Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
037 - SEASON 2


__ADS_3

Klayver beriri di balkon di bawah sinar terik matahari langsung. Di sisinya, Violin menatap putranya dengan tatapan sendu. Untuk kali ini, topeng dinginnya lenyap. Matanya menyorot banyak emosi yang selama ini dia simpan untuk putranya.


Dia seorang ibu. Sekuat apa pun ia menahan pembatas agar emosinya tak keluar ke permukaan, tetap saja hatinya sensitif setiap kali memikirkan Klayver.


Delapan tahun. Dia telah kehilangan putranya. Tanpa kabar apa pun yang bisa ia dapat. Tak melihat, tak menyapa, dan tak berkumpul. Wanita mana yang tidak sakit dengan kenyataan ini.


Benar. Violin telah membuat kesalahan. Dia membuat wanita yang paling berharga bagi hidup Klayver menghilang.


Tetapi jika ditilik kembali, bukankah Violin hanya sekedar mendorong wanita itu mengeluarkan watak sebenarnya?


"Kau menyalahkanku, bukan? Atas apa yang terjadi beberapa saat lalu dan atas peristiwa delapan tahun silam." Violin mengungkapkan prasangkanya. Dia menatap lurus ke depan, tanpa sekali pun menoleh ke arah putranya.


Klayver terdiam lama. Dia hanya menikmati udara musim panas yang terasa mulai sedikit lembab. Laporan cuaca mengatakan hari ini New York akan cukup panas. Membuat udara terasa berat dan gerah.


"Untuk apa memperjelas sesuatu yang sudah jelas, Mom? Dari dulu, kau selalu berusaha mencampuri urusanku. Seolah pilihanku adalah sesuatu yang harus melalui seleksimu. Lantas, aku ini apa, Mom? Barang mainanmu yang semuanya harus kau atur?" Klayver bertanya tajam. Dia menopangkan kedua tangan di atas teralis balkon dan sedikit membungkukkan badan.


Violin mendesah kecil. Dia melirik putranya dari sudut mata dan berusaha tersenyum. Dari dulu, Kalyver selalu keras kepala. Opini yang ia miliki sama kuatnya dengan Violin. Bukan hal mengejutkan juga mereka selalu berbenturan pendapat.


"Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya ingin mengetahui seberapa pantas pilihan yang kau ambil. Aku tidak ingin kau kecewa, Klayver. Kau adalah orang yang paling kuat di antara anak-anakku. Tetapi kau juga orang yang paling rapuh di antara mereka. Ini satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untukmu." Terdengar ketulusan yang hangat dari Violin.


Tangan Violin terulur untuk menyentuh Klayver, dia ingin memberikan pengertian dan perhatian. Tetapi melihat tatapan berjarak di mata anaknya, Violin mengurungkan niat. Dia menarik tangannya kembali dan terkulai lemah di sisi tubuh.


"Kau akan tetap melakukan itu, Mom. Dulu kau melakukannya, sekarang melakukannya, dan di masa depan kau juga akan terus membayangiku. Aku muak memikirkan kemungkinan itu. Jadi, dari pada kita terus bertengkar, lebih baik aku menjauh darimu dan dari keluarga Liecester." Klayver berterus terang.


Satu-satunya hal yang ia hargai dalam hidup ini adalah privasi. Jika Violin tak bisa memberikan itu padanya, dia tak keberatan membuang semua predikat yang telah keluarga ini berikan untuknya.


"Kau masih marah dengan tindakanku delapan tahun yang lalu?" Violin kembali membuka ingatan Klayver.


Ini adalah masalah yang mengganjal di antara mereka. Jika tetap didiamkan saja, baik Violin maupun Klayver tidak akan memiliki titik temu.


"Ya." Klayver menjawab apa adanya.


"Kau menyalahkanku atas kehilangan istri dan calon anakmu?"


"Memang kenyataannya begitu. Andai kau tak membongkar semua identitasku, mungkin saat ini aku masih memiliki keluarga yang utuh."


"Jangan terlalu bermimpi tinggi, Klayver. Kehidupan seperti apa yang kau dapatkan jika pernikahanmu saja mengandung kebohongan."


"Aku tak berniat membohongi Holy selamanya. Pelan-pelan, aku berencana akan membuatnya mengerti."


"Dia menolak mengerti saat aku memberitahunya siapa kau sebenarnya. Jika saat itu dia memilih menolak mengerti, selamanya dia tak akan pernah cukup kuat memahamimu."


Klayver menampakkan amarah yang sangat kuat di balik matanya yang tajam. Dia mendesah kecil dan mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh.


Membayangkan Holy yang tewas dalam proses aborsi telah melukai semua kesadaran Klayver. Setiap kali ia mengingatnya, kebenciannya pada Violin semakin besar dan beranak pinak. Membuat jarak mereka kian melebar.


"Kau yang telah gegabah mengambil tindakan dan mengancurkan semuanya." Klayver menyemburkan amarahnya dengan berapi-api.


"Oh, benarkah itu? Klayver, kau harus tahu satu hal. Jika Holy memiliki cinta yang kuat, dia tak akan jatuh diterpa gelombang. Tak akan tumbang di bawah ancaman. Tak akan menghilang di bawah tekanan. Tindakannya telah membuatnya menjadi wanita rendah yang tak pantas kau bela. Kau juga harus ingat dia sendirilah yang berinisiatif menggugurkan janin kalian. Apa semua itu tak membuka matamu, juga?"


Violin membalas dengan sama marahnya. Dari awal pertemuan, dia telah melihat gelagat yang tak baik dari gadis amerika latin tersebut. Tetapi Klayver saat itu sudah terlanjur jatuh cinta. Putranya kehilangan semua penilaian objektif.


"Kau yang telah mendorongnya, Mom." Kalyver meninju teralis dengan sepenuh tenaga. Dia sangat benci membahas masalah ini. Seandainya saja ia tahu pertemuan kali ini akan membuat pertengkaran lama terungkit, akan lebih baik ia tetap di Manhattan. Melewatkan semua janji yang ia buat dengan ibunya sendiri.


"Ya. Aku telah mendorongnya hingga sampai di batas terjauh dari gadis itu. Kupikir dia cukup kuat mempertahankanmu. Tetapi nyatanya, dia tak ubahnya seperti gadis dangkal pada umumnya."

__ADS_1


"Mom!"


"Klayver! Lihat Alice. Lihat dia! Itulah seharusnya yang dilakukan seorang istri. Tetap mempertahankanmu sekali pun aku menekan dan mengancamnya. Tak peduli nyawanya bisa saja melayang sewaktu-waktu, yang dia inginkan hanya satu. Mempertahankanmu!


"Cinta tidak mengukur kekuatan. Tidak selalu yang kuat melindungi yang lemah. Tidak selalu yang kuat mengayomi yang rapuh. Masing-masing dari pasangan akan melakukan apa saja, dengan yang ia miliki, untuk mempertahankan satu sama lain.


"Seperti halnya aku dan ayahmu. Jika salah satu dari kami diancam untuk saling meninggalkan, tidak peduli aku harus menghancurkan seluruh dunia atau harus dihancurkan oleh seluruh dunia, aku tetap akan memilih berada di sisinya. Begitupun juga dengan ayahmu. Jadi, sebutkan kesalahan yang telah aku lakukan, Klayver. Di mana letak kesalahanku karena telah mengusir wanita dangkal dalam masa lalumu?"


Dada Violin kembang kempis setelah berhasil memuntahkan semua isi hatinya. Dia mengatur nafasnya agar kembali normal dan menatap putranya dalam-dalam.


Apa yang ia sampaikan adalah sebuah kenyataan. Dia berharap putranya cukup cerdas untuk bisa menerima semua pendapatnya.


Klayver tertegun lama. Ingatannya kembali tertarik saat ia tadi melihat adegan terakhir di ruang makan. Saat itu ia berdiri di balik Alice. Klayver mendengar semua penolakan Alice yang wanita itu lemparkan terhadap Violin.


Sulit diakui, tetapi wanita tersebut lebih memilihnya dari pada tunduk di bawah kemauan Violin.


Rasa posesif mulai menyerang Klayver. Memikirkan Alice membuat sisi dirinya yang selama ini hilang terangkat kembali ke permukaan.


Alice berhasil memicu sikap lain dirinya yang tak pernah ia sadari. Dia sangat ingin melindunginya, menjamin keamanannya, dan anehnya, membuatnya bahagia.


Apalagi setelah kejadian tadi. Rasa posesifnya untuk Alice menjadi berlipat ganda. Dia mulai menganggap Alice miliknya. Tak ada satu orang pun yang berhak menyentuh miliknya.


"Klayver, mari kita berdamai. Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun lagi setelah ini. Melihat kau mampu menemukan wanita yang sekuat Alice, aku sudah lebih dari cukup untuk merasa tenang. Bagaimana pun juga, kau adalah putraku. Sulit bagiku jika kita terus menjaga jarak." Violin berkata lirih. Dia menggenggam lengan putranya, menyalurkan semua harapan yang tersisa.


Klayver menatap ibunya dengan seksama. Dia melihat keprihatinan yang mendalam di sudut mata tua wanita itu. Kulitnya mulai mengerut di beberapa tempat, dan cara tersenyumnya mengandung beban yang lama terpendam. Mungkinkah beban itu karena dirinya?


Sudah berapa lama malam-malam yang ia habiskan memikirkan ibunya dan selalu ia sangkal.


Sudah berapa ribu kenangan tentang ibunya hadir tetapi ia usir?


Saat ini, ibunya yang mulai menua berdiri persis di depannya, menatap Klayver dengan sendu. Apakah luka yang ia goreskan terlalu dalam? Apakah hatinya telah membeku untuk waktu yang telah lama?


"Mom, berjanjilah jangan terlalu dalam ikut campur dengan kehidupanku. Aku sudah dewasa, saatnya aku membuat keputusan sendiri." Klayver berkata lembut, berharap ibunya mampu memahami permintaan sederhana yang ia miliki.


Violin menatap putranya dan mulai memahami sesuatu. Klayver benar. Dia telah banyak melangkah di luar batas yang bisa ditoleransi. Sudah sepantasnya, anaknya merasa terganggu. Bagaimana pun juga, Klayver tetaplah lelaki yang mengingkan kendali dalam hidupnya sendiri. Tidak ada orang yang suka hidupnya didikte dan dicampuri urusannya.


Jika memang ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Klayver pulang dan kembali menjadi putranya, Violin tak keberatan melakukan permintaan tersebut.


"Mom janji. Ini adalah terakhir kalinya Mom mencampuri urusanmu. Selebihnya, Mom hanya akan menjadi pengamat saja." Violin mengangguk kecil, meyakinkan Klayver.


"Baguslah, Mom. Kita akhirnya mencapai kesepakatan juga."


Klayver mencondongkan tubuhnya, memeluk tubuh ramping Violin dan mengecup puncak kepalanya dengan pelan.


Violin tersentak dengan perlakuan Klayver. Dia tak percaya kehangatan seperti ini mampu Klayver berikan. Dia menatap putranya dengan mata berbinar dam berkata pelan.


"Kau benar-benar telah menjadi lelaki dewasa, Klayver."


Mereka berdua berlalu dari balkon dan berjalan beriringan menuju lantai satu. Di ruang tengah, seluruh anggota keluarga, termasuk James dan Alice telah menunggu mereka cukup lama.


Mereka yang melihat kedatangan Klayver segera berdiri dari duduknya dan tersenyum lega menyadari Violin kembali dengan wajah sumringah.


Dua orang ini telah berhasil berbicara secara baik-baik dan hasilnya cukup membuat mereka semua bahagia. Hubungan ibu dan anak yang pernah retak akhirnya kembali dipersatukan.


"Baiklah. Kuanggap kalian telah mencapai suatu kesepakatan. Jadi, segalanya baik-baik saja, bukan?" James bertanya memastikan. Air mukanya sedikit khawatir, berbeda jauh dengan anak-anaknya yang lain.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Kami berbaikan." Violin mendekat ke arah James, memeluknya pelan dan tertawa manja seperti anak kecil.


Alice yang menyaksikannya hanya bisa terbengong. Siapa sangka di balik sikap dinginnya, wanita itu memiliki sisi lembut yang hanya ia perlihatkan pada James.


"Alice, kita perlu bicara."


Tanpa babibu lagi, Klayver menyeret Alice menuju kamar di lantai atas. Semua orang saling berpandangan heran. James menatap istrinya dan menaikkan satu alis, bertanya tanpa suara.


"Aku tidak tahu mereka akan membicarakan apa. Tapi sepertinya, Klayver semakin menyadari bahwa istrinya sangat istimewa."


Violin mengedipkan salah satu matanya pada anak-anak dan tertawa lebar. Tawa yang telah lama tidak ia miliki sepanjang tahun-tahun terakhir. Tawa yang kembali setelah putranya yang hilang pulang ke dalam hidupnya.


Di kamar atas, Klayver duduk di ujung ranjang, menatap istrinya dengan seksama. Sulit dimengerti wanita ini telah memilih mempertahankannya dan berdiri berani melawan Violin. Sebenarnya, alasan apa yang ia miliki?


"Kenapa kau memilih untuk bersamaku di bawah tekanan Mom?" tanya Klayver, menginginkan jawaban sebenarnya.


Alice, yang tidak pernah menyangka akan diberi pertanyaan seperti ini, hanya tersenyum canggung. Dia mengetuk-ngetukkan ujung alas kaki di atas permukaan keramik. Dengan tergagap, Alice mencoba menguraikan alasan dangkal yang terlintas di benaknya.


"Karena bagaimana pun juga, kesepakatan pernikahan kita adalah perjanjian yang mengikat. Aku tak bisa meninggalkanmu sebelum kesepakatan kita terpenuhi. Begitu pun sebaliknya."


Alice tersenyum kecil, berjalan pelan menuju sudut kamar dan menjatuhkan diri di atas kursi berlapis vinil.


"Begitu?" tanya Klayver, tatapannya menajam.


"Ya. Memangnya apa lagi?"


'Memangnya aku harus mengatakan padamu hatiku mulai tercecer olehmu dan bisa sekarat jika kau tinggalkan, begitu? Di mana akan kutaruh harga diriku?' batin Alice merasa kalah.


Dalam kehidupan, pihak yang paling lemah adalah pihak yang menyimpan cinta. Akan berubah rapuh kapan pun keadaan menyudutkannya.


Sialnya. Alice telah menjadi pihak tersebut. Sudah terlambat baginya mengubah keadaan. Emosi bukan hal sederhana yang bisa diputar balikkan begitu saja. Jika perasaan itu sudah terlanjur tumbuh, akarnya akan menguat dan membentuk ratusan cabang di dalam tanah.


"Ada apa, Klayver?" tanya Alice waspada. Mungkinkah lelaki itu mulai mencurigai dirinya?


Klayver, adalah lelaki dingin yang berjarak. Lelaki yang telah terlanjur memiliki cinta secara mendalam pada wanita lain bernama Holy. Akan sangat tak tahu malu jika Alice mulai memupuk harapan padanya. Satu-satunya hal yang cukup baik untuk ia lakukan adalah meyembunyikan emosinya sedalam mungkin, agar tak dijadikan bahan lelucon oleh Klayver dan keluarga Liecester.


"Tidak apa-apa." Klayver berdiri, meninggalkan kamar tanpa aba-aba. Alice hanya berdiri bingung, gagal meraba reaksi Klayver.


Ada apa dengan lelaki itu? Sikapnya cukup aneh.


Di luar, Klayver berjalan cepat menuju ruangan paling ujung di lantai atas. Terdapat sebuah ruangan tempat memamerkan lukisan dan foto-foto lama keluarga.


Ruangan ini ditutupi oleh wallpaper bermotif transparan. Di setiap sisinya terpasang banyak foto hitam putih dari semua anggota keluarga, termasuk potret Klayver saat usianya masih remaja.


Violin adalah orang yang suka seni. Dia senang mengabadikan banyak momen berharga keluarga Liecester. Jauh di balik sikap dinginnya, dia tetaplah seorang ibu yang hangat.


Klayver duduk di permadani merah yang terhampar dan bertopang dengan kedua lengannya. Dia mendongak ke atas, mencoba memahami semua hal.


Alice mempertahankannya di bawah tekanan Violin hanya karena kesepakatan yang terlanjur terikat di antara mereka. Kesepakatan bisnis yang mereka lakukan sebelum pernikahan mereka berlangsung.


Seharusnya Klayver sudah bisa menduganya. Alice adalah wanita yang realistis. Dia bertindak sesuai kepentingan dirinya sendiri.


Seharusnya semua itu tidak akan menjadi sebuah masalah. Hanya saja, saat ini Kalyver merasa amarahnya sulit untuk ia kendalikan.


Dalam hati kecilnya, ia mulai memupuk harapan. Andai saja ada ketulusan murni dari Alice untuknya. Ketulusan yang sepertinya mustahil untuk ia dapatkan.

__ADS_1


Dari dulu, ia selalu meletakkan harapan pada orang yang salah. Dulu Holy, kini Alice.



__ADS_2