Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
068 - SEASON 2


__ADS_3

Sudah dua malam ini Rachel menginap di kediaman Alice. Untuk pertama kalinya selama mereka menikah, kedua wanita ini merasa menjadi lajang kembali. Tanpa anak, tanpa suami, dan merasa menjadi wanita metropolitan sejati.


Mereka menikmati waktu berdua seperti sepuluh tahun yang lalu ketika mereka masih melajang tanpa beban hidup dan konflik rumah tangga. Saat itu, hanya hal-hal ringan yang menghampiri, mewarnai hari-hari mereka yang indah.


Topik lelaki selalu menjadi paling utama. Di setiap kesempatan yang ada, Rachel dan Alice selalu mengangkat topik ini dulu. Apalagi di setiap pesta teman-teman mereka. Masih terbayang jelas di benak mereka siapa pacar pertama dan bagaimana dulu berkencan. Mengandalkan setiap event-event sosial yang menawarkan tarif rendah. Khas remaja.


"Kau ingat dulu ketika kita masih remaja aku selalu mencomblangkanmu dengan anak laki-laki?" Rachel bernostalgia.


Alice kembali mengenang wajah-wajah dirinya dan teman-temannya ketika mereka masih lugu dan polos.


"Sangat ingat. Itulah kenapa aku dulu bisa menjalin hubungan dengan Daniel. Sebagai makcomblang, kau patut diberi jempol." Alice tertawa renyah.


Daniel adalah anak dari fakultas IT sementara Alice mengambil manajemen bisnis. Alice ingat Daniel sempat dinobatkan menjadi lelaki paling diincar saat itu. Sehingga menbuat dirinya bangga bisa menggaet Daniel. Entah kenapa, saat itu hubungan mereka lebih seperti prestasi konyol.


"Berapa lama dulu kau menjalin hubungan dengan Daniel?" tanya Rachel mengernyitkan kening. Wanita itu mulai mengingat-ingat banyak hal. Kenangan lama terasa menyenangkan untuk diingat.


"Entahlah. Mungkin sekitar satu tahun. Jika aku tak salah ingat." Alice menaikkan bahu, tanda tak lagi peduli pada hal tersebut.


Kenangan itu telah lama berlalu. Memang tak dilarang untuk kembali mengingat, tetapi Alice lebih suka menutup kisahnya dengan Daniel. Hubungan mereka telah berakhir. Tak ada baiknya mengenang kembali kisah masa lalu.


Bagaimanapun juga, sekarang Alice telah memiliki pendamping hidup yang kini ia cintai. Akan lebih baik ia memfokuskas perhatiannya pada Klayver.


"Kenapa dulu hubungan kalian berakhir?" tanya Rachel penasaran. Wanita itu agaknya tak terlalu memahami bahasa tubuh Alice yang enggan membahas topik tentang Daniel. Dia masih saja melemparkan pertanyaan pada Alice.


"Mungkin karena dia saat itu terlalu sibuk dengan study-nya dan aku sibuk dengan duniaku sendiri sehingga jarang bagi kami memiliki moment bersama. Saat itu aku memilih mengakhiri hubungan tersebut."


Alasan yang klise sebenarnya. Kesibukan yang berbeda banyak membuat pasangan remaja memilih mengakhiri hubungan.


Saat itu, Daniel adalah mahasiwa teladan. Sering kali lelaki tersebut mewakili fakultas untuk mengikuti banyak kompetisi. Alice juga terlalu sibuk mengejar setiap materi kuliah yang ia tempuh. Keduanya jarang berinteraksi dan berkomunikasi. Hubungan mereka hanya sekadar status saja. Karena itulah demi kenyamanan mereka sendiri, Alice berinisiatif mengakhiri hubungan mereka.


Daniel awalnya keberatan. Tetapi dia tak berdaya untuk menolak kemauan Alice. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah dan menerima keputusan Alice.


"Daniel memang orang yang sibuk. Pantas sekarang ia terbukti menjadi usahawan sukses. Bukankah dia telah kembali lagi ke Manhattan? Beberapa waktu lalu dia sempat memberi kabar padaku tetapi aku belum sempat bertemu lagi dengannya. Bagaimana jika kita membuat janji makan siang bersama?" Rachel mengusulkan sesuatu.


Alice terdiam lama. Dia teringat kembali sifat posesif Klayver terhadap dirinya. Alice tak tahu apakah suaminya itu nanti akan kembali salah paham atau tidak jika ia menerima ajakan Rachel.


"Entahlah, Rachel. Nanti coba kufikirkan lagi." Alice harus membicarakan dulu dengan Klayver mengenai hal ini. Lelaki itu cukup sensitif sepanjang ada lelaki lain. Alice tak ingin menciptakan kesalahpahaman baru.


"Baiklah. Apapun maumu, Alice." Rachel menangkap keengganan Alice sehingga ia memilih tak memperpanjang pembicaraan ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.10 waktu Manhattan. Alice dan Rachel masih bergelung di ranjang yang sama dan malas untuk bergerak. Padahal sebentar lagi jam makan malam. Pasti Sila akan kesal setengah mati jika mereka mengabaikan masakannya.


Malam ini terasa sempurna. Angin malam musim gugur di luar sana mulai menghentak-hentak kisi jendela. Membuat kamar Alice sedikit terhembus udara dingin.


Rachel menarik selimut tebal dan menutupi sekujur tubuhnya, menyisakan kepala tetap berada di luar mengawasi Alice yang kini berbaring nyalang.


"Ada apa, Alice?" tanya Rachel kemudian.


Alice menoleh pelan dan kembali menatap langit-langit kamar. Dia menyembunyikan rasa tak nyaman di kedua netra emasnya. Rachel mendesah pelan, merasakan temannya ini menyimpan kegelisahan baru.


"Alice? Apakah semuanya baik-baik saja?" Rachel memastikan.

__ADS_1


Cukup lama ruangan ini hening tanpa suara. Hanya detak jarum jam yang mengisi kesunyian di antara mereka. Baik Alice maupun Rachel, memilih tidak memecah keheningan.


Satu menit. Dua menit. Tiga menit berlalu. Akhirnya, Alice melirik kecil ke arah temannya dan berkata pelan.


"Aku terkadang bertanya-tanya. Masalah apa yang tengah Klayver hadapi. Sepertinya kali ini ia serius mempersiapkna semuanya. Tetapi sayangnya dia tidak pernah terbuka padaku. Berkali-kali aku membujuknya, dia memilih menutupi masalahnya dariku."


Alice setengah melamun. Hubungannya dengan Klayver baik-baij saja. Hanya terkadang, Alice merasa banyak ketidakterbukaan di antara mereka. Itulah yang ingin ia hilangkan. Dia, layaknya seorang istri, ingin berbagi semua beban dan segala keluh kesah.


"Alice, kita tak pernah tahu, terkadang ada beberapa hal yang suami kita sembunyikan dari kita bukan karena tidak ingin terbuka. Tetapi karena ia ingin melindungi kita dengan memberikan ketidaktahuan. Kau pernah dengar pepatah yang mengatakan bahwa rasa ingin tahu bisa menbunuh keledai."


Alice melirik dengan sorot mata keheranan. "Memangnya pepatahnya bilang begitu? Sepertinya tidak!"


"Entahlah, aku lupa. Intinya sesuatu yang kurang lebih seperti itu." Rachel tertawa kecil. Masalah sastra adalah kelemahannya. Dia cenderung tak ingat setiap quotes atau kata-kata mutiara.


"Mungkin kau benar, Rachel. Klayver menyembunyikan sesuatu karena ia berpikir itulah yang terbaik untukku. Tetapi seharusnya dia bisa membaginya denganku, bukan? Bagaimanapun juga aku adalah istrinya."


"Kau memang istrinya, siapa yang bilang kau sekretarisnya?"


"Serius, Rachel. Aku mulai kesal lama-lama." Alice mendesah lelah dan membelakangi temannya. Dia kembali merenung.


Bayangan Alice teralihkan pada sosok Klayver. Di mana suaminya saat ini? Terakhir mereka berkomunikasi dua hari yang lalu. Klayver hanya menghubungi Alice singkat dan mengatakan akan mengambil Axel untuk dibawa ke Manhattan kembali. Setelah itu, tidak ada kabar lagi. Alice merasa tak enak jika harus menghubinginya lebih dulu. Siapa tahu saja Klayver sedang dalam situasi genting dan Alice malah menambah runyam suasana.


Klayver.


Ya Tuhan, Alice benar-benar merindukan suaminya. Setiap malam setelah kepergian Klayver, hanya ada kesepian yang menyapa. Ranjang yang ditempati lelaki itu terasa kosong, membawa rasa sesak tersendiri.


Alice sudah akan memejamkan mata saat tiba-tiba suara Sila membuyarkan lamunannya. Pelayan tersebut mengetuk pintu dua kali sebelum akhirnya dipersilakan masuk.


"Makan malam telah siap? Aku dan Rachel akan segera turun ke bawah, Sila. Terimakasih telah mengingatkan kami." Alice tersenyum kecil, berkata mendahului Sila. Wanita muda tersebut mengerjapkan mata beberapa kali terlihat bingung.


"Ada apa?" tanya Alice penasaran. Mungkinkah ada masalah? Penggorengan terbakar? Open meledak? Tabung gas bocor? Atau semacamnya.


"Itu, Nyonya …." Sila berhenti, merasa sungkan untuk melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa, Sila?" tanya Alice mengulangi kembali pertanyaannya.


"Nyonya—"


"Dapur terbakar?" Alice terduduk seketika, merasa khawatir. Jika dapur terbakar, harus segera diatasi. Sila tak perlu melaporkan padanya lebih dahulu.


"Tidak. Tidak. Bukan begitu. Hanya saja, Tuan telah pulang, tapi …."


"Kalyver telah pulang?" Alice meloncat dari sisi ranjang dan segera mengambil alas kaki dengan tergesa. Wajahnya berbinar bahagia.


"Tapi, Nyona …."


Alice menghentikan antusiasmenya dan menatap Sila penuh fokus. Sepertinya gadis ini terlalu berputar-putar dari tadi. Apa yang ia sampaikan terasa tak sempurna. Sebenarnya, apa yang ingin Sila katakan? Alice mau tak mau menjadi penasaran.


"Klayver tidak terluka kan?" kali ini Rachel yang bertanya mewakili Alice. Dia sudah mencium sesuatu yang tak beres di sini.


"Tidak. Bukan begitu. Ini lebih parah dari pada terluka," sahut Sila prihatin. Dia benar-benar tak tahu harus menyampaikan kabar ini dengan cara bagaimana. Melihat keluguan majikannya, Sila semakin merasa tak tega.

__ADS_1


"Ada apa, Sila? Katakan terus terang!" Rachel yang mendengar kegusaran Sila menjadi kesal sendiri.


"Tuan datang dengan Axel dan menbawa wanita lain juga bersamanya."


"Wanita?" Rachel dan Alice membeo bersamaan.


"Wanita yang terlihat seperti wanita murahan dan … dan … Nyonya, anda harus melihatnya sendiri. Rumah ini mungkin akan menjadi rumah bordil jika menerima jenis wanita seperti itu." Tak biasanya Sila yang pendiam bisa berkomentar sedemikian rupa. Rachel yang mendengarnya, langsung menyimpulkan "wanita" itu adalah makhluk belok yang perlu diluruskan.


Dengan antusias, Rachel ikut turun dari ranjang dan bergegas keluar kamar. Dia terlalu penasaran untuk melihat langsung siapa sosok yang telah dibawa oleh Klayver. Pasti seru melihat Alice dipersatukan dalam satu ruangan dengan orang yang seperti ini.


Rachel bisa menjamin Klayver tidak selingkuh. Lelaki itu terlalu memuja Alice secara terang-terangan sehingga mustahil baginya membagi perasaan pada wanita lain.


Tetapi kepulangannya dengan wanita lain pasti merupakan sesuatu yang memiliki alasan kuat. Rachel tergoda untuk ikut mengetahui tentang fakta ini.


"Cepat keluarlah, Alice. Apa kau akan diam saja suamimu membawa wanita lain di rumahmu sendiri.? Jangan-jangan dia selingkuh." Rachel mulai menggoda. Meskipun mereka sama-sama tahu hal itu tidak akan terjadi, tetapi sepertinya menggoda Alice cukup menyenangkan juga.


"Hah! Mustahil." Alice memutarkan manik matanya, sama sekali tak merasa tersaingi. Dia cukup yakin dengan suaminya sendiri.


"Setidaknya jika tuan berselingkuh, harusnya tidak dengan wanita jalàng seperti itu" Sila menggelengkan kepala, ikut merasa simpati.


"Berhentilah bicara omong kosong, Sila. Jangan racuni pkkiranmu itu dengan kata-kata Rachel. Dia terlalu iri pada hidupku sehingga berharap suamiku sendiri mengkhianatiku."


Rachel yang mendengar penuturan Alice hanya bisa tertawa lebar. Dia menyeret Alice dengan cukup kasar untuk turun ke lantai bawah, menemui objek yang tengah mereka bicarakan.


Rachel dan Alice berjalan menyusuri tangga utama. Tangga ini langsung menghubungkan pada ruang makan yang bersebelahan dengan ruang santai keluarga.


Suara-suara samar mulai terdengar saling bersahut-sahutan. Itu adalah suara Axel, Klayver, dan wanita asing yang Alice duga baru saja mereka bicarakan sebelumnya.


Seorang wanita asing tengah duduk berhadap-hadapan dengan Klayver di meja makan. Sementara Axel duduk sendiri di kursi paling pojok. Anak kecil itu menatap bosan pada kedua orang yang tengah berdebat entah apa di hadapannya. Dia sesekali menimpali mereka dengan kesal.


Rupanya kedatangan Alice cukup menarik perhatian. Semua orang di meja makan menoleh ke arahnya dan tersentak secara bersamaan.


"Hai, Sayang. Aku sudah menunggumu lama." Klayver tersenyum cerah. Ada kerinduan murni di matanya.


Alice melirik Rachel dan mengedipkan mata. Seolah ingin mengatakan bahwa 'Sudah kubilang kan, suamiku tidak mungkin berselingkuh.'


"Mooommmmm, aku merindukanmu." Belum sempat Alice menanggapi Klayver, Axel sudah berlari kecil menyambutnya. Anak itu seketika menyurukkan kepalanya ke kaki Alice dan memeluk ibunya lama.


"Oh, halo jagoanku, akhirnya kau pulang juga. Kukira aku akan kehilanganmu!" Alice berlutut dan mengusap kepala anak tersebut dengan rasa sayang.


"Bagaimana mungkin kau kehilanganku. Aku selalu mengingatmu setiap malam sebelum tidur. Di rumah Grandma, aku selalu bermimpi tentangmu."


"Bagus. Kau memang putraku yang paling hebat." Alice menggendong Axel di pinggang dan kembali menatap Klayver.


"Sepertinya kau membawa tamu." Alice melirik ke arah wanita yang memakai dress hitam ketat dengan banyak lekukan terbuka di sana-sini. Rambutnya yang pirang sebahu digerai dengan hiasan mutiara kecil.


Pandangan Alice jatuh pada belahan dada Jasmine yang memiliki tato kalajengking dengan penampilan mengundang. Hillsnya mungkin dua puluh centimeter, mungkin lebih. Dengan hills seperti itu Alice yakin wanita lain pasti akan jatuh di langkah pertama mereka.


Netra Jasmin sewarna laut, dengan sinar misterius. Dengan sekali lihat, Alice tahu wanita ini bukanlah sosok sembarangan.


"Perkenalkan, dia Jasmine, wanita yang kubawa dari New York untuk melindungimu sementara waktu. Jasmine, dia Alice, istri yang kuceritakan beberapa waktu yang lalu."

__ADS_1



__ADS_2