Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
142 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine duduk di balkon kamar. Dia tidak makan apa pun siang ini sampai-sampai Caterine masuk ke kamarnya dengan membawakan beberapa sajian. Selera Jasmine lenyap begitu saja. Hilang karena Daniel mengacaukan hatinya dengan pembahasan tentang kehamilan dan calon anak mereka.


Lelaki itu berhasil membuat hidupnya tak karuan. Jasmine sama sekali tak menyangka Daniel akan mengancamnya melalui sebuah bentuk ikatan yang bernama pernikahan. Pernikahan merupakan suatu ikatan yang sangat kuat dan memiliki posisi hukum yang nyata. Pernikahan merupakan suatu hal yang diakui secara resmi sehingga siapa pun yang masuk ke dalamnya, tidak bisa sengaja bermain-main dengan ikatan tersebut. Ketika salah satu dari kedua belah pihak menyalahi ikatan, maka pihak yang lain bisa menjadikan hal tersebut sebagai alasan tuntutan di mata hukum.


Menerima pernikahan bagi Jasmine merupakan suatu kelemahan tersendiri. Dengan menikah dia hanya akan dikendalikan oleh orang lain dan tidak memiliki ruang gerak yang banyak. Dengan pernikahan dia juga hanya akan dikontrol oleh orang lain dan memiliki batasan dalam semua hal. Itulah kenapa Jasmine berfikir bahwa Daniel terlalu kejam sehingga dia memberikan ancaman berupa ikatan pernikahan.


Pernikahan memiliki arti seperti dua mata pisau yang bertolak belakang. Di sisi lain untuk mereka yang saling mencintai, pernikahan merupakan bentuk deklarasi pernyataan rasa kasih sayang. Tetapi bagi mereka yang tidak memiliki perasaan tersebut, maka pernikahan hanya akan menjadi sebuah wadah bagi pengendalian dari satu pihak ke pihak yang lain dan sebagai sebuah sarana untuk menekan pihak lain dengan adanya ikatan tersebut.


Berapa banyak orang yang tertekan karena adanya ikatan pernikahan. Banyak wanita di luar sana yang terikat oleh ikatan ini kemudian mereka saling mengadu kepada pihak hukum, karena mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dari suaminya. Dan banyak lagi dari mereka para kaum wanita, mengalami pelecehan, penekanan, dan pemaksaan pada banyak hal tetapi mereka tetap diam dan merasa itulah takdir mereka.


Mereka beranggapan berada dalam lindungan yang bernama suami. Seorang suami yang memiliki kewenangan dalam dominasi tinggi. Pĺadahal, suami ini bisa saja memiliki cacat pribadi atau pola pikir, atau bahkan memiliki kekurangan dalam mengendalikan emosi kepada pasangannya masing-masing. Tetapi karena ikatan pernikahan ini telah terbentuk, maka secara otomatis kondisi psikis seorang perempuan biasanya akan tergantung kepada laki-laki. Tak heran selama ini banyak kasus yang mengatakan bahwa gejala stres banyak dialami oleh para wanita yang telah menikah. Meskipun ini tidak terjadi secara keseluruhan, tetapi Jasmine mampu membuat kesimpulan bahwa ini terjadi dengan persentase kasus yang cukup besar di banyak negara. Karena itu, dia tidak terlalu mempercayai ikatan pernikahan. Baginya, ikatan pernikahan hanyalah sebuah pembatasan pada semua aspek kehidupan yang ia miliki.


Jasmine bisa membayangkan andai ia benar-benar terikat menikah dengan Daniel, dia pasti akan terkekang secara habis-habisan oleh lelaki itu. Bagi Daniel, Jasmine hanyalah wanita rendah dan murahan yang tak pantas untuk mendampinginya secara setara. Di dalam sebuah ikatan pernikahan, kedua belah pihak saling membutuhkan untuk menghargai satu sama lain. Andai ia dan Daniel disatukan di bawah atap yang sama dalam sebuah pernikahan, Daniel pasti akan menyudutkan dan menekan Jasmine dengan semua cara. Pernikahan ini hanya akan menjadi suatu ikatan yang tidak sehat, terutama untuk Jasmine sendiri.


Tentu saja jasmine tidak bisa menerima tawaran pernikahan yang dilakukan oleh Daniel, tawaran itu sama saja dengan sebuah tawaran untuk memenjarakan diri Jasmine sendiri. Tidak. Ia tak mau dan tak sanggup.


Tetapi di sisi lain, jika jasmine tidak menerima tawaran pernikahan itu, maka Daniel akan mengancamnya untuk menuntut hak asuh anak yang tengah ia kandung. Jika sampai Daniel menuntut kepada pengadilan, maka otomatis lelaki seperti Daniel pasti memiliki pengaruh yang besar dan mau tak mau Jasmine harus menunjukkan tentang bukti DNA bahwa anak tersebut memang sebenarnya anak Daniel secara biologis.


Jasmine benar-benar tak habis pikir kenapa Daniel mau melakukan semua itu hanya untuk mempersulit dirinya. Semua anggapan awal Jasmine tentang Daniel yang dianggap akan melenyapkan anak mereka kini telah pupus. sepertinya, Daniel memang tidak memiliki niatan untuk membunuh calon anak mereka. Dilihat dari cara Daniel dalam menyampaikan ancamannya kepada Jasmine sebelumnya, jika memang lelaki itu bermaksud untuk melenyapkan darah daging mereka, maka seharusnya Daniel tidak perlu memberikan ancaman sebesar itu kepada Jasmine.


Jasmine bisa lega mengenai hal ini. Jika memang Daniel benar-benar ingin membunuh janin milik mereka, Daniel pasti akan melakukan sebuah cara yang sangat ekstrem dengan cara-cara lain. Sebuah cara yang pastinya bukan melalui ancaman pernikahan atau pun pengambilan hak asuh anak mereka.


Tetapi meski begitu, Jasmine tetap tak bisa merasa tenang. Ancaman Daniel terhadapnya sama mengkhawatirkannya dengan ketakutan ia akan kehilangan calon anaknya. Menikah dengan Daniel, atau pun memberikan hak asuh anaknya sama sekali bukan pilihan yang bisa ia ambil.

__ADS_1


Jasmine pernah memiliki seorang putri dan ia juga pernah kehilangannya, sehingga Jasmine tenggelam dalam sebuah kesedihan yang sangat mendalam. Kesedihan yang tidak pernah lekang oleh waktu dan akan selalu ia rasakan setiap kali ia mengenang tentang anaknya dulu. Karena itu, calon anak yang tengah ia kandung merupakan sebuah anugerah besar baginya dari Tuhan. Ada kerinduan dan kebahagiaan yang tidak bisa ia jabarkan secara detail tentang betapa ia sangat menginginkan anak ini. Bagaimana bisa jasmine menyerah kepada Daniel dengan ancamannya dan memberikan begitu saja anak miliknya ini kepada lelaki tersebut? Semua itu jelas tidak mungkin dia lakukan. Anak ini telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga apapun yang akan terjadi nantinya jasmine bertekad akan mempertahankan miliknya ini meskipun dia harus melawan dunia sekalipun.


Jasmine memejamkan matanya dengan penuh perasaan kacau. Dia mulai terjebak dengan situasi ini. Jasmine jelas tak mungkin untuk menerima tawaran pernikahan Daniel, dan ia juga mustahil menyerahkan anak ini. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Saat ia tengah dilanda kebingungan, ponsel Daniel berdering nyaring. Benda kecil itu terletak di ranjang di samping selimut lembut yang selalu Jasmine gunakan setiap malam. Dengan lemah, Daniel meraih ponsel miliknya dan mendapati nomor Daniel tertera di layar utama.


Suasana hati Jasmine semakin kacau. Dia sedang tak ingin membicarakan sesuatu dengan Daniel, tetapi agaknya lelaki itu tak membiarkan Jasmine merasa tenang sedikit pun. Seolah-olah dia sudah terpogram untuk membantai Jasmine dengan semua cara.


"Ya? Ada apa lagi, Daniel? Kau ingin mengulangi ancamanmu lagi? Atau memberiku ancaman lain yang lebih tak masuk akal?" tanya Jasmine dengan skeptis. Dia memijat sebelah pelipisnya dengan gerakan pelan, mencoba menenangkan diri. Sebuah tindakan kecil yang sepertinya tak menghasilkan efek apa pun. Tetap saja hati Jasmine sekacau sebelumnya.


"Aku telah membicarakan kasus ini kepada pengacaraku, Jasmine. Jika anak itu lahir, selama kau tak menikah denganku, aku benar-benar akan menuntutnya secara hukum."


"Kau sudah mengancamku dengan situasi ini sebelumnya." Jasmine berdecih kecil. Dia menggeleng lemah membayangkan wajah kejam Daniel yang sama sekali tak memiliki hati dan perasaan. Bagaimana bisa dunia ini memiliki makhluk sekeji Daniel? Apakah lelaki memang selalu memiliki sisi egois seperti ini?


"Aku benar-benar memberimu waktu sebelum anak itu lahir, Jasmine. Pikirkanlah baik-baik situasi ini. Pernikahan adalah sebuah jalan tengah yang terbaik untuk kita. Dengan begitu, baik aku maupun kau memiliki kapasits yang sama besar untuk merawat anak itu secara penuh. Aku tidak ingin menjadi ayah yang hanya bisa mengjenguk anaknya satu hari dalam setiap pekan. Membiarkan kau mengasuh penuh anak itu jelas bukan hal yang bisa kubiarkan begitu saja."


"Pernikahan tidak pernah cocok untuk kita, Daniel. Ikatan itu hanya akan menjadi situasi buruk bagi kita," Terutama bagi Jasmine sendiri. Jasmine bisa membayangkan semua itu dengan kaca mata dirinya.


"Jadi kau menolak pernikahan ini?"


"Apakah perlu dipertanyakan lagi? Tidak bisakah kau menerima penolakanku dengan lebih baik lagi?" Jasmine menjawab dengan nada yang mulai meninggi. Dia tak menyangka pembahasan ini akan kembali diulas lagi dan lagi. Membuat semua kesabaran Jasmine menipis setiap saatnya.


"Tolong bayangkan situasinya dulu, Jasmine." Nada Daniel terdengar semakin sinis dan tajam. Mereka berdua kini seperti musuh yang sebenarnya. Masing-masing saling berdiri di balik garis batas dan bersiap melemparkan serangan memojokkan satu sama lain.

__ADS_1


"Aku sedang membayangkannya. Seorang lelaki satu malam denganku berusaha menyudutkanku dan mengancamku dengan hal-hal yang menyedihkan. Oh, cukup bagus untuk dibuat drama serial televisi sepertinya," balas Jasmine tak kalah tajam. Dia tak ingin pasrah saja menerima setiap hal yang terjadi. Jasmine terbentuk dengan jiwa kuat dan selalu melawan keinginan yang tak sesuai dengan dirinya sendiri.


"Aku akan lebih menyudutkanmu dalam persidangan nantinya. Bayangkan, Jasmine. Jika aku menuntutmu untuk menyerahkan hak asuh anak itu, kau pikir siapa yang akan lebih dibela hakim? Aku, lelaki baik-baik dengan latar belakang mapan dan menjanjikan, melawan kau, seorang wanita malam dengan kehidupan tak stabil dan gaya hidup bobrok tak bermoral. Posisikan jika kau yang menjadi hakim, siapa yang akan kau bela, Jasmine? Seorang anak membutuhkan suasana keluarga dan lingkungan yang sehat. Lingkungan hidupmu hanya akan membuatmu tersudutkan di meja pengadilan."


Suasana hening. Hanya detik jam yang menemani Jasmine di ruang kamarnya. Dia tertunduk dalam, merasa kalah. Apa yang disampaikan Daniel benar. Pengadilan mana pun pasti akan berpihak pada Daniel melihat latar belakang lelaki tersebut yang tanpa cacat. Sementara Jasmine? Sudah menjadi rahasia umum dia memiliki reputasi bobrok. Bisnisnya adalah bisnis terlarang. Uangnya mengalir dari aktifitas ranjang. Siapa juga yang cukup gila menyerahkan pengasuhan anak pada wanita lacúr sepertinya?


"Kau sendiri tahu aku adalah orang yang bobrok luar dalam dan tak memiliki moralits yang cukup. Kenapa masih menawarkan sebuah ikatan pernikahan? Kau pikir menikah dengan wanita murahan sepertiku merupakan prestasi yang bisa dibanggakan? Hah? Atau kau memang memiliki niat tersendiri di balik menikahiku?" Jasmine bertanya dengan curiga.


Daniel sukses menjadi sosok yang penuh maksud. Setiap ancamannya seperti mengandung makna tersendiri. Kewaspadaan Jasmine semakin meninggi setiap waktu. Dia perlu berhati-hati andai tak ingin terjebak semakin dalam ke permainan kotor Daniel.


"Sederana saja, Jasmine. Aku memberikan titik tengah bagi kita semua. Seorang anak membutuhkan kedua fungsi orang tuanya. Demikian juga dengan anakku nantinya. Aku tak ingin dia hanya memiliki salah satu orang tua saja. Jadi, demi kelangsungan psikis anak itu, aku bersedia menikah denganmu, hanya agar anak kita nanti memiliki kasih sayang lengkap kedua orang tuanya. Selain itu, dengan menikah nanti kita akan melakukan kesepakatan-kesepakatan bersama tentang apa yang bisa dan tidak boleh kita lakukan." Daniel menjelaskan dengan datar. Dia tak ingin terlalu menakuti Jasmine dengan gambaran pernikahan, terapi juga tak ingin wanita itu menyepelekan tawaran pernikahan darinya. Dengan begini, Daniel berharap Jasmine bisa lebih menilai situasi dengan objektif.


"Berhentilah bersikap manis padaku dengan tawaranmu itu, Daniel. Semuanya tetap sama saja. Kau berniat menjebakku dan aku tak mau. Jadi, sudah kuputuskan untuk menolak tawaranmu itu!"


Jasmine menarik nafas berat. Inilah akhirnya keputusan yang ia ambil. Dia tak bersedia menyerah begitu saja dengan kemauan Daniel. Jasmine adalah orang yang kuat dan memiliki pendirian sendiri. Lelaki itu harus tahu posisinya dan berhenti menekan Jasmine.


"Kau wanita yang cukup keras kepala." Daniel berkomentar dengan lemah. Sepertinya ia juga sudah lelah berdebat tanpa ujung dengan Jasmine. Masing-masing dari mereka tak memiliki titik tengah yang bisa mereka ambil sebagai bentuk perdamaian.


"Sudah kukatakan anak ini adalah milikku. Kau tak berhak mengambilnya, apalagi mengakuinya. Bagian diriku hanya akan menjadi kuasaku secara penuh."


"Baiklah. Jika begitu, kita memang harus bertemu di pengadilan setelah anak itu lahir. Sampai jumpa di meja hijau, Jasmine."


__ADS_1


__ADS_2