Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
130 - SEASON 2


__ADS_3

Semenjak kedatangan Violin dan James di rumah Alice, jasmine merasa tanggung jawabnya berkurang dalam menjaga Alice. Dia merasa waktu luangnya semakin banyak. Violin dan James merupakan dua orang yang terlalu protektif kepada Alice, sehingga mereka seperti bayang-bayang kedua untuk Alice. Jasmine bahkan terkadang seperti tidak memiliki tempat khusus lagi seperti sebelumnya. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap saat, siang dan malam, yang Violin dan James lakukan adalah selalu membuntuti Alice ke mana pun dia pergi. Kewaspadaan Violin sangat tinggi. Dia adalah wanita yang sangat memperhatikan hal-hal detail di sekeliling Alice dan wanita yang bisa bertindak dengan cekatan setiap kali terjadi sesuatu tanpa ragu-ragu. Mau tak mau hal itu membuat Jasmine merasa fungsinya semakin berkurang.


Sebagai akibatnya, jasmine merasa waktunya banyak terbuang secara cuma-cuma. Pernah sekali waktu ia menghabiskan waktu bersama dengan Alice, didampingi Violin dan James. Yang terjadi adalah, dia hanya akan berdebat dengan Violin tanpa putus. Selalu saja ada perbedaan yang kian meruncing di antara mereka. James dan Violin terpaksa harus memisahkan mereka berdua setiap kali mereka bersama. Aura ruangan akan berubah panas dan tegang mengiringi perdebatan mereka yang tak kenal waktu.


Jasmine sendiri lama-lama heran, kenapa ia bisa memiliki antipati terhadap Violin, begitu pun sebaliknya. Dua orang wanita itu seperti musuh bebuyutan. Yang satu selalu memancing emosi dan kemarahan yang lain. Sekuat apapun Jasmine mencoba untuk bersikap netral kepada Violin, dia tetap saja tidak bisa. Yang ada, mereka selalu bertengkar atau pun berdebat mengenai semua hal yang bahkan termasuk hal-hal sepele.


Karena itu, untuk menjaga keadaan yang kondusif di rumah ini, Jasmine memutuskan untuk tidak terlalu sering berdekatan dengan Violin. Berdekatan dengan dia hanya akan membuat kericuhan kecil. James bahkan tidak bisa lagi untuk mengatasi keduanya ketika mereka berdua mulai berdebat satu sama lain.


Akibatnya, sekarang Jasmine sering kali menyendiri di kamarnya dan mengawasi Alice sewajaranya saja. Kesendirian ini lama-lama membuat pikirannya melayang ke mana-mana. Termasuk tentang bayinya dan masa depan seperti apa yang ia inginkan.


Usia Jasmine sudah menginjak usia yang matang. Seharusnya dia mulai mengambil langkah pasti dalam hidupnya. Kehidupan normal dan Mapan yang seharusnya bisa dia berikan kepada anaknya kelak. Dia tak ingin anaknya mengalami hal serupa seperti yang telah Ia alami di masa lalu, memiliki keluarga yang kacau, terpaksa harus berada di rumah seorang diri, tidak diurus oleh siapapun, bahkan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya.


Jasmine harus belajar menjadi orangtua yang baik untuk anaknya. Tetapi, dia memiliki sebuah kendala. Mungkinkah ia bisa menjadi orang tua yang sempurna untuk anaknya? Setelah semua hal yang ia lalui, dia hanyalah seorang wanita murahan dan rendahan yang hidupnya selalu bersinggungan dengan hal-hal amoral dan tak pantas.


Jasmine kehilangan arah. Seperti apa sebenarnya menjadi orangtua yang baik? Apakah selalu berada di setiap kondisi anaknya merupakan salah satu faktor utama? Ataukah dia harus menjadi suci dan bermoral terlebih dahulu? Atau mungkin dia harus meninggalkan kehidupan yang sekarang ia jalani? Atau mungkin dia harus mulai dari awal lagi?


Jasmine tak mengerti tentang semua itu. Dia juga merasa tak sanggup untuk bisa melakukan banyak hal untuk anaknya kelak. Dia wanita yang telah terlalu sering belajar dalam kesendirian. Jadi, dia hanya bisa meraba semua keadaan dengan mata yang tertutup. Dia butuh seseorang yang bisa mengajarinya. Mungkinkah Ia bisa belajar dari Alice?


Ya. Sepertinya itu adalah sebuah hal yang baik. Mungkin, jika Alice memiliki waktu luang, dia bisa berbicara dari hati ke hati dengan Alice mengenai apa yang baik untuk anaknya kelak. Dia butuh seseorang yang lebih baik dari dirinya sendiri. Dia ingin langkahnya ke depan bisa lebih jelas untuk anaknya kelak. Dia juga tak ingin nanti anaknya merasa menyesal karena memiliki orang tua seperti dirinya. Seperti halnya dulu dia merasakan hal serupa terhadap kedua orangtuanya.


Jasmine merenung lama. Dulu, setelah ia memiliki umur yang cukup, dia mulai bertanya tentang siapa ayahnya. Dia ingat, dulu ia sering merengek kepada ibunya untuk mendapatkan jawaban yang jujur dari wanita itu. Tetapi, lagi-lagi dia selalu mendapatkan kekecewaan. Ibunya tetap diam seribu bahasa dan tak bisa menjawab setiap pertanyaan yang Jasmine utarakan. Saat akhirnya Jasmine berusia empat belas tahun, Ibunya yang terlalu kesal menjawab pertanyaan Jasmine. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya Ibu Jasmine tidak mengetahui siapa tepatnya ayah dari Jasmine.


Kenyataan itu sangat menohok hati Jasmine. Dia tak menyangka, bahkan ibunya sendiri pun tidak tahu siapa ayah dari anaknya. Ibu Jasmine merupakan seorang wanita yang sudah terlalu sering menerima bayaran dari laki-laki asing. Sehingga, dia tak bisa memiliki sebuah petunjuk satu pun tentang siapa ayah dari Jasmine sebenarnya. Terlalu banyak yang menggunakan jasanya, terlalu banyak tersangka yang bisa Ia targetkan, dan terlalu banyak petunjuk-petunjuk sampah yang tidak bisa ia deteksi. Akhirnya, Jasmine mau tak mau harus mengakui bahwa dia memang tidak memiliki akar yang kuat di manapun ia berada.


Bahkan ketika ia masih kecil dan hidup bersama ibunya, dia merasa menjadi orang asing terhadap lingkungan sekelilingnya. Ibunya yang jarang memperhatikan dirinya dan lingkungan yang selalu membuatnya merasa bagaikan sampah. Dia tak tahu kenapa ibunya selalu memilih lingkungan ini untuk hidupnya. Lingkungan ini merupakan lingkungan yang tak bisa membuat seseorang bisa berkembang dengan baik. Karena itu, ketika akhirnya Jasmine bisa mempunyai banyak uang, saat dia berusaha untuk mengangkat kehidupan ibunya lagi, dia menemukan kabar tentang kematian ibunya.


Sebenarnya, Jasmine tak terlalu terkejut. Lingkungan yang dihuni oleh ibunya merupakan lingkungan bobrok, dengan kebiasaan dan aktivitas yang terlalu kotor, dan banyak hal lainnya yang tidak mendukung kehidupan normal. Sehingga, meskipun ibunya selama ini tak pernah mengeluh tentang kehidupannya, mungkin sebenarnya hatinya telah jenuh berada dalam lingkungan seperti itu di kawasan paling kumuh di London. Ibu Jasmine telah memilih meninggal dunia dengan cara yang paling mengenaskan.

__ADS_1


Kehidupan Jasmine tak berbeda jauh dengan ibunya dulu. Dia juga merupakan wanita yang menjajakan diri dan menjadi mucikari yang namanya telah tersebar di berbagai kawasan. Bahkan, dia terkenal sebagai perantara bagi pejabat-pejabat korup maupun orang-orang politik, pengusahawan, orang-orang hebat lainnya, untuk transaksi kotor seperti pelacúran. Mereka semua datang kepada Jasmine ketika membutuhkan kesenangan dunia dan iming-iming tentang kenikmatan surgawi. Karena itu, Jasmine memiliki bisnis gelap tentang pelacuran dan banyak hal lainnya seputar itu.


Tetapi, meskipun dia telah menjadi orang yang tidak bermoral, setidaknya lingkungan yang ia diami, tidak sama dengan lingkungan ibunya dulu. Ibarat sebuah bisnis, ibunya menggunakan setiap seni yang ia dapatkan untuk kesenangan semu. Sementara Jasmine, dia menggunakan setiap uang yang ia dapatkan untuk membeli banyak hal-hal yang bisa mendukung kehidupannya kelak. Dia pintar menginvestasikan uang, membuat bisnisnya berjalan dengan lancar, dan melipatgandakan kekayaan yang ia miliki hingga mampu menjamin hidupnya untuk bertahun-tahun ke depan.


Jasmine merupakan seorang pemikir yang realistis. Dia mempersiapkan masa depannya dengan sangat matang. Sehingga bisnis yang ia jalani, meskipun terjun dalam bisnis terlarang dan mucikari, dia bukanlah pebisnis yang abal-abal. Dia menjadi perantara orang-orang hebat seperti politikus, pengusaha, dan para orang-orang hebat lainnya untuk memfasilitasi mereka dalam mencari kesenangan duniawi dan kesenangan sesaat. Atas usahanya ini, Jasmine telah banyak menghasilkan buah manis untuk dirinya sendiri.


Tetapi, terkadang semua itu pernah membuat Jasmine merasa terhakimi. Dia tetap saja tersudutkan oleh keadaan. Bagi wanita amoral seperti dirinya, tak ada tempat yang baik di masyarakat meskipun harta yang ia miliki menyamai konglomerat lain. Dia terasingkan dengan cara yang mengenaskan. Kekayaan yang ia kumpulkam selama ini hanya mengijinkan Jasmine memasuki tangga sosial atas, tapi tidak menjadi bagian dari sosial atas sesungguhnya. Ibaratnya, dia hanya pengunjung sementara dengan kartu VIP. Setelah masa berlaku habis, toh wanita itu tetap akan terbuang dan kembali lagi tak berharga.


Jasmine memikirkan itu semua dengan rasa sesak di dada. Dia ingin memberikan kemapanan dan kebaikan moral pada anaknya kelak. Tetapi sepertinya hal itu akan sulit. Mungkin, Jasmine hanya bisa memberikan kenyamanan saja. Itu masih lebih baik dasarpada tidak melakukan apa pun sama sekali demi sang buah hati. Setidaknya, Jasmine ingin anaknya bahagia meskipun tanpa kehadiran seorang ayah. Jasmine berharap anaknya kelak tidak terlalu menuntut mengenal ayah kandungnya sendiri.


Jasmine menatap gelapnya malam dengan penuh rasa kebimbangan. Jalan hidupnya sekelam langit. Tidak ada petunjuk sama sekali ke mana masa depan akan membawanya. Seolah-olah hidup merupakan teka-teki untuk Jasmine pecahkan dan membuatnya sering gagal dalam setiap usaha. Dia lelah. Tapi tak ada jalan untuk kembali. Memang sudah seperti ini. Ia disetir oleh keadaan.


Ke mana hidup akan membawanya? Ke mana nasib akan menggiringnya? Semua itu menjadi teka-teki besar yang tak bisa ia pecahkan.


Saat Jasmine sibuk dengan perenungannya, tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang.


"Ya. Masuk saja, Alice!" Jasmine berkata ringan. Malam ini Jasmine sudah bersiap tidur. Piyama silver berbahan lembut telah ia kenakan dari satu jam yang lalu.


"Ehm. Ada Daniel di bawah. Ngomong-ngomong, kau ingin bertemu dengannya tidak?" Alice bertanya ragu-ragu saat ia memasuki ruang kamar yang Jasmine tempati selama ia berada di Manhattan.


Salah satu mata Jasmine dinaikkan ke atas, merasa tak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Alice.


"Daniel? Untuk apa kau memberitahuku?" tanya Jasmine sedikit bingung.


Memangnya kenapa jika Daniel berkunjung malam-malam begini? Memang terlalu janggal dia berkunjung di jam selarut ini, tapi toh Daniel adalah teman Alice. Wajar-wajar saja baginya datang sesuka hati selama ada keperluan tertentu. Semua itu pada dasarnya tak ada hubungannya dengan Jasmine sama sekali. Untuk apa juga Alice memberitahunya hal ini?


"Maksudku, kau tak ingin bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Bertemu? Ada urusan apa? Tentu saja tidak." Kali ini Jasmine menatap Alice dengan pandangan tak mengerti.


"Maksudku," Alice berjalan mendekat ke arah Jasmine. "Dia memiliki hubungan dengan itu." Alice menunjuk perut Jasmine yang masih rata.


"Kau tidak ingin menciptakan hubungan baik dengannya? Memang saat ini kau belum memberitahunya tentang kehamilanmu, tetapi siapa tahu suatu hari nanti keadaan berubah? Bukankah akan lebih baik kalian saling membentuk komunikasi dari sekarang?" Alice mencoba membujuk dengan lembut.


Alice pernah menjadi orang tua tunggal. Semuanya tidak semudah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ada banyak faktor yang mau tak mau mempengaruhi perkembangan psikis anak, termasuk kehadiran ayah kandung.


Alice berusaha untuk tidak ikut campur dengan masalah Jasmine dan kehamilannya. dia hanya mencoba memberi saran yang menurutnya baik untuk Jasmine lakukan. Dia berharap Jasmine bisa menciptakan sebuah komunikasi sehat sehingga jika suatu hari nanti Daniel mengetahui tentang kehamilan Jasmine, mereka semua memiliki titik tengah untuk mereka bicarakan secara bersama-sama.


Jika dari awal saja Jasmine dan Daniel tidak memiliki komunikasi yang kuat, maka ia khawatir suatu hari nanti jika kehamilan ini diketahui oleh Daniel, akan menimbulkan masalah-masalah tertentu yang tidak mereka harapkan kedepannya.


Bukankah sebuah komunikasi yang baik itu merupakan kunci utama dari semua ini? Dulu Alice juga pernah mengalami hal serupa. Dia memiliki komunikasi buruk dengan Anson Mallory, ayah dari Axel. Akhirnya, Alice saat itu mengalami banyak masalah-masalah yang menyulitkan dirinya sendiri dan menyulitkan Anson. Masalah itu sebenarnya bisa mereka atasi andai Alice bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Anson dulu.


"Tidak, Alice. Kehamilan ini adalah urusanku. Daniel tetaplah orang luar bagiku dan bagi anakku. Kau tidak bisa membujukku melakukan hal-hal yang tidak kumau." Jasmine berkata tegas.


Meskipun Daniel merupakan penyumbang terbesar dalam kehamilan ini, tetapi mereka semua tak memiliki ikatan yang cukup kuat untuk membicakan kehamilan ini bersama-sama. Jasmine dan Daniel adalah dua orang individu yang memiliki banyak perbedaan. Tidak ada titik tengah di antara mereka.


"Kau yakin? Jasmine, kau tak tahu terkadang kehidupan memiliki kejutannya sendiri. Mungkin saja suatu hari nanti kau dan Daniel bisa memiliki kesepakatan bersama. Kupikir, dia lelaki yang cukup baik. Yakinlah padaku. Aku sudah mengenalnya lama."


Jasmine menggeleng dengan lemah. Dia merasa Alice terlalu naif. Tidak ada lelaki di dunia ini yang pantas dilabeli dengan kata-kata "baik". Mereka hanya sekumpulan kaum yang penuh topeng dan hidup dengan kepalsuan. Alice saja yang dunianya sempit.


"Jika kau berhasil mendapatkan Klayver yang tulus mencintaimu, tidak berarti semua lelaki di luar sana bisa memiliki cinta yang sama untuk mereka berikan kepada wanita juga. Apalagi ini kasusnya Daniel. Konsep seperti itu jelas tak ia kenal. Aku adalah aku, Daniel adalah Daniel. Kami dua orang yang memiliki karakter berbeda dan tak bisa menemui titik tengah sebagai barometer persamaan." Jasmine menjelaskan dengan serius. Dia tak ingin berdebat dengan Alice, tetapi wanita itu terkadang bisa semaunya sendiri saat muncul jiwa romansanya. Seolah-olah kejadian di dunia ini ditakdirkan memiliki keterkaitan dengan takdir dan cinta kasih selamanya.


"Tidakkah kau pikir pendapatmu terlalu frontal?" Alice menatap Jasmine penuh penilaian.


"Tidak. Kau saja yang terlalu sensitif."

__ADS_1



__ADS_2