Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
064 - SEASON 2


__ADS_3

Pagi ini Alice mendapat kabar bahwa Harry melarikan diri selama beberapa hari ini semenjak kasus Maxen terangkat ke permukaan.


Harry cukup tahu diri. Dialah yang telah mengumpankan Maxen kepada Klayver sehingga terjadi keributan dan berakhir dengan masuknya Rachel ke rumah sakit.


Setelah itu, lelaki tersebut mengamankan dirinya sendiri dengan pergi menghilangkan jejak. Mungkin dia takut Maxen akan membuat perhitungan dengannya, atau khawatir Klayver akan menghabisinya karena dia dinilai tidak loyalitas.


Klayver telah berkata terang-terangan hanya lelaki yang tak memiliki kesetiaanlah yang bisa mengkhianati saudaranya sendiri. Klayver bisa saja menghabisi Harry sewaktu-waktu karena Harry tak lagi memiliki kegunaan. Meskipun Harry belum tahu siapa Klayver sebenarnya, dia tetap merasa takut. Bossnya itu menguarkan aura yang menakutkan sekali sehingga orang dalam jangkauannya selalu merasa terintimidasi.


Klayver sama sekali tak terkejut mendengar tindakan pelarian Harry. Dengan sikap pengecutnya, Harry justru aneh jika ia tidak melarikan diri. Harry adalah orang yang mementingkan dirinya sendiri di atas segala hal. Egonya terlalu tinggi. Tipikal orang yang mudah untuk mengkhianati teman sendiri. Untuk aoa orang seperti itu dipertahankan. Klayver bahkan tergoda untuk membunuhnya andai ia melihat Harry persis di depan mata kepala.


Maxen yang mengetahui sikap Harry, hanya bisa mendiamkannya saja. Beberapa hari yang lalu Alice telah membeberkan watak adiknya sendiri. Tetapi Maxen lebih memilih diam. Rachel yang mengetahuinya sudah mencak-mencak dari kemarin.


"Harry pergi tanpa kejelasan setelah ia secara sengaja mengumpankan dirimu pada Maxen. Hebat. Benar-benar hebat. Terkadang aku heran sendiri bagaimana dulu aku bisa jatuh cinta pada lelaki seperti itu." Rachel menatap Maxen dengan pandangan tak terima. Hari ini adalah hari terakhir Maxen bersamanya. Besok, dia akan menyerahkan diri pada lembaga hukum.


"Sudahlah. Karakternya memang seperti itu. Bukankah sudah kukatakan dari awal, lelakimu memang pengecut." Maxen mengulúm senyum kecil, sudah tidak terkejut lagi pada perkembangan Harry.


Dari awal, setelah kejadian pembantaian Maxen, Alice telah memberitahu bahwa Harry-lah yang telah mengungkapkan bukti tentang transaksi dan hubungan Maxen dengan semua kematian Anson.


Rachel sama sekali tidak menyangka. Baginya, ikatan darah itu merupakan ikatan paling kuat. Mendengar Harry mengumbar kebobrokan saudaranya sendiri, meskipun itu adalah fakta, sangat di luar dugaan.


Orang yang tidak setia pada ikatan darah adalah orang yang tidak akan pernah bisa setia terhadap apa pun juga. Pantas dulu Harry sanggup meninggalkan Rachel menjelang pernikahan. Pantas juga Harry tak pernah memikirkan situasi Rachel dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena lelaki itu pada dasarnya memiliki keegoisan yang sangat tinggi.


Di mata Harry, dalam hati Harry, semua fokusnya hanya untuk kepentingan diri. Tak ada yang bisa ia korbankan untuk orang lain sekali pun itu orang yang diakui menjadi cintanya.


Beruntung, lelaki tersebut tidak jadi Rachel nikahi. Sesuatu yang ia anggap sebagai tragedi, sekarang berbalik menjadi anugerah. Ditinggalkan Harry di detik-detik terakhir pernikahan telah membuat Rachel menemukan jalan hidup yang lebih baik. Setidaknya, dengan Maxen dia menjalani hidup apa adanya. Tidak ada kepura-puraan dan sandiwara kosong. Sesuatu yang lebih ia pilih dari pada hidup terjebak dengan Harry tanpa ujung.


"Apakah kau menyesal memiliki adik seperti dia?" tanya Rachel tiba-tiba.


Rachel sendiri merasa memiliki sesal karena pernah mengenal Harry sedalam ini. Sehingga ia terjebak pada semua kerumitan yang lelaki itu berikan untuk dirinya.


Rachel bukannya membenci kerumitan hidup. Dia cukup terbiasa menghadapi kondisi sulit sehingga tak mudah jatuh hanya karena menemui jalan terjal kehidupan.


Yang tidak ia suka adalah menjalani kondisi sulit karena seseorang dan dibiarkan begitu saja tanpa kepedulian. Itulah yang paling menyakitkan.


"Rachel, setiap karakter itu terbentuk karena sebuah keadaan. Terkadang aku berpikir, mungkin masa lalulah yang telah membuat kepribadiannya seperti itu. Dia masih terlalu muda saat keluarga kami di bantai dengan pembantaian berdarah oleh Anson. Mungkin, psikisnya menjadi ringkih semenjak kejadian tersebut."


Maxen menatap ke arah luar melalui jendela kamar. Sinar pagi membiaskan cahaya mentari dari ufuk timur. Membentuk garis-garis berwarna jingga keemasan.


"Tetapi bukankah kau juga mengalami hal serupa? Kau cukup kuat untuk menghadapinya. Seharusnya Harry juga bisa sepertimu."

__ADS_1


Maxen terdiam lama. Kejadian pembantaian Anson telah lama terjadi. Bertahun-tahun yang lalu. Mungkin bahkan ada sepuluh tahun. Tetapi rasa sakitnya masih terasa dalam. Seperti akar yang coba dicerabut paksa dari dalam tanah. Menyesakkan.


"Aku kuat karena fokusku kualihkan untuk membalas dendam. Sementara Harry tak memiliki fokus apa-apa. Mungkin, hidupnya mulai terombang-ambing semenjak detik itu. Sehingga keinginannya untuk melindungi diri lebih besar. Sayangnya, dia melindungi diri dengan cara menjatuhkan orang lain. Termasuk menjatuhkan aku, kakaknya sendiri."


Harry dari kecil terbiasa dimanja dalam segala hal. Dia terbiasa dilindungi secara total karena ia adalah anak bungsu dalam keluarga. Hingga kemudian lahirlah bayi kembar dari istri lain ayahnya yang entah ayahnya ambil dari mana. Sejak itu, sikap egoisnya mulai muncul perlahan-lahan.


Seolah-olah Harry tak pernah rela ada perhatian lain yang keluarganya berikan kepada yang lain. Karena bagaimanaun juga, adik bayi kembar tersebut merengkuh perhatian yang lebih besar dari pada Harry.


Maxen mengira itu hanyalah kecemburuan sesaat. Tetapi lambat laun karakter Harry menjadi berubah mengesalkan. Dia memang humoris dan terlihat ramah, akan tetapi di balik itu ada sosok egomania sejati. Karakter buruknya tertutupi oleh topeng luar yang sangat sempurna.


"Aku baru tahu karakter Harry seburuk itu." Rachel menunduk dalam. Berapa tahun ia menjalani hubungan dengan Harry tetapi hasilnya seperti ini? Andai ia tahu, Rachel akan mundur dari awal sebelum ia menyerahkan semuanya pada lelaki brengsék seperti dia.


"Bagaimana pun juga, ia tetaplah adikku. Semua itu tak merubah kenyataan ini." Maxen tersenyum kecil, merengkuh istrinya dalam pelukan hangat. Aroma shampo yang khas menguar tajam dari rambut istrinya. Mengingatkan Maxen akan malam pengantin mereka. Saat itu, Rachel juga menguarkan aroma sama seperti sekarang.


"Kau tidak membencinya?" Rachel penasaran.


"Tidak." Bagaimana bisa ia membenci seseorang yang memiliki darah yang sama dengan dirinya.


Satu-satunya yang ia benci dalam keluarga adalah ayahnya sendiri. Lelaki itu terlalu bajingàn dalam bertindak. Ratusan kali ia melakukan hal buruk dan yang menerima imbasnya adalah anak-anak dan istri-istrinya. Dia juga lelaki yang tidak setia. Sayangnya, dari semua wanita yang ada, dia justru memperistri wanita baik-baik. Sehingga membuat Maxen mau tak mau merasa simpati pada ketiga istri ayahnya. Termasuk ibunya sendiri yang saat ini telah berada dalam alam baka.


"Setelah balas dendam, apakah kau … masih membenci Anson?" Rachel menyentak Maxen dengan pertanyaan yang di luar dugaan. Wanita itu menggenggam erat jari-jemari tangannya, takut jika apa yang baru saja ia lontarkan membuat suaminya marah.


"Tadinya aku sangat membencinya. Tetapi setelah aku menghabisi Anson dan kedua anaknya, aku … seperti merasakan kekosongan. Tak ada emosi apa pun lagi di sini." Maxen menunjuk dadanya. Wajahnya terlihat datar.


"Dendam itu tak menghasilkan apa pun juga. Tidak ketenangan, tidak juga kepuasan. Apalagi kebahagiaan. Sekarang, aku bisa memahami mungkin Anson melakukan hal tersebut karena keadaan yang sama juga sepertiku. Ia dibalut dendam lama. Keluarganya dibantai oleh ayahku. Tak mengherankan dia menuntut darah juga. Sayangnya, dia menghancurkan kedua adik bayiku. Itulah yang paling menyakitkan."


Bayangan tentang kedua bayi berusia beberapa bulan dan masih sangat lucu membuat hati Maxen tergores rasa pilu. Mereka adalah makhluk paling polos dan tak berhak dinodai oleh kekejaman dunia. Bagaimana mungkin Anson membantainya juga. Semua itu terlalu mengerikan. Beruntung Maxen berada dalam sekolah asrama saat itu. Jika tidak, dia mungkin sudah berkumpul bersama dengan keluarga besarnya saat ini di alam lain.


"Aku pernah mengenal Anson, Maxen. Dulu, saat Alice menikah dengannya, aku melihat Anson terlalu menghargai dan menyayangi anak-anak. Mungkin, ini hanya tebakanku. Anson bisa saja membantai adik bayimu secara tak sengaja. Bagimana pun juga, mereka berada dalam situasi yang tidak tepat. Mudah bagi mereka terkena peluru atau tak sengaja terdesak keadaan sehingga ikut meninggal."


Rachel mencoba mengeluarkan pendapatnya. Anson memiliki seorang putri bernama Kimberly. Rachel cukup hafal kasih sayang yang Anson berikan untuk anak tersebut. Membayangkan Anson membantai bayi secara langsung itu benar-benar di luar bayangan Rachel.


"Mungkin bisa jadi seperti itu. Setelah aku membunuh anak-anak Anson, terkadang, muncul penyesalan juga. Jika dipikir-pikir, mereka tak seharusnya terseret dalam kerumitan dendam orang tuanya. Aku jadi menbayangkan jika anakku terseret dalam tragedi karena kesalahanku sendiri, pasti sangat menyakitkan hati. Bagaimanapun, dia masih terlalu suci dan ternoda kekejaman dunia."


Maxen mengelus perut Rachel dengan lembut, berharap jika ia diijinkan memiliki bayi lagi, dia akan hidup normal dan baik-baik saja. Sudah cukup semua kerumitan yang ia miliki. Jangan sampai anaknya nanti menanggung beban berat karena dirinya. Sangat tidak adil.


"Jika nanti kita memiliki anak, anak kita akan tumbuh dengan baik, Maxen. Aku janji." Rachel menggenggam tangan Maxen dan meremasnya pelan.


"Rachel, apakah kau benar-benar akan baik-baik saja jika kutinggal selama beberapa tahun dalam penjara?" Maxen bertanya khawatir.

__ADS_1


Dia ingin menatap dan melindungi istrinya secara langsung. Menatapnya dari jeruji penjara pasti akan menyesakkan.


"Aku cukup kuat, Maxen. Jangan remehkan aku. Kira-kira, berapa lama kau berada di penjara?"


"Hanya sebentar. Pengaraku adalah pengacara yang hebat."


"Jangan terlalu sebentar. Nanti Alice tak terima." Rachel mengerucutkan mulutnya. Alice saat ini sudah seperti musuh abadi bagi Maxen. Jika mereka berdua berhadapan, hanya akan terjadi perang mulut tanpa kesudahan.


Jika Alice tahu Maxen masuk ke penjara hanya sekadar formalitas dalam waktu yang singkat, dia pasti marah-marah tak terima. Emosi Alice benar-benar seperti singa betina sejauh menyangkut tentang Maxen.


"Aku tak peduli. Aku memang memiliki kemampuan untuk membengkokkan hukum. Dia harusnya tak berhak kesal."


Maxen menunjukkan kekeraskepalaannya. Rachel membulatkan bola matanya dan hanya bisa mendesah kecil. Dua orang ini lama-lama akan menjadi ikon permusuhan sejati.


"Maxen, aku memiliki usul. Bagaimana jika aku dan Alice memiliki anak yang tidak terlalu jauh selisih umurnya dan berbeda gender, kita jodohkan saja nanti?"


Uhuk uhuk uhuk


Maxen terbatuk hebat mendengar usul istrinya yang melencong jauh dari akal sehat. Menjodohkan anak? Yang benar saja.


Saat ini, Alice menjadi teman dekatnya Rachel saja sudah cukup membuat Maxen pusing. Dia terpaksa berhadapan dan berurusan dengan wanita labil itu.


Apa jadinya nanti jika mereka menjadi besanan? Oh Tidak. Maxen masih tak ingin hidupnya berakhir dengan cepat. Dia tak membutuhkan masalah tambahan yang tidak seharusnya ada.


"Jangan katakan itu lagi. Aku lebih memilih anak kita melajang seumur hidup dari pada menikah dengan anak Alice." Maxen membantah dengan keras. Dia berdiri, menggelengkan kepala berkali-kali.


Baiklah. Tidak apa-apa jika Rachel bersahabat dengan Alice. Toh itu juga sudah terlanjur. Jika mereka dipisahkan, Rachel sendiri akan hancur. Tetapi, Maxen masihlah kepala keluarga. Dia tak ingin istrinya diracuni pikiran-pikiran tak masuk akal tentang perjodohan anak atau semacamnya. Maxen masih perlu hidup lama tanpa memusingkan masalah-masalah tersebut.


"Maxen, jangan terburu-buru menolaknya. Di balik sikap bar-bar Alice, dia adalah wanita baik dan lembut. Dia pintar mendidik anak. Bahkan tak suka terlalu memanjakan anak-anak. Dengan ibu yang seperti itu, pasti akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Sulit untuk mencari anak dengan karakter yang baik. Mendapatkan anak Alice sebagai menantu pasti sangat menyenangkan."


Maxen berjalan keluar tanpa mengindahkan semua perkataan istrinya sendiri. Entah dari mana pemikiran Rachel bermula, tetapi yang jelas jika terus dilanjutkan akan membuat Maxen gila.


Mereka baru saja kehilangan janin. Belum-belum Rachel sudah memikirkan tentang calon menantu. Apakah wanita memang seluar biasa ini cara berpikirnya? Jika iya, Maxen benar-benar perlu memberikan tepuk tangan untuk dirinya sendiri karena menjadi lelaki kuat yang sanggup mengimbangi istrinya.


"Maxen, tunggu! Ini benar-benar ide brilian. Pernikahan anak kita akan menjadi pernikahan hebat nantinya." Rachel masih mencoba membujuk dengan teriakan yang cukup keras agar suaranya mampu didengar oleh Maxen.


Tidak ada jawaban apa pun. Maxen pergi begitu saja, membiarkan semua angan-angan Rachel yang baru saja terbentuk kembali lenyap dalam sekejap.


__ADS_1


__ADS_2