
Hari ini, seperti yang telah diperkirakan Klayver, Violin datang berkunjung. Dia bersama James tiba di kediaman Alice saat hari telah siang. Beruntung hari ini Alice tidak pergi ke mana-mana sehingga ia bisa menyambut mertuanya. Hanya saja, Klayver sedang pergi entah ke mana. Membuat Alice terpaksa terjebak bersama mertuanya seorang diri.
"Bagaimana kabarmu, Alice?" tanya James dengan nada kebapakan.
Satu-satunya yang Alice syukuri adalah kedatangan Violin didampingi suaminya. Entah kenapa, lelaki tersebut selalu membawa efek menenangkan.
"Baik. Bagaimana dengan kalian?" tanya Alice dengan senyum dipaksakan.
Masalah Rachel masih menggelayuti pikiran Alice. Konsentrasinya mudah buyar saat menghadapi orang lain.
"Tentu saja kami selalu menjalani hari yang luar biasa. Di mana Klayver?" James menoleh ke sekeliling, mencari putranya.
Alice meringis bingung. Dua jam lalu Klayver hanya berpamitan ingin keluar. Alice tidak tahu di mana tepatnya keberadaan suaminya tersebut.
"Dia keluar untuk suatu kepentingan. Perlukah aku menghubunginya sekarang?" tanya Alice mencoba menawarkan diri.
Mungkin, jika Alice meminta Klayver pulang lelaki tersebut bisa segera kembali. Tetapi dia khawatir urusan yang Klayver lakukan sangat penting sehingga takut mengganggunya. Bagiamana jika hal tersebut berkaitan dengan urusan pihak-pihak pengejar Klayver?
"Tidak perlu. Nanti pasti ia akan kembali. Dia sudah tahu bahwa kami akan datang ke sini." James berjalan santai ke kamar yang ditunjuk oleh Alice sebagai tempat istirahat mereka.
Violin dari tadi hanya berdiam diri. Dia lebih memilih menjadi pengamat dari pada aktif membuat obrolan. Sekarang Alice tahu dari mana sikap dingin Klayver diturunkan. Dari ibunya, tentu saja.
"Kalian beristirahatlah dulu. Satu jam lagi aku akan menyiapkan makan siang. Jika membutuhkan sesuatu, tekan saja tombol di atas meja nakas, nanti salah satu pelayan akan membantu kalian."
Alice berkata ramah. Dia mempersilakan mertuanya memasuki sebuah kamar besar yang didesain khusus. Dindingnya berwarna cream dengan walpaper abstrak di setiap sudutnya. Ranjangnya berukuran king size. Sebuah seprai berwarna silver tertata rapi seolah menawarkan kenyamanan luar biasa.
James berdecak puas atas kamar yang diberikan Alice. Setelah menantunya pergi, dia menoleh ke arah istrinya dan berkata bangga.
"Lihatlah. Menantu kita memiliki selera interior yang hebat," pujinya.
Violin mengangguk menyetujui dan segea menjatuhkan diri di sisi ranjang. Mereka berdua tidak tahi Klayver-lah yang telah mendesain ruangan ini.
"Bagaimana kedaan Alice menurutmu?" tanya James serius. Dia menutup pintu kamar dengan santai dan berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Dia terlihat sedikit tertekan oleh sesuatu. Kuharap pernikahan mereka tak bermasalah. Kau tahu, James. Aku telah memupuk harapan tinggi terhadap pernikahan mereka. Alice wanita yang cukup kuat untuk mengimbangi putra kita. Jika pernikahan mereka hancur, aku takut Klayver akan hilang arah kembali." Violin berkata jujur.
Dia kembali teringat pembicaraan Alice terakhir kali. Saat itu Violin mengetahui semua tentang situasi pernikahan mereka yang dilandasi oleh kesepakatan dangkal. Tetapi, Violin memiliki pemikiran yang kuat bahwa putranya akan membuat pernikahan mereka berhasil. Dia sudah bisa membaca kasih sayang mereka yang terlihat jelas.
Hanya saja, terkadang harapan seseorang hanya tinggal harapan. Terlalu sering manusia dikecewakan angan yang muluk-muluk. Violin berharap ia tidak jatuh terlalu dalam atas keinginan yang ia miliki terkait pernikahan putranya.
"Violin, percayalah padaku. Aku yakin pernikahan mereka akan berhasil. Sebagaimana kita dulu." James tersenyum lembut. Mata hitamnya menerawang, mulai mengingat banyak kenangan tentang masa lalunya. Kehidupan mereka dulu tidaklah mudah. Pernikahan James merupakan hasil dari perjodohan. Dua tahun mereka menjalani hari-hari hambar sebelum akhirnya berhasil saling mencintai.
Semua hal di dunia ini perlu perjuangan. Tidak ada yang instan. Apalagi sebuah pernikahan. Semuanya perlu waktu untuk saling menyesuaikan.
Satu jam kemudian, Violin dan James turun ke ruang makan dengan dipandu oleh William. Pelayan tua tersebut berhasil menarik kekaguman James. Bahkan di usia tuanya, ada aura kekuatan dan kesetiaan yang dimiliki William untuk menjaga keluarga ini. Dia jenis orang yang akan setia sampai mati.
Alice telah duduk di meja makan menyambut mereka. Di sisinya, ada seorang anak kecil berusia lima tahum dengan bola mata hitam gelap yang penuh rasa ingin tahu.
"Sampaikan salam kepada Grandma, Axel!" Pinta Alice lembut menepuk bahu putranya.
Mata Axel semakin membulat lucu. Dia turun dari kursi dengan sedikit kesulitan dan berjalan terburu-buru ke arah mereka.
"Mom bilang kalian adalah Grandma dan Grandpa yang datang dari New York. Aku Axel. Aku senang akhirnya aku memiliki Grandma seperti teman-temanku." Axel meloncat-loncat gembira. Alice yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati ia mengerutu karena Axel masih terlalu lugu sehingga tidak mengetahui identitas kedua orang tua itu.
Violin tersenyum penuh rasa sayang. Melihat anak kecil yang menyebutnya sebagai Grandma, ada percik kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
"Halo, Jagoan! Aku senang memiliki cucu sepertimu," katanya bangga dan meraih tubuh gempal Axel yang lucu.
Alice melihat pemandangan tersebut dengan detak jantung yang tak menentu. Violin adalah orang yang dingin. Sulit membayangkan ia bisa berinteraksi dengan baik kepada anak-anak.
"Jika aku memiliki Grandma, kenapa aku baru memilikinya sekarang. Kenapa tidak dari dulu saja?" tanya Axel polos. Alice sudah akan menghentikan putranya untuk berbicara lebih jauh, tetapi Violin menahannya.
"Yah, Grandma juga berharap mengenalmu lebih awal. Tetapi itu pasti tidak akan mengejutkanmu. Ada baiknya memberikan sedikit kejutan, bukan?" Violin mengedipkan sebelah matanya dan mengangkat Axel dalam gendongannya lebih tinggi lagi. Mereka seperti dua teman lama yang kembali bertemu. Alice sangat tak menyangka Violin memiliki pembawaan alami dalam menghadapi anak-anak.
"Apakah aku boleh mengunjungi kalian juga suatu hari nanti?" tanya Axel penuh harap. Mata anak tersebut berbinar seolah-olah menemukan seseorang yang sudah lama ia rindukan.
Hati Alice terasa teremas. Dia menyadari dari awal, baik Anson maupun Alice tak lagi memiliki orang tua. Orang-orang di sekitar Axel hanyalah mereka dan para pelayan yang setia. Tidak pernah ada sosok kakek atau pun nenek yang bisa Alice perkenalkan kepada putranya.
Melihat Axel bisa sebahagia ini, Alice jadi merasa bersalah. Anak itu sebenarnya merindukan situasi seperti anak-anak lainnya. Memiliki keluarga yang utuh dan saudara yang lengkap.
__ADS_1
"Tentu boleh, Sayang. Apa kau ingin ikut kami besok lusa? Kami akan kembali ke New York dua hari lagi." Kini giliran James yang menimpali.
Axel menoleh ke arah Alice, memohon tanpa kata. Wanita itu hanya bisa berdaham dan terbatuk kecil menutupi kegugupannya.
"Bolehkah, Mom? Aku belum pernah ke New York," pinta Axel memelas.
"Kita bicarakan masalah itu nanti. Axel, sekarang waktunya makan. Kembalilah duduk ke sisi Mom dan biarkan Grandma menikmati makan siang tanpa gangguanmu!" Alice berkata tegas.
Axel melirik ke arah Violin dan bertanya dengan suara lirih. "Bolehkah aku duduk di sisi Grandma?" tanyanya takut-takut.
"Tentu saja boleh. Kau cucu Grandma, kenapa tidak boleh. Bukan begitu, Alice?" tanya Violin sedikit tajam.
Baiklah. Kali ini Violin tak bisa lagi mengelak. Dengan lemah, dia mengangguk menyanggupi permintaan putranya.
"Baiklah. Bersikaplah yang baik, Axel
Atau aku akan menghukummu."
…
Alice duduk di halaman belakang sore ini. Axel sibuk bermain degan Violin dan James. Anak itu bahkan memilih tidur siang di kamar mereka dan dengan senangnya, Violin menerima.
Memang sangat lucu membayangkan wanita sedingin Violin bisa bersikap hangat dan menjadi penyayang. Terlalu kontradiktif dengan sikapnya selama ini.
Hanya saja, meskipun wanita itu memanjakan Axel dengan berlebihan, tetapi sikapnya terhadap Alice masih saja berjarak. Benar-benar wanita berkepribadian ganda. Dari mana produk semacam itu berasal?
Alice sekilas melihat bayangan Susan yang sedang sibuk merapikan dapur. Alice jadi teringat setelah kejadian pagi kemarin dengan Maxen, sikap Susan terhadapnya sama sekali tak berubah. Mungkinkah Maxen belum memberitahunya tentang penyerangan yang Alice lakukan? Tampaknya Susan tak memiliki ketakutan sama sekali. Kelihatannya dia tenang-tenang saja dua hari ini.
Alice berdiam diri cukup lama menikmati senja. Setelah beberapa waktu berlalu, dia akhirnya memutuskan untuk memanggil Susan secara pribadi dan membicarakan masalah ini.
Alice berdiri, meregangkan ototnya sebentar dan berjalan menuju dapur yang tak jauh.
"Susan?" panggilnya.
Wanita gempal yang tengah sibuk memasukkan piring ke mesin cuci itu otomatis berbalik terkejut dan tersenyum kecil.
"Ada apa, Alice?" tanyanya ringan.
Susan seperti tidak kaget mendengar permintaan majikannya. Dia mengangguk kecil melepaskan celemek putih yang sebelumnya ia pakai.
Mereka memyusuri beberapa ruangan utama sebelum akhirnya berhasil tiba di sebuah ruang kerja yang biasanya Alice gunakan untuk mengontrol bisnisnya.
Alice menutup pintu ruangan agar pembicaraan tidak bisa ditangkap oleh siapa pun. Dia membutuhkan privasi penuh saat ini.
"Susan," Alice membuka pembicaraan. Dia duduk berhadapan dengan juru masaknya dibatasi dengan meja kaca transparan.
"Ya. Katakan saja, Alice. Aku sudah menunggu momen ini." Susan menjawab lembut. Dia menatap Alice penuh pemahaman. Sepertinya Susan mengerti ke mana arah pembicaraan ini ke mana.
"Kau tahu aku akan membicarakan apa?" tanya Alice tak percaya.
"Sangat tahu. Pasti tentang aku yang menjadi orangnya Maxen, bukan?" tanya Susan langsung pada topik pembicaraan.
Wajah Susan tak menyimpan niat jahat sama sekali. Alice terhenyak lama. Bagaimana mungkin wanita di hadapannya bisa menyimpan banyak rahasia tanpa rasa bersalah? Siapa Susan sebenarnya?
"Siapa kau sebenarnya, Susan?" tanya Alice tak percaya. Bagaimana bisa ada orang yang membicarakan keburukan dirinya tanpa tedeng aling-aling seperti Susan.
"Aku adalah orangnya Maxen. Aku sengaja ditempatkan oleh Maxen lama sebelumnya. Aku menginformasikan setiap aktifitas Anson agar Maxen bisa mengatur metode untuk menghabisinya."
Susan menjelaskan dengan runtut. Matanya menerawang, menyimpan banyak kesedihan. Jika ada sebuah pilihan, Susan tak akan pernah memilih berada dalam situasi ini. Tetapi sayangnya, kehidupan telah banyak mengatur skenario sehingga ia terjebak dalam keadaan tanpa kekuatan.
"Kenapa?" tanya Alice tak mengerti.
Susan tersenyum kecil. Dia kembali membuka banyak memori lama yang menyesakkan dada.
"Karena aku berhutang nyawa kepada Maxen. Dia pernah menyelamatkan aku dan bayiku, saat semua orang memilih pergi dan menelantarkan kami." Mata Susan berkaca-kaca.
Sepuluh tahun yang lalu, seorang pemuda berusia awal dua puluhan tahun telah menyelamatkannya sari situasi pelik.
Susan adalah wanita korban pemerkosaan yang dibuang oleh keluarganya. Dia dinikahkan paksa dengan ayah dari janinnya dan menjalani hidup dengan banyak siksaan.
__ADS_1
Tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang menetes. Tak terhitung lagi berapa jumlah pukulan yang ia dapatkan, kekerasan yang ia terima, dan pelecehan yang ia alami.
Semuanya terasa seperti neraka. Suaminya adalah seorang pemabuk sekaligus phedofil. Rumahnya bagaikan tempat siksa yang paling menyeramkan. Setiap harinya yang ia dengar adalah jerit kepiluan anak-anak yang diperkosa suaminya atau jerit kepiluan dirinya sendiri karena pukulan dan cambukan yang lelaki tersebut berikan.
Tak ada yang bertindak. Polisi memilih bungkam untuk tidak mengurusi kekuarga bobrok yang rendahan. Orang-orang hanya sibuk menonton nasib Susan. Keluarganya hanya bisa mencela dan menyalahkan Susan.
Hidup terasa bagaikan racun yang menyakitkan. Setiap jalan yang ia lalui penuh onak duri. Air mata telah menjadi sahabat setianya. Kepedihan mengakar pinak dalam sanubari.
Hingga kemudian, anak Susan terlahir dengan kelainan jantung. Hidupnya tak akan bertahan lama. Susan tak tahu apakah itu karena faktor kekerasan yang sering ia dapatkan atau karena faktor lain.Yang jelas, dia merasa hidupnya hancur saat itu.
"Meskipun anakku tetap tidak bisa hidup lama, tetapi setidaknya dia memiliki hari-hari terakhir yang indah. Maxen menemukanku dalam keadaan kritis ketika aku antara hidup dan mati. Dia menolongku, mengangkatku dari tempat bobrok, dan menyediakan tempat tinggal yang layak."
Malam itu suaminya menyiksa Susan secara membabi buta. Alkohol telah membuatnya menjadi gila. Bahkan bayinya sendiri ia cambuk dengan ikat pinggang.
Akhirnya, dengan kepedihan dan rasa sakit yang tak berkesudahan, Susan menyusuri jalan di bawah gerimisnya hujan. Ia terseok-seok seperti gembel yang mengharapkan pertolongan. Tiga rumah sakit menolak mereka. Susan tak memiliki kartu yang memadai atau uang yang cukup sehingga ia mustahil melalui prosedur normal.
Di sisi jalan dalam gulitanya malam, Susan menangis seorang diri. Seorang bayi di tangannya menggeliat lemah. Darah kering dari sisi wajah putranya seolah menjadi pemandangan paling menyedihkan.
Sempat terlintas bagi Susan untuk bunuh diri bersama bayinya. Kematian sepertinya lebih bersahabat baginya dari pada kehidupan sulit yang dunia tawarkan.
Hingga kemudian dalam detik-detik menegangkan, sebuah mobil berhenti di sisi jalan. Pengemudinya seorang lelaki muda dengan setelan army mahal. Dia berjalan cepat ke arahnya dan mengatakan satu hal.
"Madam, ada apa denganmu? Apakah kau dilanda kesulitan? Adakah yang bisa kubantu untukmu?"
Saat itulah Susan menatap dewa penolongnya malam ini, dan bersumpah jika lelaki tersebut mengulurkan tangan, akan ia berikan apa pun yang ia punya sebagai bayarannya. Bahkan jika nyawanya sendiri.
"Aku berhutang budi pada Maxen, Alice. Aku pernah bersumpah akan melakukan apa pun untuknya. Kemudian, setahun setelah kejadian tersebut putraku meninggal karena sakit jantung bawaan. Saat itulah ia memintaku untuk menjadi penyusup di keluarga Anson dan memata-matainya."
Susan tak punya pilihan. Dia menyanggupi permintaan Maxen dan melakukan semua hal yang mampu ia lakukan.
"Sejak itu, setiap kali Anson keluar atau memiliki agenda penting, aku menginformasikan pada Maxen. Maxen kemudian akan menyiapkan cara untuk membunuhnya. Beberapa kali dia telah mencoba membunuh Anson, tetapi baru berhasil satu setengah tahun yang lalu."
Susan terdiam lama. Dia menatap wajah Alice yang pucat pasi. Pasti tak mudah bagi Alice mendengar setiap penuturannya. Wanita itu sudah Susan anggap seperti putrinya sendiri.
"Susan, bagaimana bisa kau melakukan semua itu? Tidak takutkah kau jika aku membawamu ke pengadilan atas tindakanmu ini?" tanya Alice lemah. Air mata mengalir turun. Menunjukkan kepasrahan yang terdalam.
Semua keadaan telah berbalik. Alice dipaksa melihat banyak hal dari sudut pandang lain. Sebuah kejahatan selalu memiliki alasan. Sisi kemanusiaan Alice terasa digerogoti.
"Saat aku masuk ke hidup Anson, aku sudah siap dengan semua konsekuensinya. Jika sewaktu-waktu aku terbunuh atau masuk ke penjara, aku menerimanya dengan lapang dada. Alice, aku tau kau telah mencoba menghabisi Maxen kemarin. Ada anak buahnya yang selamat mengabarkan hal ini padaku. Tetapi aku memilih tetap di sini dan menerima semua konsekuensi. Jika aku seorang pengecut, aku sudah memilih kabur dari kemarin."
Susan telah menandatangani kesepakatan dengan bertaruh nyawa. Dia tak lagi peduli pada banyak hal.
"Apakah kau tidak memiliki nurani, Susan? Kau memberikan informasi saat malam itu Klayver pergi ke pesta bukan?"
Susan mendesah berat. Dia menatap Alice dan mengangguk kecil.
"Ya. Seminggu sebelum agenda tersebut aku sudah menginformasikannya pada Maxen. Kau ingat, Alice. Aku juga menginfornasikan saat Anson pergi ke LA. Saat itu pemuda yang menabrak Anson adalah skenario dari Maxen. Sayangnya, Anson hanya hilang ingatan."
Susan telah mengakui semuanya. Beban mental yang ia punya sedikit longgar. Berapa tahun ia telah menahan semua ini hanya demi balas budi? Jika dia bilang moralnya tidak terbebani, maka Susan sangat munafik.
Alice tersenyum kecut. Dia menggenggam dadanya dengan rasa sakit. Dikhianati oleh orang terdekat, rasanya sangat menusuk. Susan telah ia anggap sebagai keluarga. Setiap kata yang ia lontarkan menyisakan duka dalam yang sulit sembuh.
"Susan, kenapa kau lakukan semua ini?" tanya Alice tak mengerti. Dia terisak pelan. Kembali teringat dulu saat Anson hilang ingatan. Jika pemuda itu berhasil membunuh Anson, tentunya saat itu yang Alice dengar adalah kabar kematiannya. Memikirkan semua itu menbuat hati Alice kacau.
"Karena Maxen adalah penyelamat bayiku. Aku tahu aku tak layak minta maaf padamu, Alice. Tetapi jika waktu kembali berputar, aku tetap akan melakukan apa pun untuk orang yang menolongku." Susan tertunduk dalam.
Mungkin setelah ini ia akan dipenjara. Atau mungkin akan 'dibungkam' oleh Klayver. Sekarang Susan tahu Klayver bukanlah orang yang sembarangan.
"Kudengar dari Maxen kau mencoba memohon padanya agar ia tak menghabisi nyawaku. Kenapa, Susan?" tanya Alice kembali teringat sesuatu.
Susan mengerjap beberapa kali dan tersenyum getir. Ia tak pernah menyangka Alice akan mengetahui hal-hal detail seperti ini.
"Karena ...." Susan menunduk semakin dalam. Air bening mulai jatuh secara perlahan sebagai bukti kekalahan. "Karena kau sudah kuanggap putriku sendiri. Kehilanganmu sangat menyakitkan bagiku. Aku telah melakukan dosa karena ikut mengantarkan Anson pada kematiannya. Setidaknya, melindungimu adalah langkah terakhir untuk menyelamatkan sisa rasa bersalahku."
Hening. Dua orang wanita terisak dalam kepiluan. Pengkhianatan akan selalu terasa menyesakkan. Tak ada obat di dunia ini yang bisa mengurangi kadar rasa sakit karena dikhianati. Alice tak tahu langkah apa yang akan ia ambil.
Namun, bagaimana pun juga, Susan masih menyisakan sisi kebaikan yang ia miliki. Membunuhnya secara langsung jelas tak mungkin bagi Alice. Dengan lemah, Alice berkata pelan.
"Sulit bagiku untuk memaafkanmu, Susan. Pergilah! Kemasi barang-barangmu dan jangan pernah datang lagi di hadapanku."
__ADS_1
Alice berkata pilu. Dia tak sanggup mengirimkan Susan ke penjara. Inilah langkah yang bisa ia ambil. Setiap orang selalu memiliki sisi lain yang terpendam. Tidak akan pernah ada kejahatan tanpa alasan kuat.
…