
Luiz duduk di belakang meja ruang tengah rumah yang sudah lama tak ia pakai. Rumah ini merupakan salah satu asetnya yang ada di New York. Saat ini akhirnya Luiz memilih untuk menggunakan rumah ini sebagai markas sementaranya dalam menawan Alice dan Violin. Di depannya, duduk James dengan gaya santai.
"Bagaimana istrimu?" tanya Luiz datar.
"Baik. Dia mulai bersikap penurut." James menjawab dengam singkat. Tak ada pemberontakan yang berarti dari Violin semalam. Hingga pagi tadi, wanita itu masih terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. James sempat mengeceknya langsung dari laptop di kamarnya.
"Bagus. Kapan kau akan menghabisinya?" tanya Luiz kemudian.
"Nanti. Setelah kau berhasil menghabisi Klayver!" James berkata tak suka.
Nuraninya mulai memberontak setiap kali Jmaes membayangkan membunuh istrinya sendiri. Biasanya James mendengar kasus pembunuhan istri seperti itu dilakukam oleh psikopat. Tak disangka ternyata ia sekarang akan melakukan hal keji seperti itu. Sungguh. James benar-benar mengalami kemerosotan moral.
"Kau mulai menyesal bergabung denganku?" tanya Luiz melihat reaksi dari partnernya.
James mulai berpartner dengan Luiz tak lama sebelumnya. Luiz menawarkan sesuatu yang tak bisa James peroleh dari Violin. Sebagian wilayahnya. Dengan begini, James tak butuh waktu lama untuk menyetujui.
James juga yang menjadi informan bagi Luiz. Termasuk saat Violin merencanakan pembunuhan terhadap Luiz. Dia memperingatkan Luiz dan menyuruh Luiz menghabisi orang-orang Violin sendiri.
Saat Violin kalang kabut menanyai anak buahnya siapa yang berkhianat, James hanya mengarahkan Violin secara halus kepada para pengawalnya sendiri. Kecurigaan tersebut akhirnya berhenti sebatas pada pengawal Violin dan berakhir menyedihkan. Wanita itu menyiksa habis-habisan anak buahnya untuk mendapat pengakuan. Padahal sama saja. Pengawal Violin tak tahu apa-apa karena sebenarnya James-lah yang bertindak. Orang-orang itu menjadi tumbal bagi kemarahan Violin.
Malam ini, James juga melancarkan misinya. Dia membuat alasan untuk membawa pergi para pengawal Violin yang menjaga Alice dan menyisakannya dua orang yang paling lemah di antara mereka. Mudah bagi James melumpuhkan dua orang pengawal yang tersisa. Usahanya cukup berjalan mulus dengan adanya penyergapan yang dilakukan oleh anak buah Luiz. Dengan kata lain, James hanyalah menjadi perantara yang cukup mumpuni.
"Tidak. Untuk apa menyesal? Nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlambat bagiku untuk kembali ke titik semula!" James menjawab apa adanya. Dia memang sudah sangat terlambat untuk kembali. James sudah merusak kepercayaan Violin. Mengantarkan nyawa Klayver, Violin, dan bahaya kepada Alice. Penyesalan adalah sesuatu yang cukup terlambat baginya.
"Benar. Untuk ukuran orang yang menyelami dunia kelam seperti kita, sudah sangat mustahil untuk kembali baik. Terlalu banyak manipulasi yang telah kita lakukan. Kita mungkin sudah memiliki tiket khusus ke neraka!" Luiz terkekeh kecil, menyadari kebenaran dari kata-katanya.
Dalam dunia gelap, memang ada saat-saat di mana seseorang akan menyesal karena memilih jalan yang salah. Tetapi terkadang mereka sudah sangat terlambat untuk memperbaiki segalanya. Kehidupan tetap berjalan. Membuat beberapa orang yang pernah melakukan dosa mau tak mau terjebak dengan dirinya sendiri. Semakin lama, semakin menakutkan.
"Kau benar. Jadi, kapan kau akan menghubungi Klayver? Kau sudah mendapat informasi terbaru?" tanya James serius. Mencari keberadaan Klayver bukanlah sesuatu yang mudah. Lelaki itu terkadang sering pergi ke suatu tempat tanpa kepastian.
"Kau ayahnya. Beri aku nomor ponselnya dan aku akan menghubunginya sekarang!" Luiz mengambil sembarang kertas di mejanya dan sebuah bolpoin. Dia menyerahkannya begitu saja pada James dan menunggu lelaki itu menulis sederetan angka.
"Kali ini Klayver tak bisa dihubungi!" James berkata dengan lemah.
__ADS_1
Beberapa bulan ini Klayver pergi untuk menuntaskan urusannya yang belum selesai. Tak ada yang tahu nomor ponsel yang bisa menghubungkannya dengan Klayver. Bahkan Alice sekali pun. Sulit bagi mereka untuk membuat kontak langsung dengan Klayver.
Luiz yang mendengar itu merasa tak terima. Dia melotot tajam kepada James dan mengeluarkan sumpah serapah.
"Orang tua macam apa kau, yang tak mengetahui kontak anaknya sendiri?" tanya Luiz tak habis pikir.
Jaman sudah mulai berubah gila. Orang tua banyak yang tak tahu riwayat anaknya sendiri.
"Orang tua yang berani mengorbankan anak dan istrinya untuk tujuannya sendiri!" James membalas kata-kata Luiz tak kalah sadisnya.
James saat ini merasa tak memiliki harga diri. Dia sudah bertekad akan mengorbankan orang-orang terdekatnya demi ambisi. Tak pernah ia sangka ternyata sangat berat mengorbankan mereka satu per satu. Pertama Violin, kemudian Klayver, selanjutnya Alice. Betapa kotornya tangan James nanti. Tangannya sendiri akan ternoda darah keluarganya.
"Begitulah kehidupan berlangsung, James. Semuanya perlu harga. Tak ada yang gratis di dunia ini. Jika kau memang ingin memiliki kedudukan dan harga diri, istri dan anakmu harus disingkirkan terlebih dahulu. Bukankah sudah kukatakan menjadi bayang-bayang istrimu sendiri sangat menyiksa?" Luiz melontarkan pertanyaan telak. Pertanyaan itu berhasil merasuk ke hati James dan diolah dengan baik oleh otaknya.
Memang inilah apa yang diinginkan James. Kedudukan dan pengakuan. Satu lagi. Harga diri. Untuk mendapatkan semua itu, semuanya perlu pengorbanan. Tentunya, bukan pengorbanan yang kecil.
"Bisakah kau berhenti membicarakan ini?" tanya James tak nyaman. Dia beringsut sebentar dari duduknya, mencoba mengenyahkan nurani miliknya yang beberapa saat lalu hadir tanpa ia inginkan.
"Baiklah. Sekarang pikirkan cara bagiku agar aku bisa menghubungi Klayver. Aku perlu menuntaskan masalah ini secepatnya!" Luiz kembali mengungkit tentang Klayver.
"Sudah kukatakan tidak ada!" Kali ini James menekankan kata-katanya lebih serius. Dia menatap Luiz dengan berani. Kedua orang ini menunjukkan kekuatannya masing-masing.
"Lantas, apa yang kau sarankan?" tanya Luiz tak sabar. Dia perlu kepastian secepatnya apa yang perlu mereka lakukan ke depannya.
"Tunggu saja di sini. Selama kau memiliki Alice , Klayver-lah yang akan mendatangimu! Aku jamin! Dia sangat posesif kepada istrinya."
James kembali teringat bagaimana dulu Klayver akan membela mati-matian untuk Alice. Cinta yang Klayver miliki ternyata merupakan hal yang sangat besar dan agung. Membuat salah satu di antara mereka rela melakukan hal-hal lainnya yang berbahaya.
"Berapa lama?" tanya Luiz tak suka. Dia mulai berniat mencari Klayver lebih dulu. Menunggu adalah sesuatu yang tak disukai oleh Luiz.
"Klayver adalah orang yang memiliki mata dan telinga di mana-mana. Bukan hal yang sulit baginya untuk mengetahui hal yang tersembunyi. Kupikir setelah kabar hilangnya Alice merebak, pasti salah satu dari utusan Klayver akan mencoba mencari tahu keberadaan wanita itu. Saat itulah kau perlu menyiapkan diri dalam pertarungan sengit," saran James hati-hati.
"Begitukah? Aku harus membiarkan Klayver menemukan diriku begitu saja?" Luiz manggut-manggut. Dia mengusap dagunya beberapa kali, memikirkan apa yang James katakan .
__ADS_1
"Ya. Mustahil untuk mencarinya." James berdiri dan berjalan memutari ruangan.
Membayangkan Klayver sebentar lagi akan dibantai benar-benar membuat James merasa kacau. Ya Tuhan. Bagaimanapun juga, Klayver masih menjadi putranya. Putra terbaiknya. Nuraninya kini mencoba menentang semua kehendak James yang sebelumnya tampak terencana secara sempurna.
"Ada apa denganmu, James? Apakah kau merasa menyesal?" Luiz kembali memastikan. Dia tak terlalu suka dengan lelaki yang plin plan. Apalagi lelaki yang sok-sok'an menggunakan nuraninya lagi padahal sebelumya ia sudah bertranskasi dengan iblis. Hal-hal seperti itu sangat menjengkelkan bagi Luiz.
Nurani adalah apa yang sangat dibenci oleh Luiz. Dia beranggapan bahwa seseorang hanya akan terjebak dalam hidup yang bobrok jika terus menggunakan nurani. Kemewahan dan uang yang ada dalam dunia ini akan sangat sulit dicari hanya dengan menggunakan hati nurani. Memangnya dengan nurani seseorang bisa kenyang? Memangnya dengan nurani seseorang bisa kaya? Memangnya dengan nurani seseorang bisa sukses?
Semua itu hanyalah prinsip ***** yang diumbar-umbarkan orang selama ini. Pada akhirnya, kemauan dan kerja keraslah yang menuntun kita menuju kesuksesan. Tetapi dalam beberapa kasus, ada saatnya seseorang meninggalkan nurani untuk melakukan apa yang ia mau. Dengan begitu, apa yang seseorang inginkan bisa tercapai dengan semua cara. Kita tidak bisa hidup dengan pembatasan-pembatasan yang ada. Nurani, moral, dan kata hati merupakan suatu pembatasan yang paling tidak masuk akal dalam kehidupan sosial. Itulah pendapat Luiz yang sebenarnya.
Luiz tidak ingin menjadi orang yang munafik. Dia telah melalui banyak proses dalam kehidupan ini. Dari proses yang paling mudah hingga proses yang paling sulit. Dari proses yang paling normal hingga proses yang penuh manipulatif dan penuh intrik. Dia sudah tidak lagi terkejut dengan banyaknya kasus kejahatan-kejahatan yang ada. Dia juga tidak kaget mendengar banyak kasus tentang pertentangan pertentangan moral. Mungkin Luiz sendiri adalah pelaku dari semua itu. Karena itu, dia menyukai orang yang tidak memiliki batasan-batasan tertentu. Dengan begitu, tujuan mereka bisa tercapai dengan mudah.
"Aku bukanlah dirimu, Luiz. Yang bisa melakukan sesuatu tanpa hati. Aku seorang suami dan seorang ayah. Kau pikir, apa yang aku rasakan ketika aku melenyapkan istri dan putraku sendiri? Hanya orang gila yang bisa menekan pelatuk pistol ke kepala keluarga mereka dengan senyum tersungging."
James berbicara dengam berani. Untuk ukuran lelaki seperti Luiz, memang apa pun harus diungkapkan secara gamblang. Luiz adalah orang yang tidak mengenal penyesalan. Tangannya sama berdarahnya dengan Klayver. Bedanya, Luiz tidak pernah memiliki batasan dalam membunuh sedangkan putranya memiliki batasan-batasan yang cukup kuat.
James jadi memikirkan sesuatu. Mungkinkah jika ia lama bergaul dengan lelaki seperti Luiz, di titik tertentu nanti, apakah nuraninya terancam hilang? Apakah James akan bertindak apa pun berdasarkan sisi kepraktisan belaka? Jika demikian, James mungkin akan menjadi seseorang yang sangat menakutkan nantinya.
Meskipun James selama ini tidak bertindak sebagai malaikat, yang jelas James tidak pernah bertindak sebagai iblis. Dia memiliki batasan-batasan kuat yang ia pegang hingga kemarin. Sekarang, batasan-batasan itu mulai runtuh perlahan. Meninggalkan James dalam kekosongan tanpa batas.
Mungkinkah ini yang dinamakan hidup tak punya hati? Seseorang bisa sukses, bisa kaya, bisa terkenal. Tetapi jika ia tanpa hati, apa makna semuanya? Hanya ada kehampaan yang terhampar sepanjang hati ini ada.
"Uh. Kau sepertinya orang yang plin plan. Sudah kukatakan jika kau ingin keluar dari penjara yang bernama kekangan dan pembatasan istri, kau harus melangkah keluar dan melawan mereka secara langsung. Itulah makna sebenarnya kebebasan."
James duduk bersandar di kursi besar. Dia menjadikan kedua lengannya sebagai penopang tengkuk. Dengan santai, lelaki itu menatap James yang saat ini dilanda dilema.
"Kau pikir, kenapa aku tak menikah, James? Jika aku mau, wanita mana pun bisa kudapatkan. Tetapi aku tak suka pembatasan-penbatasan yang menyertainya. Selain itu, adanya anak juga akan menjadi kelemahan kita. Musuh bisa mengambil dan mengancam posisiku dengan cara-cara tertentu. Kusarankan kau untuk kembali kepada tekadmu semula dan jangan coba-coba untuk berbalik arah. Percayalah, James. Aku tak terlalu suka orang yang plin plan. Bagiku, mereka hanya sampah yang harus dilenyapkan."
Luiz menjentikkan jarinya, memberi isyarat dan ancaman kepada James. Lelaki itu perlu disadarkan dia sedang berhadapan dengan siapa.
James berjalan membelakangi Luiz. Tanpa diingatkan pun, dia sebenarnya sudah tahu dirinya terlambat untuk kembali pulang. Tidak ada jalan baginya untuk berbalik. Semua yang sudah ia putuskan untuk ia tinggalkan, sudah menjadi musuh baginya. Lagi pula, kepercayaan Violin terhadapnya juga sudah pupus. Apa gunanya kembali pulang?
"Aku tahu kedudukanku, Luiz. Aku tahu siapa diriku saat ini. Tak ada jalan bagiku untuk kembali. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah membutakan mata dan menjadi lelaki kejam sepertimu."
__ADS_1
Sebuah seringaian puas tercetak jelas di sudut bibir Luiz. Bagus. Itulah yang perlu Luiz dengar saat ini.
…