
Daniel memakai kemeja hitam dengan celana kain berwarna sama. Rambutnya sedikit basah, bukti bahwa ia baru saja mandi. Sebuah parfum khas menguar dari tubuh lelaki itu. Wajahnya yang tampan disorot lampu malam.
Jasmine tercekat. Tuhan. Lelaki ini sempurna. Kenapa harus membayar wanita hanya untuk menghabiskan malam bersama? Padahal jika mau, ribuan wanita pastilah bersedia bertekuk lutut padanya.
Daniel memandang Jasmine lama. Dia mengamati detail demi detail apa saja yang jasmine kenakan. Dari rambut, anting, gaun, dan gelang kaki.
Daniel mengulurkan tangan, mencoba menarik Jasmine dari lamunannya. Genggaman tangan lelaki itu hangat, mengusap telapak tangan Jasmine yang basah. Arus familier itu terjadi lagi. Seperti getaran samar yang kian membesar setiap saat. Jasmine tercekat menyadari hal ini. Dia menatap leher Daniel ragu dan kemudian menundukkan kepala.
"Kau bisa berdansa?" tanya Daniel tiba-tiba.
Jasmine mengangguk kecil. "Hanya dansa sederhana. Asal kau tidak memintaku melakukan dansa tango atau semacamnya."
Daniel terkekeh kecil. Malam ini tak ada sorot olok-olok sama sekali dari Daniel untuk Alice. Mata Daniel terlihat cerah dan menyenangkan. Meskipun ada kantung mata yang tak kunjung hilang di bawah kelopaknya, tetapi itu semua tidak lantas mengurangi ketampanannya.
Daniel memutar sebuah lagu romantis dari John Legend berjudul all of me.
Daniel membimbing Jasmine melalui gerakan yang luwes. Mereka berdansa mengitari ruang tengah dengan gerakan yang teratur. Lagu yang Daniel putar membuat suasana semakin menyentuh. Jasmine menatap mata cokelat Daniel dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke dada bidang lelaki tersebut.
Melihat wajah pasrah Jasmine dan ekspresi lembutnya saat bersandar padanya, Daniel merasa nyaman. Ada ketenangan yang tak wajar yang dihasilkan dari ininteraksi sederhana ini.
Perlahan, tangan Daniel mulai menyentuh pinggang Jasmine dan menyusuri garis pinggang wanita itu. Mata Jasmine semakin terpejam, menikmati apa yang Daniel lakukan terhadapnya.
Lagu yang diputar Daniel telah berhenti. Jasmine mendongakkan kepala ke atas menatap Daniel. Lelaki itu merangkum wajah Jasmine dan memberinya ciuaman hangat. Ciuman tersebut berkembang cepat dan semakin dalam. Membuat Daniel terengah dan menyadari sesuatu.
"Ayo kita ke kamar."
Dengan ringan, Daniel menggendong Jasmine ala bridal style. Tangan Jasmine segera meraih tengkuk Daniel dan menbuat wajah mereka berhadapan. Sebuah senyum terukir di bibir Daniel sebelum akhirnya ia menyesap kembali bibir Jasmine untuk merasakan sari manisnya.
…
Daniel duduk bersandar di kepala dipan. Dia menatap tubuh polos Jasmine yang tertutup kain selimut. Kain selimut yang sama dengan yang menutupi dirinya juga
Wajah Jasmine sangat tenang. Dia seperti wanita yang telah lama mengembara dan berhasil menemukan kedamaian sejati. Dengan pelan, Daniel mengusap lembut surau emas milik wanita itu.
Percintaan mereka benar-benar di luar bayangan Daniel. Semua hal tentang Jasmine seperti ledakan-ledakan yang mudah tersulut. Mereka seperti dua orang yang sama-sama menemukan oase. Saling melengkapi untuk menghilangkan rasa haus dan dahaga yang mereka miliki.
Daniel tak menyangka Jasmine bisa menjadi lembut dan agresif pada saat yang bersamaan. Mereka saling memberi dan mengambil. Saling merengkuh dan menguasai.
Daniel menatap Jasmine lama. Nafas wanita itu mulai terdengar teratur, menandakan ia tertidur dengan baik. Bagaiman bisa wanita seperti Jasmine bisa tampak polos dalam tidurnya? Laksana bunga tulip yang baru mekar di musim semi. Indah. Memancarkan kesempurnaan.
Daniel merebahkan badannya di sisi Jasmine, dan merengkuh wanita ini dalam pelukan. Jasmine hanya bergumam sebentar sebelum akhirnya kembali meneruskam tidurnya.
Dengan enggan, Daniel mencoba memejamkan mata dan menyusul Jasmine dalam dunia mimpi. Sungguh tak didiga. Daniel berhasil tidur nyenyak di samping wanita ini. Hingga tak terasa, dia dibangunkan oleh sinar mentari pagi yang berhasil menyusup ke dalam kamar melalui lubang fentilasi.
Daniel menggeliat pelan. Dia sedikit terkejut saat melihat Jasmine yang berbaring di sampingnya. Mata Daniel menyipit saat ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Bibirnya membentuk senyum saat ia berhasil mengumpulkan senua ingatannya. Baru saja Daniel akan membelai Jasmine, wanita itu bergerak pelan, merasa terganggu oleh sesuatu.
Jasmine mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali dan mencoba memfokuskan padangannya pada Daniel.
"Kau—"
"Kita lakukan sekali lagi." Belum sempat Jasmine menyempurnakan kalimatnya, mulut Daniel telah berhasil membungkamnya lagi.
Mereka menghabiskan pagi dengan indah. Saling mengisi dan membagi.
__ADS_1
Setelah hari cukup siang, Jasmine memutuskan untuk turun dari ranjang seorang diri. Jika harus menunggi Daniel, lelaki itu belum tentu bersedia. Fokus lelaki itu sekarang hanya pada hal yang berkaitan tentang kesepakatan mereka.
"Kau mau ke mana?" Daniel memicingkan mata, merasa tak suka ditinggal begitu saja.
"Mandi. Aku perlu membilas tubuhku dari aktifitas kotor kita." Jasmine berkata ringan sembari menuju kamar mandi di ujung ruangan. Wanita itu tak menyadari betapa berubahnya ekspresi Daniel mendengar kalimat Jasmine.
Wajah Daniel menggelap tiba-tiba. Kedua matanya dipenuhi amarah. Rasa tak suka mulai terlihat jelas dari gesture tubuhnya.
Apa yang dikatakan Jasmine barusan? Aktifitas kotor?
Daniel tertawa sinis. Jasmine benar. Mereka memang melakukan aktifitas kotor. Memangnya apa lagi yang mereka lakukan selain aktifitas kotor? Seorang lelaki yang membayar wanita dengan sejumlah uang merupakan sebuah bisnis kotor. Memangnya apa lagi yang bisa Daniel harapkan?
Untuk sesaat, Daniel terlalu naif. Menganggap apa yang mereka lakukan memiliki arti lebih. Sesuatu yang tidak biasa dan memiliki potensi untuk berkembang.
Daniel masih saja bodoh. Dia tak pernah belajar dari kesalahan. Ya Tuhan, dia sendiri yang telah melakukan transaksi. Kenapa dia yang harus diingatkan lagi tentang hal ini?
Setelah beberapa saat berlalu, Jasmine muncul dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Dia berjalan santai dan tersenyum kecil.
"Kau bisa langsung kembali ke rumah Alice. Ambil bayaranmu di atas meja ruang tengah. Aku sudah menyiapkan cek di sana!" usir Daniel tanpa perasaan.
…
Rachel duduk di balik jeruji penjara. Dia menatap Maxen yang berada di balik pembatas. Mereka saling tersenyum, melepas kerinduan.
Semenjak Maxen dipenjara, Rachel jarang bertemu dengannya. Mereka hanya berkomunikasi beberapa kali selama seminggu. Itu pun dibatasi. Benar-benar merepotkan.
Tetapi Rachel cukup sabar dalam menerima keadaan. Dia memilih tetap diam dan mencoba menerima banyak hal. Bukankah itu arti cinta yang sebenarnya? Kita harus bersabar dalam segala kondisi.
"Bagaimana kabarmu?"tanya Maxen penuh kerinduan. Rachel tersenyum bahagia, merasa bahwa ada air segar yang mengaliri dahaganya yang kering.
"Kabarku baik selama kabarmu juga baik." Maxen tersenyum. Wajahnya sumringah setiap kali ia melihat istrinya tercinta.
Mereka telah melalui banyak hal dan banyak rintangan. Tak mudah untuk bertahan dengan situasi sekarang. Berapa persen istri yang memilih pergi saat suaminya sedang dilanda kesusahan dan berjuang dalam bilik penjara?
Rachel merupakan wanita yang langka. Dia setia menemani Maxen dalam setiap kondisi. Benar-benar hal yang Maxen syukuri hingga detik ini. Bersama Rachel, Maxen menemukan banyak hal yang selama ini ia pikir mustahil.
"Bagaimana kabar Alice?" Maxen bertanya tentang teman Rachel.
Meskipun hubungan mereka tak terlalu baik, tetapi Maxen tahu istrinya dan Alice merupakan teman yang sangat kompak. Dia tak ingin menghancurkan hubungan baik mereka. Tak berarti jika Maxen tak cocok, Rachel harus tak cocok.
"Baik. Dia titip salam untukmu." Rachel tersenyum kecil, mencoba memberi warna baru pada hari Maxen yang sebagian banyak terasa kelam.
"Hahaha. Jangan berbohong, Rachel. Aku tahu Alice tak akan pernah mau memberiku salam. Baik secara langsung ataupun melalui dirimu. Kau tak bisa menipuku tentang hal itu, sayang." Maxen tertawa lebar. Istrinya terlalu jelas dalam mencoba menyenangkan hatinya. Hingga kadang Rachel bersedia berbohong jika itu untuk kebaikan Maxen.
Sayangnya, Maxen merupakan orang yang kuat secara mental. Dia tak butuh dibohongi hanya untuk menyenangkam dirinya sendiri.
"Apakah aku terlalu mudah ketahuan jika berbohong?" Rachel tersenyum kecil, sedikit salah tingkah.
Maxen benar. Hubungan Alice dan Maxen tidak baik. Sangat mustahil mereka saling beekirim salam. Rachel membohongi Maxen dengan cara yang mudah diteabak. Dia jadi merasa malu sendiri.
"Kau sama payahnya dengan Alice. Jika berbohing mudah diidentifikasi. Tanpa alat khusus pun, wajahmu sudah menunjukkan semuanya." Maxen mengusap lembut jari-jemari istri tercintanya dan mengecupnya pelan melalui pembatas yamg terpasang.
"Sekarang Alice tak terlalu payah. Dia mulai berlatih mengontrol ekspresi dan emosi wajah. Jadi, sekarang dia tak bisa disamakan denganku. Dia mengalami perkembangan yang signifikan." Rachel menimpali.
Rachel pernah tidak sengaja melihat Alice tengah berlatih ekspresi dengan Jasmine. Sejak itu, Rachel menyimpulkan, alice pasti cukup serius dalam menjalani pelatihan ini. Semua itu pasti demi Klayver. Untuk lelaki tersebut, Alice rela melakukan segalanya.
__ADS_1
"Dia berlatih? Pada siapa?" tanya Maxen penasaran.
Maxen jadi penasaran juga. Mungkinkah wanita seperti Alice yang notabene seperti buku yang terbuka, bisa memiliki ekspresi datar? Sepertinya hal itu cukup sulit.
"Pada Jasmine. Klayver mengirimkan seseorang untuk menjaga Alice. Namanya Jasmine Brox. Wanita itu cukup ... emh ....." Rachek bingung untuk meneruskan kata-katanya. Sepertinya tidak terlalu mudah untuk menyebutkan profesi Jasmine secara langsung.
"Tunggu, tunggu. Siapa tadi? Jasmine? Sepertinya nama itu tak asing. Apakah wanita itu berasal dari New York?" Maxen sedikit mengernyitkan kening, mengingat-ingat sesuatu. Dia memejamkan mata sejenak kemudian membukanya kembali.
"Bukankah, itu wanita yang memiliki banyak club malam dan usaha prostitusi?" Maxen sedikit bingung.
Jasmine Brox. Pasti tak salah lagi. Siapa yang tidak tahu wanita yang memfasilitasi laki-laki dalam surga duniawi? Dulu, saat Daniel masih belum menikah, dia pernah diajak beberapa kali oleh partner bisnisnya ke tempat prostitusi milik Jasmine. Pelayanan di sana cukup menyenangkan. Daniel jadi teringat beberapa hal.
"Ya. Kau kenal dia?' Rachel menjadi curiga. Laki-laki yang mengenal Jasmine pasti cenderung tak baik. Rachel tak suka membayangkan suaminya memiliki hubungan dengan wanita seperti itu.
"Bukan kenal. Tapi dulu pernah diajak ke tempat tersebut sebelum aku mengenalmu. Jauh bertahun-tajun yang lalu. Jadi, jangan salah paham, oke?" Maxen menyadari kegusaran istrinya dan merasa sedikit bersalah.
Yah. Tapi itukan masa lalu.Setiap orang selalu memiliki kisahnya sendiri. Kita hanya harus menerima apa yang terjadi di masa lalu dan melakukan perbaikan untuk ke depan.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Tetapi awas saja kau jika kau mengenal wanita seperti itu saat bersamaku." Rachel menatap Maxen tak senang.
"Hei! Santai, Sayang. Bukankah kau sendiri juga mengenalnya?" Maxen balik bertanya.
Rachel yang mendapat pertanyaan ink hanya melotot tak terima.
"Aku wanita. Memang apa yang bisa aku lakukan jika mengenal wanita seperti itu? Tidak mungkin aku akan mengikuti jejaknya." Rachel merasa kesal. Pertemanan antar wanita dengan wanita tak akan berpengaruh besar. Kecuali jika mereka lesbi.
Maxen tersenyum kecil melihat Rachel mulai menunjukkan kemarahan. Bagi Maxen, ekspresi isyrinya itu sangat menggemaskan. Memang, dalam gal cinta, seseorang sering kali tak visa berpikir seacra rasional.
"Baiklah. Aku percaya padamu."
Rachel mengambil sebuah tempat makanan yang ia letakkan di lantai. Dia mengangsurkannya ke arah Maxen dan tersenyum cerah.
"Aku membawakanmu sesuatu," katanya.
Bau panili dan wangi roti menguar tajam. Maxen menebak pasti Rachel membuatkan makanan ini untuknya. Wanita itu cukup telaten dalam membuat sesuatu.
"Kau benar-benar istri yang pengertian." Maxen memuji Rachel yang kini tersipu malu. Entah kenapa, setiap kali Maxen memuji atau menggoda Rachel, sisi kanak-kanak wanita itu akan muncul dan bersikap menggemaskan. Maxen suka ekspresi istrinya ketika melakukan hal tersebut
"Maxen, jalanilah hari dengan baik. Jangan bikin ulah dan cepatlah bebas." Rachel sedikit memajukan wakahnya ke depan untuk menjaga privasi dan membisikkan sesuatu. "Aku sudah ingin punya anak." Rachel cepat-cepat mundur dan tertawa kecil. Wanita ini senang jika bisa menggpda suaminya.
"Kau yakin? Jika kau tidak sabar, di sini ada bilik yang menyediakan tempat bagi suami istri untuk bersama. Kau mau menggunakannya?" goda Maxen.
"Bilik?" Rachel tak mengerti.
"Ya. Bilik. Tempat seperti motel yang disediakan kgusus dari penjara." Maxen menjelaskan dengan detail. Rachel kembali tersipu dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku membutuhkanmu di rumah, di kamar, tetapi bukan di bilik." Bibir Rachel mengerucit, membentuj sudut yang lucu.
"Baiklah. Apa pun maumu." Maxen menyanggupi.
"Kau benar-benar suami yang pengertian, Maxen."
"Tentu saja. Itu aku."
Senyum Rachel seamkin merekah kian lebar. Dia menatap wajah tampan suaminya dan merasa bahagia.
__ADS_1
...