Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
TIGA DUA


__ADS_3

Tekad adalah sebuah ruh di mana kamu memiliki motifasi untuk bertahan dan berhasil. Jika tekad seseorang mulai hilang, perlahan pendar kehidupanya mulai hilang. Meninggalkan raga yang terkoyak tanpa emosi.


Alice telah berada di titik tersebut. Semangatnya menipis setiap hari. Tak ada sedikit pun niat untuk menjalani kehidupan. Semua yang ia miliki lenyap meninggalkan dirinya tanpa alasan. Satu persatu.


Tragedi pertama bermula saat kedua orang tuanya meninggal dunia. Saat itu Alice seolah kehilangan penopang utamanya. Terombang ambing tanpa kepastian. Tragedi kedua saat kematian Alex. Semua kepercayaan tentang pernikahan telah runtuh saat itu. Lelaki yang mengaku mencintainya, mengambil semua hak milik yang ia warisi dari kedua orang tuanya. Tragedi ketiga terjadi saat Anson meninggalkan dirinya dengan membawa putra mereka. Membawa sesuatu yang menjadi setengah dari kehidupanya. Tragedi selanjutnya berupa kepergian Kendrick dengan cara yang paling kejam. Terbunuh di depan matanya sendiri. Tragedinya yang terakhir adalah kecelakaan yang menimpanya, membuat kedua kakinya kehilangan fungsi.


Kejadian yang bertubi-tubi itu telah menggempur kepercayaan diri Alice. Bahkan kini ia terpaksa berada di bawah kendali Anson, tanpa Rachel maupun Daniel yang bisa menghiburnya.


Tak ada apapun yang tersisa untuk Alice sekarang. Dia kehilangan arah, kehilangan ambisi. Setiap hari ia lalui dengan tatapan kosong. Sinar mentari yang selalu menyentuh lenganya tak lagi ia rasakan kehangatanya. Air dingin yang membasuh wajahnya juga tak lagi memiliki arti. Udara yang ia hirup hanya sekedar sebagai pelengkap tanpa mampu lagi Alice syukuri.


Alice berubah menjadi seperti robot. Tubuhnya bertindak dan merespon sesuai dengan fungsi pokoknya saja. Dia melakukan semua tindakan secara otomatis. Tidak ada perkembangan yang berarti. Bahkan kedua kakinya juga belum menunjukkan peningkatan apapun.


Keadaan itu berlangsung selama sepuluh hari lebih. William yang setia menemaninya mulai curiga ada yang tidak beres dengan perkembangan mental dirinya. Suatu pagi kemudian, William berhasil membujuk Anson untuk melihat secara langsung kondisi wanita yang pernah hadir dalam kehidupanya.


Anson memasuki tempat ruangan Alice dirawat. Dia berjalan anggun seperti biasanya. Tanpa meminta persetujuan, lelaki itu berdiri di sisi ranjang, mendekati wanita yang kini tengah memandang keluar melalui kaca transparan rumah sakit.


"Kau sudah membaik?" Anson bertanya. Namun tak sekalipun ditanggapi oleh Alice. Wanita itu sibuk menatap keluar.


"Alice."


Alice seperti tersentak dan menoleh terkejut. Matanya tampak bingung menatap kearahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Anson bertanya.


"Baik," jawabnya. Air mukanya kembali datar. Tak ada kebencian atau kemarahan seperti yang biasa Anson lihat dari kedua netra cokelatnya.


Anson menatap dua nampan di atas meja nakas disisi Alice. Makanan itu tak tersentuh sama sekali. Anson mengernyit bingung. Sepertinya William benar. Kondisi Alice mengalami kemerosotan.


"Kau sudah makan?" Anson bertanya perlahan. Mereka saling terdiam cukup lama, membuat pertanyaan Anson mengambang tanpa kejelasan.


"Alice." Panggil Anson.


Sekali lagi Alice tersentak. Matanya kembali menyorot bingung.


"Kau sudah makan?" Anson mengulang kembali pertanyaanya.


"Makan?" Alice bertanya balik. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali tak mengerti.


Anson menggeleng pelan, mengambil nampan baru di sisinya. Dia menyendok kaldu ayam dan menyuapkanya pada Alice. Anson tidak tahu apakah ini berhasil, mengingat Alice telah membencinya setengah mati.


Anson sedikit terkejut saat suapan yang ia berikan pada Alice diterima dengan baik. Wanita itu menyesap perlahan seperti anak kecil yang dibimbing makan oleh orang tuanya.


"Kau harus makan, Alice. Jika kau membenciku, kau butuh kekuatan untuk melawanku secara langsung. Cepatlah sembuh agar kau bisa segera membalas perbuatanku."


Tak ada jawaban apapun yang diberikan oleh Alice. Wanita itu hanya menatap kosong dan melakukan apapun sesuai arahan Anson.


Anson menyuapkan kaldu tersebut hingga tandas tak tersisa. Dia mengamati setiap kali mulut Alice terbuka dan tertutup secara otomatis. Tak ada ekspresi apapun yang bisa Anson tangkap dari dirinya. Kebencian, kemarahan, kekecewaan, kesedihan atau apapun itu.


"Buka mulutmu, Alice," pinta Anson memberikan dua buah pil kepadanya. Alice mengikuti instruksi Anson dan menelan obatnya dengan cepat.


"Kau harus rajin minum obat jika ingin segera sembuh." Anson memberi nasihat yang masih saja tak diperhatikan oleh Alice.


"Alice," panggil Anson kembali, merasa terganggu dengan reaksi datarnya.


"Kau dengar? Kau harus teratur minum obat." Anson menatap tegas wanita dihadapanya.


"Obat," ulang Alice membeo.


Anson menghela nafas dengan berat. Dia mengamati sosok wanita tersebut. Apakah kematian Kendrick berdampak separah itu untuk psikis Alice? Sedalam itukah artinya? Alice lebih cocok disebut sebagai patung daripada manusia. Melakukan semua hal secara otomatis, seolah-olah jiwanya tak lagi menjadi miliknya.


"Alice." Anson mengusap helain rambut yang masih saja diwarnai dengan warna gelap oleh Alice.


"Cepatlah sembuh," pintanya lirih.


...


Sore ini Anson kembali mengunjungi Alice di rumah sakit. Dia merasa kondisi Alice tak kunjung mengalami perbaikan. Matanya masih saja menunjukkan kekosongan . Jiwanya entah berada di mana. Tak ada apapun di dalam sorot mata indah yang dulu pernah ia kagumi. Wanita itu, seperti mayat hidup yang terpaksa bertahan untuk tidak menyerah.


Anson melihat Alice terduduk di kursi roda di taman rumah sakit. William berdiri di belakangnya, mendorong dengan sabar. Lelaki tua itu seperti tengah bercakap-cakap secara sepihak kepada Alice. Pemandangan seperti ini membuat Anson membayangkan jiwa kebapakan yang masih dimiliki William.


William sudah melayaninya cukup lama. Dia bertahan setia di sisi keluarga Anson dari dulu. Kini usianya telah menua, menuju akhir kehidupan. Seharusnya laki-laki itu menikah, memiliki anak dan memiliki kehidupan sendiri. Anson pernah menawari masa pensiun untuknya agar lelaki itu bisa mempunyai kehidupan normal yang ia impikan. Namun ternyata ditolak olehnya. Katanya, dia tak lagi memiliki keluarga. Anson telah dianggap sebagai keluarganya. Dia memutuskan mengabdi pada Anson hingga akhir hayat.

__ADS_1


"Biar kugantikan." Anson berkata kepada William.


"Baik, Tuan." William menunduk dan mundur.


"William."


"Ya, Tuan."


"Bagaimana fisioterapi hari ini?" tanya Anson.


Hari ini Alice mulai dianjurkan melakukan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi motoriknya. Dia telah mendapatkan beberapa jadwal utama sesuai rekomendasi dokter yang menanganinya. Anson mempercayakanya pada William.


"Berlangsung lancar, Tuan. Ms. White cukup kooperatif melakukan semua hal sesuai instruksi terapis."


Anson tersenyum kecut. Tentu saja kooperatif. Alice semakin mirip dengan robot. Dia selalu melakukan apapun yang disuruh orang lain. Keinginanya telah pudar. Bagaikan mesin yang merespon banyak hal tanpa emosi.


"Apakah ada kemajuan?" Anson sedikit tak terlalu berharap.


"Belum ada kemajuan sedikitpun. Baik trauma psikisnya maupun kelumpuhan kakinya."


Anson mengangguk mengerti. Sudah ia duga tak akan semudah itu memulihkan keadaan Alice. Entah selama apa wanita ini memilih hidup dalam dimensi lain.


"Pergilah, William," pinta Anson yang segera dilakukan olehnya.


Anson mendorong kursi roda Alice. Dia berjalan pelan mengarahkan Alice pada tanaman bunga yang bermekaran. Beberapa jenis bunga tumbuh indah dan terawat, memberi sentuhan kelembutan.


"Kau menyukai bunga?" Anson bertanya.


Alice terdiam, tampak terpaku menatap lurus kedepan. Reaksinya masih saja seperti ini.


"Alice."


Alice mendongak kaget, merasa sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya terpanggil.


"Kau menyukai bunga?" tanya Anson lembut.


"Bunga," ulangnya datar.


"Mawar mewah sangat cocok untukmu."


"Cocok," ulangnya kembali tampak tak peduli.


"Kapankah kau akan sembuh, Al? Tidakkah kau ingin segera melawanku setelah sehat?" Anson mengusap pelan puncak kepala Alice.


Rambut wanita ini masih saja sehalus sutra. Dengan hati-hati, Anson mengecup puncaknya cukup lama. Aromanya masih seperti dulu. Tak ada yang berubah. Campuran samar seperti lavender dan melati.


"Alice," panggil Anson yang hanya mendapat respon kedipan mata dari wanita itu.


Anson mendesah berat, menyusuri wajah cantik Alice dari belakang. Tatapan mata wanita ini tak kunjung membaik. Masih saja kosong. Tanpa arti.


Anson selalu mengagumi tekstur wajah Alice. Bagaikan keajaiban alam yang sangat halus. Dewi mana yang berbaik hati menitiskan wajah ini dengan pesonanya? Terlalu sempurna.


"Bagaimana jika kuhancurkan wajahmu ini Alice, masihkah kau tak akan berekspresi?"


...


Rachel berdiri mematung di ruang kamar yang sebelumnya menjadi milik sahabatnya, Alice. Dikamar ini tampak banyak barang-barang milik Alice yang masih tertinggal. Beberapa make up yang terpajang diatas meja mungil dengan cermin besar menggantung terlihat berserakan, seolah menunggu pemiliknya pulang.


Di kamar mandi, aroma khas Alice masih menguar tajam. Menyentak kesadaran Rachel tentang keberadaanya. Nafas Rachel semakin berat setiap kali teringat tentang sahabatnya.


"Kau menemukan sesuatu?" tanya Daniel dari arah pintu kamar.


"Entahlah. Sepertinya tak ada petunjuk apapun disini." Rachel tampak putus asa.


Daniel memasuki ruangan, meneliti setiap sudut, membuka beberapa laci dan rak lemari berharap mampu menemukan berkas, catatan, transaksi atau apapun yang bisa menjadi petunjuk keberadaan Alice.


Nihil.


"Datang kerumah ini hanya sia-sia Daniel. Kupikir keberadaan Alice tak mungkin bisa kita ketahui dari rumah ini. Aku curiga Anson lah orang yang mengetahui keberadaan Alice. Bagaimana mungkin kita justru mencari dia dirumah mendiang Kendrick." Rachel menyapu keningnya.


"Kau yakin Anson menyembunyikan Alice?" Daniel terlihat berpikir keras.

__ADS_1


"Siapa lagi? Kau percaya jika dia sedang melakukan kerja sosial di negara antah berantah dalam waktu yang tidak ditentukan? Sekalian saja kau percaya bumi itu kotak, Daniel." Rachel mulai emosi.


Daniel berjalan mengelilingi kamar, mulai memutar otaknya. Sulit untuk mendeteksi apapun tindakan Anson. Dia adalah oranng yang sangat cerdas, manipulatif, dan totalitas. Hampir tidak memiliki suatu celah apapun.


"Alice tak mungkin menghilang begitu saja selama tiga minggu lebih tanpa memberi kabar padaku. Dia adalah orang yang mustahil mengabaikan pemakaman suaminya sendiri. Dan aku bersumpah sore itu sebelum Alice pergi, dia mendapat panggilan dari Kendrick, memberitahunya bahwa Axel telah berhasil ia bawa. Setelah itu Kendrick meninggal terbunuh dan Alice menghilang. Apa aku akan sebodoh itu mempercayai Kendrick meninggal dalam insiden perampokan dan Alice terjebak kegiatan amal di suatu negara perang?" Rachel menghentak-hentakkan kaki ke lantai.


Daniel menyugar rambutnya, merasa lelah.


"Kau tak perlu mengulangi penjelasanmu, Rachel. Aku sudah mendengarnya lima puluh kali dalam tiga minggu terakhir tentang teorimu itu." Daniel menggeleng.


"Kalau begitu, kenapa kau masih saja meragukan Anson menyembunyikan Alice?"


"Kita butuh secangkir kopi, Rachel. Mari kita turun ke lantai bawah. Kita lihat apakah ada kopi yang masih layak untuk kita." Daniel berjalan mendahului keluar kamar.


"Kopi? Kau masih memikirkan kopi saat ini?" Rachel benar-benar tak mengerti cara berpikir kaum lelaki.


"Ya. Kopi bisa membuat otakmu encer. Kau perlu kejeniusan otakmu untuk mendengar semua teori tentangku. Kini giliran aku yang berpendapat." Daniel tetap saja berjalan, seolah tak terpengaruh oleh reaksi Rachel.


Sialan si Daniel. Dia pikir otak Rachel terlalu dangkal untuk diajak berdiskusi sehingga harus dipancing kopi dahulu?


Mereka berdua menjerang air panas di dapur yang dahulu digunakan oleh Kendrick dan Alice. Dapur ini masih tertata rapi, seolah-olah baru ditinggalkan kemarin.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan kunci rumah ini?" Rachel mulai teringat mereka tadi mendapat izin oleh pengacara Kendrick dengan sangat mudah untuk memasuki rumah ini.


"Ya ... pengacara Kendrick salah satu teman akrabku," jawab Daniel asal.


"Gula atau cream?" tanya Rachel mulai menuang kopi kedalam cangkir.


"Gula. Satu sendok saja," pinta Daniel.


Rachel mengangsurkan secangkir kopi sesuai selera Daniel.


Mereka duduk di meja makan kayu, saling terdiam menyesapi kopi masing-masing. Pikiran Rachel mulai melayang tak tentu arah. Dia teringat banyak momen yang ia lakukan bersama Alice. Hari-hari saat mereka masih remaja dan saling meributkan seorang cowok tengil disekolah menengah, hingga dewasa saat mereka saling memiliki jalan hidup masing-masing. Dari semua jalan hidup yang Alice lalui, terjebak dengan Anson dan segala kerumitanya bukanlah sesuatu yang diharapkan Rachel. Saat itulah dia mulai kehilangan Alice secara perlahan.


"Apa teorimu?" Rachel memulai pembicaraan.


Daniel menghabiskan sisa kopi dalam cangkirnya, menyeka sekitar mulut dan bersiap mengutarakan pikiranya.


"Aku juga percaya semua ini tindakan Anson. Hanya saja aku masih ragu Anson menyembunyikan Alice."


"Apa maksudmu?"


"Apakah Anson memang menyembunyikanya? Mengingat Alice adalah sumber masalah baginya yang harus segera dibungkam. Apa kau pikir dengan menyembunyikan Alice bisa menahan sifat pemberontakanya? Coba kau pikir, Alice sangat keras kepala. Bukankah justru merepotkan jika tetap menahanya?" Daniel sedikit frustasi.


"Apakah maksudmu .... "


"Ada kemungkinan Anson telah membunuhnya."


Ya Tuhan.


Rachel berdiri mendadak, membuat kursi kayu yang ia duduki sebelumnya terbanting ke belakang. Wajahnya tampak tertekan, sangat kacau.


"Tidak mungkin." Rachel menggeleng kuat.


Rachel masih bisa bertahan selama ini, mencari Alice, memupuk harapan bahwa entah di mana wanita itu masih hidup, menunggu cara untuk diselamatkan. Tetapi Rachel tak akan pernah bisa membayangkan wanita itu telah meninggal, entah dimana, tertimbun tanah dengan cara yang menyesakkan.


"Tidak. Aku pikir dia masih hidup." Rachel membantah kuat. Membayangkan kematian Alice hanya membuatnya terpuruk.


Alice wanita yang kuat, dia selalu bertahan dalam setiap keadaan. Dari dulu kehidupan yang ia jalani memang tak mudah, tetapi ia orang yang mampu melalui segalanya dengan cara yang cukup baik. Bagaimana mungkin dia memilih menyerah disaat seperti ini?


"Mustahil dia meninggal."


Daniel memarik nafas berat, memahami kesulitan Rachel mencerna kemungkinan ini.


"Apa kau yakin dia masih hidup? Apa kau percaya Anson adalah lelaki yang memiliki kebaikan hati memaafkan musuhnya sendiri?"


Saat itulah Rachel terdiam.


Apakah pencarian ini memang harus berakhir?


...

__ADS_1


__ADS_2