Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
126 - SEASON 2


__ADS_3

Baru saja Liza dan kedua pengawal Luiz memasuki mobil untuk mengejar Alice, ada lima mobil dari dua arah mengepung mereka. Terpaksa, ketiga orang tersebut berhenti dan tertahan.


"Ada apa lagi ini?" Luiz semakin tak terima. Dia keluar dari mobil yang tengah ia kemudikan, dan memastikan lima mobil yang mengepung mereka dengan tiba-tiba.


Kemarahan Luiz sudah sangat memuncak. Dia merasa operasi yang tadinya dipikir gampang, ternyata berakhir gagal. Untuk menutupi kegagalannya, dia berniat segera mengejar mobil Alice dan menahan wanita itu. Tetapi nyatanya, belum sempat Ia melakukan apa yang ia inginkan, lima mobil yang tanpa diketahui milik siapa telah mengepungnya.


Salah satu dari pengemudi mobil tersebut memutuskan untuk keluar dari mobil. Dia adalah seorang lelaki tua berusia tujuh puluh tahunan dengan perawakan kekar dan gagah. Sinar mata lelaki tua itu menunjukkan bahwa ia telah mengalami banyak cobaan dalam hidup dan mengalami kerasnya hari-hari. Ada kekuatan dan keteguhan yang terpancar dari kedua mata tuanya.


Luiz menatap tajam lelaki tua di hadapannya yang berjarak sekitar beberapa meter darinya. Dia merasa tak pernah mengenal lelaki tersebut. Lelaki yang sedang ia lihat merupakan lelaki yang memiliki wajah dengan karakter kuat. Mustahil Luiz bisa melupakan lelaki seperti itu jika ia pernah bertemu dengannya sebelum ini.


"Apakah aku mengenalmu, Tuan?" tanya Luiz memastikan. Dia menatap lelaki tua di hadapannya dengan sedikit rasa hormat. Luiz dibesarkan dengan cara yang keras dan ditempa dengan cukup keras. Karena itu, dia bisa memahami dan menghargai orang yang hidup dengan kekerasan serupa.


"Tidak. Tetapi sepertinya aku perlu mengenalkan diriku sendiri. Aku William, kepala pelayan Alice Vaquez, wanita yang hendak kau buru sebelumnya." William menjelaskan fakta tersebut dengan ringan.


Luiz yang mendengar hal ini jadi semakin murka. Tadinya dia pikir bertemu dengan William adalah suatu kebetulan saja. Ternyata lagi-lagi orang itu merupakan bagian dari Alice. Sebenarnya, berapa banyak pelindung yang Alice miliki?


Luiz menatap lima mobil yang mengelilinginya. Dia kemudian mengambil ponsel dengan santai dan menghubungi anak buahnya dengan kode pesan darurat yang singkat. Dengan begini, William tak bisa mendeteksi triknya begitu saja.


Luiz memang berada di negara orang. Tapi bukan berarti dia tak memiliki koneksi. Dia terbiasa menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat rapi.


Untuk situasi darurat, Luiz menyimpan kartu as. Dia memiliki pasukan sekitar seratus dua puluh orang yang berada tak jauh dari tempat ini. Sepertinya dia memang harus menggunakan seluruhnya malam ini.


"Mari kita berbicara sejenak, Tuan William. Aku yakin kita akan bisa membentuk kesepakatan yang saling menguntungkan."


Liza yang mengetahui situasi sedikit berada di luar kendali, ikut turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah Luiz. Dia perlu menilai kondisi yang tengah terjadi.


Luiz membiarkan saja Liza yang mendekatinya. Dia masih berusaha menahan William dengan cara yang halus. Jika lelaki itu mau, Luiz bisa menawarinya kerja sama. Jika lelaki itu cukup keras kepala, Luiz hanya perlu bersabar menunggu pasukannya datang ke mari dan menghabisi orang-orang ini. Semuanya sederhana. Dengan uang, Luiz bisa mengendalikan banyak hal.

__ADS_1


Hanya ada dua jenis manusi selama menyangkut tentang uang. Mereka yang bisa ditaklukkan. Jika tidak bisa ditaklukkan, mereka yang bisa dibinasakan. Hanya itu.


Begitu juga dengan William. Jika ia bisa dibujuk, maka dibujuk. Jika tidak, maka lenyapkan saja. Beres.


"Kupikir kita tak akan pernah bisa mencapai kesepakatan, Segnor Luiz. Haruskah aku panggil namamu dengan nama tersebut? Luiz Martinez?" William membuka suara.


Mendengar namanya disebut, Luiz merasa marah. Dia adalah orang yang menjaga dengan rapat rahasia miliknya, termasuk nama. Bagi orang yang terjun dalam dunia gelap, nama merupakan sesuatu yang sangat krusial. Dengan nama, seseorang mampu terbunuh begitu saja. Dengan nama, seserang bisa dijadikan objek buruan tanpa kenal waktu. Nama adalah sesuatu yang sepenting nyawa. Jadi, jika ada seseorang yang mengetahui dengan jelas nama Luiz tanpa ia ijinkan, itu merupakan sebuah masalah besar.


"Kau cukup ahli dalam mencari informasi mengenai diriku, William. Haruskah aku memujimu dengan hal tersebut?" Luiz mencoba menahan amarah. Dia sangat benci dengan situasi ini, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


Jika Luiz menunjukkan amarah saat ini, maka ia hanya akan menunjukkan kekalahannya. Maka dari itu, Luiz hanya bisa mengendalikan diri dengan sesempurna mungkin.


"Tidak perlu."


"Oh, kau sangat mengejutkanku." Luiz menimpali. Luiz menatap jam, mengira-ngira kapan orang-orang yang telah ia hubungi dengan kode rahasia tiba di tempat ini. Dilihat dari perhitungan kasar, sepertinya mungkin sepuluh menit lagi sampai. Luiz hanya berharap semuanya bergerak dengan cukup gesit.


Karena tak mengetahui maksud William, Luiz hanya bisa mengernyitkan dahi dengan bingung. Di dunia ini, hanya sedikit orang yang bisa membuat Luiz terkejut. Kebanyakan dari orang-orang hanya bisa sesumbar untuk bisa mengejutkannya, tetapi nyatanya mereka memberikan omong kosong belaka.


"Oh, benarkah?" Luiz menaikkan salah satu alisnya, bertanya dengan sedikit sinis.


"Ya. Tak akan lama, Segnor Luiz. Sebentar lagi, kita sama-sama tahu." William berkata penuh rahasia.


Belum habis rasa penasaran Luiz, kata-kata William sudah terbukti benar. Sebuah suara sirine mobil polisi menuju arah mereka dari seluruh penjuru. Luiz menyipitkan matanya, merasa pupilnya kaget saat menerima banyak sinar mendadak yang masuk ke dalam retina. Jumlah mobil ini tak terhitung.


Ada apa ini? Itu adalah satu-satunya pertanyaan yang bisa dikatakan Luiz dan sayangnya, menjadi satu-satunya pertanyaan yang kompleks dan menggantung.


William berjalan mundur, menatap Luiz dengan sorot mata penuh kemenangan. Lelaki itu bangga melihat apa yang menjadi tujuannya telah tercapai dengan mudah.

__ADS_1


"Apa yang kau—"


"Tidak apa-apa, Segnor. Santai saja. Aku hanya menghubungi pihak hukum Amerika jika kepala dari Black Hell telah ditemukan di wilayah Manhattan." William menjawab ringan, melemparkan senyum hangat yang jarang ia berikan.


"Bajinga—" Belum sempat Luiz sempurna mencaci maki, dia mendapati banyak moncong pistol diarahkan untuknya.


Sejenak, seorang kepala polisi dengan badan tegap mendekati Luiz, menodongkan senjata dan membacakan beberapa hak tentang calon tahanan. Luiz sudah tidak terlalu memperhatikan hal ini. Suasana menjadi ribut dan tak terkendali. Dua orang pengawal Luiz memilih memberontak dan mereka berhasil dilumpuhkan oleh pihak polisi yang nerseragam dengan mudah.


Tampaknya, Luiz sedikit memiliki akal sehat dibanding anak buahnya. Dia mengangkat tangannya, memilih menyerah. Dia merutuk dalam hati. Orang-orang yang sangat ia harapkan datang justru tak kunjung terlihat batang hidungnya. Yang datang justru pihak hukum setempat.


Alice lolos, anak buahnya kalah, dan dia kini terjebak dengan protokol polisi di negara lain. Wajah Luiz semakin menggelap. Dia menahan seluruh amarah yang ia miliki.


Tertangkap di negara lain merupakan hal yang cukup menyulitkan. Meskipun dia memiliki koneksi, tetapi prosesnya pasti tak akan mudah. Apalagi jika polisi mengantongi bukti kriminal Luiz dengan bukti kuat yang tak terbantahkan.


Dengan pasrah, Luiz menunduk dan mengangkat tangannya. Dia berharap, pengacara yang akan menanganinya adalah pengacara yang cukup ahli. Dengan begitu, gelar perkaranya akan cepat selesai dan tuntutan hukumnya pasti akan ringan. Nanti, setelah ia keluar dari penjara, akan ia buru Alice dan William dengan membabi buta. Siapa suruh mereka berurusan dengan orang yang salah?


Di dunia ini ada sebuah peraturan dasar. Ada seseorang yang terlarang untuk disentuh begitu saja. Salah satunya adalah Luiz Martinez. Dia bukan lelaki sembarangan yang akan diam saja jika ditekan dan dilecehkan oleh orang lain. Baginya, sekali ada orang yang berani menyinggung, maka ia tak akan melepaskan orang itu. Dia adalah lelaki yang sangat pendendam dan selalu membuat orang lain membayar dengan nyawa mereka. Dengan cara paling mengenaskan, tentunya.


Liza yang berdiri di sisi Luiz hanya bisa mengikuti semua prosedur yang polisi tuntutkan padanya. Dia tak terlalu berhasrat dalam melawan. Sinar matanya menunjukkan kepasrahan. Satu-satunya hal yang membuatnya resah adalah memikirkan tentang nasib adiknya, Bella.


Apa jadinya Bella jika ia mendengar kakaknya tertangkap dan menjadi tersangka dengan sederet dakwaan yang berat? Adiknya itu selalu mengenal Liza dari kacamata anak remaja. Baginya, Liza merupakan wanita yang sangat sempurna, baik, cerdas, dan menjadi kakak yang hebat. Siapa sangka nyatanya Liza justru tertangkap sebagai organisasi gelap seperti ini? Bella dan Mama tidak hanya akan malu, mereka pasti akan terluka luar dalam. Harapan ibu dan adiknya telah Liza putuskan sedemikian rupa.


Dengan pasrah, Liza menutup matanya dan berbisik lirih. "Maafkan aku, Mama. Maafkan aku, Bella. Maaf. Maaf."


Hanya itulah satu kalimat yang mampu Liza ucapkan. Kalimat yang akan dibawa angin dalam kebisuan malam, hilang ditelan dalam dinginnya cuaca.


__ADS_1


__ADS_2