Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
139 - SEASON 2


__ADS_3

Klayver telah membereskan masalahnya yang terakhir. Dia sudah berniat untuk kembali ke Manhattan, tetapi dalam perjalanan dia dihubungi seseorang untuk melakukan misi lain. Sebenarnya Klayver enggan untuk melakukannya, tetapi mengingat orang yang menghubunginya merupakan salah satu teman kepercayaannya, Klayver tak bisa mendiamkannya begitu saja. Dia akhirnya memutuskan untuk menunda kepulangannya dan bertahan di London selama seminggu kemudian.


Kerinduan yang Klayver rasakan untuk Alice sudah tak lagi terbendung. Beberapa bulan yang ia lalui tanpa istrinya merupakan waktu yang paling panjang. Setiap detiknya terasa menyiksa dan tak berujung.


Untuk mengobati kerinduannya, Klayver mengirimkan seseorang yang ia percaya untuk mengecek kondisi Alice. Saat ini Klayver memang belum sepenuhnya bisa berkomunikasi karena terhambat misi yang harus ia lakukan untuk temannya. Tetapi setidaknya ia bisa menjamin keselamatan Alice melalui tangan orang lain. Bagaimana pun juga, dia butuh kepastian secara langsung jika istrinya baik-baik saja.


"Bisakah kau ke Manhattan untuk mencari tahu kabar tentang istriku?" pinta Klayver pada seorang lelaki yang bernama Edward. Lelaki bertampang datar dengan usia kepala tiga itu mengangguk, menunjukkan ia bersedia melakukan apa yang Klayver minta.


Edward merupakan orang lama yang Klayver percayai sebagai salah satu perantara bagi bisnisnya. Ketika ada klien yang butuh jasa darinya, Edward biasanya menjadi satu dari beberapa orang yang menerima dan mengatur tarif. Dia juga yang melakukan mediasi untuk melakukan kesepakatan. Sudah lebih dari lima tahun Edward menjadi perantara Klayver. Dia mengatur hal-hal detail tentang Klayver dengan cara yang sangat sempurna.


"Aku heran bagaimana lelaki sepertimu akhirnya bisa memiliki istri. Wanita mana yang bisa bertahan lebih dari satu bulan bersama iblis semacam dirimu?" Edward berkelakar dengan tawa kecil yang membuat wajah maskulinnya terlihat melembut.


"Wanita istimewa tentunya. Wanita yang bisa menerimaku hingga ke akar. Jenis wanita langka yang mungkin tak akan pernah kau temui." Klayver tersenyum kecil, membayangkan wajah Alice yang lembut dan menawan.


Sebuah keajaiban ia bisa menemukan Alice. Tuhan telah mengirimkan salah satu cahaya-Nya yang berupa Alice. Mengangkat Klayver dari kehidupan gelap kepada terang.


Di saat Klayver berpikir akan menenggelamkan diri dalam dunia gelap dan jalan hidup yang tak berujung, Alice datang membawa harapan baru. Sebuah harapan yang baru ia kenal bernama cinta. Sesuatu yang selama ini banyak menjadi dongeng saja. Nyatanya, semua itu bisa terjadi. Dunia ini terkadang memang lucu. Memberikan sesuatu yang sebelumnya nyaris mustahil terjadi.


"Baiklah. Melihatmu benar-benar jatuh cinta itu merupakan suatu hal yang cukup mengejutkan. Hati-hati saja, Klayver. Kau orang yang pernah menodai tanganmu dengan darah. Jangan sampai kau menyakiti istrimu karena masa lalu yang kau miliki." Edward mengingatkan. Setiap masa lalu selalu memiliki resiko dan konsekuensi tersendiri. Bisa jadi, seseorang akan ikut mendapatkan efek dari dosa masa lalu pasangannya.


"Aku tahu masa laluku dan masa kiniku yang hingga detik ini masih abu-abu. Bukan abu-abu, tetapi cenderung hitam. Tetapi percayalah, aku akan melakukan apa pun untuk melindungi istri dan orang-orang terdekatku. Mereka tak berhak ikut menanggung dosa dari dosa masa lalu yang aku lakukan." Klayver menatap langit London yang saat ini terlihat cerah. Sebentar lagi musim semi. Cuaca sudah mulai lebih baik dan hangat dari pada sebelumnya.


Mereka kini tengah duduk di sebuah kursi taman. Banyak orang lain yang tengah berjalan lalu lalang di sekitar mereka. Sebagian dari mereka ada yang sengaja membawa anjíng kesayangan untuk melepas penat dan membiarkan binatang itu berkeliling menghibur diri dengan gonggongannya yang khas.

__ADS_1


Sore yang sangat sempurna. Matahari terlihat ramah dengan menyebarkan sinarnya ke semua objek. Angin berdesir dengan lembut, menyapa kulit Klayver yang dibiarkan telanjang hingga lengan atas.


"Kau benar-benar mencintainya, bukan?" Edward melirik ke lelaki di sampingnya.


Di dunia ini, terkadang kita tak mengerti dengan banyaknya proses yang terjadi. Ada sesuatu yang telah terjadi dengan ketentuan-ketentuan alam, ada sesuatu yang terjadi karena berada di luar garis-garis alam. Bagi Edward, pernikahan Klayver merupakan sesuatu yang berada di luar nalar. Bagaimana mungkin seorang laki-laki pembunuh hebat sepertinya bisa jatuh dan mencintai secara dalam kepada seorang wanita. Seorang wanita yang ketika Klayver mengingatnya, kedua matanya akan terlihat lebih bercahaya dan bersinar dengan sebuah sinar yang menawan. Siapa pun wanita itu, Edward yakin dia pasti telah berhasil mencuri hati Klayver sepenuhnya. Wanita yang pastinya bukan wanita biasa.


"Sangat. Dia adalah bagian besar warna yang aku miliki," ungkap Klayver masih dengan pandangan melayang.


Mereka berdua saling terdiam lama. Seolah-olah perhatian mereka terpusat pada langit London yang indah. Padahal, pikiran mereka sedang sibuk memikirkan sesuatu.


"Mungkinkah cinta seperti itu ada?" kembali Edward bertanya dengan nada lirih.


Edward adalah lelaki yang cukup tampan dengan tulang kokoh dan wajah oval. Rambutnya berwarna perak dengan netra keemasan. Dia seperti malaikat yang berjalan. Tetapi dalam hal cinta, ketampanan bukanlah jaminan. Nyatanya, di umurnya yang sudah matang, dia belum berhasil menemukan reaksi asing seperti yang Klayver alami.


Reaksi asing yang sebagian orang anggap sebagai cinta. Reaksi asing yang semua orang puja-puja selama ini. Reaksi asing yang katanya seperti sengatan listrik yang saling terhubung.


"Sayangnya, definisi tepat itu terlalu sulit untuk dijabarkan."


"Memang. Definisi dari tepat bukan hanya sebatas tentang kecantikan, penampilan, fisik, atau pun sejenisnya. Itu terjadi begitu saja. Sehingga hanya alam yang tahu prosesnya." Klayver menarik bibir, mengulas senyum kecil.


Tak ada yang pernah menyangka hati Klayver akan tertambat pada sosok wanita seperti Alice. Tidak ada yang tahu dia akan berhenti pada wanita sepertinya. Siapa yang menyangka? Di tengah semua jalan hidupnya yang tak menentu, di tengah cerita dirinya yang penuh lika liku, Tuhan memberinya sebuah tempat pemberhentian istimewa.


"Apakah kau bahagia?" wajah Edwad menunjukkan raut penuh tanya.

__ADS_1


Bahagia adalah sebuah kata yang memiliki definisi paling kompleks. Sesuatu yang memiliki arti relatif pada masing-masing individu. Klayver tidak bisa memberikan arti konkret secara sempurna dalam masalah kali ini.


"Bahagia seperti apa yang kau maksudkan? Beberapa orang memiliki versinya sendiri setiap kali mengatakan bahagia. Ada yang membuat uang sebagai barometer dari kebahagiaan. Ada yang dari kenikmatan ragawi, dengan banyaknya pasangan, kuliner, dan touring. Ada juga yang kebahagiaan dinilai dari kondisi ruhaniyah seseorang. Bahagia seperti apa yang kamu maksud?" Klayver mencoba meluaskan arti dari bahagia itu sendiri. Setiap orang memiliki sudut pandangnya tersendiri.


"Aku sendiri juga tak tahu bahagia apa yang kumaksud. Sepertinya hingga detik ini aku masih mencari tahu makna bahagia itu sendiri."


Klayver mengangguk kecil. Dia tak terkejut mendengar pengakuan yang diberikan oleh Edward. Memang ada masanya seseorang mempertanyakan tentang makna sebenarnya dari kebahagiaan. Mau ke arah mana hidupnya, dan apa yang ia cari sesungguhnya.


Setiap orang akan memiliki suatu masa dimana ia mempertanyakan dirinya sendiri. Apa jati dirinya sebenarnya, apa yang ia cari, dan apa tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Tidak akan selamanya seseorang hanya akan menjalani apa yang disajikan oleh dunia begitu saja. Suatu hari nanti, Klayver yakin Edward pasti akan memikirkan hal ini dalam-dalam seperti halnya dia. Karena itu, saat ini dia hanya bisa memberikan semangat tanpa sepatah kata pun, berharap semoga Edward pasti akan menemukan jalan sebagaimana dirinya menemukan jalan.


" Edward, sebenarnya, di dunia ini kita hanyalah serpihan kecil dari segelintir bagian alam. Pada saatnya nanti, kita pasti akan mencari arti diri dan mencoba menguak apa yang sebenarnya kita inginkan untuk kehidupan yang sebenarnya. Tidak akan selamanya kita hanya akan diam dan menjalani aktivitas monoton seperti yang telah lama kita lalui. Ada banyak rahasia dan ada banyak makna yang alam sembunyikan dari kita. Untuk mencapainya, kitalah yang harus mengejarnya. Jadi kusarankan, mulai saat ini, Carilah arti dari kebahagiaanmu sendiri. Apakah itu berhubungan dengan orang-orang yang kau sayangi, berhubungan dengan tujuan hidupmu, atau berhubungan dengan hasratmu selama ini. Masing-masing orang memiliki deskripsi yang berbeda. Carilah arti dari nilaimu sendiri!" Klayver memberi saran.


Klayver bukannya bermaksud menggurui, dia hanya mencoba membagi apa yang ia ketahui. Membagi pengalaman miliknya. Berharap dengan begitu, Edward bisa menemukan apa yang ia cari juga.


Memang seperti inilah kehidupan. Setiap hal memiliki celah dan artinya secara khusus. Sesuatu yang istimewa pantas untuk ia cari.


Sore ini menjadi percakapan yang dalam bagi Edward. Dia tak pernah mengira di balik sisi lain Klayver, lelaki itu menyimpan arti dalam mengenai kehidupan dan cinta. Dia juga cukup terkejut menyadari Klayver bisa membagi pikirannya yang luas kepada Edward. Seperti yang orang ketahui, Klayver merupakan seorang lelaki yang jarang berbicara dan tergolong menyimpan semua kata hati. Pendapatnya jarang ia ungkapkan kepada orang lain. Dia cenderung diam dan memilih menjadi orang yang pasif.


Tak disangka, kali ini Klayver cukup gamblang dalam mendefinisikan sesuatu. sinar matanya terasa berbeda dan menghangat. Membuat Edward akhirnya tahu cintalah yang telah membuat Klayver berubah. Sinar kejam di matanya menjadi lebih lembut. Raut dingin di wajahnya berkurang setiap kali dia membahas tentang istrinya. Pastinya wanita itu menjadi simbol yang sangat istimewa.


Siapa yang bisa menebak akhirnya lelaki seperti Klayver sanggup luluh karena wanita. Wanita yang tak biasa tentunya. Seorang wanita yang hanya Tuhan yang tahu seperti apa jiwanya.


Edward yakin, hanya jiwa wanita murnilah yang sanggup menaklukkan pembunuh dingin seperti Klayver. Seorang iblis selalu membutuhkan sentuhan lembut. Sebuah sentuhan yang belum pernah diberikan siapa pun.

__ADS_1


"Kau benar, Klayver. Baiklah. Sepertinya pertemuan kita sampai di sini. Besok selama kau menjalankan misi lain, biar aku yang melihat keadaan istrimu."



__ADS_2