Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
TIGA TIGA


__ADS_3

Angin senja menghembus perlahan, menyentuh kulit telanjang lengan seorang wanita. Rasa dingin ini tak juga mampu menggoyahkanya dalam keterdiaman. Matanya menyorot hampa, tanpa arti. Mulutnya terkuci dalam kebisuan yang mendalam.


Ia seolah hidup dalam kesendirian, memandang jauh kearah senja. Tak ada yang tahu sedikitpun bagaimana dunia miliknya bekerja, tak ia ijinkan seorangpun menyelami alam jiwanya.


Kosong. Mungkin itulah namanya. Suatu rasa yang telah hilang, hanyut dalam keabu-abuan. Hingga jiwanya lupa atas segala riak kehidupan yang ia alami. Perasaanya terkikis. Hilang. Lenyap.


Anson menatap wajah datar wanita yang duduk di kursi kayu yang sama denganya, meraba petunjuk dari ekspresi kosongnya. Dengan pasrah, ia menyandarkan diri. Wajah di sampingnya telah mati. Hanya nafasnya saja yang masih tersisa, jiwanya telah pergi entah kemana. Mungkinkah ke surga? Bisa saja. Mengingat kehidupan terlalu rumit untuknya, mungkin hatinya menyerah kalah meninggalkan jasadnya terjebak dalam kehampaan.


Tangan Anson menyapu lembut sisi wajah wanita itu, menyadari dengan getir ambisinya masih terlalu besar untuk memilikinya. Dia ingin, bagaimanapun caranya, mengalahkan wanita ini. Namun kemenangan tak lagi sama rasanya jika yang ia kalahkan hanya seonggok tubuh tak berjiwa. Mengenaskan. Siapa yang kalah disini? Wanita ini, entah bagaimana caranya, telah menang dengan sendirinya.


Sentuhan Anson berlanjut hingga menyusuri sepanjang lehernya. Masih tak ada reaksi apapun dari sang wanita. Matanya sibuk menatap matahari yang sebentar lagi tenggelam diufuk barat. Membuat sekelebat cahaya jingga memantul indah dilangit.


Anson menyentuh wanita ini dengan gerakan lembut, hingga lama-lama berubah menjadi penuh arti. Kemudian dia menghentikan tindakanya dan tersenyum pahit. Dia tergoda untuk menguasai dan memiliki wanita ini kembali.


"Alice," panggil sang lelaki lirih.


Tak ada jawaban. Hanya nafas teraturnya yang terdengar.


Respon Alice semakin menurun. Jika sebelumnya dia masih menanggapi namaya disebut, kini bahkan namanya pun seperti tak lagi menjadi bagianya. Nihil.


"Apakah semangat hidupmu tak tersisa lagi?" tanya Anson bermonolog.


"Apakah sedalam itu aku menghancurkanmu?"


Anson meraih jari jemari Alice, menggenggamnya erat dan mengecupnya penuh arti.


"Sadarlah Alice, tidak seharusnya kau melepaskan lelaki brengsek sepertiku. Kau harus melawanya balik, memberikan kehancuran yang sama. Buat aku menyesal. Jangan hanya diam dan bersikap pasif. Bukankah kau membenciku? Jadikan itu sebagai kekuatan untuk kembali sadar."


Netra cokelat itu tak merespon apapun lagi. Dia seperi porselen yang dipaksa tetap hidup. Kulit lembutnya mulai terasa dingin. Angin senja telah menemaninya terlalu lama.


"Untuk balas dendam padaku, kau harus kuat Alice. Sembuhlah, sadarlah. Dari situ baru kau dapat kekuatan."


Anson merengkuh tubuh Alice hati-hati, menggondangnya dan menempatkanya pada kursi roda didekatnya. Dia mengatur dengan cekatan kunci yang menahan alat bantu itu agar kembali berfungsi, dan mulai menjalankanya. Mendorong Alice.


"Jangan biarkan aku menghancurkanmu dengan mudah, sweet heart. Kau tahu? Aku tak terlalu tertarik menghancurkan wanita lemah sepertimu."


Anson berjalan menyusuri lorong utama, lurus hingga ujung kemudian berbelok kekiri menuju ruang rawat wanita ini. Mereka berjalan dalam keheningan. Sama-sama terjebak dalam dunia dan fikiranya mereka sendiri.


Didepan pintu kamar rawat, William telah menunggu mereka dengan beberapa berkas di tangan. Dengan menunduk hormat, lelaki tua itu mengisyaratkan untuk menyerahkan berkas tersebut kepada Anson.


Anson mengangguk mengerti. Dia memasukkan Alice kedalam ruang bernuansa putih, mengangkatnya lembut keatas ranjang dan menyelimutinya hingga ke ujung kaki.


Anson keluar dari ruangan, menutup perlahan pintu pembatas dan segera menerima berkas-berkas yang diserahkan oleh William. Anson mengerut bingung, membaca nama dan keterangan yang tertera di berkas yang ia pegang.


"Apa ini?" tanya Anson tak mengerti.


"Alexander Abraham, mantan suami Mrs. White."


Anson menaikkan sebelah matanya, tak mengerti dengan arah tujuan penbicaraan ini. Kapan dirinya meminta William mencari informasi tentang mantan suami Alice? Kenapa tiba-tiba disodorkan berkas begini?


"Maaf lancang, Tuan. Tetapi saya lihat anda selama ini selalu memandang rendah Mrs. White karena pernah menjadi wanita simpanan anda. Saya berinisiatif mencari tahu riwayat hidupnya. Saya berfikir Mrs. White tidak seburuk yang anda kira." William menunduk dalam.


Anson menatap tidak senang. Sejak kapan William berani lancang melakukan sesuatu diluar perintahnya?

__ADS_1


"Saya mendapatkan informasi bahwa sekitar tiga tahun yang lalu, suami Mrs. White meninggal dunia karena kecelakaan dengan wanita lain."


Anson duduk disebuah kursi, berniat mendengarkan penjelasam William. Lelaki tua itu sudah merepotkan diri untuk mencari tahu sesuatu di luar tugasnya. Sekalian saja Anson mendengarkan hasil yang ia peroleh.


"Alex adalah lelaki yang sangat bejat. Dia pemain wanita, penjudi dan pembohong ulung. Setelah meninggal, lelaki itu mewariskan banyak hutang kepada Mrs. White. Semua aset keluarga yang Mrs. White miliki, termasuk rumah, dijadikan sebagai agunan hutang."


William berhenti sesaat, menunjukkan bukti-bukti dari beberapa pihak yang tertulis tentang jumlah hutang dan kesepakatan yang dibuat oleh Alex selama ia hidup. Anson kagum juga William bisa mendapatkan informasi sedetail ini.


"Jumlah hutang semuanya, hampir setara dengan jumlah yang anda bayarkan kepada Mrs. White saat pertemuan pertama anda denganya malam itu."


Anson mengerut, mengambil kesimpulan. William memang memiliki akses untuk mengetahui semua pengeluaranya.


"Dia membuat kesepakatan dengan anda karena terdesak kondisi, Tuan. Dia bukanlah wanita nakal yang sering menawarkan diri demi uang. Saya telah mengorek kehidupanya, dan berhasil mendapatkan fakta bahwa tak ada lelaki lain yang diijinkan menyentuh dirinya, selain Alex dan Anda, tentunya."


Anson menoleh terkejut.


"Bahkan Daniel?" Ada ketajaman dari pertanyaan Anson.


"Bahkan Daniel, maupun Kendrick."


Anson berdiri mendadak. Sulit dipercaya Kendrick tidak menyentuh Alice. Mereka terikat dalam pernikahan selama setahun lebih. Memangnya apa yang orang dewasa lakukan setelah menikah? Bermain petak umpet?


William mengambil berkas yang dipegang Anson, mencarinya di lembar-lembar terakhir, menunjukkan pada majikanya selembar kertas dengan cap sebuah lembaga psikolog ternama. Dibawahnya, tertulis beberapa istilah asing dengan Kendrick sebagai objeknya.


"Kendrick menderita gynophobia. Dia memiliki semacam ketakutan kepada wanita. Dia bahkan tak bisa menyentuh kaum hawa. Psikolog yang merawatnya berkata bahwa Kendrick sudah sembuh dari gynophobia lima bulan yang lalu. Namun dia mengatakan Kendrick belum melakukan aktifitas seksual apapun."


"Bagaimana dia bisa memastikanya?"


"Meskipun Kendrick sudah mulai sembuh dari gynophobia, tetapi dia masih dalam masa perawatan psikolog. Kendrick selalu rutin untuk melakukan konseling, takut jika gynophobia yang ia miliki kambuh secara tiba-tiba. Karena itulah psikolognya selalu menganjurkan dia untuk melakukan aktifitas seksual dengan istrinya dan meminta Kendrick untuk mengabari responya akan hal itu. Sebagai alat ukur bagi kesembuhanya."


"Empat hari sebelum kematianya, Kendrick melakukan konseling dan mengatakan dia masih belum berhasil menyentuh istrinya. Saat itu adalah hari dimana dia mulai memutuskan terjun langsung mengambil Axel. Dia tak memiliki cukup waktu untuk menyentuh istrinya kembali sampai akhir hidupnya."


William tersenyum kecil, merasa lega akhirnya dia bisa menjelaskan sesuatu yang sangat mengganjal nuraninya.


"Tuan ... Andalah satu-satunya orang yang menyentuh Mrs. White selain Alex. Wanita itu sangat terjaga. Dia bukan jenis perempuan yang mudah melemparkan diri pada sembarang lelaki seperti yang kita duga selama ini. Kesalahan terbesarnya, adalah menyerahkan diri pada Anda. Sebuah kesalahan yang membawa kehancuran bagi hidupnya." William berbalik, meninggalkan Anson beserta setumpuk berkas berupa bukti-bukti pendukung dari penjelasan yang ia berikan.


Lembar-lembar file itu Anson pandangi satu persatu. Semuanya hanya menguatkan apa yang telah dijelaskan William sebelumnya. Setiap kata dari lelaki tua itu mengandung kebenaran. Tak ada sedikit pun kebohongan.


Anson menatap kegelapan di langit malam. Dia merasa kenyataan telah memukulnya sangat keras. Rasa bersalah menggerogoti hati kecilnya.


Alice bukanlah wanita seperti yang ia duga selama ini. Martabatya, tubuh dan jiwanya terjaga dengan baik. Dia tidak pernah sekalipun menyerahkan kehormatanya tanpa sebuah alasan.


Keadaanlah yang mengantarkanya pada Anson, membuat ia dimanfaatkan begitu parah dan direndahkan hingga ke batas normal. Sebagai lelaki, Anson telah melecehkan Alice sangat parah. Kata-katanya, tindakanya, semuanya.


Pantas saja selama ini Alice merespon dengan kepolosan murni setiap kali ia berdekatan. Karena ternyata dia memang tak memiliki pengalaman apapun. Anson percaya Alex bukanlah suami yang pengertian. Membuat istrinya sendiri tetjebak dalam resiko kecerobohanya.


Anson teringat bagaimana wanita itu merespon dirinya. Ikatan mereka bukan hanya ikatan fisik. Ikatan mereka lebih dalam dari semua itu.


Ansonlah yang telah menghancurkan keindahanya. Dia menyerang Alice dititik-titik lemahnya, memaksanya menyerah dan hancur. Dengan kejam, Anson telah mengambil miliknya. Kepercayaanya, putranya, suaminya, kehidupanya, semuanya. Dia telah merenggut milik Alice dengan cara yang sangat kotor.


Anson terdiam lama, merasakan rasa sakit yang menyesakkan. Penyesalan tak lagi berguna. Dia telah bertindak hingga batas yang mampu Alice tanggung. Kini, bahkan jiwa Alice pun ikut terkoyak. Pergi perlahan dari kehidupan indahnya.


Anson memasuki ruang rawat Alice, menatap putus asa pada seorang wanita yang terbaring nyalang. Dia belum tidur. Tetapi kesadaranya lebih rendah dari orang yang tertidur. Apakah setiap hari dia harus melalui kondisi mengenaskan begini? Bagaimana lagi Anson mampu mengembalikan jiwanya?

__ADS_1


Anson mengecup mesra kening Alice, mengucapkan permintaan maaf tanpa kata. Untuk pertama kalinya air mata Anson berlinang. Terisak pilu mendekap wanita yang terlanjur ia cintai. Beginilah rasa sakitnya mencintai? Seperti kau diijinkan mencecapnya sesaat kemudian direnggut paksa tak lagi diperbolehkan memilikinya secara utuh.


Bagaimana sebuah maaf bisa disampaikan dengan tulus? Apakah cukup dengan kata-kata? Setelah kehancuran demi kehancuran yang ia ciptakan, semudah itukah wanita ini memberinya maaf?


Kehidupan itu seperti porselen. Kau harus menjaganya tetap utuh. Saat terlanjur kau pecahkan, seribu kalipun kau merekatkanya, tak akan bisa mengembalikan bentuknya semula.


Anson berjalan keluar dengan keputus asaan. Dia teringat kembali kalimat dari William.


Kesalahan terbesarnya, adalah menyerahkan diri pada Anda. Sebuah kesalahan yang membawa kehancuran bagi hidupnya.


William selalu benar. Dialah wujud dari kesalahan itu sendiri. Pertemuan pertama mereka adalah sebuah kesalahan yang membawa tragedi. Seharusnya, wanita selembut Alice tidak pernah ia sentuh dari awal. Wanita itu memang terlarang untuknya.


Anson menemukan keberadaan William di kursi besi belakang rumah sakit. Lelaki itu seperti tengah merenungkan sesuatu. Mungkinkah dia mulai membenci Anson?


"William."


"Ya, Tuan."


Raut wajah William kembali datar. Seolah-olah wajahnya mudah sekali diatur otomatis.


"Apakah kau menyesal melayaniku, William?" tanya Anson lirih.


"Tidak pernah, Tuan."


"Tapi aku sering membuat banyak kesalahan."


"Anda sudah saya anggap seperti putra saya sendiri. Seorang ayah tak akan pernah membenci putranya, sebesar apapun kesalahan yang ia ciptakan."


Anson menunduk lama. William adalah sosok yang patut ia kagumi.


"Mulai besok, bawalah Alice pulang. Rachel dan Daniel pasti akan menjaganya dengan baik. Dia perlu kembali kepada orang-orang yang memiliki ikatan emosi denganya untuk menunjang kesembuhanya." Anson berkata mantap.


William tampak sedikit terkejut, mengangguk secepat kilat tak berani menanyakan lebih jauh alasan keputusan Anson.


"William," panggil Anson terdengar berat.


William mengangguk lagi, terlihat patuh dengan segala kehendak Anson.


"Biarkan Axel menamani Alice. Mungkin anak itu bisa merespon kembali kesadaran Alice."


"Tuan." William sangat terkejut.


Anson sangat protektif dengan anak-anaknya. Bagaimana mungkin akhirnya ia mengalah?


"Jika kondisi mental Alice telah berhasil membaik, biarkan dia memiliki hak asuh Axel secara penuh. Mereka berhak hidup bersama."


Sebuah keputusan yang tak pernah William duga mampu diambil oleh majikanya.


William memandang Anson dengan cermat, mengamati banyak kejanggalan yang terjadi pada lelaki yang sudah puluhan tahun ia layani.


"Bagaimana dengan anda sendiri, Tuan?"


"Aku akan pergi dari kehidupan mereka. Mungkin jika Alice mengijinkan, aku berniat mengunjungi Axel sebulan sekali. Selain itu, aku tidak akan lagi mengganggu mereka. Biarkanlah mereka hidup bahagia. Kesalahanku sudah terlalu besar untuk tetap berada disisi mereka."

__ADS_1


...


__ADS_2