Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
056 - SEASON 2


__ADS_3

Rachel menatap suaminya dengan pandangan lembut. Dia tahu seberapa besar lelaki itu mencintainya. Demi dirinya, Maxen rela menyerahkan diri pada lembaga berwenang.


Cinta itu adalah penggerak yang sangat kuat. Dengannya, seseorang bisa melakukan banyak hal.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Maxen lembut. Dia merapikan beberapa helai rambut istrinya dan mengecup keningnya penuh rasa sayang.


"Aku luar biasa baik. Bagaimana dengan dirimu, Maxen?" Rachel mengelus lembut rahang suaminya. Mereka saling bertatapan lama. Seolah waktu berhenti untuk sesaat.


"Maxen, mungkin dalam beberapa hari ini aku bisa kembali pulang." Rachel tersenyum pedih. Kepulangannya menjadi tanda peringatan tentang rencana Maxen sehububungan dengan penyerahan dirinya.


"Baguslah. Aku akan melakukan apa yang aku janjikan padamu setelah keadaanmu cukup stabil." Maxen menimpali. Tak ada beban sama sekali di kedua matanya.


"Kau yakin tidak apa-apa melakukan semua itu? Menyerahkan diri?" tanya Rachel tak yakin.


Maxen adalah lelaki bebas yang terbiasa memiliki ruang luas. Berada dalam sel penjara pasti merupakan siksaan yang berat. Bagi lelaki sepertinya, udara segar adalah segala-galanya.


"Kau yakin sanggup menungguku selama bertahun-tahun hingga aku bebas?" Maxen bukannya menjawab, justru melontarkan pertanyaan baru.


"Aku akan menunggumu. Aku janji. Ke mana lagi aku akan berlari jika kau adalah rumahku?" Rachel berkata serius. Dia menggenggam erat tangan suaminya, menguatkan diri.


"Aku bisa melalui banyak hal selama kau bisa setia menungguku." Maxen tersenyum kecil.


Untuk wanita ini, bahkan samudera dan jurang akan ia lewati. Tidak peduli penderitaan apa yang akan ia lalui.


Rachel adalah permata dan perhiasan paling indah. Bertahun-tahun di penjara merupakan bayaran kecil selama ia bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama yang ia cintai.


Sepanjang ia tidak kehilangan Rachel, apa pun itu akan Maxen lalui. Wanita ini telah mengambil separuh hatinya. Sisa nafas yang ia miliki hanya Maxen peruntukkan untuk Rachel.


"Aku sangat mencintaimu, Rachel. Selama kau bisa menungguku hingga waktu yang ditentukan, aku sanggup bertahan dalam keadaan apa pun." Maxen berkata serius.


Penjara bukanlah penjara jika hatinya bisa terbang. Tetapi kebebasan bisa menjadi sebuah penjara jika hatinya terkungkung.


"Lakukanlah, Maxen. Aku berharap kau tak terlalu lama berpisah denganku." Rachel tersenyum miris.


Ketakutan yang dimiliki Rachel semakin menjalar hebat. Dia tak pernah merasa ditinggalkan akan semenyakitkan ini meskipun untuk sementara. Dengan lemah, dia berharap Maxen tak akan lama meninggalkannya.


"Aku memiliki pengacara hebat. Dia pasti akan membuat hukumanku berjalan seringan mungkin." Maxen berusaha menenangkan Rachel. Dia merasa wanita ini terlalu mudah khawatir.



Alice kembali ke rumah saat hampir memasuki waktu makan malam. Dia berjalan menuju ruang utama dengan diikuti oleh Klayver. Mereka berdua terlihat sedikit lega setelah melakukan kunjungan terhadap Rachel. Rasa bersalah yang Alice rasakan tidak sebesar sebelumnya.


Saat tiba di ruang tengah, ia dikejutkan oleh banyaknya permainan baru yang tergeletak di sembarang tempat.


Ada banyak jenis mobil-mobil remote control, Robot-robotan otomatis, pistol anak-anak yang bisa berbunyi, beberapa bola dengan motif beragam, dan permainan semacamnya.


Di tengah-tengah, Axel berdiri penuh rasa puas. Tangan kanan dan kirinya menggenggam sejenis tembak-tembakan dengan isi peluru imitasi.


Tak jauh dari anak itu, duduk Violin dan James dengan raut muka bangga. Violin terkekeh geli, memberi semangat pada Axel seolah Axel tengah berkompetisi besar-besaran.


"Bagus, Sayang. Luruskan tanganmu lebih baik lagi dan fokuskan pandanganmu untuk mengambil sudut terbaik dalam tembakan!" Violin mengarahkan Axel dengan antusias.


Anak tersebut melakukan apa yang Violin sarankan. Dia meluruskan tangan dan pandangannya, menyipitkan mata, dan dalam hitungan ketiga melepaskan tembakan.


Cuuuuzzzz


Peluru imitasi tersebut mendarat dengan sukses di sebuah vas keci yang terletak persis di samping televisi LED. Vas tersebut bergetar beberapa saat, oleng, kemudian jatuh ke bawah.


Suara porselen yang pecah terdengar sangat mengenaskan di telinga Alice. Benda indah tersebut hancur berkeping-keping tak lagi berbentuk.


Suasana sejenak hening. Detik selanjutnya, Violin dan James saling bertepuk tangan dengan heboh.

__ADS_1


"Bagus. Kau memang anak luar biasa." Violin terkekeh bangga


"Kau akan tumbuh menjadi lelaki hebat. Menakjubkan!" James menimpali.


"Ingat, saat kau sudah lebih besar, Grandma akan mengajarimu hal-hal yang lebih hebat lagi." Violin menyahut.


"Kau pantas menjadi keluarga Liecester kami."


Violin dan James saling berebut untuk memuji Axel bergantian. Alice yang menatap pemandangan ini terlihat syok. Dia melirik Klayver, seolah ingin menyalahkan.


Dia baru saja meninggalkan Axel setengah hari bersama Violin dan lihat apa yang terjadi. Bukan hanya anak itu dibelikan lusinan mainan baru yang terlalu banyak, tetapi bahkan diajari cara menembak.


Ya Tuhan. Alice tak akan pernah bisa membayangkan akan menjadi apa Axel nanti jika ia di bawah pengasuhan mertuanya. Baik Violin maupun James pikirannya sama-sama belok. Wow. Menakjubkan.


"Hai, Mom. Kau lihat tembakanku barusan. Pas sasaran, bukan?" Axel menatap Alice bangga dengan sedikit membusungkan dada kecilnya.


Alice mengutuk dalam hati. Sebulan saja Axel melatih metode tembakan barunya, semua barang porselen rumah ini bisa hancur satu per satu.


Alice meringis menatap pecahan vas yang tadinya berharga ribuan dollar. Untuk seukuran vas kecil dengan harga tersebut, vas itu tergolong langka dan mahal.


"Mom tidak senang jika kau menghancurkan perabotan seperti ini lagi saat kau bermain. Pilih tempat yang lebih baik dan bermainlah menggunakan permainan yang tidak berbahaya."


Permainan yang tidak membuat Alice rugi ribuan dollar, tentu saja. Batin Alice pilu.


Violin menatap cucunya tak suka saat ia dimarahi oleh Alice. Ia berkacak pinggang dengan penuh kuasa dan membela Axel habis-habisan.


"Anakmu laki-laki, Alice. Sudah selayaknya ia bermain seperti bocah laki-laki juga. Permainan aman yang kau maksud hanya untuk bocah perempuan lemah tak berdaya!" katanya tak ingin dibantah.


Alice memutar bola matanya dengan pelan. Ya Tuhan, bagaimana bisa hubungan mertua dan anaknya berkembang sejauh ini.


Alice tak ingin menambah masalah dan hanya berlalu pergi meninggalkan mereka. Klayver yang mengetahui suasana istrinya hanya bisa terkekeh geli.


Istrinya mudah sekali untuk dipancing emosinya. Hanya butuh dorongan kecil untuk membuatnya marah. Benar-benar seperti gunung berapi. Wanita seperti itu malah semakin menggodanya.


"Suasana hati istrimu lumayan juga. Dia mudah marah ternyata. Sangat berbeda dengamu yang tak memiliki emosi sama sekali." Violin tidak sedikit pun merasa bersalah. Dia justru bersenandung santai, menyanyikan lagu tahun delapan puluhan.


"Kata siapa aku tak memiliki emosi?"


"Memangnya kau memiliki emosi? Kau masih lelaki datar yang sama dengan delapan tahun yang lalu."


Violin mengamati wajah putranya yang sudah memiliki gurat-gurat kedewasaan lebih dalam. Menunjukkan bahwa jalan hidup telah membawa banyak hal baginya.


Sebenarnya, putranya itu tak sedingin dulu lagi. Tawa yang ia miliki adalah tawa hangat yang bisa ia lihat sampai ke mata. Bukan lagi tawa kosong seperti dulu pasca ditinggal Holy pergi.


Alice membawa pelangi dan warna tersendiri Violin yakin lebih dari apa pun juga putranya telah terikat oleh cinta kepada Alice. Wanita itu tergolong luar biasa.


"Mom, jangan ganggu Alice. Sebagai mertua, kau cukup buruk."


Violin menaikkan sebelah alisnya, tak terima. Dia merasa sudah menjadi ibu yang luar biasa hebat. Buktinya dia berhasil membesarkan empat anak tanpa seorang pun pengasuh. Mereka tumbuh dengan baik dan menjadi orang sukses.


Tetapi saat ini Violin tak ingin berdebat terlalu jauh dengan putranya. Ia memilih diam dan menyimpan semua kata hatinya.


"Kau memang sedikit frontal, Sayang. Lain kali, bersikaplah lebih lembut kepada menantu kita." James pun tak lebih baik. Dia juga memilih sejalur dengan putranya.


Violin mendesah pasrah dan merentangkan kedua tangannya yang masih saja terlihat anggun di usia tua.


"Baiklah. Aku akan berbicara dengan Alice dan berjanji menjadi mertua yang baik," putusnya sembari meninggalkan ruang tengah.


Klayver dan James saling berpandangan penuh arti. Axel, yang berada tak jauh dari mereka hanya memandang kelompok orang dewasa tersebut secara bergantian. Orang dewasa memang suka aneh. Sikapnya tak pernah dimengerti oleh Axel. Mereka terkadang saling berbicara dengan bahasa tubuh yang membuatnya pusing untuk memahami.


Setelah pergi meninggalkan putra dan suaminya, Alice berjalan menyusuri tangga utama menuju kamar Alice sesuai dengan arahan William sehari yang lalu.

__ADS_1


Violin adalah wanita yang memiliki ingatan kuat. Ia bisa menghafal sebuah lokasi hanya dalam sekali pandang.


Setelah tiba di lantai atas, ia menyusuri lorong dan berbelok ke arah kiri. Di sana ada sebuah kamar dengan pintu kayu berukir rumit. Secara sekilas saja sudah tampak ruangan ini merupakan kamar utama. Pintunya lebih besar dari pada yang lain dengan desain paling indah.


Tok Tok Tok


Violin mengetuk pintu beberapa kali. Dia menunggu sekejap sebelum akhirnya pintu tersebut dibuka dari dalam.


Alice telah berganti memakai pakaian santai. Atasan kaos polos tanpa lengan dengan celana berbahan kain yang lembut hingga mata kaki.


"Violin? Apakah ada sesuatu yang salah? Mungkinkah Axel membuat masalah di bawah?" Alice bertanya khawatir. Dia sudah akan keluar dari pintu, tetapi ditahan oleh mertuanya.


"Tidak. Semuanya baik-baik saja. Kita perlu berbicara sebentar!" Violin membuka pintu semakin lebar dan tanpa diundang, dia masuk ke kamar menantunya bak ratu anggun yang memiliki kuasa agung.


Alice menggelengkan kepalanya. Ibu dan anak sama. Keduanya memiliki sisi dominan lebih banyak dari orang lain.


Violin duduk di sebuah kursi meja rias dan menatap menantunya dengan tatapan datar. Tatapan yang mengingatkan Alice kepada Klayver. Tatapan yang di dalamnya tanpa riak dan ekspresi sedikit pun.


Kedua tangan Violin ia silangkan di depan dada. Sebelah kakinya ia topangkan di atas kaki lainnya. Membuat kuku-kuku yang ia cat orange terlihat anggun.


"Aku tahu mungkin aku belum menjadi mertua yang sempurna bagimu. Tetapi setidaknya aku telah mengusahakan yang terbaik," akunya jujur. Ia berdiri dan berjalan mendekati menantunya. Diusapnya lembut bahu Alice penuh rasa sayang.


"Jangan terlalu tersinggung dengan setiap tindakanku, Sayang," pintanya keibuan.


Alice terdiam untuk sesaat. Ia menatap Alice dan akhirnya memahami keseriusan yang wanita tersebut sampaikan.


Alice menunduk dalam. Kedua kakinya bergerak gelisah. Akhirnya, ia mulai menangkap sesuatu.


Ini adalah bentuk permintaan maaf dari Violin karena terlalu memanjakan Axel hingga melewati batas toleransi yang Alice miliki.


Mertuanya ternyata memikirkan reaksinya dan sekarang mencoba berdamai secara halus. Alice tersenyum simpul, merasa dadanya menghangat oleh tindakan Violin.


"Oh Ya Tuhan, Violin. Aku tahu maksudmu. Sebenarnya aku tidak benar-benar marah padamu atas caramu memperlakukan Axel. Aku hanya kesal untuk sesaat saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan." Alice tersenyum menenangkan.


Violin memang unik. Bahkan saat ia meminta maaf pun, keangkuhannya masih ia bawa sebagai simbol dirinya.


Tetapi sekarang Violin cukup memahami maksud Violin. Ia tahu di balik keangkuhan tersebut tersimpan sekeping hati yang memiliki kepedulian mendalam terhadap banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan Klayver.


Alice tahu lebih dari siapa pun juga rasa sayang yang Violin tunjukkan untuk Axel adalah rasa sayang murni. Secara pribadi Alice cukup bersyukur putranya bisa diterima oleh Violin. Ada kepingan yang selama ini kosong mulai diisi oleh Violin secara perlahan.


"Baguslah. Sebagai seorang ibu, kupikir kau cukup pemarah," Violin berkacak pinggang dan bersiul pelan. Dia berjalan mantap meninggalkan kamar Alice dengan langkah-langkah lebar.


Sebelum sampai ke pintu, Violin berbalik lagi dan menyampaikan sesuatu dengan tiba-tiba.


"Aku berharap kau segera memberiku cucu. Semakin banyak semakin baik."


Alice nyaris tersedak oleh ludahnya sendiri. Dia menatap tak peracaya oleh kata-kata yang disemburkan mertuanya secara langsung.


"Anak?" Alice hanya bisa membeo setelah kesadarannya mulai pulih. Wajahnya tampak sedikit linglung.


"Ya, anak. Olahraga malam bersama Klayver biasanya bisa menghasilkan anak jika kalian cukup pintar dan cukup sering melakukannya. Berusahalah dengan lebih keras, Sayang. Aku akan memberikan pulau pribadiku untukmu jika kau berhasil melahirkan anak dari Klayver. Aku tunggu kabar baiknya." Violin mengedipkan salah satu matanya penuh makna. Seolah-olah mereka tengah melakukan kompromi rahasia.


Setelah kepergian mertuanya, Alice menjatuhkan tubuhnya dengan syok. Dia menatap jari jemarinya yang saling terkait dan kembali mengingat-ingat kata demi kata yang Violin sampaikan.


Mertuanya mengharapkan cucu darinya secepat mungkin. Hal itu Violin sampaikan secara langsung seolah-olah mereka sedang membicarakan transaksi bisnis. Bahkan wanita itu menyogoknya dengan apa tadi … pulau pribadi? Hell, yang benar saja. Keluarga Liecester sekaya itu ya?


Violin menyumpah serapah dan menendang kaki ranjang di bawahnya. Dia merasa semakin kesal menyadari Violin meminta sesuatu dari dirinya dengan begitu gampangnya.


Sialan. Sialan. Sialan.


Wanita itu tak memiliki sopan santun sama sekali. Pantas Kalyver tumbuh dengan kecondongan membunuh. Semua itu pasti pengaruh dari pola didik ibunya yang terlalu frontal.

__ADS_1


Oh Tuhan, Violin menyuruhnya memiliki anak. Yang benar saja. Dia meminta hal tersebut dengan ringan seolah anak adalah produk online yang mudah didapat dari penyalur ternama.



__ADS_2