Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
136 - SEASON 2


__ADS_3

Keadaan berjalan lancar selama dua minggu ke depan. Kehamilan Alice sudah memasuki enam bulan, sedangkan Jasmine tiga bulan setengah. Mereka semua menjalani hari-hari dengan tenang, meskipun Violin mengetatkan penjagaan di sekitar mereka.


Semua pengawal Violin yang ia bawa dari Washington telah diambil alih oleh James. Setelah mereka semua memiliki dugaan tentang pengkhianat orang dalam yang membocorkan informasi kepada Luiz, baik Violin dan James sepakat menginterogasi anak buah mereka semua.


Interogsi yang dilakukan Violin bukanlah murni introgasi biasa. Dia menggunakan cara-cara licik, kejam, dan tak manusiawi. Di balik sikap protektifnya terhadap orang-orang yang Violin sayang, wanita itu memiliki sisi lain juga. Sebuah kekejaman yang hanya James saja yang mengetahui dan memahaminya.


Tiga orang pengawal Violin tewas dalam proses interogasi. Lainnya mengalami babak belur, bahkan ada yang kritis dan dibawa ke rumah sakit. Sesuatu yang sebenarnya tak ingin dilakukan oleh Violin tetapi ditentang habis-habisan oleh Alice sehingga mau tak mau anak buahnya mendapat perawatan insentif.


Meski telah melakukan semua cara itu, tak ada satu orang pun dari anak buah Violin yang membuka mulut dan mengakui tentang pengkhianatan mereka. Akhirnya, Violin mengambil keputusan memberhentikan mereka semua dan mengambil anak buah Violin lainnya dari Washington dua hari kemudian.


Kali ini, Violin memastikan dengan ketat orang-orang yang ia ambil. Violin tak ingin kejadian serupa kembali terulang. Disusupi pengkhianat merupakan hal buruk dalam hidupnya. Nyawa Alice dan Axel bisa terancam karena hal ini.


"Violin, Luiz telah keluar dari penjara dua minggu lamanya. Tetapi sekarang dia bahkan tak melakukan apa pun kepada kita. Mungkinkah menurutmu Luiz mulai memberi kelonggaran kepada kita dan menyerah secara perlahan?" tanya Alice di sebuah makan malam. Ada Jasmine dan Daniel juga yang menemani Alice makan kali ini. Dua orang tersebut duduk berlawanan arah, saling memberi tatapan tajam satu sama lain. Alice heran bagaimana bisa Jasmine mengandung anak Daniel jika sikap mereka saja seperti anjíng dan kucing begitu.


"Jangan lengah, Alice. Itulah yang Luiz harapkan dari kita. Dia memberikan kita kelonggaran, seolah-olah kita terlupakan dan memancing kita melakukan sesuatu di luar kewaspadaan. Saat itu terjadi, Luiz bisa menangkap dirimu dengan mudah sebagai pancingan untuk mengeluarkan Klayver dari persembunyiannya saat ini."


James menarik nafas berat. Dia mendengar setiap penjelasan dari Violin dengan seksama. Raut muka James tak menentu. Sepertinya dia cukup khawatir dengan perkembangan kondisi ini.


"Istriku benar, Alice. Luiz adalah lelaki yang tak mungkin untuk menyerah. Dia diam karena memiliki tujuan. Dia sekarang mengamati kita dengan lebih insentif. Meskipun saat ini keberadaan Luiz masih belum terdeteksi, tetapi aku yakin lelaki itu masih berada tak jauh dari kita. Kudengar, salah satu anak buahnya, Liza, masih dibiarkan mendekam di penjara. Entah apa tujuan Luiz, tetapi kupikir Luiz tak akan pergi jauh tanpa membebaskan Liza terlebih dahulu. Wanita itu katanya menjadi orang kepercayaan Luiz."


James menggemeretakkan gigi-giginya, menahan amarah. Rahangnya terlihat mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat, menahan emosi membayangkan tentang tindakan licik apa pun yang kini tengah direncanakan Luiz untuk mereka.


"Mungkinkah Luiz membuang Liza? Aku mengikuti perkembangan wanita itu. Kudengar dia diserang beberapa kali oleh nara pidana lain di penjara khusus wanita. Liza sempat dirawat beberapa kali karena hal ini." Daniel menimpali.


Caterine yang melihat situasi serius ini segera menambah persediaan kopi di teko utama setelah sebelumnya membuat secara cepat di mesin pembuat kopi. Pembicaraan seperti ini biasanya akan memakan waktu yang lama. Alice dan anggota keluarga lainnya sering kali meminta tambahan kopi dari Caterine sehingga wanita itu mulai bergerak cekatan tanpa diminta lagi.


Bekerja kepada Alice telah membuat Caterine memahami dengan baik seluk beluk keluarga ini. Caterine jadi mengerti banyak hal. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil, kesukaan mereka, hingga hal-hal sederhana yang tak penting.


"Mungkinkah Luiz memang sengaja membiarkan Liza ditekan oleh keadaan?" tanya Jasmine menyipitkan mata, meraba-raba keadaan.


Jasmine kali ini memakai setelan panjang berbahan lembut dengan warna kuning pucat. Musim dingin masih berlangsung. Cuaca seperti ini tak mendukung Jasmine mengenakan baju-baju seksinya. Terpaksa baju-baju itu menganggur dalam lemari besarnya. Biasanya mulai musim semi Jasmine bisa kembali tampil seperti biasanya. Tetapi mengingat kehamilannya, sepertinya Jasmine tak bisa mengenakan baju-baju favoritnya untuk beberapa bulan ke depan. Semoga saat itu terjadi, Klayver sudah kembali ke sisi Alice, sehingga Daniel tak mengetahui perihal kehamilannya.


"Membiarkan anak buahnya sendiri disiksa seperti itu di penjara? Kurasa itu mustahil. Mana ada seseorang yang melakukan hal-hal kotor untuk anak buahnya." Alice membantah pendapat Jasmine.

__ADS_1


Dalam dunia yang Alice kenal, kesejahteraan anak buah mempengaruhi kesejahteraan atasannya. Keselamatan anak buah mempengaruhi keselamatan atasannya. Mana ada seseorang yang sengaja menyudutkan anak buahnya sendiri. Itu sama saja dengan menyudutkan diri sendiri. Dengan begitu, anak buahnya hanya akan pergi dan memilih mengkhianati atasan? Alice pasti akan kabur jika menjadi anak buah yang disudutkan begitu saja tanpa alasan kuat.


"Itu adalah rumus umum, Alice. Kita sekarang membicarakan tentang Luiz. Seseorang yang aku yakin pasti memiliki cacat psikologi dalam banyak sisi. Untuk ukuran Luiz, apa pun bisa saja ia lakukan. Tak peduli jika ia harus membunuh ratusan anak buahnya sekali pun." Violin menjelaskan.


Jasmine, Daniel, dan James mengangguk kecil. Mereka semua menyetujui setiap kata demi kata yang Violin lontarkan. Violin benar. Sejauh menyangkut Luiz, semua hal bisa saja terjadi. Bagi Luiz, apa pun yang ada di sekitarnya merupakan sebuah media yang bisa digerakkan sesuka hati dengan tujuan-tujuan tertentu. Termasuk anak buahnya.


"Bagaimana bisa ada orang seperti itu. Dia sama saja dengan orang gila!" Alice bergidik ngeri, membenarkan kerah kemeja hangat yang ia kenakan.


"Bukan orang gila, Alice, tapi psikopat. Di dunia ini, ada banyak orang-orang dengan kelainan seperti itu. Bahkan kupikir ada yang lebih parah dari pada Luiz. Kau pasti akan terkejejut mengetahui orang-orang seperti itu." James menambahkan. Dia mengusap dagunya, membiarkan sepasang mata gelapnya menerawang. Seolah-olah James tengah mengulik ingatan lamanya tentang orang-orang psikopat yang ia kenal.


"Oh, Ya Tuhan. Apakah orang-orang seperti mereka tidak mendapat arahan? Konseling ke psikolog misalnya?"


Kedua tangan Alice terentang, mulai mempertanyakan banyak hal. Memang ada jenis-jenis pesakitan di dunia ini. Mereka yang sakit secara ragawi dan membutuhkan dokter, mereka yang sakit secara psikis yang membutuhkan psikiater dan psikolog. Kedua jenis orang ini haruslah mendapatkan perawatan yang insentif. Dengan begitu, mereka bisa sembuh dan kembali ke masyarakat dengan lebih baik lagi.


"Konseling hanya untuk mereka yang sadar dirinya sakit dan ingin senbuh. Itu saja untuk orang seperti ini tidak menjamin bisa sembuh seratus persen. Sakit psikis sangat berbeda dengan sakit biasa. Akan mudah muncul ke permukaan lagi dan kambuh berulang kali. Nyatanya, banyak dari golongan mereka yang tak sadar jika dirinya sakit. Mereka menolak semua jenis konseling. Bagaimana bisa mereka sembuh?


"Oh satu lagi. Yang lebih parah, mereka yang sadar jika psikisnya sakit tetapi justru menerima keadaan itu dengan baik. Jenis orang terakhir ini jika dikombinasikan dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki, maka mereka sukses menjadi psikopat menakutkan dan tak tertolong." Violin menjelaskan dengan panjang lebar. Dia menyingkirkan piring di depannya,melambaikan tangan kepada Caterine dan meminta pelayan itu untuk menberinya tambahan cafein.


Pembicaraan mereka sepertinya akan lama. Violin sudah terbiasa mengonsumsi kopi setelah makan malam, meskipun hal ini sedikit tak wajar. Kebiasaan yang berhasil ditiru oleh Alice dan lainnya.


"Dunia ini luas, Alice. Ada banyak hal yang tak kita ketahui tetapi diam-diam ada dan berada di antara kita." Sinar mata James menggelap mengungkapkan pendapatnya sendiri.


Dunia memang luas. Semesta lebih luas lagi. Jika kita tak menemui orang-orang dengan kriteria tertentu, bukan berarti orang-orang itu tak ada. Mungkin ada di sisi kita, membantai kita dengan menunggu waktu yang tepat. Kita saja yang tak terlalu menyadari semua itu.


"Aku tahu, hanya saja kupikir semua itu terjadi secara teori saja. Maksudku, sedikit mengejutkan semua itu benar-benar terjadi dalam kapasitas nyata di sekitar kita." Alice tersenyum lemah


Dia tahu dari informasi yang ada, sebagian manusia memiliki kelainan psikis tertentu. Bahkan sejarah yang ada menyatakan banyak tokoh peradapan yang mengidap kelainan psikis tertentu. Tetapi Alice tak berpikir, banyak golongan orang-orang seperti ini, bisa saja berada di sisinya tanpa gejala-gejala tertentu.



Daniel duduk di kursi taman depan rumah Alice. Dia menyesap kopi dari cangkir keramik bersepuh warna keemasan. Rasa kopi ini sangat nikmat dan menggoda selera. Tetapi entah kenapa terasa kebas di mulut Daniel. Dia merasa indera perasanya tak lagi sebaik biasanya.


Fokusnya dalam menikmati sesuatu berkurang drastis. Apalagi jika setelah ia bersinggungan dengan Jasmine. Suasana hatinya jadi berubah tak menentu. Daniel sendiri tak mengerti dengan setiap reaksi yang ia miliki. Kenapa bisa seperti ini?

__ADS_1


"Caterine!" panggil Daniel melihat pelayan itu kebetulan berjalan untuk mematikan sebagian lampu tangan karena hari sudah sangat larut.


"Ya, Mr. Stranger?" tanya pelayan itu mendekat ke arah Daniel.


"Bisa panggilkan Jasmine? Katakan padanya aku perlu bicara sesuatu padanya!" Daniel meminta dengan nada tak yakin. Dia seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu.


"Jasmine? Oh, baiklah!" Caterine segera saja berlalu dengan kecepatan kilat. Dia menarik sebagian rok pelayannya yang berwarna hitam putih agar langkahnya lebih mudah dan cepat.


Caterine adalah salah satu orang yang percaya tentang kisah romantis seperti di dongeng-dongeng. Termasuk Daniel dan Jasmine. Dia beranggapan, sebenarnya mereka pantas memiliki kisah di balik setiap ekspresi dingin keduanya. Meskipun di permukaan mereka berdua tampak bermusuhan dan tak memiliki satu pun kecocokan, tetapi Caterine beranggapan mereka sebenarnya adalah dua orang yang sangat cocok satu sama lain.


Tak berapa lama kemudian, Jasmine datang ke halaman depan. Suasama sudah mulai sepi. Beberapa ruangan rumah telah dipadamkan lampunya. Para pelayan yang bisanya hilir mudik juga telah dibuai mimpi indah masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang masih tetap tersadar dan telah berada di kamar mereka.


Salju masih sesekali turun, membuktikan bahwa musim dingin belum berlalu. Mungkin sebulan lagi salju akan terangkat, tanah Manhattan bisa kembali menyambut musim semi yang indah. Bunga-bunga kembali akam bermekaran, pohon-pohon akan kembali menawan seperti semula.


Jasmine datang mendekat ke arah Daniel dengan piyama tebal dari bahan bulu lembut berwarna cokelat gelap. Langkah wanita itu terlihat anggun, bagaikan seorang dewi. Mata Jasmine memiliki sinar-sinar istimewa yang sangat spesial. Sebuah sinar yang tidak Daniel tangkap dari wanita lain, bahkan wanita yang memiliki reputasi baik sekali pun.


"Ada apa? Caterine bilang kau memiliki sesuatu untuk dibicarakan!" Jasmine berdiri menjaga jarak sekitar tujuh kaki dari Daniel. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, membentuk perlindungan diri. Seolah-olah Daniel adalah bentuk bahaya yang harus wanita itu waspadai.


Daniel berdiri dan melangkah ke depan. Tanpa sadar, Jasmine mengambil langkah mundur secara otomatis. Sinar matanya menunjukkan kewaspadaan tinggi. Netra birunya menyembunyikan sinar yang sebelumnya terlihat indah.


"Ada apa, Jasmine? Jangan katakan kau takut padaku. Itu benar-benar tak lucu!" Daniel menaikkan sebelah alisnya, terlihat tak mengerti dengan tingkah Jasmine yang seperti ini.


"Tidak. Aku hanya enggan untuk mendekat denganmu. Kita … tidak cocok satu sama lain. Jadi, lebih baik katakan saja apa maumu dan biarkan aku kembali beristirahat." Jasmine berkata tegas. Dia semakin menyilangkan tangan, membuat pertahanan dirinya semakin menguat.


Mungkin ini adalah alasan yang kurang masuk akal untuk diungkapkan, tetapi memang itulah yang tengah Jasmine rasakan saat ini. Ia enggan mendekat dengan Daniel. Takut jika reaksi-reaksi familier yang ia miliki untuk lelaki ini muncul dan mendominasi dirinya, mengalahkan akal sehat. Sungguh tak lucu jika ia menyerahkan diri pada Daniel begitu saja tanpa alasan jelas.


Sementara Daniel hanya bisa berdiri mematung dalam jarak aman yang Jasmine tentukan untuk mereka. Dia merasa tak mengerti dengan dirinya sendiri. Ada sebuah amarah kecil mendengar Jasmine tak bersedia untuk mendekat dengannya. Entah alasan Jasmine sengaja dibuat-buat atau memang mengatakan yang sebenarnya, tetap saja Daniel merasa tak terima.


"Ada apa kau memanggilku, Daniel?" tanya Jasmine mengulangi kembali pertanyaan tang sebelumnya ia lontarkan.


Hening mengisi mereka. Ada jeda yang cukup panjang. Hanya suara angin musim dingin yang mendominasi latar. Sayup-sayup membawa hawa dingin yang terasa menusuk tulang, meski mereka berdua telah mengenakan pakaian hangat.


Daniel memejamkan mata beberapa saat, mencoba merangkai kata di dalam otaknya untuk ia sampaiakan kepada Jasmine. Kata-kata yang sudah coba ia rangkai, tetapi saat ini terasa sulit untuk ia ungkapkan. Daniel tak mengantisipasi akhirnya ia akan seperti ini.

__ADS_1


"Aku menginginkan satu malam lagi denganmu. Katakan saja berapa harganya. Akan kubayar di muka."



__ADS_2