Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
146 - SEASON 2


__ADS_3

Tidak ada yang pernah menyangka Daniel merencanakan pernikahan begitu cepat. Dia menginginkan pernikahan itu terlaksana dua bulan dari sekarang. Alice, Jasmine, dan Rachel sangat terkejut mendengar kabar ini. Mereka tak pernah berpikir Daniel orang yang cukup terburu-buru.


"Aku hanya tak ingin bayiku lahir sebelum aku resmi menjadi ayahnya."


Itulah jawaban yang diberikan Daniel saat Rachel bertanya dengan keheranan. Malam ini Rachel berkunjung ke rumah Alice. Mereka bertiga duduk di halaman belakang, menikmati kopi dan kudapan spesial yang dibawa Rachel dari rumah.


Hanya Jasmine saja yang tak terlihat. Wanita itu memilih berdiam diri di kamar, merasa tak nyaman untuk duduk bersama mereka semua. Dia beralasan butuh istirahat lebih banyak. Alice yang mengetahui kecanggungan wanita itu memilih mendiamkan saja sikap Jasmine.


Bagaimanapun juga, Jasmine masih meragukan keputusan untuk menikahi Daniel. Dia pasti saat ini butuh waktu khusus untuk merenungkan semuanya. Terlalu mengejutkan menyadari fakta bahwa mereka sebentar lagi akan disatukan dalam ikatan perkawinan secara hukum.


"Kau sudah yakin jika Jasmjne memang mengandung anakmu?" tanya Rachel serius. Meskipun ia sudah meyakini kenyataan itu, bukan berarti semuanya tak membutuhkan bukti yang kuat.


"Jasmine berjanji akan melakukan tes DNA besok. Sebenarnya aku sudah yakin dia memang mengandung anakku. Sikap dan responnya jelas terlihat demikian. Meskipun begitu, aku tetap perlu mengambil bukti yang pasti!"


Tatapan Daniel mengembara jauh. Menatap langit malam yang kelam. Tak ada bintang dan bulan sama sekali. Hanya lampu-lampu bangunan kota yang berkelip menghiasi langit.


Musim dingin sebentar lagi berlalu. Suhu tidak lagi seekstrim sebelumnya. Daniel berharap anaknya nanti bisa lahir di musim panas.


"Bukti kuat seperti itu perlu. Hukum di negara kita memang sangat ketat tentang masalah anak, Daniel."


"Ya. Memang. Bagaimana dengan dirimu, Rachel? Apakah kau sudah hamil?" tanya Daniel mengalihkan topik.


Senyum malu-malu tampak tersungging di mulut Rachel. Wanita itu terlihat memiliki aura yang lebih cerah dari pada sebelumnya. Alice yang duduk di sebelah Rachel menyentuh bahunya lembut dan meliriknya dengan tatapan menggoda.


"Kau hamil, bukan?" Alice memastikan. Sinar mata Alice menunjukkan kebahagiaan. Dia mulai menebak, pasti temannya itu menyimpan rahasia yang membahagiakan.


"Ya. Delapan minggu. Aku baru memastikannya tiga hari yang lalu!"


Air muka Rachel bercahaya. Kebahagiaan baru menari-nari di kedua matanya yang indah. Sebelah tangannya mengelus lembut perutnya yang masih tampak rata. Di sebelahnya, Alice berteriak dengan histeris. Dia memeluk temannya dengan perasaan bahagia yang membuncah.


"Ya Tuhan. Akhirnya …." Alice memeluk erat leher temannya, membuat Rachel merasa sesak nafas. Dia mendorong lengan Alice dengan sedikit kasar dan memperingatinya dengan pelototan sebal. Dipeluk dengan kekuatan seperti itu benar-benar bukan sesuatu yang bisa dikatakan menyenangkan.

__ADS_1


"Kau akan menjadi ibu. Bayangkan itu!" Alice masih saja tetap histeris. Dia menepuk bahu Rachel dengan keras, tak mempedulikan wajah terganggu temannya.


"Aku akan melahirkan tiga bulan lagi. Setelah itu, Jasmine, Daniel, dan kau, Rachel, semuanya akan menyusulku menjadi orang tua. Ini benar-benar kebetulan yang sangat langka." Alice mengusap wajahnya dengan rasa puas.


Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapatkam kabar menyenangkan bersama teman-temamnya. Apalagi Rachel. Dia sudah pernah kehilangan janin karena kejadian masa lalu dengan Alice. Hingga detik ini, Alice masih mengingat semua itu dan merasa menyesal telah tanpa sengaja menjadikan Rachel berada di posisi yang sulit sehingga wanita itu ikut merasakan imbas dari kemarahan Alice dan Klayver.


Semua itu memang masa lalu. Tetapi masa lalu tersebut telah membuat Rachel kehilangan janinnya, bahkan hampir kehilangan rahimnya. Beruntung saat itu Rachel masih tertolong. Andai Rachel benar-benar kehilangan rahim, Alice tak tahu lagi harus merasa bersalah sebesar apa. Semua itu terlalu menakutkan untuk dibayangkan.


"Kau benar-benar seperti anak kecil, Alice. Kau suka ya kehamilan massal? Otakmu sepertinya mulai kacau." Kedua bola mata Jasmine berputar dengan gerakan pelan. Menatap temannya yang dari dulu selalu mudah histeris terhadap sesuatu.


"Hanya jika kehamilan itu berhubungan dengan orang-orang terdekatku. Daniel, bukankah kau juga merasa bahagia terhadap kehamilan Jasmine? Bagaimanapun juga, kau kan calon ayah." Alice menunjuk Daniel, mengungkapkan kembali topik mereka yang sebelumnya mereka bahas.


Suasana menjadi sedikit canggung saat pembahasan ini mulai diangkat. Rachel yang berada di samping Alice hanya bisa menyipit, mencoba mengingatkan Alice secara tak langsung jika pembahasan itu sangatlah sensitif.


Agaknya, Alice tak terlalu bisa menangkap maksud Rachel. Wanita itu tetap saja balik menatap Rachel tanpa rasa bersalah sedikit pun. Entah kenapa, akhir-akhir ini semenjak Alice hamil, emosi Alice kurang sensitif dalam menghadapi orang lain.


"Entahlah, Alice. Saat ini perasaanku sedang tak menentu. Kuharap tes DNA itu memang menunjukkan janin tersebut memang milikku!"


Apakah lelaki memang serumit ini? Sehari berkata apa, sehari kemudian berubah lagi. Sesaat berpendapat ini, sesaat kemudian berubah pendapat. Benar-benar memusingkan.


"Ya. Aku yakin. Hanya saja, masih tersisa sedikit keraguan di hatiku tentang kebenaran tersebut. Ini seperti logikaku membutuhkan sebuah kepastian, meskipun nuraniku sendiri sudah menerima kenyataan itu. Kau paham maksudku?"


"Tidak. Kau terlalu membingungkan!" Alice membantah dengan cepat.


Ada perasaan tak terima saat Alice mendengar bahwa Daniel meragukan anak yang tengah dikandung Jasmine. Bagi Alice, Jasmine sudah menjadi temannya yang memiliki kedudukan khusus. Mana mungkin dia bisa diam begitu saja jika temannya disudutkan seperti itu?


Angin malam semakin berdesir, membawa udara dingin yang merasuk tulang. Alice mengetatkan sweeter hangat yang melapisi baju dasarnya. Dia menaikkan kerah sweeter dan bergidik kecil, merasa cuaca malam ini cukup mengusik kenyamanannya.


Meski mereka bertiga merasa kurang nyaman, tetapi tak satu pun dari mereka mencoba mengusulkan masuk ke dalam rumah yang menawarkan kehangatan. Bagi mereka, menbicarakan masalah sensitif seperti saat ini lebih terasa nyaman di sini. Jauh dari pendengar-pendengar yang tak diharapkan. Seperti pelayan yang masih saja berlalu lalang, misalnya.


Caterine sempat datang menyela kebersamaan mereka dengan membawa seteko besar kopi yang baru saja ia buat. Pelayan itu dengan sopan meninggalkan teko tanpa sepatah kata pun dan kembali ke dapur melalui pintu belakang. Dia tahu majikan dan teman-temannya butuh privasi yang cukup. Alangkah lebih baik jika ia memberi mereka ruang untuk berbicara secara pribadi tanpa mengganggu mereka sama sekali.

__ADS_1


"Sebenarnya, kau sudah siap menjadi ayah dan suami, belum, Daniel?" Alice kembali melontarkan pertanyaan. Dia menatap lelaki itu tajam, menginginkan jawaban yang sesungguhnya.


Memang tak mudah bagi seorang lelaki menjadi ayah sekaligus suami secara tiba-tiba tanpa persiapan sedikit pun. Alice menyadari itu. Dia hanya ingin memastikan semua itu dengan cara mendengarnya dari mulut Daniel secara langsung.


"Entahlah, Alice. Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Aku hanya tak tahu harus menyikapi bagaimana. Yang jelas, satu-satunya hal yang akan aku pertahankan adalah anak yang dikandung Jasmine. Aku tak mungkin membiarkan anakku tumbuh di luar pengasuhanku. Aku juga tak terlalu yakin lingkungan Jasmine mampu membuat anakku mendapat pendidikan yang baik. Karena itulah pernikahan ini terjadi," jelas Daniel panjang lebar. Dia tak menyangka akan diserang pertanyaan seperti ini oleh Alice. Siapa kira wanita yang dulu pernah memiliki kisah dengannya bisa sedetail itu dalam memberikan pertanyaan.


Rachel bersikap lebih baik dari Alice. Dia lebih seperti pendengar setia. Hanya sesekali saja dia menanggapi pembicaraan mereka. Sebagai seorang teman, Rachel merasa kapasitasnya dalam mencampuri urusan Daniel sangatlah terbatas. Menurut Rachel, seorang lelaki biasanya tak terlalu suka jika terlalu dicampuri kehidupannya.


"Apakah menurutmu pernikahan kalian bisa berhasil?" tanya Alice lagi.


Kali ini, bukan hanya Daniel yang menatap Alice dengan sorot mata kebingungan. Rachel pun melakukan hal yang serupa. Kedua teman Alice seperti bersikap kompak dalam menghakimi Alice tanpa kata-kata.


"Kau tak bisa bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, Alice. Daniel bukan Tuhan. Dia tak selalu tahu apa yang akan terjadi ke depannya."


Rachel semakin tak mengerti dengan pola pikir yang Alice miliki. Dia menyenggol bahu kanan Alice, memberikan isyarat jika temannya itu telah bertanya ke ranah pribadi. Sebuah pertanyaan yang tak seharusnya Alice lontarkan.


"Hei. Hei. Aku hanya bertanya saja, oke? Kenapa kau jadi sangat sensitif, Rachel? Bukankah kau selama ini juga sering kali bertanya hal-hal pribadi seperti itu padaku?"


Rachel hanya bisa memijat sisi wajahnya, menenangkan diri semampunya menanggapi sikap Alice yang seperti ini.


"Itu berbeda. Kau wanita. Pembicaraan sesama wanita itu hal yang wajar hingga ke akar permasalahan. Tetapi yang kau tanyai kali ini adalah Daniel. Dia masih tetap seorang lelaki yang memiliki keterbatasan dalam menanggapi setiap pertanyaan pribadi. Jangan samakan aku dengannya." Mata Rachel terlihat semakin menajam menatap Alice. Wanita itu sudah lelah memperingati Alice dengan gerakan tubuh. Dia sekarang terang-terangan menegur Alice.


Bibir Alice hanya membentuk huruf O cukup lama. Dia terkekeh kecil, menyadari telah memberikan pertanyaan terlalu pribadi pada Daniel. Sepertinya akhir-akhir ini Alice sering kali hilang kendali. Wajar jika setiap tindakannya tak terkontrol.


"Maaf, Daniel. Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu hingga sedetail itu. Intinya, aku hanya ingin memperingatkanmu agar kau tidak melakukan kekerasan pada Jasmine. Bagaimana pun, meskipun wanita itu memiliki kemampuan bela diri yang hebat, tak berarti dia bisa kau jadikan pelampiasan emosi. Kau tahu maksudku, bukan?' Alice terdengar serius. Dia menatap Daniel dengan ujung matanya, mencari kepastian.


Itulah yang Alice dan Jasmine rakutkan selama ini. Mereka takut pernikahan yang ditawarkan Daniel hanya akan menjadi bentuk penjara menyedihkan bagi Jasmine. Membayangkan itu semua membuat Alice merasa tak nyaman sendiri. Dia, bagaimanapun caranya, harus bisa memastikan jika Daniel bukanlah orang yang kejam.


"Mungkin aku memang tidak sepenuhnya menjadi lelaki baik, Alice. Tetapi yang jelas aku tidak sepenuhnya menjadi lelaki bajíngan."


__ADS_1


__ADS_2