
Mata Jasmine terbelalak lebar. Dia membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk mencerna apa yang baru saja William katakan kepadanya. Apakah benar baru saja William bertanya tentang hamil? Atau mungkin dia salah dengar?
Setelah terdiam lama, Jasmine menatap William dengan pandangan yang terkejut.
"Hamil? Maksudmu?" tanya Jasmine seperti orang linglung.
"Ya, hamil. Apakah aku perlu mendefinisikan arti hamil bagimu? Maksudku, hamil yaitu mengandung seorang anak di dalam perut dan nanti akan melahirkan sembilan bulan setelah sempurna mengandung." William terkekeh geli, melihat kebingungan dan keterkejutan yang tercetak jelas di wajah Jasmine.
Jasmine melongo. Dia mengusap perutnya dengan gerakan bimbang, dan berpikir bagaimana bisa William menebak hal itu dengan sangat akurat. Beberapa waktu yang lalu, Alice bisa menebak kehamilannya. Sekarang, William pun juga sama. Jadi, sebenarnya apa yang telah Jasmine lakukan sehingga dia bisa menjadikan orang-orang di sekelilingnya menebak apa yang tengah ia alami? Apakah Jasmine secara tidak sengaja telah melakukan tindakan-tindakan yang bisa membuatnya membongkar rahasianya sendiri? Jika begitu adanya, Jasmine pasti melakukan tindakan-tindakan yang cukup bodoh. Dia hanya ingin Rahasianya tersimpan rapat untuknya. Tetapi kenapa, akhir-akhir ini justru orang-orang di sekelilingnya malah mengetahui tentang rahasia ini?
Jasmine adalah orang yang telah belajar banyak hal dari kehidupan. Dia bukan orang yang lugu dan polos seperti Alice. Dia terbiasa berbohong, memanipulasi seseorang, mencoba melakukan banyak hal licik, dan hal-hal semacam itu. Jarang ada yang bisa melihat motif Jasmine sebenarnya. Dia merupakan orang yang pintar berpura-pura dan menutupi banyak hal dari dirinya sendiri. Tetapi akhir-akhir ini, kemampuannya sepertinya merosot tajam. Buktinya, Alice dan William bisa menebak apa yang ia sembunyikan dengan sangat rapat.
"Bagaimana kau bisa tahu, William?" Tanya Jasmine dengan penuh kebingungan.
William hanya bisa menatap Jasmine dengan pandangan aneh. Sepertinya, Jasmine akhir-akhir ini berubah menjadi orang yang ceroboh. Bagaimana bisa William tidak menebak hal tersebut jika setiap kali mereka berdua bersama, Jasmine selalu mengusap lembut perutnya dengan penuh rasa kasih sayang. Usapan lembut yang sering kali William lihat seperti Alice mengusap perutnya saat ia mengetahui bahwa dirinya tengah hamil. Usapan seperti itu adalah usapan sayang sebagai bentuk demonstrasi seorang ibu kepada anaknya ataupun calon anaknya.
"Seorang ibu, akan memiliki rasa kasih sayang yang murni untuk calon anaknya. Begitu pun juga dengan dirimu, Jasmine. Kau pasti secara tidak sengaja, sekali dua kali, atau mungkin beberapa kali, menunjukkan hal tersebut kepadaku. Itulah yang bisa membuatku menangkap apa kira-kira yang terjadi dengan dirimu."
__ADS_1
William tersenyum kecil. Jasmine bukan hanya sekali dua kali menunjukkan ekspresinya. Tetapi berkali-kali sehingga orang buta pun mungkin juga akan ikut mencurigainya.
"Apakah aku memang semencolok itu? "Jasmine mulai berpikir ulang.
Jasmine telah berpikir dia tidak akan mengungkapkan kehamilan ini kepada Daniel. Apapun konsekuensi yang akan ia alami. Tetapi jika ditilik dari reaksi William dan Alice yang mengetahui dengan mudah kehamilannya, dia jadi berpikir apakah hal itu akan mempengaruhi niatnya. Jika tiba-tiba saja Daniel dan Jasmine dipersatukan di ruangan yang sama, dan Daniel menangkap setiap tindak tanduknya seperti mengusap perut atau semacamnya, Jasmine takut Daniel akan mengetahui kenyataan ini.
"Ya, kau memang sangat mencolok sekali. Tetapi hal itu sebenarnya wajar saja. Bagaimana pun juga, kau adalah calon ibu. Hamil merupakan suatu proses yang sangat istimewa bagi seorang perempuan. Itu merupakan kodrat bagi wanita. Tidak ada salahnya, Jasmine. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku juga tidak akan menghakimi siapa ayah dari bayi ini. Cobalah melakukan hal yang benar dan bijak untuk anakmu kelak, Jasmine."
Meskipun William mengatakan bahwa dia tidak akan menghakimi siapa ayah bayi tersebut, tetapi sinar matanya menunjukkan bahwa William memiliki tebakan yang sangat akurat tentang siapa sosok tersebut. Jasmine bisa membaca dari reaksi tubuh William. Lelaki tua itu pasti tahu dan bisa menebak siapa ayah dari anak yang tengah ia kandung. Hanya masalah waktu saja William jujur dengannya atau tidak.
"Kupikir, kau pasti bisa menebak siapa ayah dari bayi ini, bukan?" Jasmine memastikan kepada William.
"Ya, aku memang bisa menebaknya dengan beberapa petunjuk." William mengangguk mengakui tentang kenyataan itu. Tetapi, William tak ingin terlalu ikut campur masalah Jasmine kecuali Jasmine sendiri yang memintanya.
"Berarti, aku memang sedikit ceroboh. Sehingga orang-orang di sekitarku bisa menilai tentang apa yang tengah terjadi padaku." Jasmine sedikit menyesali dirinya sendiri yang terlalu mencolok dalam memberikan ekspresi kebahagiaan sebagai seorang ibu kepada anak yang tengah ia kandung saat ini.
"Sudah kukatakan, Jasmine. Itu semua bukan salahmu. Merupakan sifat yang alami untuk seorang ibu menunjukkan hal tersebut kepada lingkungannya. Bagaimana pun juga, kau masih tetap seorang perempuan, Jasmine. Terima saja hal itu dan bersikaplah dewasa. Jika nanti memang ayah anak itu memberikan hal yang baik untukmu dan bayimu, kupikir, alangkah baiknya kau menerimanya," ujar William mencoba menasehati Jasmine dengan sedikit kelembutan dan sikap kebapakan yang ia miliki.
__ADS_1
Raut muka Jasmine terlihat sedikit tak senang mendengar nasehat dari William tersebut. Dia masih memiliki penilaian yang buruk tentang laki-laki. Dia pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu, sehingga dia harus terpaksa kehilangan putri satu-satunya. Karena hal itu, dia bersumpah tidak akan pernah mempercayai kaum lelaki lagi.
Mempercayai kaum lelaki hanya akan membuat dirinya sakit. Mempercayai kaum lelaki hanya akan membuatnya menderita dan merasakan rasa dikhianati. Banyak kepedihan yang telah Ia terima dari hal tersebut. Jasmine merupakan orang yang cukup keras kepala dalam memegang prinsip. Dia tak ingin mengulangi lagi kesalahan yang sama. Anak ini adalah miliknya, haknya, dan akan ia rawat sesuai dengan kemampuannya. Tidak akan ia biarkan seorang pun, terutama ayah dari anak ini, melukai dan menjungkirbalikkan hidupnya dan hidup anaknya kelak.
Daniel adalah lelaki yang baik dan memiliki latar belakang hebat. Mudah ditebak. Dia pasti tak akan terima jika wanita bayaran seperti Jasmine, ternyata justru mengandung darah daging miliknya. Hal yang bisa saja terjadi selanjutnya adalah menyuruh Jasmine untuk menggugurkan kandungan dan membunuh bayi tersebut sebelum bayi itu lahir.
Atau bisa jadi, Daniel akan membiarkan anak ini lahir normal seperti pada umumnya, dan setelah itu, menyuruh orang untuk melenyapkan buah hatinya sendiri. Bukankah seorang laki-laki memiliki harga diri yang tinggi, sehingga memiliki anak dengan seorang pelacúr pasti bukan hal yang menyenangkan. Beberapa kaum lelaki pasti akan melenyapkan bukti tersebut, tak peduli meski dengan harus membunuh anaknya sendiri.
Memang kejam. Tapi itu adalah pengalaman yang pernah Jasmine lalui sendiri. Sehingga dia bisa melihat banyak kejahatan-kejahatan yang tersembunyi dibalik penampilan para lelaki yang selama ini mengumbar-ngumbar tentang kebaikan-kebaikan dirinya sendiri.
Para lelaki tak ubahnya seperti topeng kehidupan. Mereka memiliki luka di balik setiap topeng yang ada, dan menutup setiap luka tersebut dengan topeng apa pun sesuai dengan yang mereka mau. Jasmine sudah kebal terhadap mereka semua. Jasmine tak ingin melakukan hal yang bisa menjadikan hidupnya terjebak seperti dulu. Karena itu, dia telah memutuskan untuk menyembunyikan kehamilan ini dari Daniel. Itu adalah hal yang paling baik yang bisa ia lakukan saat ini.
Langkah ini, adalah satu-satunya langkah yang bisa ia ambil untuk melindungi janinnya dan dirinya.
"Aku tak terlalu percaya dengan kaum laki-laki, William. Bagiku, mereka semua munafik. Yah, kecuali dirimu. Tapi kau sudah terlalu tua untukku."
Jasmine tertawa lebar melihat ekspresi William yang sangat lucu.
__ADS_1
…