Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
10 - SEASON 2


__ADS_3

Rachel terdiam membeku. Bagaimana bisa seperti ini. Mulutnya bergetar tak terkendali. Apakah ia harus melakukan usul konyol tersebut hanya untuk menutupi gosip yang tak sedap.


"Kupikir, itu adalah ide yang cukup bagus juga. Bagaimana jika kalian melakukan hal itu? Aku berjanji tak akan membebanimu lagi, Rachel. Aku hanya ingin menyelamatkan situasi ini. Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja setelah semuanya selesai. Dan mengenai Harry, aku akan membuat anak itu belajar tentang konsekuensi."


Alena menggenggam lengan Rachel dengan wajah penuh pernohonan. Wajah cantiknya terlihat khawatir. Sepertinya, bagi keluarga besar Harry, nama baik adalah segala-galanya. Jujur, Rachel merasa dimanfaatkan oleh keadaan ini.


"Tetapi menikah dengan kakak dari calon suamiku sendiri, bukankah itu artinya sama saja menciptakan gosip baru?" Rachel mendesah putus asa. Dia benar-benar terjebak oleh nasib yang mengenaskan.


"Memang. Tapi tidak akan sebesar gosip pembatalan pernikahan. Bagaimana jika kalian mengaku saling mencintai pada saat-saat terakhir sehingga memutuskan untuk menikah? Katakan saja pada pers nanti jika kau akhirnya menyadari bahwa cinta sejatimu adalah Maxen, bukan Harry."


Salah satu hal yang menjadikan semuanya rumit adalah karena mereka terlalu berkuasa sehingga acara ini disorot oleh banyak media.


Alena menyentuh punggung Rachel. Kedua tante Harry, Magdalena dan Fella juga membujuk dengan alasan yang kurang lebih sama. Sementara, Anna, adiknya hanya terpaku tak tahu harus berbuat apa. Dia menyerahkan keputusan ini sepenuhnya pada sang kakak. Rachel pasti bisa menganbil langkah yang baik.


"Pernikahan bukanlah sebuah ajang permainan." Rachel berkata kelu.


Alena kembali meyakinkan Rachel dengan bujukan yang lembut. "Aku tahu, tetapi kondisi kita saat ini benar-benar genting. Lakukanlah apa yang kami usulkan, Rachel. Nanti biar kami yang urus perubahan dokumenya. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik sebagai menantuku."


Rachel memandang Alena lama. Pikiranya berkecamuk tak menentu. Dia mengusap bibirnya beberapa kali kemudian mengangguk lemah.


"Baik." Rachel perlu menyelamatkan diri dalam situasi seperti ini. Ya Tuhan, andai Alice berada di dekatnya, wanita itu pasti bisa memberikan saran terbaiknya.



Alice memakirkan mobil di halaman parkir sebuah restoran ternama. Dia memberikan isyarat mata pada William yang membuntutinya dengan mobil lain sepanjang perjalanan. William hanya mengangguk menanggapi Alice dan berjalan mengikuti Alice beberapa saat kemudian.


Restoran ini adalah restoran bertema Itali. Alice berjalan mrnyusuri barisan meja yang tertata rapi menuju ruangan VIP di ujung lorong. Dia membuka bilik khusus dan menempati ruangan nomor A.05, sepeti arahan Leon.

__ADS_1


Desain restoran ini sangatlah indah dan berkelas. Langit-langitnya tinggi dengan tiang-tiang besar sebagai penopang utama. Sisi-sisi dindingnya dihiasi oleh lukisan terkenal. Kebanyakan lukisan-lukisan tersebut memiliki pola abstrak. Lagu classik mengalun lembut menyambut setiap pengunjung di tempat ini.


Para pelayan sangat ramah dan bertindak gesit. Mereka memiliki keahlian dua bahasa. Itali dan Inggris. Sehingga jika ada warga negara Itali datang berkunjung, mereka akan merasa sangat disambut.


Di ruanagn VIP tertutup ini, Alice duduk seorang diri. Leon sudah mewanti-wantinya untuk menunggu dengan sabar. Eyes Evil akan datang sendiri ke tempat Alice.


Saat ini Alice menghabiskan waktunya dengan memilah-milah beberapa menu utama. Seorang pelayan datang ke sisi Alice dan menyarankan sebuah sampanye terkenal. Alice menggeleng lemah menolak tawaran darinya. Saat ini dia butuh memaksimalkan kerja otaknya, sehingga sampanyae berada dalam daftar minuman terlarang baginya.


"Satu porsi bruscetta, satu porsi lasagna, dan gran caffe speciale, per piacere," pinta Alice pada salah seorang pelayan yang memakai seragam berbentuk gaun khas italia.


"Baik, Signora." Pelayan itu mengangguk ramah dan segera berlalu pergi.


"Grazie," ucap Alice tulus.


Alice mengamati sekeliling dan mendengar bisikan yang sangat familiar. William mengeraskan suaranya pada salah seorang pelayan saat ia memasuki ruangan di sebelahnya. Lelaki itu memberi informasi secara tersirat bahwa ia berada dekat dengan Alice sehingga wanita itu tak perlu khawatir.


Alice masih terpekur dalam diam saat ia tiba-tiba menyadari sesosok laki-laki mengenakan jaket kulit dan masker hitam berdiri di sisinya. Alice tersentak kaget. Mulutnya membentuk huruf O tanpa suara.


Ya Tuhan. Bagaimana ia tak menyadari kedatangan laki-laki ini? Alice bahkan tak mendengar suara kriet sedikit pun ketika lelaki ini masuk ke ruangan VIP.


Laki-laki tersebut berjalan ringan dan duduk santai di hadapan Alice. Gerakanya seperti angin. Hampir tak memiliki suara sedikit pun. Langkahnya juga sangat hati-hati.


Alice kagum. Sangat kagum. Lelaki ini memiliki reputasi seperti yang orang-orang katakan selama ini.


"Eyes Evil?" Alice bertanya pelan.


Lelaki itu mengangguk datar. Ia menarik ujung jaketnya yang menutupi kepala dan melepas masker hitam yang ia gunakan.

__ADS_1


Jantung Alice berdetak cepat. Dia tak yakin melihat wajah Eyes Evil secara langsung apakah akan menjadi suatu anugerah atau musibah. Jika lelaki itu nanti memutuskan untuk tidak mempercayainya, Alice hanya akan berakhir dalam kematian tragis.


Tentu saja ia akan dibungkam selamanya karena terlanjur mengetahui identitas wajah sang pembunuh legenda. Eyes Evil pasti tak ingin Alice menjadi sebuah ancaman bagi keselamatan dirinya.


Jantung Alice masih belum stabil saat lelaki di hadapanya mulai menampakkan wajahnya. Alice menatapnya takut-takut.


Profil wajah orang ini sangatlah sempurna. Ia memiliki wajah campuran antara Itali dan Eropa. Mungkinkah karena alasan itu sehingga ia memilih restoran ini? Karena Italia adalah bagian dari diri lelaki tersebut.


Kulit Eyes Evil berwarna tembaga. Struktur wajahnya indah dengan garis-garis tegas yang terkesan maskulin. Retina matanya berwarna cokelat keemasan, sama seperti Alice. Rambutnya sedikit bergelombang berwarna cokelat gelap.


Hidungnya mancung, bibirnya keras dan alisnya tebal. Pandangan matanya setajam elang. Dia memiliki pembawaan kalem tetapi berbahaya. Udara seolah menguarkan aroma bahaya yang kuat saat lelaki ini mulai berada satu ruangan dengan Alice.


Alice menundukkan kepala. Dia membiarkan rambut merah bergelombangnya menutup sebagian wajahnya. Berharap dengan begini emosi dan ekspresinya ikut tersamarkan juga.


"Alice Mallory?" Suara bariton lelaki ini cukup dalam dan penuh makna. Alice hanya bisa mengangguk mengonfirnasi.


"Jika kau menginginkan aku melanjutkan bisnis ini, suruh William pergi." Eyes Evil menunjuk ruang di sebelah mereka, tempat William bersembunyi.


Alice tersentak hebat dan menatap eyes evil tak percaya. Bagaimana bisa lelaki itu mengetahui hal-hal seperti ini? Mungkinkah Alice telah melakukan sebuah kesalahan? Tetapi bukankah ia dan William telah melakukan semua proses ini dengan kehati-hatian penuh? Yang lebih aneh lagi, lelaki itu mengetahui nama kepala pelayanya.


Alice mencoba menganalisis keadaan. William adalah orang kepercayaan Anson. Salah satu hal yang membuat Eyes Evil mengetahui identitasnya adalah mereka saling terhubung sebagai pelaku bisnis gelap. Entah posisi apa yang William dulu miliki, hal tersebut rupanya membuat mereka saling mengenal.


Ya Tuhan, bagaimana jika Alice akan berakhir menjadi debu dalam pemakaman sebentar lagi?


Mata iblis yang kini menatapnya, bagaikan mata kematian yang siap mengambil kehidupanya kapan saja.


__ADS_1


__ADS_2