Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
105 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine sudah mulai hilang kesadarannya. Dia telah menghabiskan banyak martini entah berapa gelas. Setiap kesedihan yang ia miliki tersalurkan melalui kebebasan yang ia rasakan saat ini. Tubuhnya menyatu dalam tarian, meliuk indah sesuai dentaman musik dengan pikiran yang mulai samar.


Jasmine hanya mampu menatap sekelilingnya dengan pandangan kabur. Dia masih memiliki sisa kesadaran dan tenaga untuk bergerak, tetapi agaknya inderanya telah banyak berkurang. Lamat-lamat dia hanya bisa meraba sekelilingnya dengan samar. Banyak lelaki yang telah berada di sekitar Jasmine. Rupanya tarian dan gerakan menggoda wanita itu berhasil menarik minat lawan jenis.


Memangnya siapa yang mampu menolak dirinya? Jika ada pelajaran yang bisa Jasmine serap dengan cepat, itu adalah pelajaran menggoda dan menarik perhatian kaum adam. Dia telah mendedikasikan diri lama sekali dalam bidang ini. Sehingga secara tidak sadar insting dan respon tubuhnya bergerak secara alami untuk hal ini. Bakat itu merupakan bakat warisan yang mungkin saja diturunkan dari ibunya. Pepatah lama yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohon, merupakan suatu kebenaran baginya.


Baik Jasmine maupun ibunya, sama-sama memiliki keahlian alami dalam memikat laki-laki. Seolah-olah itu sudah menjadi sesuatu yang alam gariskan untuk mereka. Kecantikan, kelembutan, sekaligus sensualitas.


Entah club ini yang semakin ramai atau Jasmine yang semakin mabuk, dia merasa lelaki yang mengerumuninya semakin banyak. Beberapa tangan nakal mulai berani menyentuh pinggulnya. Sebenarnya, dia sedikit risih. Tetapi ia biarkan rasa itu tergerus oleh keadaan. Sekalian saja mereka mau bertindak apa. Jasmine hanya butuh pelampiasan. Di sini bukan Washington, tempat di mana usahanya banyak tersebar. Setidaknya, di sini dia merasa sedikit bebas. Menjadi orang asing yang membutuhkan dan sengaja mencari kesenangan.


Entah waktu telah berjalan berapa lama. Entah orang di sampingnya telah berganti berapa kali. Yang ia ingat dan ia rasakan hanya rasa puas dan rasa ringan. Seolah-olah langit mulai terbuka, membiarkan ia terbang meninggalkan bumi dan segala kesedihannya.


Tawa Jasmine berderai, merasa bahagia entah karena apa. Mungkin inilah yang dinamakan kebebasan. Sesuatu yang ia ambil dari alkohol dan ia tenggak dalam keramaian. Sesuatu yang ia dapatkan dari cairan terlarang yang ia nikmati tanpa batas. Tak ada yang mengekang. Tak ada yang menahan. Begitulah kehidupan seharusnya.


Dalam keadaan ini, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dengan cukup kuat. Jasmine mendongak dan mengelak tak terima. Dia sedang ingin merasakan kebebasan. Tidak ada yang berhak menahan dirinya. Waktu-waktu seperti ini adalah waktu yang langka baginya.


Bukannya berhenti, seseorang itu semakin kuat menarik dan mencoba menghentikan tariannya. Lamat-lamat, Jasmine melihat sosok ini adalah lelaki yang sangat mirip dengan Daniel. Garis rahang yang sama. Mata yang sama. Dan tingginya juga tak jauh berbeda.


Tetapi Jasmine sedang mabuk. Bisa saja ia salah lihat. Dia masih cukup sadar lelaki seperti Daniel tak akan pernah mungkin mengganggu kesenangan dirinya dengan menghentikan aktifitas yang tengah ia lakukan.


"Cukup! Kau sudah mabuk. Kuantar kau pulang!" Teriak lelaki itu cukup keras di telinganya.


Jasmine terkekeh kecil, merasa semakin mustahil lelaki tersebut merupakan Daniel. Lelaki itu mana mau peduli dan memberi perhatian lebih padanya. Jasmine mabuk, pingsan, atau bahkan mati di tempat pun Daniel belum tentu bersedia memberikan perhatian. Sangat lucu jika dalam kondisi mabuk dia justru berhalusinasi mendapatkan perhatian dari Daniel.


Mungkinkah syaraf kita memiliki semacam kemampuan halusinasi pada sesuatu yang mustahil terjadi? Mungkinkah sebenarnya di alam bawah sadar Jasmine, dia menyimpan sedikit harapan untuk bisa mendapat perhatian Daniel sehingga menimbulkan bayangan samar seperti ini?

__ADS_1


Apa pun itu yang terjadi, Jasmine yakin dia pasti tengah terjebak karena efek alkohol. Lelaki di hadapannya tetap ia abaikan saja.


"Kau benar-benar mabuk ya ternyata. Benar-benar menyulitkan. Kau …."


Jasmine sudah tak terlalu mendengar gerutuan lelaki itu. Dia sibuk menikmati irama musik yang menghentak tanpa bisa dihentikan. Sekilas, Jasmine masih bisa melihat dari sudut matanya lelaki tersebut menggerakkan bibirnya mengucapkan kata demi kata entah berceloteh apa.


Peduli setan dengan dia. Jasmine mendorong lemah lelaki itu, dan mengucapkan makian tak sopan agar ia dibiarkan sendiri dan tak diganggu. Demi Tuhan. Jasmine membutuhkan kesenangan. Bukan gangguan menyebalkan seperti ini.


Tiba-tiba, tanpa Jasmine duga, lelaki tersebut menggendong Jasmine dengan paksa di pundak kirinya. Kepala Jasmine menghadap ke bawah sehingga membuat rasa pusing menyerangnya, sementara kakinya di tahan oleh kedua tangan lelaki itu dengan kuat. Posisi ini membuat Jasmine benar-benar mual. Dia berteriak lemah dan memukul punggung sang lelaki.


Jasmine, wanita kuat yang setiap hari berlatih olah fisik dan bela diri, kini tak berdaya di tengah kesadarannya yang mulai menipis dan kini tengah dibawa layaknya karung makanan di pundak lelaki asing. Sialan memang. Alkohol bisa mempengaruhi orang sedemikian rupa.


"Hen-ti-kan." Jasmine berkata lemah. Perutnya sudah tak karuan. Tanpa sadar, dia mengeluarkan isi perutnya begitu saja di punggung sang lelaki.


Herannya, bukannya risih, lelaki itu tetap saja berjalan menerobos kerumunan orang yang penuh hingar bingar musik.


"Pasanganku mabuk. Aku perlu membawanya pulang. Sudah kukatakan harusnya dia tak banyak minum tapi tak menghiraukanku."


Dengan penjelasan singkat itu, Jasmine berhasil di bawa keluar melewati keamanan club tanpa satu orang pun yang curiga. Andai Jasmine bisa mendengarnya dengan seksama, dia pasti akan memprotes habis-habisan langkah yang lelaki itu ambil.



Daniel meletakkan sosok Jasmine yang tengah mabuk di atas ranjang miliknya. Malam sudah larut. Mungkin bahkan dini hari. Tetapi kantuk tak lagi menyertainya. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan karena wanita ini.


Di saat ia membutuhkan pelampiasan dan kesenangan semu di club, ia justru dipertemukan dengan Jasmine. Sosok yang tak pernah ia duga sebelumnya. Ketika melihat keadaan wanita itu, ada sisi lain dirinya yang ingin melindungi dan membawanya pergi dalam keadaan aman.

__ADS_1


Seharusnya hal itu tak ia lakukan. Sangat lucu dan tak masuk akal. Jasmine adalah wanita dewasa yang tahu dengan betul setiap tindakan yang ia ambil. Jika ia memutuskan untuk pergi ke club dan mabuk, ya itu keputusannya. Daniel tak berhak menghalangi.


Amerika adalah negara yang bebas. Masing-masing individu memiliki hak untuk mengambil sikap dan tindakan, selama hal itu tidak menghalangi kepentingan orang lain. Apa yang Daniel lakukan terhadap Jasmine, menyeretnya dengan paksa dari club dan membawanya ke mari merupakam tindakan yang tidak bisa dibenarkan.


Tadinya Daniel ingin membawa Jasmine pulang ke rumah Alice. Tetapi entah kenapa, dia mengurungkan niat dan justru membawanya ke rumahnya sendiri.


Kini, dia menatap Jasmine yang tengah terbaring lemas di atas ranjang. Dress merah wanita itu telah lembab di beberapa sisi karena bekas muntahannya sendiri. Rupanya Jasmine bisa mabuk separah ini juga. Entah berapa kali ia mengeluarkan isi perutnya di kaos Daniel dan dressnya sendiri.


Daniel memutuskan untuk mengambil jubah mandi miliknya di balkon kamar dan menggantikan secara manual dress wanita itu. Daniel merasa sedikit dilematis. Tetapi kemudian ia tepis keraguannya sekuat tenaga. Bagaimana pun juga, ia pernah melihat Jasmine secara keseluruhan. Tidak ada bedanya sekarang.


Dengan pelan, Daniel mencoba melepas dress tersebut dan menggerakkan tubuh Jasmine ke arah berlawanan. Sialan. Wanita mabuk benar-benar merepotkan sekali. Wanita itu tak seberapa, tetapi bisa berubah menjadi sangat berat jika sedang tak sadar. Andai Daniel tak terbiasa berlatih membawa beban, ia pasti sudah tak kuat menahan beratnya tubuh Jasmine yang mungkin hanya berbobot sembilan puluh lima pound.


Setelah berhasil menggantikan dress wanita itu, Daniel menyelimuti Jasmine dengan hati-hati.


"Emh," desah Jasmine dalam tidurnya.


Dasar tukang mabuk. Wanita itu benar-benar tak sadar sedikit pun jika sudah terpengaruh alkohol. Jika keadaannya begini, bagaimana nasib Jasmine andai yang menemukan lelaki lain dan berniat buruk terhadapnya.


Pemerkosa, contohnya. Bisa saja kan Jasmine dijebak oleh orang seperti itu, dimanfaatkan, dan kemudian entah bagaimana nasibnya andai berada di tangan yang salah.


Daniel harus memperingatkan Jasmine serius besok. Wanita tak baik mabuk di tempat asing tanpa ada pendamping. Berapa banyak kasus kriminal yang terjadi karena keteledoran yang dilakukan oleh kaum hawa. Kejahatan bisa terjadi bukan hanya karena ada niat, tetapi juga ada kesempatan. Ada banyak hal yang tadinya tak diniatkan, tetapi karena adanya kesempatan hal itu bisa terjadi begitu saja. Jika kejahatan tersebut berujung fatal, yang rugi tetap saja pihak wanita.


Dengan pelan, Daniel meninggalkan kamar tersebut dan berjalan menuju kamar kosong lain yang berada tak jauh. Dia mengganti bajunya dengan piyama tidur dan mengambil posisi rebahan di atas ranjang. Kedua tangannya ia lipat di bawah kepala. Pandangan matanya tertuju pada langit-langit kamar.


Insomnia yang ia derita membuat Daniel tak mudah untuk terlelap. Dia menghabiskan banyak waktu lama untuk membiarkan detik demi detik terlewat begitu saja. Hingga tanpa terasa, Daniel baru bisa menejamkan matanya ketika fajar telah menyingsing.

__ADS_1



__ADS_2