
THE WEDDING
Pernikahan adalah sebuah ikatan suci. Dia tercipta sebagai deklarasi kesetiaan dan kesanggupan di hadapan Sang Pencipta untuk saling memiliki dan melindungi. Ikatan yang alam pun akan ikut memujanya. Ikatan yang merangkai dan menyaksikan keseluruhan cerita hidup manusia, mengantarkanya pada penerusan keturunan, menjaga peradapan. Ikatan yang setiap orang tunduk takluk pada hukum alam dan mengikat selamanya.
Hari ini Alice membentuk janji di hadapan Tuhan, menerima dan saling melengkapi kehidupanya dengan seorang lelaki bernama Kendrick Jafferson. Hari inilah kewajibanya sebagai istri dimulai, mengantar diri untuk mengabdi pada sang suami.
Saat akad itu berlangsung, saat ikrar sumpah itu terjadi, bulir air mata deras membanjir membasahi wajah cantiknya. Para tamu menganggap sang mempelai terharu. Euforia karena kebahagiaan. Alice tersenyum, membiarkan mereka mengambil banyak kesimpulan.
Tak ada yang tahu hatinya sakit. Menyadari dengan sangat menyedihkan hatinya telah berlabuh pada lelaki lain. Anson Mallory.
Lelaki itu telah cukup lama berdiam diri dalam fikiranya, seperti virus yang menyesakkan dan menggerogoti kewarasanya setiap saat. Alam bawah sadarnya masih saja berandai lelaki disampingnya adalah dia, bukan Kendrick.
Seandainya saja ia bisa merubah perasaanya, ingin ia mengagumi Kendrick dan menerimanya. Namun semua sisi hatinya menolak keras. Perasaanya telah terlanjur didominasi lelaki lain yang bahkan hingga kini tak juga menganggap keberadaanya.
Pernikahan ini terasa menyedihkan. Disisinya telah berdiri lelaki hebat yang dengan tulus mempercayainya, dan dengan kurang ajarnya hati Alice tak juga mampu mengimbanginya.
Mungkin benar kata Kendrick. Mereka adalah dua orang yang saling terjebak. Tak ada emosi yang kuat di antara mereka. Hanya simbiosis mutualisme yang berlangsung. Mereka saling memiliki tujuan tertentu dalam pernikahan. Alice menginginkan dukungan, Kendrick menginginkan kestabilan.
Seharusnya bukan hal yang sulit dilakukan. Mereka saling mengerti posisinya masing-masing. Ikatan yang mereka rencanakan terasa masuk akal dan logis. Hanya saja saat semuanya terjadi, emosi-emosi lain membuncah tak terkendali dalam diri Alice. Hati kecilnya masih saja berharap andai ikrar ini ia lakukan pada orang yang ia cintai.
Mengenaskan memang. Kehidupan mampu menjebak seseorang dengan cara yang sulit kau hadapi. Alice berharap, ini hanyalah sindrom sesaat. Semoga logikanya kembali berjalan, mengembalikan lagi rasionalitasnya. Dia tak ingin selalu terjebak dengan perasaan ringkih seperti ini.
"Apa kau baik-baik saja?" Kendrick menatap Alice gamang setelah resepsi mereka berakhir sore hari.
Hari ini Kendrick berusaha beberapa kali menyentuh lengan Alice, memberikan pertunjukan romantis pada para tamu undangan. Lelaki itu tersenyum simpul, menyembunyikan rasa tak nyaman setiap kali kulit mereka bergesekan. Alice mencoba membantu Kendrick, menjauh dan menyibukkan diri dengan tamu lain, agar Kendrick tak terjebak bersamanya.
"Ya. Hanya sedikit lelah. Kau bilang janji suci kita hanya disaksikan beberapa orang terdekat saja, aku tak menyangka orang terdekatmu sebanyak ini." Protes Alice sedikit menjauh dari Kendrick. Dia tak ingin lelaki itu menderita karena terlalu dekat denganya.
"Kau pasti akan terkejut lagi melihat tamuku nanti malam. Beberapa keluarga jauhku akan hadir, sebaiknya kau persiapkam staminamu untuk nanti malam," tawar Kendrick penuh pengertian.
Alice mengangguk, tergoda untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Dia harus bersiap-siap menghadapi acara malam hari. Mansion yang Kendrick tempati telah ia sulap menjadi tempat pesta yang sangat megah. Lelaki itu tak tanggung-tanggung menyiapkan segala hal yang ia miliki untuk resepsi mereka. Seandainya saja mereka saling mencintai, pernikahan ini pasti bagaikan surga.
Alice berhasil tertidur beberapa jam untuk memulihkan kondisi fisiknya. Setelah itu, semuanya seolah berlalu begitu cepat. Dia dibantu untuk segera bersiap melakukan resepsi dengan banyak proses yang harus ia jalani. Tata riasnya sendiri butuh waktu lama untuk memolesnya. Alice hanya pasrah melalui tahap demi tahap untuk acaranya.
Saat resepsi mereka digelar, para tamu undangan mulai berdatangan satu persatu. Kendrick memperkirakan jumlah yang hadir sekitar delapan ratus orang. Dia berdiri gagah dengan jas hitamnya, menyambut satu persatu tamu yang menyalaminya.
Alice tertawa berdiri disisi Kendrick. Dia benar-benar tak menyangka sosok yang telah menjadi suaminya itu benar-benar menolak jabat tangan yang diulurkan setiap wanita. Kendrick hanya tersenyum kecil tanpa menerima uluran tangan kaum hawa. Alice harus segera menyelamatkan situasi dengan membalas uluran para wanita yang ditujukan untuk Kendrick.
__ADS_1
Reaksi para wanita beragam. Ada yang tertawa maklum, karena berfikir Alice adalah wanita posesif yang tak rela suaminya menyentuh wanita lain, ada yang sedikit tersinggung dan ada yang hanya mengangkat bahu tak peduli. Toh, sudah menjadi rahasia umum jika Kendrick adalah lelaki es yang dingin. Mereka justru terkejut menyadari dia mengakhiri masa lajangnya dengan Alice. Beberapa diantara mereka ada yang mengira Alice adalah lelaki yang sengaja merubah gender. Mereka menganggap Kendrick gay yang terselubung.
...
...
Anson memasuki ruang utama mansion yang menjadi pusat acara resepsi diadakan. Dia berjalan anggun bagaikan seekor serigala yang memasuki kandang musuh. Langkahnya teratur menampakkan dominasi yang ia miliki. Beberapa tamu undangan secara otomatis memberinya jalan. Orang-orang disekitar melirik penuh rasa ingin tahu dengan seorang lelaki yang menggunakan penutup mata hitam disebelah kiri. Sepertinya, Anson mempunyai aura yang sulit diabaikan.
Anson memicingkan mata, menatap penuh arti wanita yang menjadi mempelai perempuan. Wanita itu duduk anggun di pelaminan, dengan gaun jingga yang sangat menawan. Rambutnya telah berubah warna menjadi gelap. Kecantikanya mengalir secara alami bagaikan seorang dewi yang memiliki kekuatan spiritual.
Wanita itu, indah tanpa cacat. Sosoknya ibarat ratu yang menuntut pemujaan dari sekelilingnya. Auranya masih saja mampu Anson rasakan meskipun mereka berada berjauhan. Anson teringat bagaimana rasa wanita itu dalam pelukanya. Sangat menggoda dan luar biasa. Apapun yang tercipta pada wanita itu, seolah khusus untuk dikagumi secara total.
Anson pernah memilikinya. Mereka pernah saling berbagi, saling menyelami satu sama lain. Kulit lembut itu pernah menjadi miliknya. Mengukir sebuah riwayat menyedihkan bagi mereka. Dulu, Anson pernah tertipu dengan cinta palsu yang wanita itu tawarkan. Dia benar-benar pernah terjebak sangat dalam oleh dewi penggoda.
Dan disinilah dewi itu berdiri kini. Tersenyum bahagia dengan lelaki lain, merasa menang karena berhasil mendapatkan lelaki yang dia inginkan. Lelaki selain Anson, tentunya. Benar-benar murahan. Sangat mudah untuk berbalik arah.
Anson berdiri mendekat, tertarik untuk bertatap muka secara langsung. Sebuah senyum mengejek terukir di bibir kerasnya.
"Selamat atas pernikahan kalian," ujarnya berhasil membuat Alice membeku.
Kendrick mengulurkan tangan, menerima ucapan selamat dari rivalnya sendiri. Mereka saling melempar pandangan tajam. Seekor serigala liar telah menemukan lawanya yang seimbang.
"Terimakasih, Anson. Nikmatilah pesta malam ini." Kendrick merespon dengan nada penuh kebencian.
"Kau memiliki definisi yang salah tentang sampah, Anson. Apa yang kau sebut sampah, aku menyebutnya sebagai berlian. Kau telah membuang sesuatu yang berharga, teman .... "
Kendrick merangkul pinggang Alice mesra. Dia tersenyum penuh kebanggan. Selain Alice, tak ada yang tahu betapa tegang dan gemetar tanganya kini. Pasti butuh perjuangan yang sangat keras darinya untuk memeluk Alice seperti sekarang. Gynophobia yang ia miliki tak mengijinkanya untuk berinteraksi dekat dengan wanita. Alice benar-benar salut atas semua usaha Kendrick menampilkan sandiwara.
"Seleramu ternyata sangat rendah, Kendrick. Aku tak menyangka wanita rendah sepertinya mampu membuatmu tergoda."
Wanita itu jugalah yang berhasil menggoda Anson dan membuat hidupnya kacau.
"Wanita rendah yang kau sebutkan itu adalah ibu dari anakmu, Anson. Jika kau ingat." Kendrick masih saja tak melepaskan pelukanya. Alice semakin khawatir. Jari-jemari Kendrick mulai gemetar hebat dipinggangnya.
"Hanya secara biologis," kata Anson menyakitkan.
"Anson, kau sudah menyampaikan maksudmu. Bisakah kau sekarang bergabung dengan tamu lain dan menikmati hidangan pesta? Banyak tamu lain di belakangmu yang menunggu kesempatan untuk mengucapkan selamat pada kami," Alice harus membuat percakapan ini berhenti secepatnya. Reaksi Kendrick sudah mulai terganggu dengan kedekatan palsu yang mereka tunjukkan. Alice tak tega menyiksa Kendrick lebih lama lagi.
"Tentu saja, Alice. Aku tak tertarik berdekatan denganmu terlalu lama. Bahkan dengan rambut gelapmu sekarang, kau masih saja terlihat sebagai penggoda yang murahan," Anson berjalan menjauh dari mereka.
Kendrick segera mengakhiri rengkuhan tanganya. Dia sudah berkeringat dingin dan terlihat sangat pucat. Sekilas, orang-orang pasti mengira dia terlalu lelah menghadapi pesta.
"Apakah kau baik-baik saja?" Alice bertanya khawatir.
__ADS_1
"Aku sangat mual. Kau adalah wanita pertama yang kupeluk sepanjang dua tahun ini, Alice," Kendrick mengusap keringatnya di pelipis. Dia sangat terganggu dengan sentuhan tersebut.
"Apa yang bisa ku lakukan agar kau merasa lebih baik?" Alice merasa bersalah.
"Tidak ada. Aku hanya butuh menenangkan diri sejenak. Keberatan jika kutinggal sebentar?" pinta Kendrick.
"Baiklah ... tenangkan dulu dirimu." Alice melepaskan Kendrick. Dia menatap kasihan laki-laki yang terburu-buru menjauh darinya, pergi ke ruangan lain.
Rachel mendekati Alice dan menggantikan Kedrick menemaninya. Mereka berdua bercanda cukup lama. Acara pernikahan ini benar-benar menguras tenaga Alice.
"Sudah ku bilang gaun itu tampak spektakuler." Rachel tersenyum bangga.
"Ya. Tapi gaun ini cukup membuatku gerah," kata Alice merasa tak nyaman.
"Oh ayolah ... semua itu sepadan dengan hasilnya. Bagaimana persiapan malam pengantinmu? Kau sudah memiliki kejutan istimewa untuk suamimu?" tanya Rachel penasaran.
Alice menyembunyikan fakta dari Rachel tentang kelainan dan kekurangan Kendrick. Biarlah itu semua menjadi rahasia kecil mereka.
"Tidak ada yang istimewa," jawab Alice datar.
Rachel menatap Alice lama. Dia sudah curiga dari awal, pernikahan Alice hanya sekedar alat bagi wanita itu untuk mendapatkan putranya. Tetapi Rachel masih saja berharap pernikahan mereka berhasil. Setidaknya, mereka bisa memiliki kehidupan sebagai pasangan suami istri yang normal.
"Apakah pernikahan ini semuanya hanyalah kepura-pura'an? Aku tahu ada niat yang terselubung darimu saat memutuskan menjadi istri Kendrick." Rachel menginginkan kejujuran.
"Tentu saja tidak. Kami akan berusaha keras agar pernikahan ini bisa berhasil, Rachel," jelas Alice menenangkan kekhawatiran sahabatnya.
"Baiklah, kurasa suamimu lelaki yang cukup baik. Aku berharap kau menemukan kebahagiaan, Alice. Sudah saatnya kau memiliki pendamping sejati." Rachel tersenyum tulus. Dia menyerahkan bingkisan kado yang katanya titipan dari Daniel. Rachel menyesal lelaki itu tak bisa hadir dalam pernikahan Alice karena berada di penjara.
Alice menerima kado tersebut penuh rasa haru. Sebentar lagi Daniel pasti segera bebas. Dia berencana akan menyambut kebebasan Daniel dengan sesuatu yang istimewa. Mungkin, mereka bertiga bisa makan di suatu tempat yang spesial.
Rachel meninggalkan Alice seorang diri. Dia sibuk mencoba banyak hidangan yang tersaji. Resepsi ini memang tak tanggung-tanggung. Semua yang disajikan dari jasa catering ternama.
Alice yang mulai merasa semakin tak nyaman dengan gaun yang ia pakai, berinisiatif untuk mengganti dengan gaun lain. Dia memanggil Janet, kru W.O. dan meminta bantuanya untuk berganti gaun. Gaun jingga yang ia kenakan terlalu rumit, dia tak bisa melepaskanya sendiri.
Alice berjalan ke ruangan lain diikuti oleh Janet. Wanita itu mengarahkanya pada sebuah kamar tamu tempat gaun lain disimpan. Alice mendesah lega setelah memasuki ruangan ini. Untuk sejenak, suasana hiru pikuk pesta tak mengganggu dirinya.
"Oh Ya Tuhan. Aku lupa membawa kotak make up. Kau tunggulah dulu disini. Biar ku cari di ruangan lain. Make up mu perlu diperbarui." Janet tergesa-gesa keluar dari kamar.
Alice berjalan menuju jendela, membukanya perlahan dan menatap keluar dengan penuh rasa syukur. Udara malam membuatnya merasa tenang. Alice tergoda untuk berlama-lama diruangan ini. Dia merasa lelah untuk kembali menghadiri pestanya sendiri.
Suara pintu terbuka dan tertutup dengan cepat. Rupanya Janet telah kembali. Dengan samar-samar, Alice mendengar Janet mengunci ruangan ini. Rupanya dia wanita yang penuh kehati-hatian.
"Janet. Bisa bantu aku melepas gaun ini? Benda ini benar-benar membuatku sesak nafas" Pinta Alice tanpa berbalik. Namun sebuah aroma yang familiar menyerang indera penciuman Alice. Seketika dia berbalik tiba-tiba.
"Anson. Ya Tuhan." Alice menatap ngeri pada lelaki didepanya.
__ADS_1
...