
Luiz keluar dari penjara dengan sikap gagah dan angkuh. Dia menoleh ke beberapa anak buahnya yang berjalan mengiringi dirinya. Senyum puas terlukis di wajahnya, menunjukkan betapa kehidupan telah membuatnya menggenggam kekuasaan dan kekuatan yang besar. Bahkan hukum pun mampu ia beli.
"Selamat, Shenor. Atas kebebasanmu."
"Selamat, Shenor. Anda berhak mendapatkan anugerah ini."
"Selamat untuk anda, Tuanku."
Masing-masing dari anak buahnya menunduk dalam, memberikan penghormatan layaknya prajurit kepada kaisar. Luiz mengibaskan sebelah jasnya dengan angkuh dan berjalan lurus tanpa meladeni ucapan basa-basi mereka
Anak buah itu sudah didesain untuk bisa berbasa-basi demi atasannya. Di dunia yang Luiz tempati, dia menyadari jarang ada yang tulus melakukan sesuatu untuknya. Semua orang memiliki motif dalam menjalankan setiap perintah Luiz. Ada yang karena paksaan, uang, atau pun iming-iming tertentu. Semuanya karena didasari ketakutan, atau ambisi mendapatkan sesuatu. Belum pernah Luiz menemukan ada yang setia padanya tanpa pamrih. Benar-benar murni setia tanpa embel-embel. Hidup Luiz terbiasa mendikte seseorang dengan sesuatu, sehingga anak buahnya juga terbiasa melakukan sesuatu karena didikte.
Semuanya hanya masalah transaksi. Luiz harus menggenggam hal penting dari orang-orang di dekatnya, barulah ia bisa mengontrol mereka secara penuh. Begitulah cara kerja Luiz selama ini.
"Tuan, anda sudah bebas. Bagaimana dengan Liza? Perlukah saya mengatur orang-orang untuk mengurus masalahnya agar dikeluarkan segera dari penjara?" tanya seorang anak buah senior yang mengenal Liza sejak lama. Luiz menoleh pada orang itu dan mengernyitkan kening tak suka.
"Biarkan saja wanita itu membusuk di penjara. Aku perlu memberinya pelajaran dengan membiarkan Liza berada di balik jeruji selama beberapa waktu agar dia bisa menghilangkan sisi sensitifnya sendiri. Dia butuh pendidikan langsung. Jika perlu, bayar orang-orang yang ada di penjara wanita untuk memberinya pukulan. Dia harus disadarkan jika mengikutiku adalah langkah yang paling baik."
Luiz memasuki mobil metalic yang menjemputnya. Dia mengibaskan tangannya, menyuruh beberapa anak buahnya menyingkir. Seketika mereka mundur teratur dan memilih memasuki mobil lain di belakang Luiz.
Di dalam mobil, seorang supir dengan setelan formal menunduk dalam sebagai penghorhamatan. Lelaki berusia di akhir kepala empat itu menampakkan raut muka kosong. Dia telah menjadi supir Luiz lama sebelumnya. Semua karakter dan sikap majikannya telah dihafal di luar kepala. Dia sudah tak terlalu kaget dengan semua tindak-tanduk Luiz yang sering kali melawan hukum.
"Kau setuju dengan pendapatku, Leandro? Liza sesekali harus dibiarkan di balik jeruji besi. Dia harus melihat suasana lain dari pada biasanya." Luiz bertanya sembari menghidupkan sebuah rokok yang sempat diberikan oleh salah satu anak buahnya yang merangkap sebagai bodyguard.
"Apa pun itu selama menurut anda yang terbaik, Tuan." Leandro, sang supir hanya mengikuti saja apa pun pendapat majikannya.
__ADS_1
Luiz adalah orang egois yang hanya mendengar pendapat dari dirinya sendiri. Dia adalah seorang narsistic. Bertanya pada Leandro mengenai keputusannya hanyalah basa-basi yang tak perlu. Toh, dia akan tetap melakukan keputusannya selama menurut Luiz baik meskipun semua orang menentangnya
"Bagus. Bagus. Kau anak buahku yang paling masuk akal," puji Luiz sekenanya.
Sebelah kaki Luiz ia tarik dan ditempatkan secara menyilang ke atas kaki lainnya. Dia tersenyum kecil, menatap pemandangan di sisi jalan yang tersaji lewat jendela mobil. Satu pemandangan berganti pemandangan lain dengan sangat cepat. Membuat Luiz termangu dan terjebak dalam pikirannya yang kompleks.
Liza adalah salah satu aset miliknya yang bisa menjadi senjata ampuh. Luiz kadang tak perlu menjelaskan secara rinci setiap maksudnya setiap kali ia menyuruh Liza melakukan sesuatu. Wanita itu sudah terpogram otomatis untuk menerima setiap kemauannya, bahkan hingga hal terkecil.
Tetapi, ada sesuatu yang mulai berbeda akhir-akhir ini. Luiz menyadari Liza mulai menunjukkan reaksi tertekan setiap kali melakukan perintah darinya. Dia tidak menjadi Liza yang dulu. Wanita robot yang bersedia melakukan apa pun demi Luiz. Setiap kali mendengar perintah darinya, ekspresi wanita itu terlihat tak suka dan terbebani.
Liza adalah orang yang pintar menyembunyikan ekspresi, tetapi wanita itu tak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Luiz. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyembunyikan rahasia dari mata tajam Luiz yang bak laser?
Bisnis kriminal yang telah dinalani Luiz adalah bisnis yang sangat keras. Dia berhadapan dengan transaksi kotor setiap saat dan sering kali berhadapan dengan hukum atau pun maut. Orang yang memiliki hati sensitif adalah sebuah kelemahan terbesar. Hati tidak diperlukan di sini. Nurani yang hidup hanya akan membuat seseorang mundur dari kehidupan gelap dan memilih menjalani hidup biasa yang tak ada tantangannya sama sekali. Sungguh tak menarik.
Luiz meraba Liza mulai memasuki tahap ini. Dia terlihat tertekan ketika dipasrahi suatu misi oleh Luiz. Hati nurani wanita itu mulai hidup rupanya. Entah apa yang telah membuat Liza seperti ini. Luiz tak suka jika anak buah terpercayanya mulai meragukan setiap perintah darinya. Dia adalah bos. Seharusnya satu kata saja darinya bisa membuat orang lain bertekuk lutut dalam penyerahan diri.
Uang dan posisi harus diraih dengan mengorbaankan beberapa hal. Kekuasaan bukanlah milik mereka yang lemah dan penuh kasih. Terlalu lemah hanya akan tereliminasi oleh alam. Setiap proses di dunia ini membutuhkan pengorbanan besar.
"Shenor, apakah kita akan segera kembali ke Brazil, atau masihkah perlu berada di Manhattan untuk beberapa waktu?" tanya Leandro menatap Luiz dari kaca spion dengan sedikit tak nyaman.
Manhattan bukanlah wilayah Luiz meskipun di sini lelaki tersebut memiliki koneksi bagus. Leandro hanya berharap mereka bisa segera kembali dan memfokuskan diri mengatasi bisnis di Brazil, tempat akar mereka sebenarnya.
"Aku perlu menyelesaikan sebuah kasus istimewa. Kita harus tetap di sini, setidaknya untuk satu bulan ke depan." Luiz menjawab serius. Dia sedang sibuk memikirkan tentang urusannya.
"Baiklah, Tuan." Leandro mengangguk patuh. Dia adalah lelaki yang pandai. Sepuluh tahun bersama Luiz telah menbuatnya tahu mana yang bisa dan tak bisa untuk ia tanyakan dengan mendetail.
__ADS_1
…
Liza menatap langit-langit klinik penjara dengan pandangan nanar. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Sebuah selang infus tertancap di lengan kirinya. Beberapa lebam-lebam terlihat jelas di sudut wajah, lengan, dan kakinya.
Sore tadi dengan alasan remeh, dia dihajar oleh selusin wanita di ruang makan. Alasannya sederhana, sebuah nampan milik napi lain terjatuh di dekatnya, membuat banyak orang menatap Liza dan menuduhnya sebagai pembuat onar. Sekelompok wanita yang dikenal sebagai geng utama di penjara segera menghajarnya dan membiarkan Liza babak belur hingga akhirnya sipir penjara berusaha memisahkan mereka semua.
Liza bukannya tak bisa melawan. Dia bisa saja mempertahankan diri. Bela dirinya bukan sekadar ilmu abal-abal yang tak memiliki fungsi sama sekali. Setidaknya dengan melawan, luka-lukanya tak separah ini.
Tetapi ia ingat, dia mendapat peringatan dari Luiz. Lelaki itu sengaja membiarkan Liza tetap berada di penjara dan dilarang mengeluarkan keterampialn bela dirinya dengan alasan agar identitasnya tak terbongkar. Liza hanya bisa mengikuti kata-kata Luiz. Meskipun dalam hati Liza sadar, sepertinya Luiz memang sengaja membuat rencana licik untuk Liza.
Mudah bagi Luiz untuk mengeluarkannya dari penjara. Membayar jaminan untuk diri Luiz sendiri saja mudah. Apalagi hanya mengeluarkan anak buah yang tindakan kriminalnya tak sebesar Luiz. Tetapi entah kenapa, lelaki itu memilih untuk tidak mengeluarkan Liza dan membiarkan Liza membusuk di penjara.
Luiz adalah lelaki penuh intrik. Tidak mungkin dia membiarkan sebuah keadaan terjadi tanpa suatu maksud tertentu. Ditambah lagi dia memberikan peringatan kuat agar Liza tak mengeluarkan kemampuan bela dirinya. Untuk apalagi Luiz mengatakan seperti itu, jika tidak berniat membiarkan Liza hancur perlahan-lahan. Dengan keluarga Liza berada di Brazil, Luiz memiliki kekuatan untuk melukai mereka. Liza mau tak mau harus mengikuti semua kata-kata Luiz.
Hanya saja, kata-kata Luiz adalah jebakan untuk Liza. Lelaki itu memiliki sebuah tujuan tersendiri. Liza mau tak mau hanya bisa merabanya. Apa sebenarnya maksud dan mau Luiz dengan keadaan ini?
"Kau harus menjaga dirimu sendiri, Miss. Penjara adalah tempat di mana hukum rimba berlangsung. Siapa yang kuat, dialah raja. Jika kau ingin selamat, sebisa mungkin mengalahlah pada setiap situasi. Memang banyak orang yang harus menderita karena dipicu hal-hal kecil." Marta, seorang dokter umum yang menangani Liza memberikan sebuah nasihat.
Wanita berusia tiga puluh lima tahun itu telah lama melihat sistem yang berlaku di penjara wanita. Di tempat seperti ini, tak ada bedanya seperti dunia laki-laki yang sebagian besar dinilai dari kekuatan fisik. Penjara adalah tempat di mana predator-predator bersarang dengan angkuh.
"Terimakasih, Dokter. Akan kuingat pesanmu." Hanya itulah jawaban yang mampu diberikan Liza di balik rasa sakit yang kini menderanya.
"Kau wanita yang cantik. Jangan biarkan jiwamu hancur di tempat ini. Bertahanlah agar kau bisa keluar dari penjara dengan rasa kemenangan. Pada saatnya nanti, kau akan tahu betapa kebebasan itu mahal harganya." Marta masih memberikan petuah yang kali ini tak dibalas oleh Liza.
Untuk apa keluar dari penjara jika yang menantinya adalah penjara lain yang lebih menakutkan lagi berwujud Luiz Martinez?
__ADS_1
…