
Alice mengamati kepulangan Jasmine di halaman utama. Wanita itu sedikit tak terlalu baik suasana hatinya. Alice hanya bisa menyaksikannya sekilas sebelum ia ditinggal pergi begitu saja.
Alice sudah menghabiskan hampir satu jam untuk menunggu Jasmine dan menanti ceritanya. Kelihatannya ada yang tidak berjalan dengan baik. Ekspresi Jasmine sedikit lain.
Belum sempat Alice mencerna kejadian ini lebih detail, dia dikejutkan kedatangan Sila. Wanita muda itu membawa gagang telepon yang ia serahkan kepada Alice.
"Nyonya Liecester menghubungimu, Nyonya." Sila menunduk dan membiarkan Alice menerima panggilan itu seorang diri.
"Halo?" tanya Alice menyambut panggilan tersebut.
"Alice. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" tanya Violin sedikit penuh tekanan. Mertuanya biasanya terdengar ceria. Tak biasanya Alice mendengar Violin tercekat seperti menahan sesuatu.
"Baik, Vio. Apakah ada masalah? Sesuatu yang perlu aku ketahui?" tanya Alice curiga.
Hening. Tidak ada jawaban untuk waktu yang lumayan lama.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Alice, jika ada sesuatu atau apa pun itu yang mengganggu pikiranmu, kau harus mengabarinya padaku. Kau ingat? Kabarkan semuanya padaku!" pinta violin serius.
Alice mengusap hidungnya yang tak gatal. Dia mulai tidak memahami ke mana arah pembahasan mertuanya.
"Apakah ada sesuatu?" Alice bertanya ingin tahu. Tetapi Violin hanya membungkam mulutnya.
"Tidak. Aku hanya merindukanmu saja." Violin menimpali. Dia terdengar menahan haru berbaur dengan kesedihan. Alice jadi semakin curiga pasti ada alasan yang mendasari Violin menghubungi dirinya.
"Violin, jujurlah padaku. Apakah ada masalah? Apakah ini berkaitan dengan Klayver?" tanya Alice ingin tahu.
Violin tertawa kecil, mencoba mengelabui Alice.
"Tidak. Aku hanya mendengar kau sedang dalam keadaan hamil. Benarkah itu? Berapa bulan?" tanya Violin antusias. Nadanya berubah menyenangkan, menghapus semua jejak kesedihan yang sebelumnya Alice tangkap dari Violin.
"Dari mana kau tahu?" Alice bertanya curiga.
"Oh telingaku ada di mana-mana. Aku selalu tahu, Sayang. Dengar. Mulai sekarang kau harus menjaga baik-baik kandunganmu. Ibu hamil harus ingat akan nutrisi. Dan satu hal lagi Jangan biarkan pikiranmu terlalu stress. Jadi, jika terjadi apa pun dalam rumahmu, kau harus menghubungiku. Kau ingat itu?'' Violin memberikan saran yang sangat panjang.
Alice mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian setelah ia sadar bahwa Violin tak melihat gerakannya, Alice menggantinya dengan sebuah jawaban.
"Tentu saja, Violin. Kau jangan terlalu khawatir." Alice mencoba menenangkan.
"Bagus. Bagus. Berapa bulan?" tanya Violin kemudian. Dia termasuk orang yang detail. Sekali melontarkan pertanyaan, Violin harus mendapatkan jawabannya.
"Dua bulan." Violin tersenyum kecil. Dia mengusap perutnya yang masih rata, mulai membayangkan janinnya sendiri
"Dua bulan. Masih terlalu muda. Kapan-kapan jika aku meniliki waktu luang, aku akan mampir ke rumahmu." Violin berjanji sebelum akhirnya ia menutup teleponyya dan membiarkan Alice merenung seorang diri.
Alice duduk di bangku taman dan menatap kolam kecil yang berisi berbagai jenis ikan. Kolam ini berbentuk bundar dengan air mancur yang turun dari atas di tengah-tengahnya.
Violin telah mengerti bahwa Alice hamil. Sepertinya wanita itu terdengar sangat senang. Alice merasa bersyukur atas karunia ini. Setidaknya mertuanya masih cukup peduli terhadapnya.
"Klayver." Nama itu muncul dalam bisikan Alice tanpa suara. Nama yang selalu ia sebut di setiap malam dan tidurnya. Nama yang sosoknya hadir dalam setiap mimpi-mimpinya.
__ADS_1
Kapan lelakinya akan kembali? Kapan masalah Klayver akan berhasil diatasi?
Klayver telah pergi setengah bulan yang lalu. Waktu yang telah Alice lewati terasa sangat lama sekali. Satu hari tanpa Klayver seperti satu bulan kegersangan dalam musim panas.
Waktu menjadi terasa lama. Terasa sepi. Membuat Alice semakin menyadari kesendirian yang ia miliki.
Hatinya telah rindu. Menginginkan bersatu pada kekasih hati. Entah kapan waktu akan mengijinkan mereka saling menyatu kembali.
Alice terduduk lama, melihat satu demu satu daun berguguran terbawa angin. Ada yang jatuh ke kolam, ada yang jatuh ke tanah, ada yang diterbangkan angin lebih tinggi lagi dan jatuh ke luar dari wilayah halaman Alice.
Satu doa yang selalu Alice selipkan setiap malam. Semoga semua urusan yang Klayver miliki segera usai. Alice tak bisa ditinggal lama tanpa Klayver.
Klayver bagaikan oksigen dalam nafas yang ia hirup. Tanpanya, Alice akan sekarat perlahan-lahan. Meninggalkan sejuta hal di dunia ini.
…
Violin menatap James di ruang kerja. Mereka tengah memahas situasi yang Klayver alami.
"Jadi, anak itu sekarang sibuk memberantas musuh-musuhnya?" James mengulangi kembali penjelasan istrinya.
Violin memgangguk pelan, memendam ketidakberdayaan. "Dia menolak bantuan yang bisa kita berikan. Tampaknya dia akan melakukan ini seorang diri. Tadinya aku sudah akan menyiapkan dua orang terpercayaku untuk mengawal Klayver, tetapi sepertinya hal itu ditolak oleh putra kita. Entah atas dasar apa." Violin menggeleng heran.
"Harga dirinya terlalu tinggi untuk meninta bantuan pada kita. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menerima siruasi ini dan mendoakan yang terbaik. Hanya itu fungsi kita saat ini." James tersenyum kecil, berharap istrinya bisa memahami hal ini.
Kalyver memiliki karakter seperti ibunya. Tidak mudah mengambil bantuan dan selalu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Sungguh beruntung memiliki putra sepertinya.
Namun, harga diri Klayver juga menjadi kelemahan. Di saat-saat terdesak pun, saat ia seharusnya menerima bantuan, tak jarang lelaki itu akan tetap keukeuh pada pendirian dan menolak semua jenis bantuan.
"Aku memiliki berita yang cukup mengguncang." Violin terlihat bersemangat. Dia duduk di sisi James dan merangkul suaminya mesra.
Udara New York siang ini cukup panas. James bahkan mengatur AC sedemikin rupa sehingga ruangan ini tetap terasa sejuk.
"Apa?" James ikut penasaran.
"Alice hamil. Dia tengah mengandung anak Klayver. Apakah kau tahu apa artinya itu? Kita akan memiliki cucu dalam tujuh bulan lagi."
Violin menyandarkan kepala ke dada bidang James dan tersenyum penuh rasa bahagia. Akhirnya, apa yang ia idam-idamkan bisa terjadi juga. Akan ada cucu dalam keluarga ini. Bayi mungil yang lucu dan menggemaskan.
Membayangkan hal ini membuat James dan Violin tertawa kecil. Bayangan-bayangan mereka saling datang silih berganti membentuk adegan utuh.
"Kita akan memiliki anggota keluarga baru. Ayo kita kabari anak-anak kita yang lain dan kita buat pesta kecil-kecilan nanti malam!" usul James penuh rasa bangga. Dia akan menjadi grandpa. Orang tua mana yang tidak bahagia?
…
Jasmin seharian ini hanya berdiam diri di kamar. Banyak panggilan tak terjawab yang ia biarkan begitu saja. Suasana hatinya sedang buruk. Pikirannya kacau.
Jasmine masih ingat bagaimana tadi pagi Daniel mengusirnya secara halus. Seolah-olah ia adalah wanita rendahan. Meskipun faktanya memang demikian, tetapi Jasmine cukup tersinggung juga diperlakukan seperti itu.
Setelah semalam penuh Daniel bersikap memuja, menghilangkan semua olok-oloknya dan memberi banyak kebaikan untuk Jasmine, nayatanya semua itu lenyap begitu saja setelah pagi menjelang.
__ADS_1
Jasmine seharusnya bisa menebak hal ini. Dia terlalu bodoh sehingga untuk sesaat membiarkan pikirannya tenggelam dalam banyak impian semu.
Memangnya, Jasmine siapa? Dia tetaplah wanita bayaran yang memiliki tarif dan bisa digunakan semau lelakki.
Memang kejam. Tetapi itulah kenyataannya. Wanita seperti Jasmine memang memiliki batas dalam rantai sosial. Wanita seperti itu bisa kaya, berkembang, dan menyamai ketenaran para sosialita lain. Tetapi pada akhirnya, status tak akan pernah bisa dikamuflase. Selalu ada noktah merah yang mengikuti langkah wanita seperti Jasmine.
Pada akhirnya, sekuat apa pun dia mencoba menembus tatanan sosial, selamanya tidak akan pernah diterima. Dia tetap saja kaum marginal. Kekayaan bisa dicari tetapi nama baik tak pernah bisa dibeli. Sudah menjadi hukum alam.
Maka dari itu, Jasmine sudah membekali diri bahwa sekali pun dia melayani banyak konglomerat, pada dasarnya dia hanya tetap akan menjadi latar belakang yang tidak diperlukan. Sebagai hiburan yang hanya diambil ketika mereka bosan.
Seharusnya Jasmine sudah menyadari hal itu. Dia selalu memiliki prinsip yang teguh. Hanya saja, semalam hal itu nyaris ia terjang. Ada mimpi terlarang yang muncul tanpa bisa dicegah tentang dirinya dan Daniel.
Lucu memang. Jasmine kemudian disadarkan dengan cara yang cukup keras. Sampai kini pun, bayangan tentang Daniel masih cukup kuat berada di benak dan pikirannya.
Daniel. Semalam bersamanya membuat Jasmine lupa untuk kembali menginjak bumi. Semalam bersamanya membuat Jasmine lupa identitasnya sebenarnya. Semalam bersamanya, membuat Jasmine berpikir dia telah menemukan surga yang selama ini ia cari. Bahkan, semalam ia sengaja tak memakai pengaman. Bukan untuk apa-apa, dia hanya ingin menjadi wanita yang seutuhnya. Entah Daniel menyadarinya atau tidak.
Jasmine tertawa kecil. Dia ingin sekali berada dalam pelukan Jasmine, diterima dengan baik, dilihat sepenuh hati, dan merasakan sebagai wanita sepenuhnya.
Baru tadi pagi dia kembali dari Daniel. Tetapi hasratnya untuk kembali pulang dalam dekapan lelaki itu sangatlah kuat.
Ini aneh, sekaligus tidak normal. Jasmine ingin tertawa dan mencemooh diri sendiri secara bersamaan. Tetapi apa daya. Dia sudah tak memiliki tenaga apa pun saat ini. Semua sendi-sendinya terasa lemah dan sulit untuk digerakkan. Mengingatkan betapa semalam Daniel telah sukses mengklaim dirinya.
…
Daniel kembali memutar lagu itu dan kembali meresapi apa yang telah terjadi semalam. Dia melirik ke sisi ranjang. Di sana masih terlihat kacau, menandakan bahwa sebelumnya tempat itu baru saja terjamah seseorang.
Daniel tertawa sinis. Semalam yang ia lakukan bersama dengan Jasmine, tak juga meredakan hasrat dan keinginannya. Yang ada justru ambisinya semakin menguat untuk memilikinya kembali. Seperti narkotika yang sengaja dibuat coba-coba. Awalnya hanya sekadar untuk menuntaskan rasa penasaran. Tetapi justru menjadi candu dan sulit untuk terlepas. Semakin mencecap, semakin mustahil untuk melepaskan.
Daniel kembali teringat bagaimana tadi malam mereka saling membagi segalanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tidak ada yang ditahan-tahan. Tidak ada yang disembunyikan. Seolah dunia hanya milik mereka. Saling membagi kisah yang penuh rahasia.
Jasmine adalah wanita yang cukup sensitif. Dia mudah dibuat senang. Daniel seperti menemukan hal yang baru dalam hidupnya. Sesuatu yang sangat langka. Bak harta karun.
Perasaan yang Daniel alami ternyata hanya menjadi olok-olok. Semua hal yang mereka lakukan tak lebih dianggap sebagai permainan kotor oleh Jasmine.
Lucu. Tetapi ìtulah kebenarannya. Daniel ingin berteriak dan memaki secara bersamaan. Tetapi ia sedang tak memilki tenaga. Tenaganya telah ia habiskan untuk Jasmine tadi malam, berharap semua itu akan terkenang.
Daniel turun dari ranjang dengan gerakan malas dan berjalan pelan menuju kamar mandi di sudut ruangan. Daniel mengatur suhu air dan mulai membilas tubuhnya dari ujung kepala.
Setelah menghabiskan seperempat jam di kamar mandi, Daniel mengambil sembarang baju dan menemukan kaos tanpa kerah berwarna hitam dengan celana jins biru dongker.
Daniel merasa marah tanpa tahu sebabnya. Dia kemudian turun ke lantai bawah untuk sarapan kilat. Karena ruang makan berada di ujung dekat dapur, Daniel melewati ruang tengah. Daniel mengernyitkan kening saat melihat sesuatu di atas meja. Dia berjalan mendekat untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar.
Selembar cek.
Cek yang ia siapkan untuk Jasmine. Wanita itu sepertinya lupa untuk mengambil cek ini. Sulit dipercaya pebisnis seperti Jasmine melupakan hal yang penting.
Daniel menatap jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Daniel hari ini sudah memutuskan untuk tidak akan berangkat ke kantor. Mungkin akan lebih baik dia mampir ke rumah Alice untuk menyerahkan cek ini pada Jasmine.
Daniel tak ingin dianggap lelaki yang tak menepati janji. Sudah membuat kesepakatan tapi melupakan pembayaran. Dia masih cukup jantan untuk membayar apa yang ia beli.
__ADS_1
Diam-diam, mengingat Jasmine membuat Daniel meradang sendiri.
…