Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
125 - SEASON 2


__ADS_3

Alice hanya bisa membeku. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dengan perlahan, tangannya bergerak ke bawah jok kursi mobil. Di sana terdapat sebuah pistol yang sudah disiapkan Jasmine untuk keadaan darurat seperti sekarang. Tangan Alice sudah mencengkeram pistol itu dengan sangat kuat. Dia berharap, ia tak perlu menggunakan pistol ini. Tetapi jika terpaksa, Alice akan tetap membela dirinya sendiri meskipun harus menghabisi orang lain. Bukankah memang orang-orang itu sendiri yang telah membuat masalah dengannya? kita harus bisa mempertahankan diri dalam segala situasi.


Jasmine mengedipkan mata, mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Alice. Sudut mata Jasmine menatap ke arah bawah jok. Seolah-olah menyiratkan bahwa Alice memang harus membela diri jika terjadi apa-apa. Jasmine sudah membekali beberapa pengetahuan dasar mengenai pistol dan cara penggunaannya kepada Alice. Sehingga dalam keadaan darurat, Alice diharapkan bisa memanfaatkan pengetahuan itu untuk kebaikannya sendiri.


Jasmine melirik sedikit ke arah dashboard mobil. Dia juga telah menyiapkan sebuah pistol khusus yang ia sembunyikan di tempat itu dalam situasi seperti ini.


Jasmine mulai menimbang-nimbang keadaan. Mereka berempat menghadapi enam orang pengawal berpakaian hitam dan dua orang berwajah latin. Total semua orang yang harus mereka hadapi adalah delapan orang. Mungkin, Jasmine bisa mengatasi dua orang pengawal yang berpakaian hitam atau maksimal tiga pengawal. Leon dan Leo mungkin bisa menghabisi sisa dari pengawal tersebut.


Tetapi jika ditilik dari keadaan sekarang, Jasmine tak yakin mereka bisa menghadapi dua orang berwajah latin yang berada tak jauh dari mereka. Seorang lelaki berusia empat puluh tahun yang bernama Luiz dan seorang wanita berusia pertengahan dua puluh tahun. Kedua orang tersebut terlihat memiliki kemampuan yang lebih besar daripada yang lainnya.


"Aku bisa menghadapi enam orang pengawal itu dalam waktu yang singkat," kata Leon menjelaskan. Suara Leon yang lirih mampu didengar oleh Jasmine dan Alice di dalam mobil. Tetapi cukup aman untuk tidak didengar Luiz di luar.


Mereka semua sedikit terkejut dengan pengakuan yang Leon berikan. Sepertinya, pemuda itu memiliki kemampuan tersembunyi dan tak pernah diduga mereka sebelumnya.


"Kau yakin?" Jasmine bertanya memastikan dengan suara lirih. Hanya bibirnya saja yang bergerak dengan lambat, agar Luiz di luar tidak mengetahui apa yang tengah ia bicarakan dengan Leon dan Leo.


"Sangat. Dan saudaraku bisa menghabisi wanita berwajah latin itu." Leon merujuk kepada Liza dengan gerakan dagu yang samar.


"Sangat bagus. Sekarang apakah itu artinya lelaki latin tampan itu milikku untuk kuhabisi?" Jasmine menggeram perlahan, menyamarkan gerakan bibirnya.


Leon dan Leo saling melirik dengan penuh spekulasi. Kemudian, mereka berdua mendesah panjang.

__ADS_1


"Tidak ada di antara kita yang kemampuannya setara dengan lelaki latin itu." Kali ini giliran Leo yang menjelaskan.


Leon dan Leo merupakan orang yang terdidik lama dalam hal bela diri. Karena itu, mereka bisa dengan mudah melihat kemampuan orang lain yang berada di sekitarnya. Seseorang yang terbiasa mengandalkan bela diri dan melatih instingnya sedemikian rupa, dia pasti bisa menangkap pancaran kekuatan lain dan aura khas dari musuhnya dalam jarak tertentu.


Enam orang berpakaian hitam di sekitar mereka, meskipun memiliki tubuh yang kekar, merupakan lawan yang masih bisa Leon hadapi. Wanita latin itu, meskipun kemampuan bela dirinya di atas rata-rata dan memiliki aura yang cukup kuat dan tenang, juga masih bisa diatasi oleh Leo. Tetapi hanya Tuhan yang tahu siapa yang bisa menghadapi lelaki latin dengan sorot mata penuh kekejaman. Seolah-olah hidup lelaki bernama Luiz Martinez itu merupakan kehidupan yang ia dapatkan dari hal-hal berdarah setiap harinya.


"Lantas, apa saranmu?" tanya Jasmine lirih. Jasmine masih bisa bersikap tenang dan terkendali. Bahkan kesepuluh jari tangannya tak bergetar sama sekali di atas kemudi mobil. Sepertinya wanita itu memang sudah terbiasa menghadapi banyak hal yang berkaitan dengan bahaya, sedikit berbeda dengan Alice yang kini sudah gemetar hebat.


"Kita hadapi siapa pun selain lelaki bernama Luiz itu. Jika terpaksa menghadapinya, biar aku dan Leo yang menghadapinya. Kalian harus kabur dan memilih pergi." Leon berkata mantap. Hanya itulah yang bisa mereka lakukan terkait masalah Luiz.


Ngomong-ngomong tentang Luiz Martinez, Jasmine baru ingat nama itu adalah nama yang ia dengar dari percakapan beberapa waktu yang lalu melalui dua orang lelaki yang salah satunya mengamati rumah Alice sekian lama.


Mungkinkah, Luiz Martinez yang itu? Kepala organisasi gelap bernama Black Hell? Jika demikian, sial sekali mereka harus menghadapi orang itu sekarang. Pantas Leon dan Leo bisa mendetekasi kekuatan bela diri dan aura lelaki itu berada di atas rata-rata. Bukan hal yang mudah bagi mereka mengalahkan Luiz.


Luiz memanggil dua oramg berpakaian hitam yang masih menodongkan pistol ke arah mobil Alice, dan memberi isyarat untuk mendobrak mobil Alice secara paksa. Kedua lelaki itu mengangguk dan segera bersiap membobol jendela Alice dengan pangkal pistol.


Sebelum hal itu terjadi, Leon dan Leo bertindak dengan cepat. Mereka berdua segera membuka sedikit kaca jendela mobil dan dalam hitungan detik menembakkan beberapa peluru ke arah target.


Door. Door. Door.


Beberapa suara tembakan beruntun tertumpahkan melalui ujung pistol dengan kecepatan luar biasa. Sejenak Alice menutup mata saat tembakan itu terdengar silih berganti dari kedua pistol milik dua pengawalnya yang merupakan saudara kembar itu.

__ADS_1


Saat Alice membuka mata kembali, empat jasad pengawal musuh berpakaian hitam-hitam telah terlentang tak berdaya. Dua lainnya yang masih tersisa segera membalas tembakan Leon dan Leo. Tetapi kedua orang tersebut segera menutup celah jendela mobil dan merunduk ke bawah.


"Merunduk semuanya! Jasmine, putar mobil dan pergi dari sini!" teriak Leon.


Jasmine segera merunduk dengan memegangi kepala Alice, memastikan tembakan mereka tak mengenai temannya. Dengan posisi ini, Jasmine menekan pedal gas dan mundur dengan menabrak mobil hitam milik salah satu pengawal.


Luiz bersumpah serapah saat ia melihat mobil Alice mulai berjalan mundur. Dia lebih marah lagi melihat ke empat pengawalnya dilumpuhkan begitu saja dalam sekali tembakan di dahi dan jantung mereka. Apakah pengawalnya memang sebodoh itu? Ataukah pengawal Alice yang memang luar biasa?


"Sialan!" Jasmine memukul kemudi mobil ketika mobil itu terguncang dengan sangat hebat saat dipaksa mendorong mobil pengawal Luiz yang berukuran cukup besar.


Tetapi rupanya mobil Alice tergolong kuat. Benda itu mampu mendorong mobil lain tanpa mengalami kerusakan yang parah sehingga langsung diputar balik oleh Jasmine menjauh dari tempat ini. Saat ini, fokus Jasmine adalah melindungi Alice. Dia tak bisa bergerak melawan musuh dan mencoba melumpuhkan mereka. Bisa saja dalam proses ini, nanti justru Alice yang terluka dan tertangkap oleh mereka.


Tembakan dari kedua pengawal yang tersisa masih saja diarahkan ke mobil ini. Saat itulah Jasmine baru menyadari mobil Alice ternyata anti peluru. Berondongan tembakan pistol dari para pengawal tak satu pun ada yang berhasil menembus ke dalam mobil dan mengenai mereka.


"Hentikan tembakanmu, bodoh! Aku butuh Alice hidup-hidup. Jangan sampai dia mati gara-gara tembakan kalian!" Luiz semakin marah melihat anak buahnya yang bertindak sembrono.


Jika Alice mati, maka nilainya tak ada lagi. Klayver tak akan mungkin datang ke hadapan Luiz hanya demi sesosok jenazah tak berguna. Dia butuh Alice tetap hidup dan memiliki nilai guna.


Luiz menatap mobil Alice yang kian menjauh dengan mata yang menyipit tajam. Dia memukul udara, menyalurkan rasa marah yang mulai terkumpul di dada dan mulai membesar dalam kapasitas yang tak terkendali.


"Kejar mereka! Cepat! Bawa Alice padaku!" perintah Luiz penuh amarah pada anak buah yang tersisa. Sesaat, Luiz menatap Liza dan berkata tajam.

__ADS_1


"Kau harus mendapatkan Alice. Jika tidak, aku benar-benar akan menghukummu kali ini!" ancam Luiz berapi-api. Liza dan kedua pengawal yang tersisa mengangguk dan segera masuk ke mobil mereka masing-masing. Empat pengawal yang telah meninggal, ditinggal pergi oleh mereka begitu saja.



__ADS_2