
Alice termenung di malam hari. Dia berteman sepi yang menggigit nurani. Angin tak hanya menembus kulit, tetapi juga menggiring rasa dingin di hatinya yang mulai menjalar pelan. Kenyataan demi kenyataan menampar dirinya laksana genderang perang.
Sila bunuh diri. Tanpa ada motif yang mampu digali. Entah alasan apa yang melatar belakangi. Polisi telah melakukan pemeriksaan. Tidak ada apa pun yang bisa mengindikasikan tentang hal-hal yang tidak beres tentang Sila. Dia tidak menyembunyikan pesan rahasia, tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum, bahkan pihak keluarganya mengaku tidak ada masalah intern apa pun.
Motif Sila masih menjadi tanda tanya. Dia tak ubahnya seperti bom yang meledak tanpa pemicu sama sekali. Membuat orang-orang di sekelilingnya terlihat kebingungan. Semua orang dipenuhi rasa penasaran. Teman-teman sesama pelayannya juga saling melempar pertanyaan penuh keraguan.
Medis membuktikan bahwa kematian Sila memang murni bunuh diri. Terdapat jejak sidik jari di tali yang wanita itu gunakan. Ada lebam di leher dan penyebab kematian karena saluran nafas yang terblokir.
Alice merenung lama. Setiap orang memiliki rahasia yang selalu disembunyikan. Setiap orang memiliki sisi lain yang tak pernah ia buka. Mungkin Sila termasuk orang seperti itu. Mengingat ia merupakan wanita yang mudah bergaul, itu artinya masalah yang disembunyikan cukuplah besar.
Jam telah menunjukkan tengah malam. Alice memutuskan membiarkan pikirannya tentang Sila terhenti dan memilih tidur. Tubuhnya mudah lelah akhir-akhir ini. Dokter benar. Dia harus mementingkan istirahat dan membiarkan tubuhnya memasok energi kembali menghadapi hari esok.
Di ruangan lain, di ruang belakang lantai bawah, Jasmine dan William saling duduk berhadap-hadapan. Ada kopi hitam di hadapan mereka, sebagai peneman malam. Angin berhembus semakin kuat, membuat kisi-kisi jendela saling berbenturan satu sama lain. Lubang ventilasi di setiap ruangan berdesir dihembus oleh kekuatan angin yang tak terlihat.
Lampu-lampu mulai dipadamkan. Hanya tersisa cahaya redup dari bohlam kecil yang masih William biarkan hidup di ruangan ini. Keadaan juga menjadi hening setelah sebelumnya banyak orang berlalu lalang mengurus tentang kematian Sila. Memang secara teknis Sila dikembalikan ke pihak keluarganya, tetapi rumah Alice tetap saja ramai oleh pemeriksaan polisi dan pengambilan-pengambilan bukti lainnya.
Setelah keramaian yang seperti tanpa akhir, keheningan mencekam rumah ini jadi terasa sedikit horor. Jasmine bergidik beberapa kali setiap ia melihat di sudut ruangan, membayangkan ruh Sila berada di sana dan menatap mereka dengan tajam.
"Aku sedikit takut setelah mengetahui Sila meninggal karena bunuh diri. Rumah ini jadi terkesan memiliki aura yang berbeda." Jasmine menatap William yang masih saja tanpa ekspresi.
Semenjak pertemuan mereka di rumah sakit saat Jasmine hendak menghabisi Sila, hubungan mereka berdua jadi lebih kuat. Ada persahabatan tersendiri yang terpancar di antara Jasmine dan William secara alami.
"Rupanya kau percaya pada hal-hal mistis seperti itu. Kupikir wanita sepertimu pasti tak percaya akan adanya hantu." William menanggapi dengan datar.
Jasmine adalah orang yang cukup realistis. Mendengar wanita itu takut pada hal-hal mistis, membuat William sedikit terkejut. Bagi William, kehidupan ini berjalan seperti siklus alam. Lahir, hidup, mati, tergantikan dengan yang lain, begitu pun seterusnya. Masalah kematian itu akan seperti apa adalah rahasia setiap individu. Ada yang karena sakit, kecelakaan, pembunuhan, atau karena sebab remeh temeh seperti ketidaksengajaan. Wajar hal itu terjadi.
"Kau sepertinya tak terlalu percaya pada hal-hal mistis."
"Tidak terlalu. Kita hidup di dunia yang realistis. Apa yang ada tetap akan lenyap. Apa yang hidup tetap akan mati. Apa yang dimulai akan diakhiri. Sesederhama itu." William mengambil secangkir kopi dan menyesapnya. Cairan pekat tanpa gula ini telah banyak menemani malamnya. Mungkin, jika ditotal, tubuhnya pasti banyak mengandung cafein dalam jumlah yang besar. Tetapi William tak terlalu peduli. Usianya telah menua. Tanpa cafein dan nikotin, toh ia akan tetap mati juga. Semua hanya menunggu waktu.
__ADS_1
"Huh. Sebagai orang tua, kau cukup simpel."
"Memangnya kau tidak?" William balik bertanya. Dia meletakkan kembali cangkir yang baru ia sesap di tatakannya semula.
Pandangan Jasmine sedikit menerawang. Dia menatap langit-langit ruangan yang terlihat samar. Perlahan, Jasmine mengeluarkan nafasnya dengan desahan kecil.
"Aku dibesarkan oleh wanita jaláng. Ibuku pelacúr. Ayahku entah siapa. Setiap hari yang kumiliki hanyalah aktifitas-aktifitas kotor dan transaksi illegal. Tetapi, entah kenapa, aku mempercayai ada kehidupan setelah kamatian. Ada karma dari setiap perbuatan. Ada perhitungan dari setiap tindakan. Surga neraka. Kehidupan kedua atau reinkarnasi. Valhalla atau sejenisnya. Aku percaya. Semua itu mungkin memang ada."
William terdiam lama. Apa yang dijabarkan oleh Jasmine merupakan ajaran yang banyak disampaikan oleh para pemuka agama dalam setiap khotbah mereka. Mendengar Jasmine menjabarkan hal tersebut menjadi seperti dikuliahi secara mendadak.
"Sebagai orang yang menganut gaya hidup bebas dan melegalkan banyak hal, pandanganmu cukup mengejutkan. Kupikir wanita sepertimu tak percaya terhadap kehidupan dimensi lain."
"Yah, kau tak bisa menilai kepercayaan seseorang dari penampilam fisik. Setiap orang memiliki pemikirannya sendiri, William. Jangan pernah subjektif!"
Jasmine menelengkan kepala sedikit, bersandar ke kursi dengan tangan kirinya. Satu kakinya ia tarik ke atas kaki yang lain. Rambut pirangnya ia gerai membingkai wajahnya yang cantik.
"Aku tidak subjektif. Hanya saja jika kau percaya pada teori seperti itu, bukankah kau seharusnya sadar tindakanmu sebagai wanita bayaran sekaligus mucikari, itu semua bertentangan dengan teorimu?"
"Aku tahu, William. Tetapi jangan kau judge buruk setiap orang yang memiliki kepercayaan seperti itu dan masih melakukan banyak tindakan sewenang-wenang Hati setiap masing-masing orang berbeda-beda. Mungkin aku memang wanita buruk, tetapi siapa tahu suatu hari nanti aku bisa menemukan jalanku kembali."
Jasmine tersenyum miris. Suatu hari nanti, merupakan sebuah angan-angan yang muluk. Untuk wanita yang terlalu lama tenggelam dalam dunia gelap, pengharapan pada cahaya lama-lama akan menjadi sesuatu yang samar. Seperti sinar senja yang remang-remang dan rentan ditelan kegelapan total.
Memang ada beberapa keadaan ketika Jasmine memikirkan masa depan apa yang ia inginkan jauh kedepannya. Wanita sepertinya, sekotor apa pun, tetap masih ada keinginan menjadi lebih baik. Bekerja normal, memiliki keluarga yang wajar, anak-anak, dan semua hal yang bisa dimiliki wanita umumnya.
Sebuah kemewahan tersendiri bagi Jasmine andai ia bisa mendapatkan semua itu. Dari kecil kehidupan tak pernah bersahabat dengannya. Setiap orang memang tak diberi pilihan akan dilahirkan dari ibu semacam apa dan diberi keluarga seperti apa. Dari semua takdir itu, Jasmine mendapat nasib yang kurang beruntung.
Jasmine sudah lama menerima hal itu. Dia hanya tak ingin mengungkit hal tersebut terlalu sering. Hidupnya sudah cukup buruk, tak perlu ia mengungkit hal yang tak penting itu lagi.
"Baiklah. Maafkan aku." William tersenyum kecil, merasa bersalah. Apa yang jasmine katakan benar. Tanpa sadar, ia menjadi orang yang suka menghakimi. Itu bukanlah karakter William sebenaranya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Menurutmu, kejadian kematian Sila didasari karena apa?" tanya Jasmine mengalihkan topik pembicaraan.
William terdiam sejenak. Dia mengubah posisi duduknya dan mengamati Jasmine lebih lekat. Hanya mereka berdua yang tahu tentang siapa Sila sebenarnya dan misi apa yang telah Sila itu lakukan sebelum ini. Pelayan itu memilih mengkhianati Alice dan menjadi mata-mata bagi Black Hell. Entah informasi apa saja yang telah wanita itu berikan seputar Alice kepada organisasi tersebut. Hanya Tuhan yang tahu apa yang telah Sila lakukan sepenuhnya.
"Mungkin, pada akhirnya dia merasa bersalah. Kau tahu, rasa bersalah adalah hukuman yang paling berat untuk seseorang."
William kemudian menceritakan kepada Jasmine apa yang telah ia lihat beberapa waktu yang lalu di kamar rawat Sila. Dia mengatakan kemungkinan Sila yang terlanjur mengetahui pembicaraan mereka tentang racun yang wanita itu derita.
Mungkin, dia akhirnya menyadari akhir hidupnya hanyalah tinggal menghitung waktu. Sementara rasa bersalahnya pada Alice semakin tebal setiap saatnya. Karena itulah Sila memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Semata-mata karena dorongan rasa bersalah dan keputusasaan yang dalam.
"Aku setuju dengan pendapatmu. Rasa bersalah adalah hukuman sosial yang paling berat. Mereka yang tidak sanggup menanggungnya, cenderung akan menyerah dan menghukum dirinya secara maksimal. Bunuh diri yang dilakukan Sila merupakan langkah baginya untuk menebus rasa bersalahnya sendiri. Lama-lama aku kasihan padanya. Dia seharusnya layak mendapat kesempatan kedua. Nuraninya masih tersisa."
Jasmine menyayangkan kenyataan ini. Sila adalah orang yang pernah melakukan kesalahan. Dia hanya orang yang akhirnya sadar kembali setelah tahu apa yang ia lakukan merupakan keburukan tak berkesudahan.
Sayangnya, setelah ia sadar, keadaan tidak lagi sama. Kesalahan itu akan membekas, menciptakan noda tak kasat mata. Sekuat apa pun seseorang membilas bekas tersebut, akan tetap terasa ada dan tak pernah hilang. Kematian adalah jalan yang bisa menghapus rasa bersalah tanpa ujung.
"Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Kita tak bisa menghakimi keputusan Sila. Kita juga tak bisa membongkar semua keburukan Sila. Cukup kita saja yang tahu. Wanita itu telah mengalami rasa bersalah dan menghukum dirinya sendiri sedemikian rupa." William berkata dengan bijaksana. Dia masih menghargai Sila sebagai seorang individu, sehingga tak pantas bagi orang lain membuka aibnya setelah Sila sendiri telah memilih hukumannya sendiri. Karma telah berjalan. Biar kita menghargai seleksi alam dengan lebih bijaksana.
"Kau benar, William. Sila telah menjadi riwayat. Mari kita tutup buku kisahnya dengan cara yang baik. Biar kita saja yang tahu." Jasmine mengangguk kecil.
William adalah orang yang sangat bijaksana. Dia selalu mengedepankan kemanusiaan dan rasa pemaaf, selama hal tersebut tidak terlalu mengganggu kepentingan dan keselamatan majikannya. Tetapi jika hal itu telah berada di luar toleransinya, William tak peduli jika ia harus membunuh ratusan nyawa sekali pun.
"Andai Sila masih hidup, masihkah kau berhasrat untuk menghabisinya?" tanya Jasmine penasaran.
"Tentu saja, selama ia masih menjadi mata-mata Black Hell. Apa yang menyakiti Alice tak pantas untuk kubiarkan hidup. Apalagi mata-mata yang menjadi pihak lain yang merugikan dan mengumpankan Alice."
Jasmine dan William saling terdiam lama. Mereka sama-sama tahu prinsip tersebut adalah prinsip paten yang telah menjadi sumpah mereka. Siapa pun orangnya, selama dia mencoba melukai Alice, tak ada pilihan selain membungkamnya selamanya. Hidup mengajarkan Jasmine untuk tidak mudah memberikan toleransi pada orang lain. Toleransi yang salah hanya menimbulkan penyesalan dan akibat buruk tak berkesudahan.
"Kita hanya manusia yang memiliki tujuan dan kepentingan, Jasmine. Bertindak sok suci hanya akan menjadikan kita lemah."
__ADS_1
…