Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
095 - SEASON 2


__ADS_3

Harusnya Sila tahu kejadiannya akan seperti ini. Dia keluar dari taxi malam hari di depan rumah Alice dan berjalan tertatih menuju gerbang belakang. Sila memiliki kunci gerbang belakang. Dia bisa keluar masuk dengan bebas. Itulah salah satu alasan kenapa ia bisa keluar dar rumah Alice kapan pun ia mau. Baginya, rumah ini merupakan tempat yang bisa ia tinggalkan dengan mudah, berbeda dengan karyawan lain yang harus meminta ijin William terlebih dahulu.


Seharusnya dia melakukan hal yang serupa. Tetapi semenjak ia menggantikan posisi Susan, Sila lebih bebas dari pada sebelumnya. Dia mendapat kepercayaan untuk berbelanja dan menyediakan persediaan makanan. Sehingga ia diijinkan keluar sewaktu-waktu. Itulah kenapa ia diberi kunci pribadi gerbang belakang.


Sayangnya, dia telah menyalahgunakan kepercayaan yang Alice berikan. Dia mengkhianati majikannya sendiri. Jika Sila meninggal dalam keadaan seperti ini, dia yakin pasti neraka yang menyambutnya.


Sila merupakan wanita yang dibesarkan dalam lingkungan yang cukup agamis. Dari kecil dia dikenalkan dengan surga, neraka, iblis, dan malaikat. Dia tahu konsekuensi setiap tindakan kejahatan adalah siksaan api neraka.


Hanya saja dalam prosesnya, sering kali uang adalah godaan yang berat. Sila dimanipulasi oleh kemewahan sesaat. Akibatnya, dia tergelincir pada tindakan kotor yang ia sendiri tak menyukainya.


Tetapi nasi telah menjadi bubur. Sudah terlambat baginya untuk mundur. Tindakannya seperti sumpah yang ia buat terhadap iblis. Tidak bisa ia tarik dan hanya bisa melahap jiwanya perlahan-lahan.


Sila memasuki gerbang dan segera berjalan ke kamar belakang miliknya. Malam telah larut. Jam menunjukkan pukul 23.15 waktu Manhattan. Hampir semua orang pasti sudah terlelap saat ini.


Saat ia sudah tiba di lorong dan melewati ruang tengah, tiba-tiba lampu ruangan dihidupkan secara tiba-tiba. William berdiri menatap Sila dengan penuh selidik. Di sampingnya, ada Alice dan juga Jasmine. Mereka semua memandang Sila seperti Sila baru saja memiliki tanduk di kepala.


"Kau dari mana?" tanya William tajam.


"Apa yang terjadi padamu, Sila?" Alice bertanya histeris. Dia menatap keadaan Sila yang kacau. Wajahnya dipenuhi lebam, bajunya terkoyak, bekas darah kering ada di di mana-mana.


Sila yang menyadari keadaan ini hanya bisa meringis kecil. Setiap gerakan yang ia lakukan terasa menyakitkan. Dia harus ekstra hati-hati dalam melakukan sesuatu.


"Aku tadi berniat mengurus beberapa urusan pribadi dan belanja. Tetapi diserang perampok di jalan. Beruntng aku selamat, Nyonya. Aku hanya menderita sedikit luka kecil."


Hal yang sebenarnya terjadi adalah dia dihajar habis-habian oleh pengawal Luiz dan dibiarkan tidak sadar selama berjam-jam. Setelah sadar, dia tak diurus sama sekali dan harus merintih seorang diri. Baru saat malam tiba, Luiz mengusir Sila dari kediamannya. Dia memberikan tugs baru lagi yang cukup berat. Imbalannya sangatlah besar. Ttapi jika Sila gagal, dia hanya akan dihajar lebih parah lagi oleh Luiz.


Sila ingin merutuk dalam hati. Tetapi dia saat ini tak memiliki pilihan kecuali menuruti apa yang iblis itu mau. Apa yang telah ia dapatkan hari ini sudah menjadi pembelajaran yang cukup dalam baginya.


"Ya Tuhan, bagaimana kau bisa jadi seperti ini? Kenapa kau tak melapor pada polisi? Kenapa kau tak menghubungiku?" Alice memberondong Sila dengan banyak pertanyaan. Membuat Sila merasa semakin bersalah setiap saatnya. Ya Tuhan, dia telah mengkhianati orang sebaik Alice.


"Aku tak ingin memperbesar masalah, Nyonya. Yang penting aku selamat. Hanya itu." Sila tersenyum kecil. Dia sudah merasa tak sanggup lagi berdiri lebih lama. Kekuatannya semakin menipis setiap waktu. Dengan lemah, dia terduduk di lantai. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Alice segera menangkapnya dan menyadari betapa parah keadaan Sila. Wanita ini perlu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Alice menyuruh Willam untuk menghubungi ambulance sesegera mungkin.


Wajah William terlihat tak suka melakukan apa yang Alice pinta. Dia terpaksa mengambil gagang telepon dan menghubungi ambulance. Setelah itu, tanpa banyak kata, baik William dan Jasmine meninggalkan Alice seorang diri bersama Sila.


"Benar-benar bodoh!" umpat Jasmine sebelum akhirnya berjalan menuju kamar dan memilih untuk beristirahat.


Alice menatap kepergian Jasmine dengan bingung.


Bodoh? Siapa yang bodoh? Apa yang Jasmine maksud dengan semua ini? Wanita itu kadang bersikap aneh tanpa penjelasan sama sekali.


__ADS_1


Jasmine duduk bersandar di kepala ranjang. Dia tengah memikirkan kondisi Sila yang ia lihat sekitar setengah jam yang lalu.


Jasmine telah menaruh kecurigaan kepada Sila jauh-jauh hari sebelum ini. Tingkahnya yang terkesan ditutup-tutupi, tindakannya yang terburu-buru, dan tanda-tanda lain yang membuat ia semakin yakin dengan penilaiannya.


Awalnya Jasmine bermaksud menyembunyikan kecurigaannya. Tetapi apa yang dilakukan oleh Sila terlalu mencolok. Wanita itu tak terbiasa melakukan kejahatan sehingga sekali ia melakukannya, gesture tubuhnya menampilkan semua hal yang bisa ditangkap orang lain. Pantas saja William juga ikut mencurigainya.


Hanya saja, dari semua tingkah Sila yang terlalu ekspresif, Alice adalah orang bodoh yang tidak pernah peka pada hal-hal penting seperti itu.


Alice tetap saja menaruh kepercayaan pada Sila tanpa syarat. Dia tipikal tokoh protagonis dalam novel yang mudah untuk dimanipulasi. Setelah ini, Jasmine berjanji pada dirinya sendiri akan mengajari Alice waspada terhadap setiap orang.


Jasmine mulai menebak plot yang terjadi. Beberapa waktu lalu, dia sempat ditawari oleh seseorang bernama Liza dari organisasi Black Hell untuk bergabung menjadi mata-mata dan meneruskan informasi tentang Alice kepada organisasi itu.


Tentu saja Jasmine tak menerima tawaran tersebut. Dia mustahil mengkhianati Klayver dan istrinya. Mana mungkin dia mengambil tindakan yang merugikan Alice dengan sengaja.


Tetapi Jasmine juga tidak bodoh. Menolak tawaran Liza secara langsung bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Akhirnya, Jasmine mengambil langkah tengah. Dia bersikap ramah seolah ingin menerima tawaran tersebut, tetapi minta maaf karena kemampuannya cukuplah terbatas sehingga tidak memiliki koneksi untuk masuk terlalu dalam ke hidup Alice. Intinya, dia berperan pura-pura bodoh dan tidak cukup pintar untuk mengemban tugas tersebut.


Akhirnya, Liza menarik kembali tawaran tersebut. Jasmine yang berhasil memanipulasi Liza hanya tertawa dalam hati. Dia dianugerahi kecerdasan dalam penipuan. Itu memang salah satu ahlinya.


Setelah kejadian itu, Sila langsung berubah sikap dan mencurigakan. Jasmine menarik kesimpulan mungkin setelah ia menolak dengan caranya yang halus, Liza menawarkan hal serupa pada Sila. Jasmine tebak, Sila pasti menerimanya.


Di dunia ini, jarang ada orang yang bisa menolak tawaran uang yang banyak. Sila mungkin salah satu orang yang menerimanya. Andai saja Jasmine belum membentuk ikatan persahabatan yang kuat dengan Klayver, dia pasti juga melakukan apa yang Sila lakukan. Sayangnya, kesetiaan Jasmine sudah terlanjur ia letakkan pada sahabat lamanya. Tidak ada yang bisa mengubah hal tersebut.


Jasmine sudah mengawasi kelakukan Sila cukup lama. Dia tahu beberapa kali Sila memasuki ruang kerja Alice secara diam-diam untuk mencari informasi. Jasmine tidak bisa menebak apa yang Sila cari. Bisa jadi itu adalah informasi tentang kekayaan Alice, suami Alice, atau apa pun yang cukup sensitif.


Dia harus melakukan langkah tegas. Sebelum Sila cukup dalam mengambil banyak informasi untuk dibocorkan, Jasmine harus membungkam wanita itu terlebih dahulu.


Suasana rumah telah sepi. Lampu-lampu ruangan dimatikan total. Tidak ada aktifitas sama sekali karena hari menjelang tengah malam. Jasmine berjalan menyusuri lorong panjang dan melewati ruangan demi ruangan dengan hanya mengandalkan instingnya semata.


Setelah tiba di halaman depan, dia mengeluarkan sebuah alat kecil otomatis dan menggunakannya untuk membuka kunci gerbang utama.


Sebuah senyum kecil terbentuk di bibir Jasmine. Dia memang tak memiliki kunci gerbang, tetapi keahlian yang ia miliki lebih dari cukup untuk membobol pintu mana pun yang ia inginkan. Termasuk yang memiliki pengamanan berteknologi. Dia tak sehebat Klayver. Tetapi ia juga tak selugu wanita pada umumnya. Setidaknya, Jasmine bisa bertahan dalam keadaan terdesak tanpa mengandalkan orang lain.


Jasmine berjalan menyusuri dua blok perumahan sebelum akhirnya tiba di jalan utama dan menghentikan taxi. Dia melihat arloji di tangan kiri.


00.10


Sudah dini hari. Dia melakukan perjalanan selama seperempat jam menuju sebuah rumah sakit di pusat kota. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit yang digunakan Sila untuk melakukan rawat inap. William ikut mengantarkan ke tempat tersebut dan kemungkinan kepala pelayan itu masih menunggunya di sisi Sila atas perintah Alice.


Memasuki rumah sakit di jam selarut ini tidaklah mudah. Terlalu banyak resiko untuk masuk menggunakan identitas Jasmine sebenarnya. Dengan licik, Jasmine berjalan memasuki ruang ganti perawat dan menggunakan salah satu ruang ganti untuk memakai seragam perawat yang ia ambil secara acak di loker yang terlihat sepi.


Hanya seorang perawat tua yang melihatnya. Dia mengernyitkan dahi sekilas melihat keberadaan Jasmine, kemudian tersenyum samar. Wajahnya masih sedikit bingung, merasa kurang familier dengan Jasmine.


"Rumah sakit ini menggonta-ganti perawat seperti mengganti baju saja. Antara pagi dan malam sudah berganti orang lagi," gerutu perawat tua itu sembari menanggalkan baju tugasnya dan meninggalkannya di salah satu loker.

__ADS_1


Jasmine tersenyum lega. Rumah sakit ini terlalu besar. Akan mudah baginya menyelinap karena satu per satu orang mungkin tak saling mengenal.


Jasmine berjalan menyusuri lorong dengan percaya diri. Sebuah name tag bernama Bella Anderson ia tempelkan persis di dadanya. Jasmine mendekat ke ruang informasi lantai satu.


"Hai, aku menemukan barang di ranjang yang tadinya dipakai oleh pasien bernama Sila Matrix di ruang UGD. Bisakah kau beri tahu aku di mana ruangan Ms. Matrix sekarang? Aku kehilangan jejaknya setelah dokter membawanya pergi dari ruang UGD."


Jasmine menunjuk dompet kecil dan memberi isyarat seolah-olah benda itu adalah miliki Sila.


"Seharusnya kau tak perlu repot-repot. Tinggalkan saja pada security dan biarkan mereka mengurus masalah itu," saran wanita muda yang duduk di belakang komputer.


"Seharusnya. Tetapi pasien itu terlalu baik sehingga aku tak tega untuk mengabaikan keadaan ini. Bisakah kau membantuku?"


Wanita itu menyebut sebuah ruangan di lantai tiga dan membiarkan Jasmine berlalu pergi dengan membawa sebuah troli yang berisi seperangkat obat dan alat medis standar.


Keadaan berjalan aman. Dia terus saja berjalan menuju ruangan yang disebutkan dan tidak dihalangi oleh seorang pun.


Sesampainya di ruangan yang Jasmine tuju, dia memasukinya tanpa sekali pun mengetuk pintu. William yang duduk di sisi ranjang Sila sedikit terkejut. Dia menoleh bingung melihat penampilan Jasmine yang mencurigakan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya William waspada. Sudut matanya menatap sebuah suntikan dan cairan kuning yang diletakkan di sudut nampan di atas troli.


"Menyelesaikan masalah Sila. Apa dia tidur?" Jasmine menunjuk Sila yang kini terbaring tak berdaya dengan selang infus di tangan kiri. Beberapa lengan kanan dan kirinya dibalut perban. Bahkan ada gips yang terpasang di lengan tangannya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi lebam-lebam yang berada di beberapa sudut wajah tampak membiru. Besok pasti akan berubah warna menjadi ungu kemerahan.


"Kau ingin menghabisinya?" Willaim bertanya terus terang.


Jasmine tersenyum kecil. Dia menatap cairan kuning di troli dengan penuh arti.


William adalah kepala pelayan Alice. Lelaki tua itu telah banyak mengerti tentang seluk beluk dunia hitam. William tak butuh mengaku secara langsung jika dia telah mengetahui siapa Jasmine sebenarnya.


Di balik Jasmine yang vulgar dan tak tahu malu, ada Jasmine yang kuat dan penuh perhitungan. Antara William dan jasmine sebenarnya sudah sam-sama mengetahui posisi masing-masing. Hanya saja, mereka lebih memilih diam dan tidak membahasnya ke permukaan. Baru kali inilah Jasmine mengutarakan maksudnya secara blak-blakan.


"Jangan lakukan itu!"


Jasmine mengerucutkan bibirnya, merasa tak suka. Dia sudah sampai di tahap ini. Hanya tinggal menyuntikkan racun tersebut dan Sila akan bungkam selamanya. Wanita itu tak akan menjadi masalah lagi bagi Alice ataupun Klayver.


"Kau membelanya? Apa aku perlu mengingatkan padamu kau mengabdi pada siapa? Kau ingin beralih haluan, William? Rupanya kau bosan hidup." Jasmine berdecih kecil


"Aku menahanmu bukan karena berpihak pada Sila." William menjawab dengan datar. Dia sama sekali tak terpengaruh oleh kalimat Jasmine yang disemburkan dengan nada tajam.


"Tapi?"


"Tapi karena tanpa kau buat mati pun, dia akan tetap mati."


Jasmine tak mengerti arah pembicaraan William. Dia menaikkan alisnya, mencoba bertanya tanpa suara.

__ADS_1


"Aku tahu Sila mulai menjadi mata-mata Black Hell. Dan aku tahu mereka telah menginfeksinya dengan racun syaraf yang bekerja lambat. Paling lama, dia hanya akan bertahan tiga bulan dari sekarang. Untuk apa kau mengotori tanganmu membunuh orang yang sudah sekarat?"



__ADS_2