
Hari ini adalah hari ulang tahun Daniel. Lelaki itu memang tak pernah merayakan hal-hal sensitif seperti ulang tahun atau semacamnya. Tetapi kali ini berbeda. Rachel mendorong Daniel untuk merayakan kecil-kecilan di halaman belakang rumah dengan memanggang daging, atau semacamnya.
Daniel termasuk orang yang pintar mengolah makanan. Dia menyiapkan banyak bahan-bahan untuk malam nanti. Alice dan Rachel berjanji akan ke rumah Daniel setelah petang.
Jasmine yang diajak pergi oleh Alice merasa malas sebenarnya. Tetapi dia terpaksa mengikuti kemauan Alice ke manapun wanita itu pergi. Dia teringat akan fungsi dirinya. Kalyver telah menpercayakan Alice padanya. Bahaya bisa menyapa wanita itu sewaktu-waktu. Jasmine tak ingin melakukan kesalahan dengan menyepelekan hal-hal kecil.
Dengan putus asa, Jasmine mengambil sebuah dress violet berpotongan pas badan dengan belahan dada berbentuk V. Punggung gaun ini cukup terbuka, menampakkan kulit Jasmine yang mulus. Dia menyemprotkan parfum kesukaannya dan mengambil kalung tiara kecil untuk melengkapi penampilannya. Sebuah anting mungil panjanng ia kenakan di telinga. Membuat Jasmine terlihat glamor. Sementara rambutnya yang pendek ia tata rapi ke belakang dengan jepitan kristal di sisi kiri.
Alice memilih memakai dress panjang berwarna putih. Dress tersebut menyapu lantai dan mengembang ketika turun. Bahan sutranya yang lembut membuat Alice terlihat seperti peri cantik. Dress itu tanpa lengan, menbuat lekuk tangannya terlihat lebih jelas.
Rambut Alice disanggul kecil dengan membiarkan beberapa helainya terjuntai ke sisi wajah, membingkai wajahnya yang sedikit tirus. Sepasang anting yang hampir sama dengan Jasmine menghiasi telinganya. Penampilan dua orang ini sempurna. Yang satu anggun seperti malaikat, yang satu nakal seperti penggoda.
Alice dan Jasmine berangkat bersama. Sementara Rachel berangkat sendiri dari rumahnya. Mereka meluncur ke jalanan setelah hari mulai putang. Alice sempat menikmati senja yang indah dalam perjalanan. Dia merenung dalam, menyatu dengan keindahan alam.
"Alice, kau sudah lama hidup di Manhattan?" tanya Jasmine tiba-tiba.
"Seumur hidupku aku di sini. Orang tuaku berasal dari kota ini. Dulu, mereka juga menjalani bisnis properti sepertiku, hanya saja dalam skala yang lebih kecil lagi." Alice jadi mengenang kedua orang tuanya.
Mereka meninggal saat Alice masih duduk di bangku kuliah. Kepergian mereka sangat mendadak melalui sebuah kecelakaan. Alice sempat tersungkur oleh fakta ini. Dia seorang anak tunggal yang ditinggal sendiri tanpa orang lain dan tidak memiliki kerabat sama sekali.
Hidupnya berada pada titik terendah. Tetapi Rachel setia menemani Alice dan bertindak layaknya saudara. Mereka berdua seperti dua orang yang dilahirkan dari rahim yang sama. Menjalani banyak hal bersama, bahkan hingga kini pun tetap bersama.
Karena itulah, Alice selalu menganggap Rachel adalah sosok penting yang ada dalam hidupnya. Dalam setiap krisis yang Alice miliki, Rachel selalu ada, menopangnya, dan setia bersamanya.
Jarang ada teman yang seperti itu, bukan? Alice sangat beruntung menemukan Rachel. Dia bersumpah akan menjaga pertemanan mereka hingga akhir.
"Bagaimana denganmu?" tanya Alice kepada Jasmine.
"Kisah hidupku tidak ada yang menarik. Ibuku adalah wanita malam yang sering kali berganti-ganti kekasih dan suami layaknya pakaian. Mungkin, kupikir setiap musim dia selalu membawa laki-laki baru yang ia kenalkan padaku sebagai daddy baru."
Jasmine meringis. Mengingat kenangan lama yang menyakitkan.
Dulu, saat usianya masih anak-anak di mana mengharapkan kepedululian dari orang sekeliling, yang disuguhkan ibunya adalah rumah bobrok di pinggir desa dengan cat mengelupas setiap waktu dan pemandangan tak bermoral ibunya yang hampir setiap malam membawa laki-laki asing.
Saat Jasmine berusia enam tahun, ada sebuah kenangan di mana ia selalu disuruh masuk kamar setiap kali ibunya pulang malam. Setelah itu, yang terdengar hanya suara desahañ ibunya dengan lelaki yang entah siapa.
Semakin lama, Jasmine semakin memahami pola yang dilakukan ibunya. Dia akan bersembunyi otomatis setiap mendengar langkah ibunya. Baginya, Jasmine hanyalah boneka usang yang tak terpakai dan jarang dipamerkan pada dunia luar.
Di saat anak-anak lain mendapat perhatian dari kedua orang tua, Jasmine kecil harus cukup puas menghabiskan roti basi hari kemarin dengan air kran. Setiap kali ibunya membawa pulang sesuatu, Jasmine kecil akan mengendap-ngendap di sisi ibunya dan mengambil secuil makanan. Dia harus menahan bau busuk alkohol ibunya beserta bau keringat aktifitas orang dewasa yang seharusnya tidak ia ketahui.
Hal-hal seperti itu berlangsung lama. Wajar jika Jasmine mengenal hubungan badan saat usianya memasuki empat belas tahun.
Pernah suatu kali ibunya tidak pulang selama setengah bulan lebih. Membiarkan Jasmine di rumah bobrok sendirian tanpa makanan.
Akhirnya, mengikuti jejak ibunya sendiri, Jasmine memilih menjual moral dan menukarnya dengan sesuap roti gamdum murahan hanya demi mengganjal perut.
Jika ada orang yang tidak mempercayai melacurkan diri untuk sesuap roti, maka Jasmine akan menunjukkan kenyataan itu benar-benar ada dan membuka mata orang tersebut lebar-lebar.
Untuk sebagian orang, dunia cukup kejam. Mereka yang terpaksa kelaparan di bawah jembatan, di sudut-sudut kota New York yang katanya menjadi kota kebanggaan, dan banyak cerita lain yang serupa.
Setelah Jasmine menjual dirinya di usia yang cukup muda, dia bertekad tidak akan seperti ibunya.
Ibunya telah menjual diri cukup lama. Tetapi dia tak bisa menghasilkan apa-apa. Bahkan untuk memberi kemapanan bagi anaknya pun ia tak sanggup. Karena itu, Jasmine berpikir bahwa jika ia terlanjur menjual dirinya, ia akan menjual dengan cara-cara bergengsi, memulas dirinya dengan cukup sempurna, dan memasang tarif besar untuk dirinya sendiri.
Untuk apa menjual diri jika yang Jasmine dapatkan hanya makanan hari ini dan besok dia harus pusing memikirkan urusan perut lagi. Tidak. jasmine tidak akan seperti itu. Dia tak ingin hidup tak jelas seperti ibunya.
Karena tekad itulah, Jasmine berhasil memasuki sebuah club khusus dan menjadi wanita tetap yang cukup menarik. Dari situlah uang mulai mengalir. Di usianya yang menginjak delapan belas tahun, dia sudah mampu menbeli rumah.
Belum sempat Jasmine mencari ibunya kembali dan mengajaknya tinggal bersama, yah, meskipun wanita itu terlalu sering tak peduli, tetapi bagaimana pun juga dia tetaplah ibunya. Jadi Jasmine ingin membawa ibunya hidup lebih mapan.
Sayangnya, ibunya meninggal karena overdosis alkohol. Tidak mengherankan sebenarnya. Dia adalah peminum sejati yang setiap hari uang kerja kerasnya habis untuk membeli alkohol, alih-alih makanan pokok.
"Kau pasti berat dalam menjalani hari-hari di masa lalu." Alice berkata simpati. Dia mengelus lembut lengan Jasmine dan memberikan perhatian tulus.
"Sangat berat. Tetapi pada dasarnya setiap manusia memiliki jalannya sendiri. Sehingga aku berhenti merasa iri ketika melihat orang lain."
Rasa iri itu memang ada. Melihat banyak anak yang mendapatkan perhatian orang tua, sementara Jasmine hanya mengais rasa belas kasihan orang lain.
Melihat banyak anak gadis lain mendapat fasilitas dan kasih sayang dari keluarga, sementara dia tersisih dan tak berguna.
Tetapi, sesuai berjalannya waktu, Jasmine berhasil menempatkan dirinya sendiri. Untuk bisa maju, Jasmine harus jujur pada diri sendiri dan membentuk rencana yang masuk akal.
__ADS_1
Dia sedikit demi sedikit bisa mengendalikan rasa irinya. Melihat sesuatu dengan cara pandang lain dan mengejar apa yang ia inginkan sepenuh tenaga.
"Kau pasti telah melewati banyak hal sehingga bisa sampai di titik ini." Alice merenung dalam.
Jasmine pastilah orang yang hebat. Dia berani mengakui kebobrokannya sendiri, dan masih menempatkan dirinya sendiri pada kapasitasnya.
"Ya. Salah satunya adalah melewati ratusan macam laki-laki hidung belang." Jasmine tertawa, memperlihatkan selera humornya. Cahaya di matanya telah kembali lagi, menunjukkan dia tak lagi terbayang-bayangi kisah masa lalu.
"Kau ini. Benar-benar jiwa petualang."
"Kau ingin tahu berapa jumlah lelaki yang bersamaku? Kau ingin tahu jenis-jenis lelaki seleranya seperti apa? Kau ingin tahu—"
"Cukup, Jasmine. Berhenti menggodaku. Jalan di depan belok kanan. Nomor rumah paling ujung adalah rumah Daniel." Alice menghentikan celotehan Jasmine sebelum wanita itu membahas hal yang tidak-tidak.
"Kau ini benar-benar polos, Alice." Jasmine mendesah kecewa. "Apa asiknya bercakap-cakap denganmu?"
…
Halaman belakang rumah Daniel berubah menjadi tempat pesta kecil. Mereka bertiga sibuk menghabiskan daging sapi panggang dengan Daniel sebagai koki utama.
Rachel, yang mengetahui sedikit tentang cara memasak membantu Daniel di awal-awal. Dia kemudian sibuk bersama Alice dan Jasmine, menghabiskan setiap makanan yang tersedia.
Daniel menawarkan wine dan diserbu oleh Rachel dan Jasmine. Alice memilih mengambil minuman yang lebih aman. Dia membuat jus jeruk untuknya sendiri.
Rachel yang mengetahui hal itu hanya tertawa lebar. Ibu hamil memang harus hati-hati dalam melakukan banyak hal. Demi janin, semuanya harus dilakukan dengan baik.
"Aku benar-benar tak sanggup lagi untuk menghabiskan makanan. Aku akan pindah ke ruang dalam dan menunggu kalian di sana. Punggungku terasa panas lama-lama di sini. Mungkin butuh merebahkan diri untuk sejenak." Alice masuk diikuti oleh Rachel.
"Aku juga sedikit lelah. Jasmine, kau saja yang membantu Daniel. Kasihan dia jika tidak ada yang membantunya." Rachel melambaikan tangan penuh rasa puas.
Rachel dan Alice saling melirik penuh arti. Mereka memberi kode secara tersirat. Alice dan Rachel sama-sama tahu antara Daniel dan Jasmine ada bibit-bibit tak biasa.
"Sudah kukatakan, mereka berdua saling tertarik. Hanya saja mereka terlalu keras kepala." Alice duduk di kursi lembut di ruang keluarga. Dia mendesah lega saat menyandarkan punggungnya yang letih. Sejak kehamilan ini, Alice merasa punggungnya mudah merasa panas. Mungkin bawaan janin.
"Aku tahu. Aku bisa melihatnya sendiri, Alice." Rachel menangapi. Dia tersenyum kecil, duduk di samping Alice.
"Perlu kupijat?" tawar Rachel pengertian.
"Aku tak akan menolak. Punggungku benar-benar panas."
Setelah cukup puas, Alice memutar kembali tubuhnya dan merebahkan diri ke atas sofa yang berada di sudut.
"Kau tahu tidak, Rachel? Dua hari lalu aku dikabari oleh William, Daniel dan Jasmine tertangkap sedang melakukan ciuaman panas lagi melalui CCTV di ruang tamu. Kebetulan di sana ada CCTV. William terlanjur melihat pertunjukan live itu sebelum akhirnya Daniel menghapus sendiri rekaman di sana. Aku cukup senang mendengarnya, meskipun aku tak beruntung untuk bisa melihatnya secara langsung."
Rachel terbelalak lebar. Dia tertawa mendengar cerita Alice. Benar-benar tak menyangka Daniel akan bertindak secepat itu.
"Tetapi mereka sama-sama tidak akan mengakuinya, kau tahu? Di rekaman itu kata William, Jasmine mengambil uang dari Daniel. Wanita itu benar-benar tak bisa ditebak. Jelas-jelas ketertarikannya murni. Kenapa harus menerima uang?" Alice menggelengkan kepala, merasa tak tahu cara berpikir Jasmine.
Rachel mengedipkan mata beberapa kali. Telunjuknya menyusuri pinggiran kursi dan mencoba berpikir sesuatu.
"Biarkan saja hubungan mereka akan berkembang seperti apa. Kita tidak tahu arahnya. Kita juga tidak tahu Jasmine sebenarnya. Bisa saja Jasmine hanya memiliki ketertarikan palsu karena uang. Bukannya aku menilai Jasmine buruk, tapi kita tak tahu yang sebenarnya. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memberi mereka kesempatan. Jika memang hububgan mereka akan mengarah ke hal penting, biar mereka memperjuangkannya sendiri." Rachel berkata bijak.
Dia sadar, tak ada yang bisa dipaksa di dunia ini. Termasuk tentang cinta dan perasaan. Yang bisa dilakukan Rachel dan Alice sepanjang masalah itu adalah memberi Daniel dan Jasmine kesempatan demi kesempatan. Jika mereka tak juga peka dan memilih tak memperjuangkan, itu adalah hak mereka. Dalam cinta, tak ada bentuk paksaan.
Alice terdiam lama. Dia ingin mengungkapkan sesuatu, ingin Jasmine kembali mengenal cinta dan mencoba memfasilitasinya. Tetapi, kembali lagi seperti yang telah dikatakan oleh Rachel. Tidak ada paksaan dalam hal rasa.
Semua hal di dunia sudah diatur sedemikian rupa. Tidak semuanya berakhir buruk, tidak semuanya berakhir baik. Macam-macam cerita terbentuk. Dari sinilah kita belajar, bahwa kita bukanlah Tuhan. Tidak bisa menilih akhir bagi diri kita sendiri. Apalagi orang lain.
"Kau benar, Rachel. Kita memang tak bisa memaksa lebih jauh. Kuharap mereka memiliki akhirnya sendiri." Alice tersenyum kecil. Dia merasa kerdil dan tak berarti. Sejatinya, manusia memang hanya diberi secuil kekuatan untuk bertahan di dunia ini.
Alice memejamkan sejenak, mengistirahatkan dirinya sendiri. Rachel di sisinya ikut melakukan hal yang sama. Di luar, di halaman belakang, sepasang insan dibiarkan bersama dengan harapan bisa mengembangkan sesuatu.
Dalam mimpinya, Alice melihat pemandangan indah yang merupakan perkebunan luas. Dia berdiri di pondok kecil sebuah desa, berbatasan dengan hutan. Alice tak tahu desa itu terletak di mana. Mungkin di pinggiran kota. Semua ini terasa asing.
Pondok yang ia tempati terbuat dari kayu. Dia mengelus lembut pintu utama yang terpelitur halus. Kayu itu bukan kayu maple. Ini seperti kayu khusus dari Asia. Mungkin jati. Ya. Itu pastilah jati. Alice pernah mendengarnya.
Aroma kayu dan cat menguar secara khas. Aroma ini selalu membuat Alice merasa nyaman. Menyatu bersama aroma matahari musim panas yang mampu diserap ke dalam rumah.
Alice memutari pondok dengan rasa bahagia yang meluap-luap. Pondok ini terasa hangat dengan semua perabot kayu yang berpelitur halus. Ada sepaket kursi dari kayu eek yang ditata minimalis di tengah ruang. Di setiap dinding-dindingnya terdapat hiasan cantik dari kerajinan tangan dari desa. Ada bunga tulip dari pita berwarna-warni, ada kain sulaman bermotif hewan, dan banyak lagi benda-benda serupa.
Setiap kali Alice melangkahkan kaki ke setiap sudut, lantai yang ia lewati terasa lembut di kaki telanjangnya.
__ADS_1
Dengan pelan, Alice menuju halaman depan. Ada suara-suara familier di sana. Hari telah beranjak sore, seharusnya suaminya telah pulang kembali.
Alice melihat Axel remaja yang kini berusia dua belas tahun berjalan beriringan dengan Klayver. Putranya membawa seikat kayu bakar yang ia letakkan di bahunya. Sementara Klayver berjalan dengan memanggul Stefani, putri bungsu mereka.
Tanpa sadar, bibir Alice melengkung lebar. Ada cahaya kuat di pelupuk matanya melihat keluarga yang ia sayangi kembali ke rumah. Rasa hangat di hatinya membuncah tumpah ruah.
"Kalian membawa kayu bakar yang cukup banyak kali ini." Alice berjalan mendekat dan mengambil Stefani yang terkekeh kecil.
Putri mereka yang masih berusia enam tahun itu terlalu senang setiap kali diajak untuk masuk ke hutan. Entah untuk mencari kayu bakar, atau berburu hewan. Jiwa petualangnya tumbuh dengan sempurna. Terbentuk otomatis karena hidup bersama ayah yang penuh tantangan. Bagi mereka, hidup selalu menjadi petualangan yang menarik untuk dijajaki.
Dalam gendongannya, Stefani memberontak hebat dan turun dengan kaki telanjang ke atas rerumputan hijau. Dia tertawa keras, menikmati belaian rumput di kaki kecilnya.
"Kau tak memakai alas kaki lagi?" Kening Alice berkerut dalam, merasa tak suka membiarkan putrinya tidak disiplin.
Hutan merupakan semua tempat bahaya bisa mengancam tiba-tiba. Banyak hewan tersebar dan bisa melukai putrinya sewaktu-waktu. Alas kaki merupakan perlindungan dasar bagi setiap orang yang melangkah ke tempat itu.
"Tidak. Dad selalu menggendongku sepanjang perjalanan. Dia menggendongku di atas bahu. Aku jadi bisa melihat banyak hal. Tahu tidak, Mom, aku tadi melihat burung berwarna cerah dan juga melihat burung besar yang Dad sebut sebagai elang. Elang itu memakan burung kecil berwarna cerah. Aku melihatnya sendiri tadi. Kau harus menyaksikannya secara langsung suatu hari nanti." Suara Stefani berapi-api, menunjukkan sikap antusias yang ia miliki.
Alice melirik Klayver dan hanya bisa tersenyum kecil. Bagus. Putrinya sekarang tumbuh lebih mirip laki-laki dari pada perempuan. Pendidikan yang cukup baik dari Klayver.
"Sayang, anak perempuan tak terlalu baik berkeliaran di hutan setiap hari. Besok, kau harus mencoba berada di dalam rumah untuk membantu Mom membersihkan pondok. Biar Axel saja yang bekerja membantu Dad mencari kayu bakar dan berburu kelinci. Bagaimana?" Alice menawari putrinya. Dia memasang wajah persuasif, agar putrinya bersedia.
Stefani mengerucutkan bibirnya. Matanya menyorot tak suka. Hutan adalah kecintaannya. Bagaimana pun juga, demi apa pun juga, Stefani tak ingin lepas dari hutan. Hanya berdiam diri di pondok dan menmbantu mom bukanlah hal yang ia mau. Mana mungkin dia mau terpenjara di pondok kecil dan tidak melihat indahnya alam secara langsung.
"Aku tidak mau!" tolaknya menggelengakn kepala.
"Kau adalah anak perempuan, Stefani."
"Aku tidak peduli. Aku tidak mau di pondok sepanjang hari. Aku suka hutan. Mom, ayolah, ijinkan aku ke hutan, ya! Aku janji besok akan memakai alas kaki. Aku janji dan tak akan kuingkari."
Senja telah mulai bergerak di ufuk timur, menggoreskan cahaya samar berwarna orange. Alice saling bertatapan dengan Klayver dan saling tersenyum pasrah
Stefani adalah anak perempuan yang cukup keras kepala. Dia menuruni karakter itu dari ayahnya secara langsung. Tak mudah menghadapinya jika anak itu telah memiliki kemauan keras. Alice dan Klayver hanya bisa mengalah. Jika tidak, Stefani akan semakin kuat menentang mereka.
"Baiklah. Tapi jika kau tidak memakai alas kaki lagi, kau akan Mom hukum. Kau dengar itu, Sayang?" Alice bersikap tegas. Dia tak ingin kebaikannya pada putrinya disalahpahami.
"Baik." Stefani mengangkat dua jarinya ke atas, membentuk janji khas anak-anak. Senyumnya yang manis menambah hangat suasana.
Stefani merupakan anak dengan rambut seperti Alice, berwarna merah gelap. Matanya seperti emas yang memiliki ketajaman pemburu. Wajahnya oval, dengan binar-binar kecil jika ia bahagia. Tubuhnya tergolong lebih tinggi dari pada anak pada umumnya. Ketangkasannya juga tumbuh secara mengejutkan. Terkadang, anak itu bisa berlari menyamai Axel. Sesuatu yang tak pernah Alice duga akan terjadi
Stefani juga memiliki kemampuan yang aneh. Indera dan instingnya bekerja dengan luar biasa. Hingga terkadang Alice meragukan anak itu masih berusia enam tahun. Demi Tuhan. Anak seusia itu tak akan mungkin memiliki kemampuan seunik dirinya. Entah bintang keberuntungan apa yang telah Stefani peroleh.
Klayver menyebutnya sebagai putri yang istimewa. Lelaki itu tak pernah habis memanjakan putrinya. Mereka berdua adalah dua orang yang saling memuja satu sama lain.
"Baiklah. Sudah mulai petang. Ayo kita masuk ke pondok." Klayver mengambil alih kayu bakar yang dibawa Axel dan membawanya ke belakang pondok untuk ia tumpuk menjadi satu bersama kayu-kayu yang lain.
"Kau bekerja dengan baik hari ini, Axel. Mom bangga padamu." Alice berjalan beriringan bersama Axel ke dalam pondok. Dia menggendong putrinya yang mulai terasa berat.
"Sayang, kau makan apa? Kenapa kau bertambah dua kilo hanya dalam satu hari?" Alice menggoda putrinya dan menurunkannya di atas lantai kayu yang terasa hangat di dalam pondok.
Senja telah hilang, malam telah datang. Menyelimuti pondok dan kebun di sekelilingnya dalam kegelapan. Mereka hanya ditemani lentera kecil di tengah ruangan. Tanpa satu pun alat elektronik. Meskipun begini, kebersamaan mereka sudah lebih dari cukup untuk mendefinisikan arti kebahagiaan.
Mimpi itu berakhir begitu saja. Alice terbangun dengan tiba-tiba, melihat sekelilingnya dengan sedikit linglung dan menyadari bahwa ia masih berada di rumah Daniel untuk merayakan ulang tahun temannya itu.
Senyum Alice tersungging lebar. Kedua tangannya mengelus lembut perutnya yang masih rata. Mimpi itu terlalu nyata bagi Alice. Mungkinkah dia kini tengah mengandung anak perempuan? Anak perempuan yang akan ia namai sebagai Stefani.
Axel. Ya Tuhan. Dalam mimpi itu Axel tumbuh sempurna sebagai remaja laki-laki. Remaja yang pastinya akan sanggup melelehkan hati banyak gadis di luar sana.
Senyum Alice semakin lebar, membuat Rachel yang melihatnya menatap bingung.
"Katakan jika kau mulai gila. Aku tak suka melihat temanku terenyum sendiri tanpa alasan," sindir Rachel tanpa rasa bersalah.
Alice menoleh pada teamannya dan masih tersenyum kecil.
"Rachel, aku baru saja memimpikan sesuatu. Aku, Klayver, Axel, dan putriku hidup bahagia di pondok kecil di pinggir hutan tanpa listrik dan tanpa alat elektronik. Aku bahagia. Kami bahagia."
Rachel menatap Alice dengan pandangan terkejut. Dia terbatuk beberapa kali dan menyemburkan tawa keras.
"Kau tak akan bahagia, Alice. Hidup seperti itu hanya akan menyiksamu dan membunuhmu."
Rachel kembali tertawa, sama sekali tak memahami ada mimpi yang seperti itu.
__ADS_1
…
…