Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
134 - SEASON 2


__ADS_3

Satu minggu ini, semua berjalan dengan normal. Alice, Jasmine, Violin, dan James melakukan banyak aktivitas seperti hari-hari sebelumnya.


Tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Meskipun sebenarnya, Alice yakin bahwa Violin mulai melakukan rencana rahasianya secara diam-diam untuk melenyapkan Luiz Martinez.


Terbukti akhir-akhir ini, anak buah Violin yang diperintahkan untuk mengawal Alice jumlahnya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Biasanya mereka berjumlah sekitar dua belas orang. Tetapi, akhir-akhir ini pengawal yang Violin tempatkan untuk menjaga Alice hanya sekitar delapan atau sembilan orang. Kejadian ini membuat Alice berfikir bahwa beberapa orang yang tidak hadir itu telah disuruh oleh Violin untuk melakukan sebuah misi yang berhubungan dengan rencananya melenyapkan Luiz Martinez.


Alice mencoba tidak memikirkan hal ini, karena Ia tak terlalu ingin khawatir dengan hari-hari ke depan. Alice yakin bahwa Violin, James, Jasmine, dan Daniel akan menjaganya dengan serius sehingga tidak akan terjadi bahaya yang mengancam dirinya.


Yang dipikirkan Alice saat ini adalah tentang keadaan Klayver. Suaminya itu telah meninggalkan rumah selama empat bulan. Empat bulan yang terasa sangat lama sekali bagi Alice. Dulu, Alice ingat bahwa Klayver berjanji akan pergi selama kurang lebih enam bulan lamanya. Waktu yang telah dijanjikan oleh Klayver hanya tersisa dua bulan.Dua bulan itu adalah dua bulan paling lama yang pernah Alice rasakan sepanjang hidupnya. Dia berharap suaminya bisa pulang lebih awal dari pada rencana semula. Semoga saja urusan Klayver di luar sana membuahkan hasil yang baik dan lancar sehingga Klayver bisa pulang dengan keadaan selamat kepada Alice untuk menjalani hari-hari seperti sebelumnya.


Pagi ini, Alice tengah mengamati sebuah bingkai foto tentang Klayver yang pernah ia ambil setengah tahun yang lalu ketika mereka masih bersama. Alice tersenyum kecil, membayangkan saat-saat ketika mereka masih bersama dan melalui banyak hari-hari penuh kesenangan. Tiba-tiba pintu kamar Alice diketuk oleh Caterine dengan suara sedikit keras.


"Nyonya?! Nyonya?!" Caterine setengah berteriak.


"Ada apa, Cat?" Alice segera meletakkan kembali foto pigura yang berada di tangannya ke atas meja nakas. Dia berjalan cepat menuju pintu kamar, takut jika hal-hal buruk mulai terjadi lagi.


"Nyonya dan Tuan besar mencarimu. Mereka ada di ruang kerja lantai satu. Jasmine juga ada di sana. Mereka mengharapkan Nyonya segera ke ruang bawah sekarang. Sepertinya ada hal kurang baik yang terjadi." Caterine mempermainkan jari jemarinya. Dia menunduk ke arah lantai, merasa tak nyaman menyampaikan kabar ini.


Nyonya dan tuan besar adalah sebutan yang dipakai Caterine untuk Violin dan James. Dia tadi melihat wajah tegang Violin ketika mereka semua memintanya untuk memanggil Alice ke ruang kerja. Dari ekspresi wajahnya, Violin sepertinya memiliki berita buruk.


"Baik. Aku akan ke bawah sekarang. Cat, kau siapkan sarapan lebih cepat, oke?" Alice berjalan dengan sedikit terburu-buru. Dia menyusuri anak tangga dua-dua sekaligus.


Di ruang kerja, sebuah ruang pribadi miliknya yang telah Alice ijinkan untuk digunakan Violin dan James selama mereka berada di sini, telah berkumpul lima orang. William, Daniel, Violin, James, dan Jasmine. Mereka semua duduk mengelilingi meja kerja yang kini ditempati oleh Violin.


Wajah Violin menyorotkan ekspresi tak senang. Dia menunjuk kursi yang tersisa untuk Alice tempati dan membiarkan suasana dicekam keheningan untuk sesaat lamanya. Siapa pun tak ada yang berbicara, bahkan Jasmine, wanita yang selama ini dikenal sebagai pendebat Violin.


Ruangan ini telah menunjukkan dengan caranya sendiri jika Violin sudah berhasil membuat keadaan jadi segenting pemakaman. Tak ada yang berani bersuara. Tak ada yang berani membuat sikap.


"Violin," cicit Alice seperti tikus kecil. Dia ingin bertanya tentang apa yang terjadi, tetapi sedikit enggan dengan keadaan yang saat ini tercipta di antara mereka semua.


"Aku mengirim penyusup untuk masuk ke penjara dan menghabisi Luiz Martinez. Tiga orangku semuanya tewas semalam. Aku pikir, Luiz pasti sudah mengantisipasi hal ini jauh-jauh hari sebelumnya sehingga ia bisa menghindari, bahkan melenyapkan orang-orangku."


Suasana menjadi semakin mencekam. Luiz telah mengetahui rencana Violin terlebih dahulu. Tidak ada yang lebih mencemaskan dari kabar ini. Semua itu menunjuk pada satu hal.


Ada pengkhianat di antara mereka. Pengkhianat yang telah membocorkan rahasia dan rencana Violin yang sebelumnya sangat tertutup.


Dalam sebuah organisasi, kesetiaan menjadi poin utama. Satu kali saja informasi tersebar oleh pengkhianat, itu artinya ada pengeroposan dalam sebuah organisasi yang akan menggerogoti mereka dan menghancurkan seluruh anggotanya.

__ADS_1


Kebocoran informasi adalah kesalahan fatal. Nyawa orang lain bisa melayang karena ini. Violin dan James sangat memahami situasi mereka yang lemah dan mudah sekali diserang.


"Ada pengkhianat di antara kita."


Daniel mengucapkan kata-kata yang mewakili semua orang saat ini. Itulah pikiran utama mereka. Masing-masing dari mereka saling membuat daftar tersangka dari pelaku utama. Siapa kiranya yang tega melakukan hal ini?


Alice menatap satu per satu orang-orang yang berada di ruangan ini. Violin dan James. Mereka dua orang yang sangat menganggap penting nilai keluarga dan perencana utama dari pembunuhan Luiz. Mustahil mereka mengkhianati Alice.


Daniel. Dia lelaki yang pernah menyimpan rasa padanya, memberikan banyak hal untuk Alice, dan tetap setia memberikan yang terbaik meskipun posisi yang Alice akui untuk mereka hanyalah pertemanan. Jika Daniel memang pengkhianat, ia tak perlu melakukannya sekarang. Seharusnya dari dulu lelaki itu mengambil posisi untuk menyerang Alice.


Jasmine. Dia adalah wanita yang Klayver percayai. Penilaian Klayver tak pernah salah karena dia memiliki intuisi yang kuat. Alice percaya pada Klayver sepenuhnya dan percaya pada setiap orang yang Klayver percayai. Dengan begini, Jasmine bukanlah orang yang akan Alice curigai sebagai pengkhianat.


Hanya tersisa William. Andai Alice harus mengakui William pengkhianat, dia lebih memilih dikutuk oleh dunia berkali-kali lipat. Demi Tuhan. Apa yang telah William lakukan untuk Alice tak lagi terhitung banyaknya. Bahkan Alice yakin andai dirinya dalam bahaya, William pasti menjadi orang pertama yang akan mengorbankan nyawa untuknya selain Klayver.


Semua orang dalam ruangan ini sangat mustahil untuk berkhianat. Pasti ada pengkhianat lain selain mereka. Alice menggerak-gerakkan kelopak matanya, memikirkan sesuatu dengan lebih mendetail lagi.


"Aku bertaruh tak ada pengkhianat dalam ruangan ini. Satu-satunya kemungkinan adalah orang-orangmu sendiri. Salah satu anak buahmu yang mengawal Alice, bisa jadi mengetahui rencana ini dan membocorkannya ke pihak Luiz." Jasmine menyuarakan isi pikirannya.


Semua orang menolehkan kepala ke arah Jasmine. Reaksi mereka sama. Terkejut untuk sesaat dan kemudian bergumam mengutarakan pendapat masing-masing.


James mengusap ujung hidungnya beberapa kali. Keningnya berkerut tak nyaman. Dia mencoba menilai situasi dengan memandang orang-orang di dalam ruangan satu per satu. Sepertinya ia juga tengah mengambil kemungkinan dari masing-masing orang seperti yang Alice lakukan sebelumnya.


Setelah beberapa saat lamanya, James meregangkan otot-otot tangannya secara teratur untuk menghilangkan ketegangan dan bangkit dari kursi, berjalan mengitari isi ruangan.


"Luiz adalah orang yang sangat licin. Dia ular. Bukan hal yang mustahil jika dia menyusup dan mengambil beberapa orang-orang yang kita tempatkan sebagai pengawal Alice, sehingga mereka menjadi beralih kubu padanya. Setiap orang memiliki kelemahan. Beberapa orang dari pengawal kita memiliki latar belakang keluarga yang baik. Seorang ibu yang baik, ayah yang sederhana, dan anggota keluarga lain yang mereka sayangi. Bayangkan jika Luiz mengancam mereka dengan melukai keluarganya. Apakah kalian pikir pengawal-pengawal itu akan tetap bergeming dan tak tunduk pada Luiz?"


Kata-kata James merupakan sebuah kebenaran. Sebuah fakta yang berhasil menampar Violin. Di dunia ini, sebuah kesetiaan akan kalah oleh ancaman. Siapa yang bisa bertahan jika kartu as terpenting dalam diri seseorang dijadikan sebagai sebuah pertaruhan?


Luiz adalah lelaki kejam dan perencana yang licik. Dia ahli dalam menekan pihak lain dengan cara-cara yang sangat kejam. Orang-orang yang Violin miliki dan ditugaskan untuk menjaga Alice memang orang-orang pilihan. Terapi bukan berarti tidak bisa disusupi.


"Violin," panggil James lembut. Lelaki itu mendekat kembali kepada istrinya, menyentuh lembut bahu wanita kesayangannya, dan memberikan support dengan mengusapnya berulang kali.


"Semua hal bisa terjadi, Sayang …." James mencoba menyadarkan Violin tentang kenyataan ini.


Wanita berambut cokelat yang disanggul dengan gaya elegan itu hanya bisa memandang suaminya pasrah. James benar. Sudut hatinya mulai terluka menyadari anak buahnya berkhianat. Kemarahannya tak seberapa dibanding sakit hati yang ia mililiki. Siapa yang tak sakit hati jika orang-orang yang sudah dilatih dan dibantu berkembang dengan baik, kini berbalik menikam dari belakang. Violin memang dingin dan keras kepala. Dia terkadang menerapkan disiplin tinggi dalam setiap situasi. Termasuk tak menberi celah bagi orang-orangnya saat bertugas.


Namun, pada dasarnya Violin adalah wanita berhati lembut. Dia menganggap orang-orang yang ada di sekelilingnya, terutama keluarga dan bawahannya, merupakan bagian terpenting dari dirinya. Bagian yang tak terpisahkan dan sulit ia tinggal begitu saja dalam setiap keadaan. Bagaimana mungkin mereka bisa berkhianat?

__ADS_1


"Aku memerlukan waktu untuk menyelidiki dan menerima ini semua, James." Suara Violin lirih, penuh kekalahan. Dia membiarkan tangan kekar suaminya menopang dirinya dari arah belakang, mengalirkan kekuatan yang selama ini selalu dia dapatkan dari sosok lelaki tercintanya.


"Tidak apa-apa. Kau memang perlu waktu untuk ini. Sekarang masalahnya adalah, Luiz telah mengetahui rencana kita sehingga kewaspadaannya semakin tinggi. Semakin sulit untuk menyentuhnya lagi kali ini." James mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Sialan memang. Masalah Luiz ini benar-benar membuat mereka semua dalam kesulitan.


"Aku memasang banyak telinga di sekitar Luiz. Tebak apa yang aku dapatkan. Dia sekarang berniat membayar uang jaminan untuk keluar dari tahanan. Dia bekerja sama dengan pihak pengadilan dan aku bertaruh bahwa dalam minggu-minggu ini, Luiz akan menghirup udara bebas. Dengan begitu, lelaki itu memiliki kesempatan lebih besar untuk menyerang Alice sewaktu-waktu." Daniel menambahkan sebuah informasi penting yang ia dapatkan dari mata-mata rahasia yang berada di sekitar tempat Luiz ditahan.


Violin dan James terlihat menahan amarah. Wajah mereka terlihat tak menyenangkan. Otot-otot di rahang James lebih tegang dari pada sebelumnya. Hingga garis-garis hijau ototnya kelihatan membesar dengan sendirinya.


Mudah sekali negara ini menerima jaminan uang dari penjahat kelas kakap seperti Luiz. James beranggapan pemerintah negara bagian tak berhasil mendapatkan bukti kuat mengenai kejahatan mafia Luiz sehingga akhirnya memilih menyerah. Selain itu, uang Luiz mengalir cepat seperti mata air. Tak mustahil juga dia menyuap beberapa orang penting untuk kepentingannya.


"Apa yang bisa kita lakukan saat ini?" William tampak khawatir. Dia tak suka memikirkan musuh dari majikannya berkeliaran secara bebas dan bisa mengancam Alice sewaktu-waktu.


"Kita hanya bisa mengamati saja dan meningkatkan kewaspadaan. Mustahil bisa menyerang Luiz saat ini. Dia pasti sudah mempersiapkan pertahanan diri dan tak mudah ditembus oleh kita. Menyerangnya saat ini hanya berarti bunuh diri." James menjawab apa adanya.


Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Luiz bukanlah orang bodoh. Dia penuh perhitungan dan perencana strategi yang sempurna. Meskipun dia tempramental, tetapi langkahnya cukup struktural. Tertata dan rapi.


"James benar. Saat ini kita hanya akan menjadi penonton. Terlalu terburu-buru menyerangnya juga bukanlah hal yang bijaksana. Lelaki itu sangat menakutkan. Mungkin jika keadaan menguntungkan kita, Klayver bisa segera cepat kembali. Kupikir dia orang yang cocok untuk mengatasi masalah ini. Dia lawan Luiz yang sepadan. Saat ini fokus kita adalah bertahan saja. Jika kita menemukan celah, ada baiknya kita melakukan penyerangan lagi." Alice bersuara. Nadanya final dan tak terbantahkan.


Apa yang disampaikan Alice adalah perwakilan dari masing-masing orang dalam ruangan ini. Mereka semua sepakat untuk menahan diri dan hanya menjadi pengamat. Seseorang yang cerdas perlu tahu kapan saatnya mundur untuk mengambil langkah lain yang lebih menjanjikan.


"Baiklah. Kalau begitu. Kalian bisa melanjutkan aktifitas kalian lagi." James tersenyum kecil, menyadari wajah Jasmine yang mulai kembali memucat. Wanita itu belum sepenuhnya sembuh dari demam semalam. Tubuhnya terlihat lebih lemah dari pada biasanya. Jika masalah ini tidak penting, James sebenarnya enggan untuk meminta kehadiran Jasmine sepagi ini.


"Baiklah. Kita bisa langsung segera sarapan. Aku telah meminta Caterine untuk menyiapkan sarapan lebih awal. Jasmine, jika kau masih kurang sehat, aku akan membawakan sarapanmu ke kamar. Bagaimana?" Alice menawarkan diri.


"Baiklah. Sepertinya aku memang harus menjadi pemalas untuk satu hari ini. Aku akan langsung kembali ke kamar. Kau bisa langsung mendatangiku nanti." Jasmine bangkit dan berjalan pelan meninggalkan ruangan.


Kali ini, Violin memilih tak melakukan debat apa pun dengan Jasmine. Ini pertama kalinya mereka duduk bersama tanpa bersilat lidah satu sama lain.


Setelah masing-masing orang pergi, Violin dan James saling menatap dalam. Ada sendu di kedua mata Violin. Menyiratkan tentang kekalahan dan kelemahannya.


"Kau baik-baik saja, Sayang?" James menatap istrinya dengan khawatir.


"Baik. Aku hanya sedang berpikir. Apakah organisasi kita semakin melemah sehingga menghadapi Luiz saja tak sanggup? Atau apakah Luiz yang terlalu kuat sehingga sulit dikalahkan?" lirih Violin sebanding dengan sorot matanya yang kian kelam.


"Entahlah, Sayang. Mungkin dunia berputar terlalu cepat sehingga kekuatan kita tak sebanding dalam menghadapi Luiz. Bagimana pun juga, dia bukanlah lelaki yang sembarangan." James menatap langit-langit ruangan, kedua matanya menampakkan sinar lain.


__ADS_1


__ADS_2