saat ia melihat Alice masih duduk bimbang di ujung ranjang.
Alice sudah berganti baju dengan piyama hangat. Dia melihat Klayver di sudut ruangan yang kini mulai membuka sebuah laptop.
"Apa yang sedang coba kau lakukan?" tanya Alice penasaran.
Klayver menatap sekilas pada wanita tersebut dan kembali sibuk dengan laptopnya. Dia menekan beberapa tombol keyboard dengan kecepatan tinggi. Saat Alice berpikir Klayver tak akan menjawab pertanyaanya, tiba-tiba Klayver berkata singkat.
"Mencoba memasuki sistem keamanan hotel ini."
Alice menaikkan alisnya. Dia sama sekali tak mengerti arah perbincangan Klayver. Apakah itu artinya Klayver seorang hacker juga? Seperti Daniel? Tetapi untuk apa menembus sistem bisnis orang lain?
Mungkinkah Klayver terlalu bosan dengan keadaan dan memutuskan tindakan iseng-iseng? Caranya mencari hiburan sedikit tak normal.
Alice mendengus kasar. Dia mulai menyadari sesuatu. Memangnya apa yang normal dari seorang pembunuh sepertinya?
"Kau hacker?" tanya Alice terlejut.
__ADS_1
"Aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan."
Wow. Jawaban macam apa itu? Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Kenapa Klayver tidak menjadi orang suci saja sehingga hidupnya membawa manfaat pada banyak orang? Biksu misalnya.
"Apakah ada sesuatu yang salah dengan hotel ini?" tanya Alice. Dia ingin berjalan mendekat melihat aktifitas Kalyver, tetapi takut mengganggu. Jadi Alice cukup puas duduk di ujung ranjang. Sedikit berjarak dari lelaki tersebut.
"Aku curiga hotel ini memfasilitasi informasi rahasia dan menampung pertemuan gelap untuk banyak tindakan illegal. Aku ingin memastikan apakah ada data sensitif yang dimiliki perusahaan ini."
Alice terdiam lama. Pikiran-pikiran rancu mulai bermain di benaknya. Siapa sosok Klayver sebenarnya? Kenapa ia bisa mengambil kesimpulan terhadap segala situasi dengan kecepatan tinggi?
"Bagaimana kau tahu?" tanya Alice tak yakin.
"Insting. Aku ingin tahu apakah aktivitas hotel ini ada hubunganya dengan kasus kematian Anson."
Alice jadi teringat seorang lelaki tua berusia enam puluhan bernama Andre, pemilik tunggal hotel ini yang mengaku sebagai teman mendiang suaminya. Mungkinkah hubungan mereka lebih dari itu?
Alice terdiam lama. Dia mengubah tempat duduknya dan mengambil tempat di sisi kiri ranjang yang berukuran king size. Alice membungkus diri dengan selimut dan mulai memejamkan mata. Tetapi malam ini tampaknya kantuk tak kunjung menyapa. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan nyalang.
Setelah setengah jam lebih, Klayver menutup laptopnya dan berdiri di balik jendela. Sebatang rokok tampak terselip di antara jari jemarinya yang kokoh. Asapnya membumbung tinggi.
"Dugaanku benar. Aku menemukan infornasi yang cukup sensitif. Ada sebuah data yang berisi pesanan tentang racun tertentu yang dikirim menuju rumah Souvery Kinston."
Alice bangun secara tiba-tiba. Dia melihat Klayver dengan pandangan bertanya. Otaknya mulai menghubungkan satu per satu kenyataan yang ia terima.
Souvery Kinston.
Nama itu adalah nama dari tuan rumah di mana pesta diadakan. Pesta yang Anson kunjungi. Apakah itu artinya ada suatu konspirasi dari pihak Mr. Kinston terhadap kematian Anson?
"Racun itu adalah racun Novichok."
Kecurigaanya benar. Dari awal, ia telah menduga semua hal yang berkaitan dengan kematian Anson adalah suatu kesengajaan. Alice selalu berpegang pada kenyataan itu sehingga ia kuat melalui banyak hal demi mencari keadilan.
Mata harus dibalas dengan mata. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. Sebuah slogan yang akan selalu ia ingat sepanjang hidup.
"Kau tahu racun apa itu?" Alice mengernyitkan dahi. Dia berdiri, berjalan mendekati Klayver.
Alice mengambil jarak yang cukup aman. Dia merasa ditekan oleh suatu aura tak kasat mata setiap kali dekat dengan lelaki ini. Sungguh tak nyaman.
"Apakah kau tahu? Aku juga disebut sebagai ahli racun?"
Alice bergeming. Dia teringat William pernah mengatakan bahwa Eyes Evil juga disebut sebagai ahli racun dan ahli beladiri. Sayangnya, William tidak tahu Klayver juga ahli memasak dan ahli teknologi juga. Sebenarnya otak lelaki ini terbuat dari apa? Masih adakah kekurangan yang bisa Alice deteksi darinya? Tunggu, ada satu keahlian tambahan yang Alice ketahui. Dia ahli berdansa. Sialan. Mustahil lelaki ini benar-benar sempurna.
"Ya. Selamat atas semua julukan luar biasa yang kau dapatkan." Alice berkata dengan sedikit skeptis.
Klayver menoleh, menatap Alice dengan tatapan elangnya. Dia mengamati secara intens wanita tersebut. Fiturnya memiliki kecantikan yang unik.
Selama ini, Klayver sudah menjelajahi banyak negara. Dia pernah melihat semua jenis kecantikan. Dari Eropa, Amerika, Timur tengah, India, China, dan Afrika.
Namun, semua kecantikan yang ia lihat dan ia sentuh hanya sebatas keindahan fisik. Dia tak pernah menangkap nilai lain yang menyertai mereka. Jika pun ada, dia tak cukup peduli untuk menguaknya.
Tetapi kali ini dia penasaran dengan keindahan yang Alice miliki. Parasnya cantik. Itu sudah tak diragukan. Fitur-fitur wajahnya halus dengan netra sewarna elang, seperti yang Klayver miliki. Mungkinkah netra itu akan berubah sewarna emas saat ia menyingkapkan keindahanya?
Klayver adalah orang yang kuat, sehingga ia menghargai semua jenis kekuatan dan potensi bawaan yang dimiliki seseorang. Dia melampaui banyak onak duri dan terseok-seok untuk sampai pada titik ini. Menjadi yang kuat dan tak sulit dikalahkan. Menjadi licin dan penuh intrik. Menjadi kejam dan menyingkirkan nurani.
__ADS_1
Saat ini, Klayver mulai bisa meraba Alice dan mendapati wanita itu adalah seorang pejuang yang cukup kuat. Meskipun kekuatanya tak sebanding dengan Klayver, tetapi tekad dan keinginanya tak jauh beda seperti yang dimiliki oleh Klayver. Melihatnya, bagaikan melihat cerminan diri Klayver sendiri.
Di masa lalu, Klayver tumbuh dengan cara yang sangat sulit. Dia bertahan hidup dengan menantang bahaya. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa nyawa adalah sesuatu yang sangat penting tetapi sangat ringkih.
Ratusan nyawa telah ia ambil. Dengan berbagai cara dan berbagai alasan. Sehingga lama-lama hatinya telah mendingin. Kekejaman merasuk di setiap pembuluh darah yang ia miliki. Lama-lama, Klayver tak lagi menyadari di mana jiwanya berada. Hatinya telah lama berkiblat pada iblis.
"Racun novichok adalah sejenis bahan kimia yang menyerang saraf. Racun ini dikembangkan dan ditemukan di Uni Sovyet sekitar empat puluh hingga lima puluh tahun yang lalu. Dia disebut dengan nama A-320. Terkenal berbahaya, canggih dam sulit untuk diidentifikasi. Yang jelas, sangat mematikan."
Kalyver menjelaskan dengan serius. Dia berbalik dan duduk di kerangka jendela yang sedikit tinggi. Punggung kekarnya ia sandarkan pada kaca jendela. Posisi ini membuat Klayver berhadapan langsung dengan Alice. Mau tak mau, Alice menatap lelaki tersebut dengan enggan.
"Jadi, apakah kau berpikir Anson diracun? Dengan racun … apa tadi? Novihock?" Alice mencari pembenaran.
Klayver memandang Alice cukup lama. Wanita ini terlalu ambisius. Tekadnya kuat dan tak peduli dengan semua situasi. Dengan kata lain, tipe orang yang mudah gegabah dan menenggelamkan diri pada masalah. Benar-benar bakat yang unik.
"Aku belum bisa memastikanya. Tetapi mengetahui bahwa pemilik hotel ini terhubung dengan Anson, memesan racun canggih ke tempat Mr. Kinston yang merupakan tuan rumah acara pesta pada hari yang sama, dan fakta bahwa suamimu ditahan untuk minum wine ringan oleh kolega lama, semuanya seperti benang merah yang saling tersambung. Aku butuh penyelidikan untuk memastikan. Tapi intuisiku mengatakan semua kecurigaanku benar."
Alice menggigit bibir bawahnya. Fakta ini meskipun masih menjadi tebakan kasar, sudah mampu menjungkir balikkan hatinya.
Membayangkan bahwa Anson diracun. Ya Tuhan, lelakinya diracun oleh teman yang ia percayai, sungguh menyakitkan. Manusia mana yang kejam mengkhianati kenalannya?
Alice memejamkan mata. Bayangan terakhir tentang sosok Anson yang kecelakaan terpatri jelas di memori. Mungkinkah orang-orang tersebut sengaja meracuni Anson dalam perjalanan pulang, sehingga efek racun akan mulai bekerja saat ia sedang mengemudi pulang? Jadi ketika kesadaranya hilang dan mobilnya jungkir balik, penyebab kematian akan langsung terarah pada kecelakaan yang terjadi.
Terlalu cerdik dan licin. Mereka adalah jenis orang manipulatif yang sangat Alice benci. Pada saatnya nanti, Alice berjanji pada diri sendiri akan membalaskan kematian Anson. Harus ada hukum yang berjalan. Jika tak ada, maka Alice akan bertindak menjadi tangan bagi hukum itu sendiri.
"Jangan tampakkan emosimu."
"Hah?"
Alice membuka mata dan mengerjap keheranan.
Klayver menunjuk Alice secara kilat dan mengangkat bahu seolah tak peduli.
"Kau terlalu jelas memperlihatkan emosi dan suasana hati," ujarnya sembari berlalu menuju ranjang.
Alice yang masih tak mengerti ikut berjalan mengekor di belakang. Wajahnya menampakkan rasa penasaran.
"Ada apa, Klayver?"
Lelaki itu membuka penutup tempat tidur dengan praktis, menyisihkanya di ujung kaki ranjang, dan membaringkan tubuh di sisi kanan tempat tidur dengan berbantalan kedua lengan.
"Emosimu saat sedih, marah, dan kecewa tergambar dengan jelas. Jika kau ingin terjun menyelidiki kematian Anson secara langsung, mulai sekarang kendalikan semua emosi dan amarahmu agar tak terlihat."
Klayver memejamkan mata, membiarkan Alice berdiri dengan canggung di sisi tempat tidur. Dia tak tahu harus ke mana. Tempat tidur ini memang luar biasa besar, tapi ia jelas tak ingin berbagi dengan pembunuh bayaran. Alice mengedarkan pandangan dan berhasil menemukan sebuah sofa cokelat gelap yang lembut. Dia menepuk-nepuk permukaan halusnya dan bersiap-siap membaringkan tubuh.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mencoba menahan diri setiap kali aku marah, sedih, kecewa maupun senang. Suatu hari nanti jika aku berhasil, kita akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Lelaki dan wanita dengan sikap sehangat kutup utara." Alice melontarkan kekesalan.
Saat Alice mulai menyadari tekanan dari aura dingin yang familiar, ia segera mengutuk dirinya sendiri. Mulut ini seharusnya lebih memahami keadaan ketika berbicara dengan Klayver. Jika ia tak sengaja memancing keamarahanya, Alice khawatir nyawanya akan segera melayang menuju surga. Sebenarnya tak masalah. Di sana mungkin ia akan bertemu dengan Anson.Tetapi ia masih memiliki Axel. Bagaimana kabar anak itu tanpa Alice?
"Maaf. Aku tak bermaksud menyinggungmu," lirih Alice. Punggungnya menegak kaku mengantisipasi kemarahan yang bisa saja dilayangkan oleh Klayver sewaktu-waktu.
Tak ada jawaban yang terdengar. Alice menguatkan mentalnya dan mulai berbaring menyamping memunggungi Klayver. Tak aman memang memberikan punggungnya secara langsung pada Klayver. Lelaki itu bisa menyerangnya kapan saja.
Namun, dari pada harus berhadapan denganya, Alice jelas lebih tak siap.
__ADS_1
"Percayalah, Alice. Jika kau bersinggungan dengan para pembunuh Anson, ekspresimu hanya akan menjadi gangguan bagiku. Mereka akan langsung curiga dengan niatmu dan kemungkinan mendapat informasi akan lebih sulit. Lebih parahnya lagi, jika kau menampakkan hasrat untuk membunuh di depan mereka, kau yang akan menjadi target pembunuhan lebih dulu. Ekspresi yang paling murni adalah berekspresi tanpa ekspresi. Ingat itu dan camkan!"
…