
Alice bergerak tak nyaman. Dia berdehem beberapa kali dan mengambil ponsel untuk menghubungi William yang berada persis di ruang sebelah. Eyes Evil hanya menatap reaksi canggung Alice dengan pandangan tak terbaca.
Sorot mata lelaki tersebut hampa. Tak ada riak emosi sedikit pun. Dia seperti orang yang hidup tanpa jiwa. Melihat rautnya, mampu mengingatkan Alice pada es kutup utara. Dingin dan tanpa kehangatan. Seolah-olah ia diciptakan tanpa hati.
"Wil, sebaiknya kau pergi sekarang juga. Pulanglah dan biarkan aku mengurus semuanya seorang diri." Alice memberi arahan pada kepala pelayan setianya melalui ponsel.
"Tapi Nyonya, apakah--"
"Tidak apa-apa, William. Lakukan saja!"
William terdiam, merasa tak yakin untuk meninggalkan majikanya. Apalagi mengingat bahaya yang mungkin saja bisa menimpa Alice kapan saja.
"Kumohon, Will. Jika aku tak menghubungimu dalam waktu satu jam, kau bisa bertindak sesukamu."
"Baiklah, Nyonya." William menyerah dan mengikuti kemauan Alice. Dia memutuskan sambungan telephon dan mulai pergi meninggalkan restoran.
Alice menatap ujung meja restoran dengan sedikit canggung. Dia sedikit tak yakin mengamati secara terang-terangan lelaki yang berhadapan dengan dirinya.
Alice masih merasakan syok semenjak lelaki itu memutuskan membuka identitas wajahnya. Dia merasa digiring pada maut.
Mengetahui sebuah rahasia seseorang adalah suatu beban yang mengerikan. Apalagi jika rahasia tersebut adalah sesuatu yang berusaha dibongkar oleh banyak pihak. Sedikit saja Alice salah bertindak, nyawanya bisa terancam kapan saja.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Apa yang ia alami tak bisa lagi ia tawar. Alice harus cukup cerdik menyikapi Eyes Evil agar mereka bisa membuat komunikasi yang cukup aman. Terutama untuk Alice.
"Sudah kukatakan datanglah seorang diri dan kau melanggarnya." Eyes Evil memberikan sebuah peringatan. Alice hanya mengangguk ketakutan.
Aura di ruang VIP ini semakin terasa menyesakkan. Keberadaan lelaki tersebut sangat mendominasi. Sosoknya yang angkuh seolah sengaja mengintimidasi siapa pun.
Udara terasa kental oleh ketegangan bagi Alice. Ia menarik nafas dan menghitung dalam hati. Dia perlu mengatur kembali semua keberanian yang ia miliki.
Dulu, Anson juga memiliki aura yang dominan. Akan tetapi, dibandingkan lelaki ini, Anson bukanlah apa-apa. Saat ini Alice semakin menyadari istilah di atas langit masih ada langit.
Eyes Evil bukan hanya menampilkan keangkuhan dan sikap mengintimidasi. Ia juga membawa aura sebagai seorang pembunuh yang kuat. Sangat kuat. Bahkan jika seandainya kau kebetulan berpapasan di jalan, pasti akan merasakan ketakutan tersebut sekali pun tak pernah tahu latar belakang kelam yang dimilikinya.
Eyes Evil bagaikan terlahir sebagai lucifer. Semua yang ada pada dirinya meneriakkan kegelapan dan kekejaman. Alice heran kenapa banyak orang masih meragukan sosoknya. Karena sekali lihat saja pada lelaki ini, seharusnya orang-orang bisa mengambil kesimpulan bahwa pemnunuh legendaris itu adalah dirinya. Eyes Evil terlalu menonjol untuk bersembunyi. Dia memiliki bakat bawaan sebagai seseorang yang mudah disorot bahkan dalam keramaian.
Seorang pelayan membawakan pesanan untuk Alice. Dia cukup tersentak dan mundur perlahan saat menyadari keberadaan Eyes Evil.
"Maaf, Maaf, Signor," katanya tergagap merasa salah tingkah. Sikap seperti itu memang sering ia terima dari kaum wanita.
Alice mencoba memaklumi dan menyelamatkan pelayan tersebut. Alice memandang Eyes Evil dari sudut matanya, tetapi lelaki tersebut tetap bergeming. Sepertinya dia memang tak berniat memesan apa pun. Kalau begitu, apa bedanya mereka bertemu di pinggir jalan alih-alih di restoran Itali?
Dengan langkah-langkah cepat, sang pelayan berjalan menuju dapur. Dia bersumpah serapah karena terlalu pengecut menghadapi pelanggan berkarakter dingin seperti Eyes Evil. Tetapi siapa pun pasti akan memakluminya mengingat betapa gelapnya aura yang dimiliki lelaki tersebut.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Sorot matanya menajam.
Alice mempermainkan lasagna yang baru saja disajikan. Ia menatap makanan di depanya tanpa minat. Makanan mahal ini seolah kehilangan nilainya setelah berhadapan dengan sosok lelaki seperti Eyes Evil.
"Meminta bantuanmu untuk membunuh musuh-musuh mendiang suamiku."
Bukankah seharusnya Eyes Evil mengetahui niatnya? Alice sudah mengirimkan pesan ini melalui Leon. Sepertinya lelaki ini hanya mencoba memperjelas semuanya.
"Balas dendam," sahutnya.
Alice mengangguk. Ia melihat tangan Eyes Evil yang terlipat santai di dada. Sekilas, tangan tersebut terlihat sama seperti tangan lelaki lain. Tidak terlalu besar seperti para pegulat dan tidak terlalu ramping seperti lelaki rumahan. Akan tetapi, tangan itu jelas menyimpan kekuatan yang mematikan. Alice bergidik ngeri membayangkan bagaimana tangan itu telah menghabisi banyak nyawa.
"Apa yang kau tawarkan?" Eyes Evil kembali melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Apa yang kau minta?"
"Menjadi suamimu."
Alice tersentak hebat mendengar apa yang baru saja lelaki itu katakan. Dia terbelalak tak percaya. Alice merasa pendengaranya salah, tetapi melihat keseriusan di mata Eyes Evil membuat dirinya enggan berkomentar banyak.
"Aku tak tertarik untuk meladeni leluconmu, Eyes Evil atau siapa pun namamu."
Alice mengeluarkan buku cek kecil dan menyobeknya satu halaman. Dia menandatangani cek tersebut dan membiarkan kosong kolom jumlah penarikan.
"Aku bisa membayarmu berapa pun yang kau mau. Isi saja sendiri berapa jumlah yang kau inginkan." Alice menyodorkan cek tersebut. Dia tersenyum kecil merasa canggung.
"Aku tak membutuhkan uangmu. Aku menginginkan ikatan resmi denganmu."
Alice kembali mengerjap-ngerjapkan mata, merasa tak yakin. Apakah lelaki itu sungguh-sungguh serius? Mungkinkah kehidupanya kurang humor sehingga ia mencari bahan lawak?
Jangan bilang ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Alice tak yakin Eyes Evil adalah lelaki yang menganut faham romansa seperti itu. Gosip telah mengatakan bahwa sering kali ia membunuh lawan mainya di ranjang. Memang apa lagi arti sebuah lamaran darinya, kecuali kematian mendadak bagi Alice?
"Maaf. Aku tak bisa." Alice menjawab datar. Meskipun ia masih meragukan keseriusan Eyes Evil, dia memilih menyikapinya dengan serius. Alice masih perlu menebak maksud lelaki ini. Dia tak ingin memancing emosinya.
"Aku tak menginginkan tubuhmu. Aku tak tertarik pesonamu. Meskipun kau memang seperti dewi s*ks. Aku menginginkan apa yang Anson wariskan untukmu."
Tangan kokoh Eyes Evil terurai pelan. Matanya menunjukkan minat baru yang sangat dalam. Reaksinya masih datar seperti tak terpancing oleh apapun. Seolah-olah pembahasan mereka adalah sebuah pembahasan bisnis pada umumnya.
"Kau menginginkan semua harta benda Anson?" Alice tersenyum kecut. Pantas saja ia berani menolak tarif yang Alice berikan. Karena dia menginginkan jumlah yang lebih besar lagi. Bagaimana mungkin dia mau dibujuk dengan jumlah yang lebih kecil?
Lelaki ini sangat serakah. Alice yakin harta yang ia miliki dari transaksi gelap yang ia lakukan pasti sangatlah besar, tetapi ia masig ingin menguras orang lain lagi.
"Bukan uang maupun hartanya." Eyes Evil seperti mengetahui pola pikir Alice. Wanita itu meskipun reaksinya cukup tenang dan tidak seperti wanita pada umumnya, tetapi reaksinya masih bisa Eyes Evil baca.
"Meskipun aku tidak dekat dengan Anson, tetapi aku cukup mengetahui reputasi dan organisasi yang ia jalani. Aku menginginkan organisasi itu jatuh ke tanganku."
Alice mengerutkan dahi. Sepertinya di sini terjadi sebuah miss komunikasi. Alice mengakui bahwa Anson memang memiliki organisasi dan membentuk bisnis sebagai penyelundup senjata. Tetapi Anson sudah berhenti melakukan semua itu semenjak satu setengah tahun yang lalu. Tepatnya, sebelum tujuh bulan kematian tragis yang suaminya alami.
Organisasi yang digadang-gadangkan Eyes Evil sudah tak lagi ada. Ikut terkubur bersama Anson dan tak mungkin kembali lagi.
"Maaf, tetapi sebelum dia meninggal, dia sudah berhenti secara total dalam bisnis gelap. Dia hanya mewariskan kekayaan padaku. Tak ada organisasi atau pun semacamnya." Alice mencoba menjelaskan.
Eyes Evil masih bergeming. Tak ada ekspresi apa pun yang ia ungkapkan dalam matanya. Semua gesture tubuhnya tenang, bagaikan air tanpa riak.
"Aku sudah menyelidikinya sendiri, Miss. Aku tak akan pernah meminta sesuatu yang orang lain tak memilikinya."
Apa maksud perkataanya? Mungkinkah Eyes Evil mengetahui sesuatu yang Alice sendiri tidak ia ketahui? Sejauh mana lelaki tersebut mencari tahu?
Alice berpikir beberapa saat. Dia menyimpulkan mungkin selama sepuluh hari lebih semenjak Alice mengajukan permintaan melalui Leon, saat itu juga Eyes Evil mencoba mencari riwayatnya. Di situlah lelaki itu menemukan hal baru yang Alice tidak tahu. Hanya itulah tebakan yang bisa mendekati kebenaran.
"Bisakah kau jelaskan maksudmu? Aku menjadi pihak yang tidak tahu menau mengenai hal tersebut." Alice berkata apa adanya. Dia harus membuat Eyes Evil percaya bahwa dirinya memang minim pengetahuan. Bisa saja Anson memang mewarisinya sesuatu yang tidak Alice ketahui.
"Suamimu memang sudah keluar dari bisnis gelap. Tetapi dia masih memiliki organisasi hebat yang ia fakumkan untuk saat ini. Organisasi ini tadinya mau dibubarkan, tetapi para anggotanya menolak dan tetap bersumpah setia kepada Anson. Hanya saja saat ini mereka tidak melakukan pekerjaan apa pun. Kecuali mengorek-orek infornasi ke sana-sini mengenai kasus kematian suamimu dan berakhir buntu."
Eyes Evil sudah melakukan penyelidikan ini dengan sangat cermat. Ia membawa banyak bukti terpercaya mengenai informasi yang baru saja ia suguhkan pada Alice.
Alice tersenyum canggung dan mengangguk kecil. Eyes Evil adalah orang yang kompeten. Alice mempercayai apa yang ia sampaikan. Jika itu yang Eyes Evil inginkan, Alice tak keberatan untuk memberikanya. Toh organisasi tersebut juga tak terlalu berpengaruh baginya.
"Jika itu kebenaranya, aku tak keberatan memberikan organisasi tersebut padamu. Kita tak harus mengikat pernikahan hanya untuk menyerahkan organisasi yang Anson miliki." Alice berpikir secara realistis.
Mereka perlu mengambil titik tengah dan itulah yang akan Alice ambil untuk mereka. Keadilan untuk Alice dan organisasi untuk Eyes Evil.
__ADS_1
"Sayangnya, kau bukanlah orang yang berwenang di sini. Organisasi tersebut dipimpin oleh William, kepala pelayanmu sendiri. Anson mewariskan semua itu padanya."
Alice terkejut. Sebesar itukah arti William selama ini? Pantas saja selama ini Anson selalu memperlakukan William dengan baik. Ternyata bukan hanya sekedar majikan dan pelayan. Mereka lebih dari itu semua.
"Baiklah, aku akan meminta William menyerahkan organisasi tersebut."
Alice berjanji sepulangnya ia dari sini, ia akan berbicara serius pada William. Dia harus menggerakkan William agar menyetujui tindakan Alice. Bagaimanapun juga, semua ini demi keadilan untuk kasus kematian Anson.
"Kau tak akan bisa melakukan hal itu. William dan organisasi tersebut bagaikan satu kesatuan yang utuh.''
Orang-orang dalam naungan organisasi itu telah bersumpah setia pada William selaku ketua mereka. Mereka tak akan pernah mau dipisahkan.
Itu adalah sebuah ikatan yang jarang terjadi dalam dunia gelap. Biasanya, orang hanya akan bersumpah setia sebagai bawahan karena uang dan posisi tinggi yang dijanjikan pada mereka.
Namun, William berbeda. Ia menemukan mereka saat mereka dalam keadaan sulit, membentuk mereka dengan kasih sayang seorang ayah pada anaknya dan mengarahkan mereka semua dengan sangat baik. Kesetiaan yang mereka berikan pada William adalah kesetiaan mutlak. Mereka bahkan rela membuang nyawa mereka hanya untuk melindungi William. Mustahil organisasi itu sanggup ia miliki jika ia tak memiliki William lebih dulu.
"Untuk mendapatkan organisasi itu, aku harus mendapatkan kesetiaan Wiliam." Eyes Evil melanjutkan.
Kesetiaan William adalah hal yang sulit untuk ia peroleh. Setelah kematian Anson, William hanya berkiblat pada Alice. Lelaki tua itu memiliki hati sekuat karang. Dia tak akan pernah mau membagi kesetiaan yang ia miliki pada orang lain.
"Satu-satunya cara untuk mendapatkan kesetiaan William adalah menikahimu. Dengan begitu, dia baru bersedia membagi kesetiaanya padaku dan menyerahkan kendali organisasinya."
Alice termenung cukup lama. Pikiran Eyes Evil sangatlah cerdas. Dia mampu menemukan celah dan cara baru untuk meluluskan keinginanya.
Apa yang disampaikan Eyes Evil sangatlah masuk akal. Alice sudah mengetahui watak asli William. Dia hanya setia pada Anson. Setelah Anson menikah denganya, barulah William juga setia padanya. Pasti itu juga akan berlaku jika Alice memiliki suami lagi.
Alice bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi Eyes Evil sehingga ia begitu menginginkan organisasi peninggalan Anson? Bukankah seharusnya ia bisa membentuk sendiri orang-orangnya?
Alice yakin Eyes Evil adalah orang yang cerdas dan kompeten. Pasti mudah baginya membentuk suatu organisasi. Apalagi mengingat dia juga telah lama terjun dalam bisnis gelap sehingga pengalaman yang ia miliki pastilah banyak.
"Kenapa kau menginginkan organisasi mendiang suamiku?" tanya Alice tak bisa menahan rasa penasaranya.
"Kau ingin tahu aawaban yang sebenarnya?" Eyes Evil melontarkan pertanyaan balik.
Alice mengangguk ragu-ragu.
"Pertama karena organisasi itu memiliki orang-orang yang sangat loyal. Mereka jenis orang yang akan membawa misi dan kesetiaan hingga titik kematian."
Tak mudah menemukan orang-orang yang seperti ini. Kebanyakan para mafia memiliki bawahan yang hanya menginginkan uang. Mereka rentan mengkhianati satu sama lain. Sudah menjadi hal yang umum mendengar perpecahan dari suatu organisasi. Itulah kenapa Eyes Evil memilih bertindak seorang diri. Dia hanya memiliki empat orang perantara yang cukup setia. Hanya itu. Tak lebih.
"Kedua, aku kehabisan waktu. Aku butuh organisasi yang cukup kuat untuk menyerang beberapa pihak. Tak ada waktu bagiku membentuk organisasi dari awal."
Musuh-musuh Eyes Evil semakin bergerak tak kenal waktu. Mereka saling bersatu. Bahkan dengar-dengar ada banyak pihak gelap sengaja bekerja sama dengan lembaga kepolisian hanya untuk mengejar dan memburunya. Semua itu sudah berada di luar kendali Eyes Evil.
"Bukankah kau seharusnya cukup kuat? Kenapa kau terdesak?"Alice bertanya sedikit heran.
"Setiap orang memiliki kondisi sulitnya sendiri. Itulah tawaran yang bisa aku tawarkan padamu. Menjadi istriku, dan aku akan melenyapkan setiap musuh-musuhmu."
Memang akan sedikit beresiko membunuh musuh-musuh Anson dalam waktu dekat secara bersamaan. Akan tetapi, mengingat organisasi yang akan ia dapatkan, Eyes Evil cukup yakin dia bisa membalikkan keadaan. Permainan ini akan menjadi miliknya.
Selain itu, musuh Eyes Evil bukanlah orang-orang yang sama dengan musuh Anson. Membunuh mereka meskipun akan sedikit rumit tetapi tak akan memancing keberadaan musuh Eyes Evil sebenarnya.
…
Maaf numpang tanya, ada yang tertarik nggak seandainya saya bikin coretan sekuel dari cerita ini. Dan siapa tokoh yang kalian inginkan?
Sekedar bertanya, berharap ada yg menjawab 🤗🤗
__ADS_1