Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
DUA DELAPAN


__ADS_3

"Merindukanku?"


Anson mengamati reaksi wanita itu dengan cara yang membuat siapapun bergidik waspada.


"Bagaimana kau bisa berada di ruangan ini, Anson? tahukah tindakanmu melanggar prifasi?"


Alice berjalan kalut menuju pintu kamar. Dia harus keluar dari keadaan ini. Namun kemudian Alice berteriak frustasi. Pintu sialan itu dikunci oleh Anson. Anak kuncinya entah disembunyikan dimana. Alice menggebrak daun pintu dan berteriak panik. Berharap siapapun orang diluar menyadari kondisi daruratnya.


"Kau hanya akan membuat kehebohan jika berteriak, Alice. Apa kata orang jika mereka tahu kau terjebak satu ruangan dengan lelaki lain di malam pernikahanmu? Mereka pasti akan memperolok dirimu." Anson terkekeh geli, menikmati ketidak berdayaan Alice.


"Tutup mulutmu, Anson. Kau yang diam-diam mendatangiku dan kau juga yang mengunci pintu ini!" Alice berteriak marah.


Kemana Janet pergi? kenapa wanita itu tak kunjung datang.


"Silahkan saja kau membela diri, Alice. Kita lihat orang-orang lebih mempercayai siapa? Mereka lebih mengenalku daripada dirimu," Anson berkata tajam.


Fakta itu memukul kesadaran Alice. Benar. Anson telah lama menjadi bagian dari lingkungan papan atas. Sementara ia hanya wanita asing yang memasuki lingkungan baru sebagai istri Kendrick. Orang-orang tentu lebih mempercayai Anson dari pada dirinya.


"Apa yang kau mau, Anson?" Alice berjalan ke ujung ruangan dan berdiri di balik pintu kayu berukuran besar. Setidaknya ia harus memiliki suatu penghalang dari lelaki itu.


"Aku ingin tahu rencanamu sebenarnya. Kenapa kau menikahi Kendrick?" tanya Anson tak senang.


Alice menunduk lama, semakin mencengkeram kuat ujung kursi tersebut. Dengan mantap, Alice menjawab pertanyaan Anson.


"Karena dia kaya, tentunya. Dia juga tampan dan dermawan."


Bukankah Anson sudah tak memercayainya? Sekalian saja Alice membiarkan Anson menilainya semakin rendah. Biar dia memupuk kebencian yang lebih besar lagi. Mungkin, jika Anson kian membencinya, hal itu akan membuat hubungan mereka semakin menjauh sehingga perasaan Alice tak akan disisipi emosi-emosi yang melemahkan.


Alice perlu memokuskan tujuanya mengambil Axel kembali. Dia tak ada waktu untuk bermain perasaan dengan Anson. Akan lebih baik jika mereka saling membenci. Lelaki itu sudah tak lagi mempercayai cinta. Benci adalah emosi kuat yang masih menjadi kiblatnya.

__ADS_1


"Sudah kuduga." Anson berkata mengejek.


"Percayalah apa yang ingin kau percayai, Anson. Aku hanya memperjelas apa yang ingin kau dengar. Di lubuk hatimu, aku adalah wanita matrealistis, wanita murahan dan wanita rendah yang hanya memanfaatkan kaum lelaki. Jika itu yang ingin kau dengar, aku akan mengatakanya secara langsung. Aku tak berminat lagi untuk mendebat." Alice lelah untuk terus bertengkar.


"Apa kau juga berniat memanfaatkan posisi Kendrick untuk mengambil Axel dariku?" tuduh Anson mengenai sasaran.


"Ya."


Alice mengakui tujuan pertama mendekati Kendrick memang untuk mencari dukungan dalam melumpuhkan Anson. Untuk apa dia menutupi niat sebenarnya?


"Jadi kau memanfaatkan dia?"


Alice mengangguk membenarkan. Hanya saja, hubungan mereka saling memanfaatkan dalam dua arah yang positif. Kendrick memiliki ketulusan yng lebih nyata dari Anson. Hubungan mereka lebih mirip seperti teman dekat. Lama-lama, Alice berpikir mungkin pernikahan ini benar-benar bisa berhasil.


"Dasar wanita ular," Anson merutuk pelan.


Alice mlihat kemarahan yang bergelung perlahan disalah satu manik mata Anson. Saat inia, dia seperti predator yang siap memangsa korban. Alice semakin bergidik ngeri, melihat betapa dalam yang kebencian Anson miliki untuknya


"Kemana Janet? Apakah kau melakukan sesuatu padanya?" Alice memandang Anson curiga.


"Wanita W.O. itu? aku sudah menyingkirkanya," sahut Anson enteng.


"Kau membunuhnya?" Alice terbelalak ngeri.


"Tidak. Sebentar lagi dia akan kesini." Anson terkekeh mengejek, menertawakan ketidak berdayaan wanita itu. Alice berjalan mundur beberapa langkah, menyadari dengan kalut orang di hadapanya ini bisa saja menjadi pembunuh kapan saja.


"Apakah Kendrick lebih hebat dariku?" tanya Anson kemudian.


"Ya. Dia lebih hebat darimu," Alice berbohong.

__ADS_1


Anson menghentikan percakapanya secara tiba-tiba dan mundur menjauh dari Alice. Matanya kembali menyorot dingin, menunjukkan kekejaman yang tersembunyi.


"Kau benar-benar wanita matrealistis dan pintar memanfaatkan lelaki, Alice." Anson berjalan menuju pintu kamar. Dia mengeluarkan anak kunci dan membukanya perlahan.


"Ingat, jika kau dan suamimu berani mencoba mengambil Axel dariku, akan ku pastikan kau melihat kematian suamimu sendiri, Alice," ancamnya sebelum pergi meninggalkan Alice seorang diri.


Kedua kaki Alice gemetar hebat. Dia mendudukkan dirinya keatas ranjang, merasa tak sanggup untuk berdiri. Krhadiran Anson bagaikan ekstasi baginya. Menciptakan candu sekaligus menghancurkanya secara perlahan. Dia selalu tak berdaya setiap kali berhadapan dengan Anson. Kekuatanya menguap begitu saja.


Alice memijat pelipisnya dengan lembut. Ancaman Anson terulang kembali dalam ingatanya. Apakah lelaki itu sungguh-sungguh berniat mencelakai Kendrick jika mereka mencoba bertindak mengambil Axel? Sejauh mana Anson sanggup bertindak? Bukankah Kendrick cukup kuat untuk menghadapi Anson?


"Alice ... kau ada disini? Aku mencarimu dari tadi."


Kendrick berdiri terkejut menemukan Alice di ruangan ini. Dia berjalan mendekat, tampak khawatir melihat raut muka Alice yang memucat.


"Anson baru saja keluar dari sini," kata Alice kebas.


"Apakah dia melakukan sesuatu padamu?" Kendrick sedikit menunjukkan kemarahan.


"Dia mengancam akan membereskanmu jika kita berani mengambil putraku darinya." Alice semakin mengkerut ketakutan. Dia memandang wajah Kendrick yang terukir sempurna.


"Jangan khawatir, Alice. Kau seharusnya tak meremehkan kekuatanku." Kendrick terdengar meyakinkan.


"Apa kau yakin kau tak akan terbunuh olehnya?" Alice masih saja khawatir.


"Aku justru berencana untuk melenyapkanya lebih dulu," sahut Kendrick penuh arti.


"Jangan!" Alice berteriak putus asa.


Demi Tuhan. Dia tak mengharapkan salah satu diantara mereka terbunuh. Alice tak akan sanggup menanggung rasa bersalah itu sepanjang hidupnya.

__ADS_1


"Alice ... mau tak mau kondisi ini akan membuat salah satu dari kami berakhir. Entah dia, atau aku."


...


__ADS_2