Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
004 - SEASON 2


__ADS_3

Pagi ini Alice dikejutkan dengan kabar kematian Bella Stranger, sang perawat yang kemarin memberinya informasi mengenai hal ganjil seputar kematian anak-anaknya. Berita itu menyampaikan bahwa kemarin pagi sekitar pukul 09.30, wanita tersebut tergelincir dari tangga dan terbentur fatal di bagian kepala.


Alice merasa bingung. Kematian Alice hanya berkisar sekitar satu jam dari kepergianya. Apakah kecelakaan tersebut memang murni terjadi secara alami? Atau ada orang yang telah mengetahui Bella menyampaikan kecurigaan pada Alice sehingga berusaha membungkam?


Alice menggelengkan kepala kuat-kuat. Dia merasa ketakutanya semakin tak masuk akal. Seolah-olah hidupnya kini seperti sebuah film aksi yang semuanya disetting karena kesengajaan.


Ini adalah kehidupan nyata. Semua hal bisa terjadi karena kebetulan semata. Bisa saja kecelakaan yang dialami Bella murni karena keteledoran yang berujung maut. Calliza harus mulai memilah-milah antara kejadian nyata atau sekedar kebetulan.


Calliza merasa bersedih atas kematian Bella. Dia ingin melayat siang ini untuk ikut menyampaikan rasa duka cita. Mungkin, jika ia beruntung ia bisa bertemu juga dengan Dr. Mark dan membuat janji temu setelahnya. Tentu saja untuk menanyakan seputar gejala kematian kedua anaknya.


Namun, rencana Alice tak berjalan lancar. Dr. Mark menolak permintaan Alice dengan sikap yang kurang menyenangkan. Dibandingkan Dr. Stave, sikap mereka jelas bertolak belakang.


Alice tak mendapatkan petunjuk lain meskipun kecurigaanya semakin kuat. Sorenya, dia menghubungi Daniel dan membongkar beberapa berkas-berkas Anson untuk mengetahui nama orang-orang yang pernah melakukan transaksi di balik hukum dengan Anson.


Daniel mencoba mencari profil orang tersebut dengan keahlian hackernya. Kemudian dia menghubukan orang-orang itu dengan daftar tamu undangan pesta yang Anson hadiri.


Tiga bulan lebih Daniel mencari benang merah yang bisa ia ambil. Daniel bahkan menyewa beberapa datektif untuk menyekidiki diam-diam kasus ini. Tetapi hingga kini tak ada kejelasan apa pun yang bisa ia tarik.


Semua orang yang terlibat, seperti Dr. Stave maupun Dr. Mark bungkam seribu bahasa. Daniel juga menanyai pemilik pesta, Mr. Sauvery untuk mengetahui siapa saja yang berkomunikasi dekat dengan Anson malam ini. Akan tetapi, semuanya masih belum membuahkan hasil


Meskipun Mr. Sauvery cukup hangat menyambut setiap pertanyaam dari Daniel, dia tak terlalu tahu siapa saja orang yang berkomunikasi dengan Anson. Dia adalah pemilìk hajat. Tentu saja ia disibukkan oleh banyak orang sehingga tidak terlalu memperhatikan satu per satu tamunya secara khusus.


Karena pesta yang diadakan adalah pesta peresmian perusahaan, acara tersebut di hadiri oleh banyak tokoh ternama. Acara yang diadakan di ruang outdoor itu tak memiliki akses CCTV. Hanya ada dua kamera utama yang di tempatkan di gerbang pintu masuk utama dan pintu masuk cadangan. Aktivitas-aktivitas lain di luar tersebut tak terekam oleh CCTV.


Mau tak mau, Daniel hanya memeriksa dua kamera pengintai yang dipasang oleh Mr. Souvery. Di dua kamera tersebut hanya terekam Anson saat masuk dan keluar halaman. Tak ada hal lain yang mencurigakan.


Semua yang ingin mereka bongkar seperti mengalami jalan buntu. Tak ada informasi tambahan yang bisa mereka dapatkan. Usaha mereka seperti menabrak tembok kosong tanpa ujung.


Mr. Souvery yang mulai mencurigai niat mereka, hanya diam saja. Dia memaklumi kecurigaan-kecurigaan yang Alice miliki karena bagaimanapun juga, Anson adalah orang besar sehingga memiliki kemungkinan untuk menjadi sasaran pembunuhan.


Mr. Souvery berjanji akan segera menghubungi mereka jika ia berhasil menemukan fakta-fakta lain yang bisa ia ingat seputar Anson. Dia tersenyum ramah dan membekali mereka nomor kontaknya.


Kini, hampir setahun telah berlalu dari hari kematian Anson. Alice mulai menerima kondisi tersebut dan perlahan-lahan membereskan barang-barang pribadi milik Anson. Alice berniat untuk melelangnya dan menggunakan uang hasil dari lelang sebagai sumbangan panti asuhan atau semacamnya. Begitu juga dengan barang-barang milik Kimberly. Setidaknya, Alice berharap barang-barang mereka memiliki nilai untuk kemanusiaan.


Sekarang Axel sibuk menemani Susan di dapur belakang. Alice memanfaatkan waktu luang ini untuk memilah-milah baju pribadi milik Anson. Dia membuka lebar lemari dua pintu dan mengeluarkan semua baju koleksi mendiang sang suami. Sejenak, Alice memejamkan mata.


Kenangan mulai menyeruak satu per satu di benaknya. Saat-saat bahagia ketika mereka bersama membuat logikanya terhempas dengan keras. Ya Tuhan, dia merindukan lelaki itu. Bahkan aroma kemejanya masih mampu membuat Alice terjebak dengan banyak memori masa lalu.


Alice menguatkan tekad dan melanjutkan aktifitasnya. Dia harus kuat dan tak mudah terpuruk. Axel masih membutuhkanya. Dia adalah penguat satu-satunya yang Alice miliki. Jika ia lemah, Axel akan lemah juga.


Alice membuka semua laci dan mengeluarkan semua barang dari lemari. Saat itu, tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah map kertas berwarna cokelat. Alice mengernyit dan mengambil benda itu.


Apakah ini sebuah dokumen milik Anson? Alice menimang-nimang dengan ragu. Ia menebak bahwa benda ini cukup berat. Sepertinya berisi

__ADS_1


banyak dokumen. Dengan penasaran, dia membuka ujungnya dan mengeluarkan sebuah buku berukuran folio tebal.


Alice mencari tempat duduk yang nyaman dan mulai membuka halaman pertama. Alice menarik nafas terkejut. Buku ini berisi daftar semua kolega Anson dalam dunia gelap. Hampir sama dengan yang ia serahkan pada Daniel. Bedanya, buku ini lebih lengkap tiga kali lipat.


Anson menulis tangan masing-masing nama mereka. Sepertinya Anson adalah orang yang sangat hati-hati. Ia tahu bahwa teknologi mampu dibobol sewaktu-waktu. Sehingga ia memutuskan menyimpan transaknsi dan nama-nama penting secara manual. Agar tak mudah dicari orang dan dihack oknum lainya.


Dalam buku tersebut, tercatat secara rapi nama orang, jenis transaksi barang selundupan maupun senjata, serta semua jenis kendala yang menyertainya. Lengkap dengan tanggal, kurir, dan jumlah nominal pembayaran. Bahkan bukti slip transaksi.


Alice membolak-balik beberapa kali dan semakin menemukan banyak informasi. Dia juga melihat daftar nama-nama musuh Anson. Untuk saat ini Alice tak mengetahui siapa mereka, akan tetapi, sepertinya Daniel bisa menghubungkan semuanya jika ia berikan informasi ini.


Alice tahu apa yang ia pegang adalah infornasi berbahaya. Jika salah satu dari rekan bisnis Anson tahu Alice memegang catatan transaksi dan bukti pembayaran, mereka pasti menjadikan Alice sebagai buronan untuk melenyapkan bukti.


Alice harus berindak cerdas. Dia membawa buku tersebut ke ruang kantor yang dulu sering Anson gunakan dan menggandakan catatan itu dengan mengcopinya secara manual menggunakan mesin foto copy. Dia menyimpan buku asli itu di tempat aman dan menyiapkan berkas copian untuk ia serahkan pada Daniel.


Saat Alice meletakkan buku asli, tak sengaja buku tersebut terjatuh dan selembar kertas di lembar paling akhir terlepas. Alice memungutnya pelan. Nafas Alice tertahan saat ia melihat tulisan tangan Anson di lembar terakhir.


***Dear Alice,


Jika kau menemukan dokumen ini dan situasiku dalam bahaya, carilah seseorang bernama Aroon Stephen. Dia orang yang bisa menbantumu.


Ini kontak terakhir yang bisa membawamu padanya***.


Anson menulis sebuah alamat yang terletak di LA. Alice memejamkan mata, memikirkan dirinya sebentar lagi pasti akan terbang mendatangi alamat itu.



Alice melakukan janji temu dengan Daniel di sebuah kedai kopi pada pagi hari. Dia menyerahkan kopian berkas-berkas milik Anson dan mengamati reaksi Daniel.


"Kau tahu apa arti semua dokumen ini?"


Alice mengerutkan kening sedikit ragu.


"Catatan semua transaksi Anson, bukan?" Alice memastikan.


"Ini bukan hanya sekedar transaksi. Ini adalah informasi yang sangat dicari polisi. Dengan dokumen ini, polisi bisa menuntut dan membongkar semua jaringan gelap besar negara ini."


Alice mengangguk mengerti. Dia sudah menebak fungsi sesungguhnya dokumen tersebut.


"Jika semua orang yang terlibat dalam catatan ini menyadari kau punya bukti, mereka pasti akan melenyapkan bukti ini dan juga melenyapkanmu."


Daniel mulai khawatir. Dia berdiri dan menggerak-gerakkan tanganya frustasi. Perlahan-lahan, benang merah mulai terbentuk di otaknya.


Daniel kembali duduk dan menatap Calliza penuh arti. Ya Tuhan, bagaimana Alice selalu terjebak dengan masalah pelik seperti ini?

__ADS_1


"Alice. Sepertinya aku semakin yakin Anson memang sengaja dibunuh. Aku curiga ada yang tahu Anson menyimpan bukti transaksi ini dan berusaha membungkam Anson. Dia pikir, dengan membungkam Anson semuanya pasti jadi ikut terkubur dan tak lagi membahayakan situasi mereka. Tetapi pembunuh Anson tidak pernah mempertimbangkan bukti itu akan jatuh ke tanganmu."


Daniel menjelaskan panjang lebar. Kedua matanya semakin menyiratkan kekhawatiran baru. Jika memang begitu situasinya, posisi Alice sekarang tidak aman. Ia bisa dijadikan objek buruan kapan pun ia mau.


"Tetapi mengapa Bella mengatakan anak-anakku mengalami gejala ketacunan sebelum meninggal? Mungkinkah itu tindakan mereka juga?"


Daniel menyugar rambutnya putus asa. Anak-anak Alice sama sekali tak bersalah. Bagaimana mungkin ada orang yang tega membunuh mereka dengam cara kejam seperti itu?


Mungkinkah mereka memang berniat membunuh semua keluarga Anson? Tetapi apa yang mendasari mereka melakukanya? Apakah pelakunya satu orang tunggal atau sekelompok orang?


Daniel merasa bingung dan kembali meneliti berkas yang diserahkan Alice padanya. Dia membolak-balik lembaran tersebut dan mendesis kecil setiap melihat transaksi uang yang sangat besar. Ini benar-benar gila.


"Daniel, apakah lebih baik aku serahkan bukti itu pada polisi saja?" Alice bertanya khawatir.


Daniel menimbang-nimbang kemungkinan yang ada dan menggeleng lemah. Menyerahkan pada polisi sementara mereka masih belum tahu pelaku di balik pembunuhan Anson adalah tindakan yang konyol. Orang itu bisa saja menyusup lembaga hukum dan mencari cara membungkam Alice untuk selamanya.


Langkah pertama yang seharusnya mereka lakukan adalah mencari orang di balik kasus kematian Anson maupun anak-anaknya. Setelah mereka diamankan, barulah Daniel bisa yakin mendukung Alice untuk menyerahkan berkas ini ke pihak polisi.


"Jangan dulu. Kita harus mencari pembunuh Anson sebelum membongkar semua ini di depan hukum."


Alice mulai makan sajian yang baru saja diantar oleh salah seorang pelayan. Pandanganya menerawang tak tentu arah.


Pembunuhan.


Bagaimana mungkin akhirnya Anson berakhir secepat ini? Bukankah mereka baru saja mencecap kebahagiaan?


"Daniel, aku menemukan pesan Anson di dokumen itu."


Alice teringat sesuatu dan menunjukkan tulisan tangan Anson yang menganjurkan ia untuk mencari seseorang bernama Aaron Stephen. Mungkinkah ia adalah orang yang memiliki keterkaitan kuat dengan suaminya dulu?


"Kita harus segera terbang ke LA untuk menemui orang ini." Daniel terdengar antusias. Dia merasa menemukan petunjuk baru.


"Kau yakin akan menemaniku?" Alice bertanya tak yakin.


Akhir-akhir ini, Daniel baru saja menciptakan hubungan romansa dengan Cerril. Wanita berdarah campuran Eropa dan Asia. Alice tak enak hati jika harus mengganggu hubungan mereka dan mengikut sertakan Dani dalam masalahnya sendiri.


Bagaimanapun, Daniel adalah orang yang pernah mencintainya. Meskipun hubungan mereka hanya sebatas sahabat, tetapi Alice takut kedekatan mereka pergi bersama akan menimbulkan perasaan-perasaan canggung berlebihan.


"Sebaiknya aku pergi sendiri saja, Daniel. Kau membantuku mencari informasi di sini saja," tolak Alice lembut. Ia merasa akan lebih baik memiliki sedikit batasan dengan Daniel.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hatilah." Daniel menyadari keengganan Alice. Dia memilih untuk menerima keputusan Alice dan tetap berada di Manhattan.


__ADS_1


__ADS_2